Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 42


__ADS_3

Halilintar masih membelah cakrawala dengan kilat menyilaukan mata, suara memekakkan telinga pun ikut membuat nyali ciut. Mata elang Erka sudah mengamati mangsanya dari balik setir. Tampak Ayleen berdiri mendekap tas di dadanya, tubuh ikut menggigil terkena sapuan angin kencang.


Badai menyapa, hujan disertai petir dan kilat menyambar membuat Erka meragu. Berlari menuju ke tempat Ayleen menunggu, Erka menerobos rintik air berbekal payung biru.


“Leen.” Rambut Erka tampak basah, berdiri tak jauh dari tempat Ayleen.


“Kak Erka?” Ayleen tidak menyangka di balik sikap dingin sang kakak masih terselip perhatian.


“Ayo.” Erka menyerahkan payungnya.


“Kak Erka?” Alyeen mengernyit.


“Aku bisa menerobos hujan. Dont worry.” 


“Kita sama-sama saja, Kak.” Ayleen menyerahkan payungnya kembali. Tak tega saat menyadari kalau Erka memilih berhujan-hujan demi dirinya agar tak basah.


“Tidak, nanti kamu basah.” Erka menolak. “Buatmu saja.”


“Tidak apa-apa. Sendiri juga basah, anginnya kencang. Sama-sama saja, Kak. Setidaknya basahnya tidak benar-benar kuyup.” Ayleen menyodorkan kembali payung birunya pada Erka. Ia tersenyum. Perhatian kecil itu menyentuhnya, kakaknya tak lagi pelit bicara seperti sebelumnya.


Memeluk erat tas tangannya agar tak basah, Ayleen berlari bersama dengan Erka di bawah kucuran hujan. Gadis itu bisa merasakan usapan tangan di punggungnya yang basah.


Deg.


Deg.


Deg.


Debaran itu kembali setelah sekian lama hilang. Berada di dekat pria gagah dengan aroma parfum melekat di ingatan, Ayleen bisa merasakan sesuatu yang sempat hilang kini pulang.

__ADS_1


Ia terlalu menikmati kebersamaannya, lupa akan air hujan yang membasahi separuh pakaian dan rambut panjangnya. Hingga masuk ke dalam mobil, pikirannya masih mengawang.


“Baju dan rambutmu basah, Leen.” Erka melempar kemejanya ke pangkuan Ayleen yang seperti orang bingung. Gadis itu masih berkelana dengan lamunan sesaatnya.


“Hah!” Ayleen tersentak. Menoleh ke sebelah, gadis itu seperti kebingungan.


“Bajumu basah. Kenakan saja!” titah Erka, menyisir rambut basahnya dengan jemari tangan. 


“Hah!” Gadis cantik  tercengang sembari mendekap kemeja Erka. Aroma parfum yang dirindukannya diam-diam. “Kak Erka apa tidak kedinginan?” tanya Ayleen. Pandangannya tertuju pada pria bersinglet putih di balik setir. Ketampanan putra sulung Hutomo Putra itu tak berkurang sedikit pun walau dalam keadaan berantakan.


“Kenakan saja. Bajumu sepertinya basah.” Erka melirik sekilas. Tak berani menatap terlalu lama. Ayleen dalam tampilan sekarang tampak menggoda dengan rambut basah dan atasan melekat di tubuh. Pikiran kotornya menerawang saat pakaian itu melekat dan mengikuti bentuk tubuh.


“Ya.” Ayleen tak membantah. Mengenakan kemeja kakaknya tanpa protes. Sejak tadi berkelana bersama lamunannya, ia dibuat terkejut mengetahui Erka sudah dalam tampilan berbeda.


“Kita pulang?”


Perjalanan menembus hujan, petir menyambar berulang kali. Hawa dingin dari luar ikut masuk ke dalam mobil. Erka mulai pelit bicara, hanya fokus pada jalanan.


“Kak.” Ayleen memecah kecanggungan dengan mengajak pria dewasa itu mengobrol. Dulu hubungan mereka tak seperti ini. 


“Hmm.” Erka bergumam tanpa menoleh. 


“Kak Cindy sudah melahirkan?”


“Hmm.” Erka tetap pelit bicara. 


“Selamat, ya.” 


“Hmm.” Gumaman ketiga membuat Ayleen harus putar otak untuk mencari bahan pembicaraan.

__ADS_1


Memberanikan diri bertanya, Ayleen mencoba bertanya sedikit lebih pribadi. Sejak kedatangan Erka ke kota Bandung, pertanyaan ini mengusik benaknya.


“Kenapa tidak menemani Kak Cindy? Dia pasti membutuhkanmu, Kak.” 


Tak ada jawaban. Erka bersikap seolah-olah tak mendengar. Tetap fokus pada jalan raya, sesekali memainkan lampu mobilnya untuk menyorot jalanan yang mengabur karena derasnya hujan.


“Aku akan bercerai dari Cindy.” Erka menghentikan laju mobilnya tiba-tiba, menepi di dekat taman kota.


Pria itu ikut melepas sabuk pengaman yang membelit tubuh kekarnya sebelum bicara.


“Aku dan Cindy ... sudah tidak bisa.” Helaan napas berat menandakan beban yang ditanggung di pundaknya.


“Sejak awal ... pernikahanku dengannya adalah sebuah kesalahan.” 


“Lalu, bagaimana dengan anak Kak Erka? Dia baru saja lahir, kasihan.”


Erka menggigit bibir bawahnya. “Aku punya alasan untuk berpisah. Masalah anak, aku tidak mempermasalahkan kalau harus ikut Cindy. Aku tak keberatan sama sekali. Bahkan, aku siap membiayainya sampai dewasa.”


“Mommy sudah tahu?” Ayleen mulai larut dalam pembicaraan.


“Belum. Setelah ini, aku akan bicarakan pada Mommy.” 


Ragu-ragu, Erka mendadak menggenggam tangan adik kecilnya yang dingin. “Bantu aku bujuk Mommy dan Daddy. Aku yakin mereka tak akan setuju.”


“Tentu saja!” Ayleen menjawab ketus.


“Kak Erka sudah memiliki anak dengan Kak Cindy, tidak semudah itu.”  Ayleen berkomentar.


“Aku tidak mencintainya.”

__ADS_1


__ADS_2