
"Bukannya dulu kamu sering menumpang tidur di kamarku saat masih kecil. Izinkan aku menumpang tidur di kamarmu sekarang." Erka menjelaskan.
“Kak ....” Suara Ayleen menghilang seiring dengan cekalan di lengan atasnya. Upayanya meraih gagang pintu agar bisa keluar dari kamar harus sia-sia. Erka menyeret tubuhnya dan mengempaskan ke atas tempat tidur.
Belum sempat berontak, Erka menyusul. Pria itu ikut merebahkan diri di sampingnya. Kedua tangan kekar kakaknya pun ikut memeluk tanpa permisi, mendekapnya dengan posesif seakan takut kehilangan.
“Jangan berontak. Aku janji tidak akan macam-macam denganmu. Hanya ingin memeluk sampai pagi. Aku dan Ersa pasti kehilanganmu.” Erka masih menjaga gengsinya. Ia berjuang untuk menutupi perasaan yang sebenarnya sudah terang benderang.
“Kak Erka kenapa?” Ayleen melempar tanya setelah merasakan tubuh menegang yang menempel di kulit punggungnya. Dekapan yang semakin erat dan ia bisa merasakan Erka mengecup tengkuknya setelah menyibak rambut panjangnya ke sisi kiri pundak.
“Aku menyesal menolakmu ....” Suara maskulin itu terdengar sayup-sayup, tetapi masih tertangkap indra pendengaran Ayleen.
“Sssttt, jangan bergerak. Tetap seperti ini sampai pagi. Setelah kamu pulang ke Bandung ... aku pasti merindukanmu, Leen.” Erka berbisik pelan, menjatuhkan kepalanya menempel pada Ayleen.
Netra keduanya terpejam rapat, bersama dengan deru napas yang semakin lama terdengar makin teratur. Keduanya terbuai ke alam mimpi beberapa menit kemudian, dengan posisi saling mendekap pada akhirnya.
__ADS_1
Tanpa sadar, di dalam tidurnya Ayleen berbalik dan memeluk pinggang kakaknya, menyusup masuk ke dalam pelukan hangat pria yang tak lagi berstatus sendiri. Erka sudah menikah, dan apa yang mereka lalukan adalah kesalahan.
***
Tengah malam, saat rembulan di pucuk kepala. Cindy yang merasa tenggorokannya kering terusik saat telapak tangannya tanpa sengaja mengusap ranjang dingin di sisinya. Tak ada Erka berbaring di sana.
Selama terikat pernikahan, pria itu selalu mengisi tempat tidur, berbagi dengannya walau tak lagi menyentuhnya seperti dulu. Setelah janji suci terucap, Erka seperti pria asing yang tak lagi dikenalnya.
“Ke mana dia?” Cindy membuka mata saat otaknya mengirim pesan ke tubuhnya untuk terbangun secepatnya.
Tak bisa berdiam diri dan merelakan harga dirinya diinjak-injak, Cindy bangkit dari kantuknya, ia harus mencari sang suami. Kalau perlu, ia akan melabrak saat itu juga kalau benar ada wanita lain mengusik pernikahannya.
Berlari menuju ke garasi mobil, Cindy mengernyit saat mendapati mobil sport hitam milik suaminya masih ada di sana.
“Apa Erka masih bekerja hingga larut malam?” tanya Cindy pada diri sendiri. Melirik jam bulat yang tergantung di dinding, ia tersentak saat waktu sudah menunjukkan pukul 12.40 malam.
__ADS_1
“Tidak, tak mungkin Erka serajin itu.” Cindy menggeleng. Merapatkan piama tidur berbahan satin tipis, wanita itu masih belum bisa menebak apa yang dilakukan suaminya saat ini.
Menyusuri ruangan demi ruangan di kediaman mewah mertuanya, Cindy hampir putus asa saat tak menemukan jejak suaminya. Ingin membangunkan semua orang rumah agar bisa membantu, tetapi ia tak bisa seenaknya. Ini waktu semua orang beristirahat dan melepas lelah. Ia tidak bisa egois.
“Apa aku bangunkan Ersa. Adiknya mungkin tahu di mana keberadaan kakaknya. Siapa tahu Erka punya kebiasaan jalan-jalan saat tidur.” Cindy masih berpikiran positif.
Akan tetapi, pikiran baik di dalam otaknya menguap saat melewati kamar Ayleen dengan pintu bercela memancar terang dari dalam. Seakan menunjukkan kalau penghuninya masih terjaga sampai detik ini.
“Apa aku tanyakan pada Ayleen saja? Sepertinya gadis itu belum tidur.” Cindy mengurungkan niatnya mengusik Ersa yang bersebelahan kamarnya dengan putri kesayangan Hutomo.
Mengendap-endap, kaki jenjang tanpa alas kaki itu tak mengeluarkan suara. Cindy mencoba mengintip dari celah pintu untuk memastikan kalau penghuni kamar benar-benar masih terjaga.
“Tak terlihat apa-apa.” Cindy memicingkan matanya.
Mendorong daun pintu agar sedikit terbuka, Cindy mencoba menjulurkan kepalanya lebih ke dalam. Dalam hitungan detik, semua isi otaknya terburai berantakan saat pandangan tertuju pada Erka yang tidur dengan mendekap mesra Ayleen. Ya, Cindy bisa melihat jelas kalau suaminya sedang terlelap dengan berpelukan mesra bersama sang adik ipar.
__ADS_1
Jangan lupa dukuangannya ya.