Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 55


__ADS_3

Perjalanan Bandung-Jakarta sedikit lebih lama dari biasanya, iring-iringan mobil keluarga Hutomo terjebak macet di tol karena ada kecelakaan. Ayleen sudah terlelap saat mobil yang ditumpangi berhenti di sebuah rumah duka di utara ibu kota. 


Tempat persemayaman dengan fasilitas kelas atas itu telah dipenuhi papan bunga ucapan dari sahabat, kerabat, dan kolega bisnis. Tak hanya berjajar di pelataran gedung, ucapan belasungkawa itu juga ditata sepanjang trotoar dan bisa disaksikan para pemakai jalan.


Tak heran, yang sedang berduka adalah salah satu keluarga konglomerat di bumi nusantara yang namanya cukup diperhitungkan.


“Leen, kita sudah sampai.” Ersa khawatir, melirik mobil di belakang yang membawa kedua orang tuanya.


Gadis manis itu mengerjap beberapa kali, kemudian mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mata Ayleen berkaca-kaca saat membaca papan bunga yang berjajar di depan mata.


“Turut berduka cita atas berpulangnya Ibu Cindy Hariwijaya. Istri dari Aryya Perkasa Hutomo Putra. Dari RD Group.” Ayleen membaca salah satu papan bunga raksasa tepat di depannya. 


“Ya Tuhan, ini benar-benar nyata.” Ayleen berkata lirih saat melihat nama Cindy tercantum di puluhan papan bunga. Air mata yang tertahan kini luruh dengan sendirinya. Berbalik, gadis itu melihat Veronica dan Hutomo yang membeku di tempat sembari menatap bingung papan bunga di halaman rumah duka. 


“Leen, tolong jaga Daddy dan Mommy.” Ersa kembali mengingatkan.

__ADS_1


Ayleen tak menggubris lagi. Menghambur keluar dari mobil dan memeluk Veronica yang hampir limbung.


“Mom, are you okay?” Ayleen mendekap Veronica yang lemah. Tak ada air mata, tubuh renta itu menatap papan bunga dengan pandangan kosong. 


“Dad.” Ersa memeluk Hutomo. “Maafkan aku, Dad.”


“Apa yang terjadi? Bagaimana bisa meninggal?” Hutomo lebih tegar dibandingkan istrinya. 


Ersa menggeleng. “Aku tidak tahu, Dad. Erka tidak mengatakan apa pun.”


“Mom, ayo kita ke dalam. Kita harus melihat Kak Cindy dan Kak Erka.”


Veronica menyeret langkahnya. Ia masih belum bisa menerima. Terlalu mendadak dan ia tak siap. Pikirannya berbagi antara menangisi menantu dan prihatin dengan nasib cucunya ke depan.


Mengenaskan, bayi mungil itu harus kehilangan ibunya di saat baru beberapa hari menatap dunia. Ia tak bisa membayangkan, tak mau membayangkan juga. Biarkan tangan Tuhan bekerja, ia hanya harus menerima duka ini dengan lapang dada.

__ADS_1


...♡♡♡...


Setelah sekian hari tak mau menyentuh bayi mungil yang dilahirkan Cindy, Veronica dan Hutomo tercengang ketika masuk ke ruangan persemayaman dan mendapati Erka sedang menimang bayinya di dekat peti jenazah. 


Bulir-bulir air mata mendadak turun, Veronica tak sanggup menyaksikan pemandangan mengharukan itu. Ruangan yang dihias rangkaian bunga berwarna putih itu terasa menyedihkan. Di salah satu sudut tampak keluarga Cindy memenuhi tempat duduk yang disediakan, aura kesedihan semakin terasa.


“Ka, apa yang terjadi, Nak.” Veronica mengucap lengan Erka, berusaha menyemangati.


Pria tampan dengan setelan jas hitam itu diam. Ia tetap fokus pada bayi yang terlelap di tangannya. 


“Kenapa dibawa ke sini? Dia masih terlalu kecil ....” Kalimat Veronica tak terselesaikan, Erka memotong dengan suara parau.


“Untuk Cindy. Pasti dia ingin diantar putrinya.”


Veronica diam. Bersama Ayleen, keduanya berjalan mendekat di peti jenazah yang tertutup kaca. Tampak Cindy yang sudah rapi, didandani cantik mengenakan gaun panjang putih. Rambutnya dibiarkan tergerai, wajah pun terlihat damai.

__ADS_1


__ADS_2