Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 13


__ADS_3

Seminggu sudah Erka dan Cindy menumpang di kediaman daddy-nya. Tak ada pembicaraan akan dibawa ke mana rumah tangga pasangan pengantin baru itu. Rencana awal akan menghuni apartemen, tetapi putra tertua keluarga Hutomo mengganti tanpa kompromi dengan sang istri.


Menyibukkan diri di kantor sepanjang hari, Erka memilih mencari perhatian Ayleen yang menjauhinya. Bahkan, gadis itu tak lagi mau melihat wajahnya setiap bertemu di ruang makan atau saat tanpa sengaja berpapasan.


“Erka, hubungi Rarendra. Minta anak muda itu makan malam di rumah,” titah Hutomo, sesaat setelah membubarkan rapat.


Erka yang mulai membaca gelagat tak beres sejak malam resepsi pernikahannya, tersentak, berbeda dengan Ersa yang tampak biasa.


“Dad, untuk apa?” Erka memastikan. Pandangannya beralih pada adiknya, Ersa.


“Daddy ingin mengenalnya lebih jauh.” Hutomo menjelaskan seadanya. Tak mau menyampaikan niatnya sebelum membahasnya dengan yang bersangkutan sendiri.


“Ini tidak ada hubungannya dengan Ayleen, kan?” tebak Erka, terus terang.


Saat nama Ayleen disebut, Ersa mengangkat pandangannya. Konsentrasinya berantakan, tumpukan dokumen yang sejak tadi menyita perhatian tak lagi penting..

__ADS_1


“Dad, ini serius?” Ersa bersuara ketika mulai bisa merangkai arah pikiran Hutomo.


“Bagaimana menurut kalian?” Pria tua itu meminta pendapat.


“Aku tidak setuju.”


“Aku tidak setuju, Dad.” Erka dan Ersa menolak dengan kompak.


Hutomo tergelak. Menatap putranya bergantian. “Bagaimana kalian berdua bisa begini kompak?”


“Aku tidak setuju. Ayleen masih kecil.” Ersa mengungkapkan alasan penolakannya. Ia tak bisa membayangkan saat adiknya harus menikah suatu saat.


“Lalu? Apa ada yang lebih tepat menurut kalian. Daddy tertarik padanya. Bibit, bobot, dan bebetnya masuk ke dalam kriteria. Dia memiliki karier yang bagus, lulusan luar negeri, dari keluarga terpandang. Apa lagi? Daddy tidak menemukan kekurangannya.” Hutomo menatap kedua putranya bergantian.


Erka diam, Ersa pun bungkam. Andai Hutomo sudah menurunkan titah, tak ada seorang pun yang membantah. Keduanya hanya berdoa semoga keinginan pria tua di hadapan mereka tidak terlaksana.

__ADS_1


“Berikan nomor ponselnya. Daddy yang akan mengundangnya secara khusus malam ini. Setidaknya Rarendra perlu mengenal Ayleen, demikian juga adik kalian. Kalau memang keduanya cocok, Daddy akan membahasnya langsung pada Mr. Tan.”


Erka tak bisa menolak, meraih secarik kertas dan menorehkan deretan angka yang didapatnya dari ponsel. Pikirannya kacau. Andai keinginan Hutomo terkabul, ia tak bisa membayangkan Ayleen menjadi milik sahabatnya sendiri.


“Ya Tuhan, rasanya tidak rela. Bibir manis itu akan jadi milik pria lain.” Erka membatin. Kedua tangan terkepal, raut wajahnya pun tak bersahabat.


“Temanmu itu memang mengesalkan. Lain kali jangan pernah mengenalkan temanmu pada Daddy. Aku tahu semua temanmu tak ada yang baik-baik. Semuanya pemain wanita. Jadi apa Ayleen yang polos di tangan mereka.” Ersa mengomel.


***


“Selamat malam.” Rarendra dengan tampilan santai menyapa pemilik rumah. Ia dihubungi Hutomo tadi siang untuk menghadiri acara makan malam. Sebagai pria yang berpengalaman, tentu ia paham arti undangan yang ditujukan khusus untuknya.


“Rendra? Kamu sudah datang?” Hutomo menyambut uluran tangan tamunya, lengkap dengan pelukan dan tepukan di pundak.


“Ya, Om. Maaf sedikit terlambat.” Rarendra tersenyum ramah.

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Makan malam tidak akan dimulai tanpamu. Kamu tamu khusus malam ini, tentu semua orang harus menunggu.” Tawanya pria tua itu menggema di ruang tamu rumahnya. Pandangannya tertuju ke atas, menunggu putrinya turun dan bergabung.


Tampak pria tua memanggil salah satu asisten rumah untuk memanggil Ayleen turun dan bergabung.


__ADS_2