Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 11


__ADS_3

Deg—


Erka mencengkeram tengkuk Cindy dan menjauhkan wajah wanita itu darinya. Memaksa pertautan bibir yang panas terurai paksa. Ia tak percaya, baru saja mengikat diri dan Cindy mulai mengaturnya. Belum 24 jam menjadi suami istri dan hidupnya dikekang.


“Jangan main-main denganku, Baby. Hubungan kita sebatas bisnis dan ranjang. Tak ada rasa di dalamnya. Jadi jangan coba-coba terlibat lebih jauh dan menggunakan perasaanmu. Aku tak mau melukai wanita. Karena saat mereka terluka, akal sehat dan logikanya tak jalan.” Erka mendorong kasar tubuh indah yang sedang menindihnya.


“Aku lelah, Baby. Aku mau mandi dulu.” Sesuatu di dalam dirinya terhempas bersama dengan kata-kata Cindy.


“Honey, jangan marah. Aku tidak bermaksud begitu.” Cindy memeluk Erka dari belakang. Wanita itu menempel dengan manja, kedua tangannya membelit dan terkunci di perut roti sobek pria yang kini telah sah menjadi suaminya.


“Ingat batasanmu, Baby. Aku dan kamu hanya ada gai'rah, bukan cinta. Kita berhubungan badan bukan bercinta. Jadi jangan coba-coba menggunakan hati di dalamnya. Aku tak mau terlibat dan tak ingin salah satu di antara kita terperangkap di dalamnya.”


“Maafkan aku, Honey.” Cindy menempelkan wajahnya di punggung Erka. Gesekan kulit mereka menciptakan sensasi tersendiri.


“Ingat, aku memilihmu di antara wanita yang menghangatkan tempat tidurku karena satu, kamu yang terlihat profesional dibandingkan lainnya.” Erka menjelaskan.


“Ya, maafkan aku, Honey.” Suara Cindy terdengar manja.

__ADS_1


“Aku maafkan. Tapi, jangan diulangi lagi.” Erka mencengkeram tangan Cindy dan menjatuhkan wanita itu ke atas tempat tidur.


Seringai licik di bibir beradu dengan senyuman manis menggoda. Keduanya begitu kompak, hanya dengan membaca senyuman pun sudah bisa menangkap isi benak masing-masing.


“Kita sudah menikah, mari kita mainkan peran sebagai pengantin baru, Honey.” Suara Erka terdengar parau. Bola matanya tengah meneliti tubuh bak gitar Spanyol yang sudah siap disantap.


Cindy mengangguk.


“Kita lewatkan malam ini. Pertunjukkanmu harus lebih spektakuler dari biasanya. Aku ingin melihat performa Nyonya Aryya Perkassa Hutomo Putra.”


Erka mengedipkan mata sebelum akhirnya ikut naik ke atas tempat tidur dan memulai. Mengawali semua dari kecupan di wajah, hidung, dan bibir. Pria dewasa yang sudah terbakar itu tak peduli dengan apa pun. Ia hanyut dan terbuai seperti biasa.


Tepat saat akan memulai, bayangan Ayleen tiba-tiba melintas dan mengacaukan segalanya. Erka tersentak. Pria itu memandang tubuh terkulai di bawahnya, berbaring pasrah dan menunggu kebahagiaan sempurna yang akan didapatkan sebentar lagi.


Menggeram kesal. Semuanya hancur berantakan saat di puncak dan siap menembus awan. Erka meremas kasar rambutnya yang basah oleh keringat. Lehernya tertekuk ke belakang dan mengumpat untuk ke sekian kali.


“Aaarrrgh!” Pria itu menggerutu dan turun dari atas tubuh makhluk feminin yang berhias kecewa.

__ADS_1


“Honey, kenapa?” Cindy bertanya pelan.


“Aku sedang tidak mood.” Erka berdusta. Wajah tampan itu terlihat putus asa. “Aku mau berendam di air hangat. Tolong jangan ganggu aku.”


“Honey, kamu baik-baik saja?” Cindy ikut turun dari tempat tidur dan memungut pakaiannya yang berserakan.


“Tidak, aku mau sendiri.” Erka melangkah ke kamar mandi tanpa menoleh.


“Mau aku temani?” Cindy heran.


“Tidak!” Suara Erka menghilang bersama pintu yang dibanting.


“Aneh? Tidak biasanya Erka menolak tubuh wanita. Apalagi saat tinggal selangkah lagi.” Cindy bergumam pelan, menatap sedih kamar mereka yang terlanjur berantakan.


***


Kalau sayang Erka dan Ayleen, jangan lupa like, komen, vote dan gift-nya.

__ADS_1


Aku masih menulis di sini untuk pembaca setiaku. Jadi mohon pengertiannya, di saat aku tidak bisa untuk up tiap hari di sini dan harus fokus di lapak lain. Aku berusaha untuk tetap up, mencuri-curi waktu.


Yang rindu aku, bisa cari di sebelah. Walau gak ada Om Pram dan Kailla, di sana ada Om Bram dan Una. Bisa cek instagram : casanova_wety.s.hartanto


__ADS_2