
“Kurang ajar!” Erka bisa mendengar jelas percakapan antara adiknya dan Ayleen. “Dia pasti sengaja membuatku terpancing.” Erka mengepalkan tangannya.
Cemburu itu nyata, ia tak bisa mengempaskannya begitu saja. Perasaannya pada Ayleen tak lagi bisa disembunyikan. Ia bisa berdusta dan menutupinya dari dunia, tetapi tak bisa mengelak dan berbohong pada dirinya sendiri.
Tadinya, ia pikir mau menyatakan perasaan itu pada adik angkatnya. Namun, Ersa mengacaukan semuanya. Ia terpaksa mengurungkan niatnya untuk berterus terang, menikmati kecemburuannya saat mendengar pria yang lebih muda beberapa tahun darinya itu juga memendam perasaan yang sama.
Menghela napas berulang, Erka menggeram saat semua rencananya berantakan. Ia terpaksa memendam perasaannya sendirian. Entah sampai kapan, yang ia tahu saat ini sesalnya begitu besar. Tuhan menghukumnya dengan cara menyakitkan.
Adik angkat yang tadinya dijodohkan untuknya, ditolak mentah-mentah. Akan tetapi, setelah itu ia menyesali keputusannya. Menerima nasib terikat seumur hidup dengan Cindy dan mengubur dalam-dalam perasaan cintanya.
☆☆☆
Berhari-hari menyiapkan kepindahan ke kota Bandung, akhirnya hari itu datang juga. Pagi-pagi sekali, dua mobil sudah terparkir rapi di halaman rumah. Hutomo tak hanya memboyong istri dan anak gadisnya, tetapi juga membawa sopir dan pekerja-pekerjanya.
Ayleen tampak resah di kamarnya, menatap ruangan yang telah menjadi saksi perjalanan hidupnya selama ini. Ada rasa enggan, tetapi tak punya pilihan lain.
“Aku akan merindukan tempat ini.” Ayleen berkata lirih. Berdiri di depan pintu kamar, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Koper-koper berisi pakaian dan perlengkapan pribadinya sudah masuk ke dalam mobil sejak pagi-pagi sekali.
“Aku juga akan merindukanmu, Leen.”
Ayleen tersentak saat Ersa memeluknya dari belakang. Pria itu tak terdengar mendekat, tetapi tiba-tiba sudah mendekap.
__ADS_1
“Kak?” Ayleen mematung.
“Aku pikir kamu sudah di bawah.” Ersa berbisik pelan. Pelukan semakin erat, pria muda itu tengah menikmati aroma yang keluar dari rambut panjang Ayleen. Begitu menenangkan dan bagai candu. Selama ini ia tak peduli, diam-diam menikmati perasaannya sendiri. Hingga Erka membuka matanya, melecutkan semangatnya untuk berjuang.
Pelukan Ersa menenangkan, tetapi sedikit berbeda dengan dekapan Erka yang selama ini sering diam-diam melakukan hal yang sama. Ayleen bingung, perasaannya sendiri masih mengambang. Sejak awal menganggap keduanya sama. Kakak-kakak sempurna yang selalu melindunginya di setiap kesempatan. Akan tetapi, akhir-akhir ini sikap keduanya berubah.
Erka dengan keanehannya dan Ersa dengan kelembutan yang lebih dari biasanya. Keduanya sering mengucapkan kata manis yang bermakna lebih dari sekadar adik kakak.
“Minggu ini aku akan menyusulmu ke Bandung.” Ersa berbisik pelan.
“Ya, Kak.”
Ayleen menyimak. Di dalam diamnya, ia bisa merasakan kehangatan menyelimuti. Ia yang hanya anak angkat tetapi diberi perhatian berlebih oleh kedua kakaknya.
“Leen, aku serius. Aku akan memperjuangkanmu.” Ersa mulai mengungkapkan perasaannya lagi. “Aku pernah memintamu pada Mommy.”
Pernyataan Ersa menyentak. Ayleen tak menyangka kalau kakak keduanya akan seserius ini.
Diputarnya tubuh Ayleen yang membeku di tempat, dipandanginya manik mata yang hitam pekat dan menyiratkan kebingungan.
“Aku masih akan berjuang melunakkan Mommy sampai dia merestuiku, Leen.”
__ADS_1
Ayleen tercengang. “Kak Ersa serius?” Suara feminin itu terdengar menggantung.
“Sangat.” Jawaban Ersa meyakinkan. “Tunggu aku, sampai saat itu tiba ... kedua tangan ini akan menjagamu. Kedua bahu ini akan memeluk dan mendekapmu, Leen.” Kata-kata manis sanggup melambungkan perasaan Ayleen polos.
“Tunggu aku, kita akan memulai perjalanan itu dari sekarang.” Ersa berbisik pelan sebelum melabuhkan kecupan di pipi dan dahi adiknya.
Adik perempuan yang dijaganya sejak kecil, kini ingin dibawanya ke dalam ikatan yang namanya pernikahan. Rasa asing yang tanpa ia sadari itu muncul dengan tiba-tiba. Cemburu menjalar dan menguasai diri tepat saat perjodohan Ayleen dan Erka digaungkan beberapa waktu lalu.
Ia tidak ikhlas, kecemburuan menyeruak dan ia bersyukur saat Erka menolak, menyodorkan gadis lain untuk dinikahi.
“Leen, tunggu aku, ya?” ulang Ersa.
Anggukan kepala membuat Ersa melesat tinggi. Ayleen setuju tanpa banyak berpikir.
“Katakan ya dan kita akan memulainya,” titah Ersa.
Menghela napas dalam, Ayleen menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab.
“Ya.” Senyuman di bibit tipis itu masih belum sepenuhnya rela. Namun, Ayleen bisa melihat kesungguhan yang tak mungkin dikecewakannya.
Bersambung.
__ADS_1