
“Mbak siapkan susunya, ya.” Ayleen memerintah pengasuh Dayana.
“Ya.”
“Pakaian ganti juga, Mbak. Takutnya muntah atau keringat. Semua-semuanya, Mbak.”
Ayleen membuat Dayana menelungkup di pundaknya seperti yang diajarkan pengasuh. Posisi nyaman untuk membuat bayi sedikit lebih tenang. Erka sendiri bergegas ke kamar untuk berganti pakaian. Tak lama, pria itu muncul dengan setelan yang jauh lebih santai. Kaus hitam dipadankan dengan celana denim berwarna senada. Jaket hitam pun ikut menyempurnakan penampilannya.
Berlari kecil dan menghampiri Ayleen, Erka menyembunyikan senyumannya saat mendapati tangis Dayana mulai reda.
“Yaya sudah tidur?” Erka ikut mengusap punggung bayi mungil yang kini tak lagi menangis.
“Yaya?” Ayleen membelalak. Tak pernah tahu bagaimana memanggil bayi Dayana, baru hari ini ia mendengar nama panggilan itu keluar dari ayahnya langsung.
__ADS_1
“Hmm. Manis, kan?” Senyuman Erka tampak datar, seakan tak ikhlas mempersembahkannya pada dunia. Sekarang ia tengah memainkan karakter pria dingin yang sedang menerima hukuman. Dunia seakan tak mengizinkan ia bahagia.
Ayleen mengangguk. Berdiri berdampingan di sambil menunggu pengasuh turun membawa perlengkapan Dayana, keduanya diam seribu bahasa. Keheningan itu baru terusik kala langkah kaki mendekat dan menyerahkan tas berisi pakaian si kecil.
“Semua sudah di dalam,” ujarnya, mengamati bayi yang diasuhnya selama ini.
“Ya sudah. Nanti, kalau Daddy dan Mommy bertanya ... katakan saja kalau aku dan Kak Erka membawa Dayana ke rumah sakit, ya.” Ayleen berpesan. “Tapi, jangan membangunkan mereka sekarang, kasihan,” lanjutnya lagi.
Pengasuh itu mengangguk. Menatap pasangan adik kakak di depannya.
Pengasuh itu bermonolog, memandang Ayleen yang menggendong Dayana dan Erka berjalan di belakang dengan tas berisi perlengkapan si kecil.
▪︎▪︎▪︎
__ADS_1
Ayleen mengulum senyuman saat perjalanan pulang kembali ke rumah. Terlalu panik, ia mempersiapkan segala sesuatunya berlebihan. Dayana hanya diresepkan obat penurun panas dan obat tetes untuk mengatasi jamur di dalam mulut yang menyebabkan bayi itu tak mau menyusu.
Hari sudah larut, jam digital di mobil yang dikendarai Erka menunjukkan pukul 22.15 malam. Antrian dokter anak membludak ditambah kemacetan di beberapa ruas jalan membuat mereka tiba di rumah lebih lama dari yang seharusnya.
“Leen, terima kasih.”
“Sama-sama, Kak. Jangan dipikirkan. Aku ikhlas.” Ayleen bisa tertawa lepas setelah mengetahui keadaan Dayana baik-baik saja. Kelegaan itu kentara sekali. Bagaimana tidak? Ia hampir menangis sepanjang sore karena keadaan Dayana yang memprihatinkan.
“Maafkan aku membuatmu repot. Aku tahu ... mengurus Dayana bukan tanggung jawabmu. Kalau memang lelah, aku tidak masalah andai kamu meninggalkannya pada pengasuh. Aku juga mengerti posisimu, Leen.”
“Aku baik-baik saja, Kak. Jangan khawatir.”
“Aku serius, Leen. Biarkan saja pengasuh yang menanganinya. Aku takut dia ketergantungan padamu. Di saat harus berpisah, pasti berat untuk Dayana. Bagaimana pun, kamu akan melanjutkan kuliahmu dan kembali ke Bandung bersama Mama.”
__ADS_1
Kalimat Erka menyadarkan Ayleen akan posisinya. Sesaat, gadis itu diliputi rasa bersalah ketika menyadari kenyataannya. Yang dikatakan sang kakak benar adanya. Sampai waktunya tiba, ia harus kembali ke Bandung dan menjalani rutinitasnya lagi.
“Maafkan aku, Kak.” Ayleen menatap bayi merah yang terbungkus mantel bulu itu berkaca-kaca. Beberapa hari menghabiskan banyak waktu bersama, rasa sayangnya pada Dayana mulai terbentuk dengan sendirinya.