
Keadaan Hutomo membaik, Erka pun memboyong sang istri kembali ke Jakarta. Tak terlalu banyak janji, pria berusia kepala tiga itu lebih banyak diam selama kunjungannya di kota Bandung. Seperti saat hendak bertolak ke Jakarta, ia bahkan tak bisa menjawab saat Veronica memastikan kunjungan putra sulung mereka selanjutnya.
“Cindy, kabari kalau memang sudah masuk waktu lahiran.” Veronica bersuara, berdiri di teras rumah.
Hari masih pagi saat Erka memutuskan memboyong sang istri kembali ke ibu kota. Keluarga Hutomo Putra baru saja menyelesaikan sarapan saat Erka berpamitan dan mengejutkan semua orang.
“Ya, Mom.” Cindy mengangguk. Sebagai menantu, ia merasa bahagia saat kedua mertuanya memperlakukannya dengan manis. Sangat bertolak belakang dengan sifat dingin sang suami.
“Ka, kapan ke sini lagi.” Veronica mencecar tanya sesaat sebelum putranya masuk ke dalam mobil.
“Belum tahu, Mom. Cindy tidak diizinkan dokter bepergian jauh saat mendekati hari perkiraan lahiran.” Erka menjelaskan. Mengenakan kaca mata hitam sebelum masuk ke dalam mobil, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Berharap bisa melihat Ayleen sekilas. Setelah ini entah kapan bisa bertemu dengan adik kecilnya itu.
Perasaan pria itu meredup, tatkala bayangan Ayleen tak tampak sama sekali. Sejak pagi, ia tak melihat. Bahkan, adik perempuannya melewatkan sarapan.
Apa dia tak merindukanku?
__ADS_1
Setelah merasa tak mungkin ada kesempatan melihat Ayleen, ia masuk ke dalam kendaraan kesayangannya. Tepat saat pintu mobil tertutup, sosok yang dinantikannya muncul. Berjalan keluar teras rumah sembari memainkan kunci mobil, Ayleen terlihat cantik dengan setelan casual khas anak kuliahan.
Syukurlah, aku masih bisa melihatnya sebelum kembali ke Jakarta.
Kepala Erka bergerak mengikuti ke mana Ayleen melangkah. Kerinduannya terobati, meneliti adiknya dari kejauhan. Ia ingin mengingat dan menyimpannya sendirian. Setelah ini, ia tak tahu bagaimana takdir mereka ditulis. Rancangan itu masih milik Tuhan, harapannya semua seindah mimpi-mimpi malamnya.
...☆☆☆...
Tanpa terasa waktu begitu cepat berlalu. Purnama itu lewat satu persatu, hingga akhirnya hari yang ditunggu keluarga Hutomo pun tiba. Saat panggilan telepon dari Jakarta berdering, Veronica yang sedang menemani suaminya menikmati acara minum teh itu tersentak. Setiap Erka menghubunginya, bayangan cucunya pun melintas.
“Mom, Cindy mau melahirkan.” Erka mengabari dari seberang panggilan.
“Hah? Kalian di mana ini?” Veronica mengabaikan suaminya. Berita yang disampaikan Erka membuat dunianya jungkir balik.
“Di rumah sakit, Mom.”
__ADS_1
“Oh ya, Mommy usahakan ke Jakarta secepatnya. Kirim alamat rumah sakitnya, Ka. Jadi Mommy dan Daddy bisa mengejar waktu ke sana.”
“Ya, Mom.”
Kebahagiaan pasangan renta itu hampir sempurna ketika mendapat kabar menantunya akan segera melahirkan. Ingin rasanya segera tiba di Jakarta, menyambut cucu pertama mereka.
“Siapa yang menemani kalian nanti?” Veronica panik. Ia sudah tak sabar menyambut cucu pertamanya.
“Tidak ada, Mom. Kedua orang tua Cindy sedang tidak di Jakarta.”
"Hah? Kasihan menantuku." Veronica berucap pelan. Terbayang saat ini Cindy sendirian berjuang di rumah sakit tanpa ditemani keluarga.
"Mommy dan Daddy berangkat ke Jakarta, Ka. Sampaikan pada Cindy jangan panik. Semua pasti baik-baik saja.
...☆☆☆...
__ADS_1
...Apa yang terjadi? Ikuti di bab selanjutnya. Kalian yang penasaran kelanjutan Erka dan Ayleen, bisa kepoin instagram : casanova_wety.s.hartanto. Ada spoiler Menikahi Kakak Angkatku sampai beberapa bab ke depan....