
Ayleen menggeleng.
“Ya sudah.” Erka mengempaskan tubuhnya di sofa. Tak mungkin masuk ke kamar, ia memilih menemani putrinya.
Sibuk menimang, Ayleen tak menyadari saat ini Erka diam-diam sedang mengawasinya. Sesekali pria itu memejamkan mata saat akan tertangkap basah. Pemandangan menyejukkan di tengah hati yang sedang berantakan. Seutas senyum terkulum tampak di sudut bibir, menunjukkan kehangatan yang menyerang tanpa permisi.
Terima kasih Leen. Aku berhutang banyak padamu.
Erka hanya mampu mengumandangkan kalimat itu dalam hati. Saat ini ia masih membenahi diri dan belajar bijak. Kematian Cindy membuat pikirannya terbuka dan menyadari banyak hal. Kelakuan dan khilaf yang membawa wanita berstatus istrinya itu di ujung kematian.
Bayi memang sulit ditebak. Banyak teori yang sudah dilahap dan tersusun rapi di otak, dipraktikkan berulang kali dan tetap hasilnya tak sesuai dengan apa yang dipelajari selama ini. Seperti yang dilakukan Ayleen, menguras habis semua ilmu yang dipelajari dari google dan dicobanya pada bayi Dayana. Hasilnya tetap sama, tangis bayi itu tak mau reda.
Berjam-jam menimang Dayana, bergantian dengan pengasuhnya, akhirnya Erka menyerah. Tak tega melihat wajah kantuk Ayleen, pria itu mengambil alih.
“Bawa dia ke kamarku, Leen. Biar aku mengurusnya dan kalian bisa tidur.
Erka melirik jam di dinding, waktu sudah hampir subuh. Bayi mungil itu pun masih belum bisa terlelap. Berjalan menuju ke kamarnya, ia masih sempat melirik ke belakang untuk memastikan Ayleen mengikutinya. Bibir pria itu menyeringai tipis saat adiknya benar-benar mengekor.
__ADS_1
“Letakkan di atas tempat tidur saja. Setelah itu buatkan susu untukku. Kalian bisa tidur.”
Kalau Erka memusatkan perhatian pada Dayana, tidak demikian dengan Ayleen. Sejak awal masuk ke dalam kamar, ia terperangah dengan kondisi porak-poranda yang menyambutnya.
Benar yang dikatakan pengasuh itu. Kak Erka bertengkar hebat. Apa kematian Kak Cindy ada sangkut pautnya dengan semua ini.
Ayleen menduga-duga. Tak mau berprasangka, gadis itu memutuskan keluar untuk menyiapkan susu. Tepat saat akan keluar dari pintu kamar, ia bertemu dengan Veronica yang menatap heran
“Apa yang kamu lakukan, Leen?”
“Membawa masuk Dayana ke kamar Kak Erka,” sahut Ayleen santai.
Rencana yang sempat dipatahkan Hutomo kini mencuat lagi. Wanita tua itu sudah yakin melanjutkan perjodohan yang sempat tertunda.
♡♡♡
“Ka, menikahlah dengan Ayleen.
__ADS_1
Pagi-pagi sekali wanita paruh baya itu tak bisa tidur. Semua ide yang dicanangkan di tempat tidur harus ditumpahkannya sekarang. Tak bisa menunggu lebih lama, ia akan merealisasikan secepat mungkin.
Erka diam. Dipandanginya wanita tua yang duduk di kursi makan.
“Mom, maaf. Aku tidak bisa.” Erka menolak.
“Alasan apalagi?” Veronica mencecar kembali.
Pria muda itu tampak tampan dengan setelan kerja serba hitam. Erka sudah bersiap di kantor, mulai bekerja. Pekerjaannya menumpuk, selama berapa hari mengurus Cindy, ia tahu ada waktu untuk yang lain.
“Tidak ada alasan. Aku tidak mau mengambil keputusan buru-buru,” putus Erka.
“Mommy mohon, tolong pertimbangkan putrimu. Dayana membutuhkan sosok Ibu dan Ayleen pantas menempatinya, Ka.”
Erka menggeleng cepat. “Maafkan aku, Mom. Aku tidak bisa. Kasihan Ayleen. Masa depan dia masih panjang."
...•••...
__ADS_1
...B E R S A M B U N G...