Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 61


__ADS_3

“Kenapa? Bukannya kamu mencintainya? Apa yang kamu lakukan selama ini, sampai-sampai menyakiti Cindy ... bukannya karena Ayleen?” cerocos Veronica


Erka diam.


“Saat istrimu melahirkan, kamu sendiri pergi ke mana?” todong wanita tua itu lagi.


“Maaf.”


“Percuma. Sampaikan saja pada Cindy, jangan pada Mommy.” Amarah tertahan baru bisa dilampiaskan sekarang. Veronica menggeram kesal. Tampak ia mengempaskan bokongnya di kursi dan menatap tajam Erka.


“Maafkan aku, Mom.” 


Veronica menarik napas panjang dan mengembuskannya lagi. Jujur, ia bingung dengan jalan Erka. Setahunya sang putra sangat mencintai Ayleen hingga mengabaikan istri sendiri, bahkan memilih pergi ke Bandung dan meninggalkan Cindy berjuang melahirkan sendiri.


“Apa maumu, Ka?” 


“Tidak ada, Mom.” Erka membeku. 

__ADS_1


Kalau diamati, pria itu tampak kacau di balik penampilan rapinya. Wajah lelah dengan beberapa gurat kesedihan tampak nyata. Wajah sembab dengan kantung mata. Yang paling kentara adalah Erka tidak terlalu fokus, pandangan menerawang, dan tidak banyak bicara.


“Dayana, coba pikirkan Dayana, Ka. Putrimu membutuhkan sosok mama ....”


“Dayana memiliki pengasuh. Dia tidak akan terlantar.”


“Bukan itu maksudnya, Ka. Mau pengasuh atau siapa pun, tak akan ada yang bisa menggantikan. Dayana butuh ibu untuknya, kamu butuh istri.” Veronica menerangkan.


Napas berat terdengar berulang-ulang. Erka tak bisa berpikir terlalu jauh. Semua begitu mendadak, sampai detik ini ia masih belum bisa percaya, belum siap kehilangan Cindy dengan cara ini. Bukan masalah cinta atau tidak, bukan pula masalah hati. Ini nurani, masalah kemanusiaan.


Pernah menutup mata, menyumpal telinganya untuk semua permohonan Cindy, kini ia menyesal. Andai tidak terlalu keras, semua ini tak akan terjadi. Jika ia menurunkan ego, jalan hidup wanita yang diperistrinya tak akan begini. Kalau dulu tak menawari pernikahan, tak kan ada hari ini.


“Ka.”


Veronica menyapa berulang, menyadarkan Erka dari lamunan. 


“Ka, coba pikirkan lagi. Renungkan lagi kata-kata Mommy. Ini bukan hanya untukmu, tapi Dayana. Akan jadi apa anak itu besar tanpa sentuhan ibu. Lagi pula, terlihat sekali Ayleen sangat menyayangi Dayana. Mau wanita mana lagi?”

__ADS_1


“Aku tidak bisa menjawab, Mom.”


“Kamu yakin ... akan ada wanita di luar sana yang bisa tulus menyayangi putrimu. Sebagian hanya mengincarmu dan harta keluarga kita, Ka. Ayleen adalah calon terbaik, apalagi kamu juga mencintainya. Itu sudah lebih dari cukup.”


“Aku tidak tahu, Mom.”


“Ka, Mommy yang merawat Ayleen sejak masih bayi merah. Mengenai hatinya, Mommy jamin, Ka.”


Erka menggeleng.


“Jangan membahasnya sekarang. Otakku tidak bisa berpikir apa-apa.”


Obrolan ibu dan anak itu harus berhenti saat pintu ruang kerja didorong paksa dari luar. Ersa muncul dengan setelan kerja, berdiri di ambang pintu menatap tajam.


“Sa, ada apa?” Veronica bertanya setelah berhasil menguasai diri. Kehadiran putra keduanya yang tiba-tiba membuat ia terkejut.


“Aku tidak setuju.” 

__ADS_1


Sejak tadi menguping di balik pintu yang sengaja dibukanya sedikit, Ersa akhirnya tak bisa tinggal diam saat Erka didesak terus menerus. Bukan tak mungkin pada akhirnya sang kakak akan melunak dan menerima semua ide gila mommy-nya.


“Tidak setuju dengan apa?” Veronica melunak. 


__ADS_2