Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 52


__ADS_3

Prang!


Ponsel melayang dan mengenai cermin rias menandakan perang terbuka pemilik kamar tidur. Suara jerit tangis bayi ikut menyempurnakan kekacauan yang telah berlangsung hampir 45 menit. Tak ada yang mau mengalah, baik Cindy mau pun Erka bersikeras dengan keputusan masing-masing.


Para asisten rumah saling berpandangan, tak ada yang berani mendekat. Semuanya hanya mencuri dengan dari luar pintu kamar. Cekcok pasangan suami istri itu sudah mulai sejak pagi, saat sarapan di meja makan.


Kepergian Erka di ke kota Bandung mengantar Hutomo dan Veronica menjadi kesempatan keduanya melampiaskan perasaan.


“Aduh, bagaimana ini?” Pengasuh bayi Cindy tak berani mengetuk pintu. Namun, hatinya teriris mendengar bayi mungil menjerit tanpa jeda dari dalam kamar.


“Ketuk saja. Izin ambil bayinya. Aku khawatir. Ini sudah malam, harusnya bayi semungil itu sudah terlelap.” Salah satu asisten rumah yang berprofesi sebagai juru masak ikut bicara.


“Ya, aku masih ngilu mendengar keributan di dalam kamar. Takut terjadi sesuatu pada bayinya.


Prang!


Prang!


Suara benda pecah terdengar beruntun dan membuat para asisten rumah bergidik. Tak lama terdengar suara teriakan dan sumpah serapah perempuan dari dalam kamar.

__ADS_1


“Aku ketuk saja, ya.” Tak lagi bisa berdiam diri, pengasih si kecil memberanikan diri.


Namun tepat saat kepalan tangannya berayun di udara, pintu terbuka. Erka dengan wajah penuh amarah berjalan keluar dengan langkah lebar-lebar. Pria itu tak banyak bicara. Bergegas turun dan keluar ke garasi mobil. Tak lama, para asisten rumah bisa mendengar suara deru mobil meraung kencang.


“Pak Erka sudah pergi.” 


“Ya, aku mau minta izin untuk masuk ke dalam mengambil bayi.” 


Langkah pengasuh itu berhenti di ambang pintu. Kedua kakinya lemas saat melihat kekacauan di depan mata. Kamar mewah yang biasanya rapi kini porak-poranda. Perabotan tunggang langgang di lantai. Beberapa ada yang pecah. 


Di atas tempat tidur, bayi perempuan menangis kencang dan diabaikan. Mamanya tak tampak di antara kekacauan. Entah ke mana perginya ibu muda itu.


“Bu.” 


Hening, tak ada suara. Sepanjang mata memandang, hanya kekacauan di mana-mana. Memberanikan diri masuk lebih jauh, hati gadis muda yang bekerja sebagai pengasuh itu teriris. Digendongnya bayi di atas ranjang itu agar berhenti menangis. 


Saat akan melangkah ke luar, tiba-tiba indra pendengarannya menangkap suara tangisan dari dalam kamar mandi.


“Ibu?” ucapnya pelan sembari menyodorkan ujung kelingking di bibir si kecil agar berhenti menangis.

__ADS_1


Mencoba mendekat, pengasuh itu terkejut saat mendapati kamar mandi pun tak kalah berantakannya. Ada pecahan kaca di depan wastafel. Di dekat bathtub, tampak majikan wanitanya duduk di lantai dan memeluk lutut.


Posisi majikannya yang duduk membelakangi pintu, membuat sang pengasuh tak dapat memastikan keadaan yang sebenarnya. Hanya suara tangisan dan punggung gemeter yang bisa ditangkap dari pintu kamar.


“Ya Tuhan, semoga Ibu baik-baik saja.” Berjalan keluar, gadis itu mendekap bayi dan bermonolog.


♡♡♡


Semilir angin bertiup sepoi-sepoi pagi itu. Udara dingin menerpa kulit saat sepasang suami istri bersiap jalan pagi, berkeliling kompleks perumahan. Hutomo tampak duduk di kursi merapikan tali sepatunya, sedangkan Veronica sedang memasang topi olahraganya.


Kembali ke Bandung setelah menjenguk cucu di Jakarta selama beberapa hari, pasangan renta itu memulai aktivitas rutinnya.


“Ayo.” Hutomo sudah berdiri saat terdengar teriakan Ersa dari dalam rumah.


“Mom, Dad, tunggu!” Putra kedua Hutomo tampak pucat, napasnya naik turun karena berlari dengan kecepatan penuh dari lantai dua.


“Ada apa?”


“Kita harus kembali ke Jakarta. Aku harap Daddy dan Mommy tenang.”

__ADS_1


“Apa terjadi sesuatu pada ....”


__ADS_2