Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 70


__ADS_3

“Ka, kita perlu bicara!” Ersa sudah duduk di ranjang kamar kakaknya. Ia sengaja menunggu karena ada yang ingin dibahasnya.


“Ada apa?” Erka tampak santai, menutup pintu kamarnya.


“Kamu setuju menikah dengan Ayleen?” todongnya tanpa basa-basi.


Pria gagah pemimpin PT Aryyacement itu tergelak. “Bukan urusanmu, Sa. Sana tidur, ini sudah malam. Besok harus kembali bekerja.”


“Jawab aku dulu, Ka!”


Helaan napas menandakan pria itu mulai lelah dicecar pertanyaan yang sama.


“Sebenarnya, aku malas membahas hal ini.” Erka menjatuhkan tubuhnya di sofa pijat, tatapan tertuju pada adiknya. “Aku tidak tahu apa-apa. Menikah atau tidak, Ayleen yang memutuskan. Bukan aku, Sa. Tanyakan pada Ayleen saja. Sana pergi! Aku mau istirahat,” usir Erka.


“Serius, Ka?” Ersa terbelalak.


“Ya, tanyakan saja padanya. Aku juga tidak tahu apa jawabannya.” Erka memejamkan mata.


“Ka, aku ingin jawaban jujur.”


“Hmm.”


“Andai Ayleen setuju menikah, apa kamu pun akan memperlakukannya seperti istrimu? Bukannya kamu sudah menolak.”.


“Andai Ayleen setuju menikah denganku, rumah tangga kami bukan menjadi urusanmu, Sa. Urus saja masalahmu sendiri.”


“Aku serius, Ka.”

__ADS_1


“Memangnya aku bercanda?” Erka membuka mata.


“Tidak. Aku hanya ingin memastikan, Ka. Kalau memang pernikahan ini untuk Dayana, kasihan Ayleen. Dia ....”


“Makanya aku meminta dia yang menjawab. Jadi tidak ada yang merasa dikorbankan. Saat kami harus menikah artinya dia sudah ikhlas. Erka menegaskan.


“Tapi ... kamu tahu tekanan Ayleen, kan?”


“Tidak ada yang menekannya. Dia berhak menolak. Sama sepertiku menolaknya.” Erka berkata dengan penuh percaya diri. Setidaknya Daddy dan Mommy tahu apa yang dirasakan Ayleen.” 


Ersa menggeleng. “Andai pernikahan itu harus terjadi dan hanya alasan Dayana, tolong jangan sentuh Ayleen,” pinta Ersa.


Erka tergelak. “Sudah! Pergi tidur sana! Jangan sampai ucapanmu didengar orang, pasti ditertawakan.”


“Apa maksudmu, Ka?”


Tawa Erka masih belum pergi, ia tak bisa menghentikannya setiap teringat permintaan sang adik.


“Aku serius, Ka.”


“Keluar. Kamu butuh istirahat dan menyiapkan hatimu untuk jawaban Ayleen besok pagi. Aku tahu kamu lebih gugup dariku.” Erka mengibaskan tangannya. 


“Oh ya, mulai sekarang ... panggil putriku Yaya. Aku lebih suka putriku dipanggil seperti itu. Ingatkan yang lain juga.” Erka tiba-tiba mengingatkan. 


Baru merasa jadi Papa. Sepertinya dia lupa saat Yaya lahir dia memilih kabur.


...●●●...

__ADS_1


Pagi hari di kediaman Hutomo Putra terlihat seperti biasa, Erka yang baru saja selesai menikmati sarapan pagi tampak berjalan menuju ke ruang kerja, disusul di belakangnya Ayleen dengan wajah tegang.


“Kamu sudah siap?” Erka berbalik, dipandanginya gadis polos dengan kecantikan sederhana.


“Ya, Kak.” Ayleen menelan ludah.


“Di dalam ada Daddy dan Mommy, kamu bisa sampaikan penolakan atau keberatanmu, Leen.”


“Ya, Kak.”


“Jangan takut. Kalau kamu menolak pun, aku akan membantumu.” Erka menyunggingkan senyuman.


Mengetuk pelan pintu kayu, Erka langsung mendorong hingga terbuka. Tampak Hutomo duduk di kursi kebesaran dengan Veronica tak jauh dari sang suami.


“Dad, aku sudah menyiapkan jawaban.” Erka melirik ke arah Ayleen yang terlihat gugup. “Aku tidak akan menjawab setuju atau menolak. Biarkan Ayleen yang menjawabnya. Jawabannya adalah jawabanku. Apa pun, aku akan setuju.”


Hutomo dan Veronika saling melempar pandangan kemudian menatap putri mereka yang terus menunduk.


“Sejak kemarin selalu aku yang ditanya dan tak ada yang menanyakan pendapat Ayleen. Biarkan dia yang menjawabnya sekarang. Aku rasa Ayleen pun berhak berpendapat. Ini pernikahan yang melibatkannya dan tentunya seumur hidup. Bukan masalah memilih pakaian atau sepatu.” Erka berdiri dengan menyelipkan kedua tangannya di saku celana.


Hutomo mengangguk. “Katakan, Leen. Daddy siap mendengar. Sampaikan keberatanmu jika ada. Mengenai kuliah, Daddy pastikan Erka tidak akan bisa melarangmu berhenti sampai mendapat gelarmu. Daddy jaminannya. Putra putri keluarga Hutomo harus berpendidikan. Jangan seperti Daddy yang hanya lulusan SD.”


“Aku ....” Ayleen melirik ke arah Erka.


...To be continued...


...Ditolak apa diterima?...

__ADS_1


__ADS_2