
“Sa, dipanggil Erka di ruangannya. Sepertinya ada sedikit masalah dengan pabrik baru.” Erick meneliti Ayleen dan Ersa. Dua sejoli itu masih dalam posisi tak biasa.
“Maaf.” Ersa buru-buru melepas dekapannya. Bisa dipastikan kalau Erick mengadu semuanya akan berantakan.
“Baiklah, aku juga mau ke ruangan Kak Erka.” Ayleen bersuara. Berjalan buru-buru, ia harus keluar dari ruangan Ersa secepatnya. Akan jadi masalah andai ia yang sebentar lagi akan menikah, tiba-tiba kedapatan berpelukan dengan pria lain. Walau saudara sendiri, tetap saja tidak boleh.
Ersa mengekor di belakang Ayleen, berjalan ke arah yang sama dan meninggalkan Erick sendirian. Ia hanya bisa berdoa agar asisten kakaknya tak mengadu. Tak mau semua jadi berantakan dan berimbas pada adiknya.
Sudut bibir kanan Erick terangkat ke atas. Pemuda itu menatap lekat punggung keduanya bersama dengan suara ketukan sepatu yang teratur menggema di lantai. Tak lama, ia pun berjalan mengekor dengan kedua tangan menyelip di saku celana.
Pandangan asisten Erka itu masih tertuju pada gadis cantik menenteng kotak bekal. Otaknya pun merangkai kisah sendiri. Berita pernikahan Erka dan Ayleen adalah kebahagiaan tersendiri untuknya. Ia akan memastikan semua itu terjadi sesuai dengan rencana Hutomo dan Veronica.
“Sebentar lagi kamu akan menjadi Hutomo sebenarnya. Selamat Ayleen Putri.” Erick tersenyum. Langkahnya terlihat santai, menatap lurus ke depan.
...▪︎▪︎▪︎...
__ADS_1
“Kak Erka, aku bawakan makan siang.” Ayleen masuk lebih dulu, meletakkan tas bekal di atas meja kerja.
Pemilik ruangan tampak terkejut. Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba calon istri muncul membawakan makan siang. Dipandanginya gadis manis yang siang itu tampak cantik dengan gaun sutera berwarna tosca.
“Mau aku siapkan?” tanya Ayleen. Ia sudah mengeluarkan kotak-kotak bekal dari dalam tasnya.
“Boleh.”
Jawaban Erka bersamaan dengan suara pintu ruangan terbuka. Tampak Ersa muncul dari balik pintu. Suara pria muda itu terdengar canggung, tatapan tertuju pada Ayleen saat berbicara.
Pantas saja! Dia memilih mengantarkan makanan ke ruanganku lebih dulu. Jadi dia punya waktu melayani Erka.
Telapak tangan Ersa mengepal, sorot mata memerah kala cemburu menyelimuti hatinya. Bersusah payah mengontrol diri, pria muda itu melempar pandangannya ke tempat lain.
Menyesakkan. Satu kata yang mudah dilafalkan, tetapi sulit dijalani. Setiap sang kakak menatap Ayleen, hatinya teriris. Perih tetapi tak berdarah.
__ADS_1
“Tolong kontrol ke pabrik. Daddy tidak mengizinkanku menanganinya sampai pernikahan terlaksana. Apalagi kalau harus keluar kota.” Pandangan Erka tertuju pada Ayleen yang tak terusik sama sekali.
“Ya, Kak.” Ersa menurut. Suaranya terdengar lemah. Pandangan pun tak beralih sedikit pun dari Ayleen.
“Kamu sudah makan siang?” tanya Erka. Sebagai kakak, tentu saja ia mengerti perasaan terluka Ersa saat ini. Namun, ia pun tak punya pilihan.
“Aku makan di ruanganku saja. Ayleen juga membawakan untukku tadi.”
“Oh ya?” Erka memainkan alisnya, menjatuhkan pandangan pada adik kecil yang sebentar lagi akan diseretnya ke dalam pernikahan.
“Ya, Kak. Titipan Mommy. Aku diminta mengantar makan siang untuk kalian berdua. Mommy memasak sendiri.” Ayleen beralasan. Tak mau pembahasan tak penting ini menjadi panjang.
Erka mengangguk. Secuil curiga mendadak muncul di sudut hatinya. Terbayang apa yang baru saja terjadi pada adik dan sang calon istri di ruangan Ersa. Cemburu? Tentu saja. Rasa itu sekarang merongrong hatinya.
“Leen, aku mau makan sekarang,” pinta Erka dengan suara mendayu. Kemanjaan yang tak pernah ditunjukkannya belakangan ini.
__ADS_1