
“Kak Erka.”
Ayleen menatap pasangan suami istri di depannya bergantian. Sempat tertegun beberapa detik, ia buru-buru menyingkir saat kakak tertuanya meminta jalan tanpa bicara sepatah kata pun. Tatapan Erka begitu tegas, menusuk, dan membuat lawan menciut
Setelah enam bulan tak bertemu, Kak Erka berubah banyak.
Pembicaraan mereka terakhir saat Erka meminta bertemu di depan rumah lewat panggilan telepon. Itu jadi komunikasi terakhir mereka. Pria dewasa itu tak pernah pulang ke rumah setelah itu, bahkan saat mereka berangkat ke Bandung, tak tampak putra tertua Hutomo itu mengantar.
Merasa tak dianggap, Ayleen memutuskan untuk keluar dari kamar, memberi kesempatan kakak dan kakak iparnya menyapa Mommy di dalam ruang perawatan.
Ayleen masih sempat mendengar suara maskulin Erka menyapa Veronica, disusul Cindy melakukan hal yang sama sebelum ia menutup pintu ruangan. Merasa tak dianggap, perubahan sikap pria itu membuat Ayleen tercubit.
“Kak Erka banyak berubah. Aku seperti tak terlihat, padahal jelas-jelas dia melihatku berdiri di sana.” Ayleen bermonolog. “Sapaanku pun dianggap angin lalu.”
Hubungan yang tadinya hangat, mendadak dingin. Tak mau pusing, Ayleen memilih melanjutkan aktivitasnya. Toh, perubahan Erka tak akan berimbas apa-apa padanya. Pria itu sudah menikah, sebentar lagi akan memiliki bayi. Tampak jelas kalau Cindy sudah hamil. Perut besar sang kakak ipar tak bisa berdusta.
__ADS_1
...☆☆☆...
Mengganjal perut di salah satu restoran yang terdapat di lobi rumah sakit, Ayleen merasa berat untuk kembali ke ruangan. Keberadaan Erka dan istrinya mengusik gadis muda itu. Andai ia bisa memilih, tentu lebih baik pulang ke rumah dan bersembunyi dari keduanya.
Langkah kaki diseret, Ayleen berjalan menunduk sembari menenteng nasi tim ayam yang dipesannya khusus untuk Mommy. Jarak kian dekat, jantung pun semakin berdegup.
Menggenggam knop pintu, ia harus mengumpulkan semua kekuatan di dalam dirinya. Ayleen sudah membayangkan situasi di dalam kamar. Pintu kamar dibuka pelan, ia disuguhkan pemandangan asing yang mencubit hati. Mommy tengah duduk di sofa berdampingan dengan Cindy dan Erka duduk di sisi tempat tidur dan memandang lekat Daddy.
Kakinya baru akan melangkah masuk saat pundaknya dirangkul seseorang dari belakang.
Sontak Ayleen berbalik. “Kak Ersa.”
“Hmm. Ke mana saja?”
“Loh, Kak Ersa bersama ...?”
__ADS_1
“Ya, tadi masih mencari tempat parkir di bawah.” Ersa menjelaskan tanpa diminta. Rangkulan di pundak perlahan berpindah, Ersa menautkan jari-jarinya dan milik Ayleen, kemudian menggenggamnya dengan manis. Berjalan masuk bersama, ia tak hentinya melirik sang adik dan tersenyum.
Hampir sepuluh hari keduanya tak bertemu, Ersa tidak kembali ke Bandung akhir pekan lalu. Komunikasi kakak adik dengan hubungan tanpa kejelasan itu hanya melalui sambungan ponsel setiap hari.
“Mom, aku belikan makanan. Makanlah. Sejak siang Mommy belum mengisi lambungnya sama sekali.” Ayleen sudah berdiri di depan Veronica dan menyodorkan.
Wanita cantik di usia senja itu tengah mengusap perut menantunya, tiba-tiba mengalihkan pandangan. “Mommy masih kenyang, Leen.” Pandangannya tertuju pada genggaman tangan kedua anaknya. Ersa terlihat berbeda memperlakukan Ayleen. Ya, sejak kepindahan mereka ke Bandung, sikap putra keduanya berubah banyak.
“Mommy makan sedikit dan setelah itu beristirahat.” Ersa ikut membujuk.
“Ya, Mom. Setelah makan pulanglah. Aku dan Ersa akan berjaga-jaga di sini. Pulanglah bersama Cindy.” Sejak awal diam, Erka ikut bersuara. Nada bicara tetap sedingin es, pria itu masih menatap tubuh Daddy terbaring kaku di atas brankar.
“Aku mau di sini.” Cindy menolak.
“Pulanglah! Kamu sedang hamil.” Kalimat datar yang diucapkan tanpa ekspresi.
__ADS_1
“Tapi, Honey ....”