Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 39


__ADS_3

 “Nikmati sarapanmu, Leen.” 


Erka kembali ke mobil setelah berkomunikasi dengan Cindy. Tak ada jejak perdebatan, pria itu tampak biasa seakan tak ada masalah besar. Memosisikan diri di belakang kemudi, tangan pun mencengkeram erat setir. 


Setelah sekian lama berpisah, canggung itu tercipta dengan sendirinya. Keakraban kakak adik pun kini tak bersisa. Masa kecil yang indah hanya jadi sebuah kenangan manis dan tak akan terulang lagi. Pernikahan Erka membuat jarak semakin jauh. Duduk bersama di dalam mobil, lidah keduanya kelu. 


Tak banyak obrolan, Erka memilih fokus dengan kemudi dan Ayleen sibuk dengan ponselnya. Jemari mengusap layar, gadis manis itu memutuskan berselancar di dunia maya untuk melewati kecanggungan.


“Pulang jam berapa?” Erka mendadak bertanya.


Ayleen menoleh ke sebelah. Dipandanginya putra sulung Hutomo Putra yang kini sudah berstatus menjadi seorang ayah. Pria tampan itu tak tersenyum, masih sibuk dengan jalan raya.


“Jam satu, Kak.”


“Aku akan menjemputmu, Leen.”

__ADS_1


“Hah!” Kejutan yang tak terduga, Ayleen terkesiap dan melirik ke arah kakaknya. Pria itu masih tetap dingin, tetapi ucapannya terkesan manis. Seakan ada perhatian diam-diam di dalamnya.


“Aku ada rapat setelah ini. Tapi, aku akan menjemputmu saat pulang.”  Erka menegaskan.


“Kalau Kak Erka ada urusan, aku bisa pulang sendiri. Bisa naik taksi.”


“Tidak, aku bisa menjemputmu selepas makan siang.”


“Tapi, kalau Kak Erka sibuk, aku bisa pulang sendiri.”


“Tunggu aku, Leen.” Erka menegaskan. Nada bicaranya seakan tak terima penolakan. 


Kendaraan melaju sedang di jalanan kota Bandung. Tak butuh waktu lama, Erka sudah menghentikan laju mobilnya di depan sebuah kampus. Gedung bertingkat yang tampak nyaman itu mulai dipenuhi para mahasiswa dan mahasiswi. 


“Terima kasih, Kak.” Ayleen melepas sabuk pengaman berpamitan.

__ADS_1


“Hmm.” Fokus Erka masih pada setir di tangannya.


“Aku pergi dulu.” Ayleen membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Berdiri menatap kendaraan hitam kesayangan kakaknya, ia berbalik. Gadis itu  baru akan melambaikan tangan saat kereta besi yang dikemudikan Erka melesat pergi.


“Dia bahkan tak peduli denganku.” Ayleen berkata lirih. Memeluk kota bekal, ia berbalik dan berjalan gontai menuju ke gedung kampus. 


Rambut panjang bergelombang yang diwarnai cokelat tua itu berayun saat kaki melangkah. Sembari memainkan tali tasnya, gadis itu mencoba mengabaikan banyak hal yang membuat perasaannya kacau.


♧♧♧


Memacu mobilnya sejauh 500 meter, Erka mendadak memutar balik. Sejak tadi berbohong pada Ayleen dan dirinya sendiri. Tak ada klien, tak ada urusan perusahaan, bahkan bisa dikatakan ia tak ada urusan di Bandung. 


Entah kenapa, hatinya terusik saat mengetahui Mommy dan Daddy pergi tanpa Ayleen. Perasaannya tak tenang, seperti ada dorongan kuat  dan akhirnya membuat ia memutuskan pergi ke Bandung di saat istrinya sendiri sedang melahirkan di Jakarta.


Menghentikan laju mobilnya tepat di pelataran restoran yang terdapat di seberang kampus, pria dengan setelan kemeja dan celana denim hitam legam itu tampak melepaskan sabuk pengaman yang membelit tubuhnya.

__ADS_1


Pandangan tertuju pada gedung perkuliahan, Erka membeku sejenak hingga akhirnya mengeluarkan ponsel dari saku celana dan menghubungi seseorang. Tak perlu menunggu lama, seseorang menyapanya dari seberang.


“Ya, Pak. Ada apa?”


__ADS_2