
Bab 40. Menikahi Kakak Angkatku.
“Leen, bawakan makan siang untuk Erka.”
Matahari baru akan merangkak naik di pucuk kepala saat Veronica menyelesaikan masakannya dibantu asisten rumah. Menjadi istri pengusaha ternama tak melunturkan sisi sederhananya. Wanita tua yang selalu tampil cantik itu tak segan-segan masuk ke dapur dan berkutat dengan wajan dan minyak untuk bisa menyajikan makanan enak dan lezat untuk seluruh anggota keluarga.
Menikah sederhana dengan Hutomo Putra, mereka berangkat dari orang biasa. Tak ada harta berlimpah, apa lagi emas dan permata. Harta dan takhta ini diraih dengan memeras keringat, berjuang bersama di saat muda hingga bisa membawa anak-anak mereka pada kehidupan hari ini.
Tak mudah, bukan hanya kerja keras. Keberuntungan pun diperlukan. Banyak yang berjuang lebih dari mereka dan sekarang mungkin tak jadi apa-apa. Ia dan sang suami mungkin menjadi orang-orang terpilih dan sebagai rasa terima kasih tak jarang berbagi untuk mensyukuri pencapaian hingga sampai di titik ini.
“Maksudnya, Mom?” Ayleen tiba-tiba mendekap pinggang Veronica yang sedang mengaduk masakan di wajan.
“Antar makan siang untuk calon suamimu.” Veronica menjelaskan.
__ADS_1
“Haruskah, Mom?” Ayleen sudah merebah di punggung mommy-nya.
“Tentu saja harus. Belajar jadi istri yang baik sejak dini. Erka bukan sosok yang mudah ditaklukkan. Anak itu suka seenaknya sendiri. Berbeda dengan Ersa yang lebih penurut.” Veronica mendadak teringat pada putra kedua yang tengah patah hati.
“Bawakan juga untuk Ersa. Tapi, tidak perlu terlalu berlama-lama dengannya. Anak itu sedang dalam proses menyembuhkan lukanya. Kalian dekat sejak kecil, Mommy sangat mengerti apa yang dirasakannya kini.”
Ayleen merapatkan bibir. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir gadis itu. Ia hanya menikmati kehangatan punggung wanita yang dianggapnya ibu selama ini.
Ayleen menggeleng di dalam bungkam.
“Karena kesuksesan laki-laki itu juga tergantung istri. Makanya bibit, bebet, dan bobot itu penting. Bukan masalah harus anak orang berada atau terpandang, tetapi kalau memang dari keluarga yang sepadan ... akan lebih mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan pekerjaan dan pergaulan bisnis keluarga kita.”
“Ya, Mom.”
__ADS_1
“Apa lagi kalau dari keluarga yang terpandang, itu menambah nilai lebih keluarga dan bisnis kita di mata sesama pebisnis dan akan jadi ancaman untuk pesaing. Persis seperti yang terjadi saat Erka menikahi Cindy. Banyak proyek-proyek masuk setelah perusahaan kita dan orang tua Cindy bekerja sama.”
“Aku tidak tahu menahu masalah perusahaan, Mom.”
“Harus belajar, Leen. Sedikit banyak harus mengetahui walau tak terlibat. Kita tak pernah tahu apa yang terjadi ke depan. Bisa saja suatu saat kamu terpaksa masuk ke perusahaan menggantikan Erka.” Veronica menjelaskan.
“Tapi, Mom. Teman-temanku ....”
Veronica berbalik dan tersenyum. “Jangan samakan dirimu dengan temanmu, Leen. Mungkin kamu memiliki privilege dan mereka tidak. Artinya bebanmu lebih berat. Mempertahankan itu lebih sulit dibandingkan berjuang.” Veronica tersenyum. Mengusap tangannya yang basah ke celemek, ia menangkup wajah putrimu.
“Kamu akan menjadi menantu keluarga ini. Menantu tertua, artinya kamu pasti tahu. Beban di pundakmu sama beratnya dengan Erka. Dengan mendiang Cindy, Mommy tidak bisa menerangkan terlalu banyak karena Mommy yakin petuah-petuah ini sudah diajarkan kedua orang tuanya.”
Ayleen mengangguk.
__ADS_1