Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 3


__ADS_3

Pagi hari di keluarga Hutomo Putra.


Dua anak lelaki Hutomo, Aryya Perkassa Hutomo Putra dan Aryya Persada Hutomo Putra sudah duduk di kursinya menikmati sarapan bersama dengan kedua orang tuanya. Tak ketinggalan, si bungsu Ayleen yang tampak sibuk menyuap makanan ke dalam mulut, duduk di sebelah Mommy. Bibir mungilnya komat-kamit, ia sedang menghafal rumus fisika.


“Leen, fokus dengan sarapanmu,” titah istri Hutomo yang bernama Veronika Hutomo saat melihat bibir putri bungsunya bergerak tak beraturan.


Wanita itu sudah sangat hafal dengan kebiasaan Ayleen. Ia mengasuh gadis remaja itu sejak masih bayi merah. Tentu saja ia sangat mengenal semua tabiat putrinya.


“Mommy membuat angka-angka yang sudah terangkai di otakku beterbangan, Mom,” protes Ayleen. Wajah polos tanpa sapuan bedak tebal itu terlihat manis dan menggemaskan, memancing perhatian kakak keduanya yang biasa dipanggil Ersa.


Veronika terkekeh, ia geli sendiri melihat tingkah Ayleen yang centil. Gadis remaja yang diasuhnya seperti anak sendiri, dan dijadikan putri satu-satunya keluarga Hutomo. Sejak semalam, perempuan paruh baya itu berpikir keras setelah berulang kali memergoki rahasia yang disimpan Ayleen dan Erka dengan rapi.


"Habiskan sarapanmu sekarang, jangan banyak tingkah lagi."


Suasana di ruang makan pun senyap kembali. Hanya denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring kaca di atas meja. Tepat setelah Hutomo menyudahi sarapan, pria tua itu bersuara.


“Erka, temui Daddy di ruang kerja. Ada yang harus Daddy dan Mommy bicarakan padamu."


"Lagi?" Erka tercengang.

__ADS_1


Hutomo mengangguk, melirik istrinya.


“Ersa, kamu bisa ke kantor lebih dulu. Tolong pimpin rapat pagi ini, gantikan kakakmu.” Hutomo berpesan pada putra keduanya.


Erka menggeleng. "Kalau membahas masalah perjodohan lagi, aku akan tetap pada keputusanku. TIDAK!" tegas Erka, mengalihkan pandangannya pada Ayleen. Dipandanginya gadis yang menunduk dan tak berani bersuara.


"Erka, pelankan suaramu! Ini meja makan, bukan pasar dan kamu bebas berteriak sesuka hatimu!" Hutomo mengepalkan tangannya.


"Katakan gadis seperti apa yang Daddy dan Mommy inginkan? Aku akan membawanya malam ini menemui kalian. Tentunya selain Ayleen."


Ersa yang sejak tadi tak peduli, sibuk menghabiskan roti isi, mendadak tersentak saat nama Ayleen disebut kakaknya.


"Ayleen?" Suara pelannya terdengar datar, menatap kakaknya dan Ayleen bergantian. Pandangan anak muda itu berlabuh pada daddy-nya.


"Aku serius, Dad. Mau keturunan siapa? Aku bisa membawanya ke hadapanmu nanti malam. Tidak akan mengecewakan, aku berani jamin." Erka menantang.


"ERKA!" teriak Hutomo, menggebrak meja. Piring, cangkir, dan seisi meja makan melompat sebelum membentur meja kaca kembali.


"Aku serius, Dad. Melihat latar belakang keluarga kita, apa mungkin aku bisa bergaul dengan gadis dari keluarga biasa?" Erka menggeleng.

__ADS_1


"Gadis-gadis di sekitarku semuanya dari kelas atas, Dad. Mereka bukan gadis sembarangan. Orang biasa tak akan sanggup masuk ke dalam pergaulanku."


Hutomo menggeram.


"Bahkan yang tidur denganku selama ini bukan wanita murahan yang bisa dibayar recehan. Mereka semuanya wanita berkelas. Aku juga pemilih, Dad. Indra penciumanku tak terbiasa dengan aroma tubuh dan parfum pinggiran." Erka tergelak.


"Atur dinner malam ini. Panggilkan chef dari restoran langganan kita. Aku akan membawa calon istriku menemui kalian. Aku tidak mau sambutan memalukan, karena dia bukan gadis sembarangan." Erka berkata dengan penuh percaya diri.


"Dia putri salah seorang rekan bisnismu juga, mungkin." Memainkan alisnya, Erka tersenyum simpul. "Lulusan Australia, sekarang menjabat sebagai direktur di salah satu anak perusahaan milik keluarganya." Erka berjalan mendekati Veronika dan membungkuk untuk melabuhkan kecupan di pipi mommy-nya.


"Aku ingin makan malam yang sempurna. Mommy mengenal baik teman-temanku, komunitasku. Apa ada gadis biasa di antara mereka?" bisik Erka.


Belum sempat Veronika merespons, ia bersuara lagi. "Aku akan membawa gadis sepadan dengan keluarga kita, bukan gadis pinggiran atau gadis miskin yang bisa aku bayar di luar sana. No, Mom."


Erka masih membungkuk dan sang mommy terus menyimak.


"Bahkan calon istriku jauh lebih berkelas daripada calon istri yang kalian tawarkan. Ingat, tanpa Hutomo Putri di belakang namanya, Ayleen hanya putri supir keluarga kita," bisik Erka, menegakkan tubuh dan merapikan jas kerjanya. Sebelum melangkah keluar dari ruang makan, ia masih sempat menepuk pucuk kepala Ayleen.


"Sampai jumpa, Xiăo mèimei."

__ADS_1


***


Untuk informasi karyaku yang lain, bisa follow instagramku : casanova_wety.s.hartanto


__ADS_2