
“Kak Erka?” Ayleen bingung.
Masih menggenggam ponsel, gadis itu berjalan menuju ke jendela kamar. Terlihat ia menyibak tirai dan menatap ke luar. Pekat menyapa bersama nyanyian malam. Rembulan tampak bersembunyi malu-malu di balik awan.
Mengedarkan pandangan, matanya tengah menyapu di dalam gelap. Hanya berbekal beberapa titik lampu taman, ia berusaha mencari keberadaan Erka. Posisi kamar di lantai dua cukup membantu. Mata indahnya membelalak kala berhasil menemukan mobil kakaknya di bawah penerangan lampu jalan, tak jauh dari gerbang rumah.
“Kak Erka?” Ayleen berucap spontan. Kebingungan masih melanda saat ponsel di tangannya kembali berdering. Kali ini bukan dentingan pesan masuk, tetapi benar-benar nada panggilan.
Tanpa sadar, mengusap layar dan menempelkan benda pipih itu di telinga, Ayleen bisa mendengar suara berat Erka dari seberang.
“Aku bisa melihatmu, Leen. Ayo turun ....” Erka bersuara.
Hening, Ayleen masih memandang ke titik yang sama sejak beberapa menit yang lalu. Ia dilanda kebimbangan. Bukannya tak paham dengan apa yang dirasakan Erka. Ia bukan anak kecil yang tak paham apa-apa.
“Leen, ayo turun. Kita perlu bicara.” Suara Erka kembali berkumandang.
“Leen, aku menunggumu. Ayo turun, temui aku.” Erka mulai tak sabar. Keluar dari dalam mobil dan bersandar di pintu. Tampak ia melambaikan tangan sembari menatap jendela kamar Ayleen yang terang benderang.
__ADS_1
Masih tak ada jawaban. Ayleen tetap diam seribu bahasa. Jujur saja, gadis itu dilanda kebimbangan. Kata hati ingin menuruti semua permintaan Erka, tetapi otaknya memerintah hal yang berbeda. Ia tak mau mengambil risiko.
Banyak hal di dunia ini yang tak sejalan dengan apa yang kita inginkan. Hanya orang-orang bermental baja saja yang berani mengambil sikap walau harus menentang akal sehat dan kewarasan.
“Ma ....” Bibir Aylern baru terbuka, tetapi suaranya tiba-tiba menghilang saat menyadari ada sosok asing di dekatnya. Suara embusan napas disusul jari-jari panjang yang menyusuri pinggangnya membuat ia menyadari kalau saat ini ia tak sendiri.
“Kamu sedang apa di sini?”
Deg—
“Kak Ersa?” Ayleen tersentak saat Ersa memeluk erat pinggangnya dan merebahkan diri di punggungnya.
“Kak.” Ponsel yang tadi menempel di telinga perlahan turun. Kejadian begitu cepat, Ayleen tak sempat mematikan sambungan. Kehadiran Ersa membuat otaknya terbagi.
“Aku pasti merindukanmu, Leen.” Suara Ersa terdengar memecah kesenyapan. “Jangan nakal di Bandung. Aku akan sering-sering mengunjungimu nanti.”
“Kak?” Ayleen bingung. Ersa yang biasa ceria dan sering menggodanya jadi melankolis seperti ini.
__ADS_1
“Aku janji akan menemuimu setiap akhir pekan. Jangan berubah, Leen. Tetap seperti ini.” Pandangan Ersa tertuju keluar jendela kamar. Dari tempatnya, ia bisa melihat bayangan pria dengan postur gagah berdiri di samping mobil sedang menghadap ke arah mereka.
Aryya Perkassa Hutomo Putra. Entah apa yang diinginkannya?
Ersa mengulum senyuman saat tatapannya tertuju pada ponsel di dalam genggaman Ayleen. Ia bisa melihat jelas benda pipih itu sedang tersambung dengan seseorang.
“Leen.”
“Ya, Kak Ersa. Kenapa?” Ayleen berbalik dan menatap Ersa setelah mengurai dekapan pria itu dari pinggangnya.
Seutas senyuman muncul di wajah tampan nan menenangkan putra kedua Hutomo Putra itu. Berdiri sembari menyelipkan kedua tangan di saku piama tidur yang dikenakannya.
“Aku menyukaimu.” Suara Ersa terdengar meyakinkan. Ia berharap Erka yang sedang melancarkan aksinya akan mundur setelah mendengar ucapannya.
Ia dan mommy-nya mengetahui banyak hal. Rahasia salah satu penghuni rumah yang tak banyak diketahui orang lain. Hingga ketidakhadiran Erka di acara makan malam keluarga cukup memberi tanda ada sesuatu yang tak beres dengan semuanya.
“Aku menyukaimu, Leen.” Ersa mengulang. Kali ini suaranya sedikit lebih kencang dari sebelumnya.
__ADS_1
***
Maaf, update tidak rutin. Aku sedang menyelesaikan naskahku Diadra ( Kesalahan Satu Malam ) yang harus selesai akhir bulan ini. Semoga setelah semuanya beres, aku bisa kembali rutin.