Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 92


__ADS_3

Jemari Ayleen dengan lancar mulai mengusap layar, bibir komat-kamit membaca isi pesan yang sebagian besar berisi ancaman. Kata-kata rayuan di awal sampai umpatan di akhir karena pesan tidak dibalas.


Ujung jari Ayleen menarik turun layar ponsel dan mulai membaca pesan-pesan teratas. Ia butuh mencari tahu dari awal bagaimana semua bermula. Mata indahnya membelalak sempurna saat pesan pertama berisi nama hotel dan nomor kamar disertai foto Vania dalam balutan pakaian seksi yang memamerkan beberapa anggota tubuh.


“Ya Tuhan, apa maunya?” Ayleen tak bisa berpikir lagi saat melihat pose-pose menantang yang dikirim ke ponsel suaminya. 


“Dibaca tapi tidak dibalas. Andai berani membalas, aku patahkan jari tangannya.” Gadis itu menggerutu kesal.


Melewati beberapa foto, Ayleen bisa melihat kalimat-kalimat kemarahan yang dikirim Vania. Umpatan kekesalan dan ancaman berikut foto Cindy yang sedang bermesraan bersama Erka.


“Apa maksudnya ini?”


Ayleen tengah meneliti beberapa lembar foto Erka sedang bermesraan dengan mendiang istrinya di atas tempat tidur. Kalau dilihat lokasinya, itu seperti foto lama. “Apa maksudnya mengirim foto-foto ini? Toh,  Kak Cindy sudah tidak ada.”  


Turun ke bawah, putri angkat Hutomo itu kembali bertemu dengan pesan teks berisi ancaman dan pelampiasan kekesalan karena diabaikan Erka.


“RK, kurang ajar! Kamu sedang menguji kesabaranku!” Ayleen membaca isi pesan dengan suara pelan. Bibirnya menyunggingkan senyuman membayangkan saat mengirim pesan pasti Vania sedang dilanda emosi tingkat tinggi. Menunggu sampai lelah, tetapi Erka tak kunjung tiba.


“Memangnya enak?”Buru-buru menutup mulut, Ayleen tak mau suaranya terdengar siapa pun. 


Selesai membaca dan memahami semua pesan yang dikirim Vania di ponsel suaminya, Ayleen pun berjalan menuju ke balkon kamar. Ia tak bisa seperti Erka yang memilih mengabaikan banyak hal. Tidak, gadis itu tak bisa tutup mata.

__ADS_1


Sebelum memblokir kontak Vania di ponsel suaminya, ia mencoba menghubungi. Ayleen yakin saat ini wanita itu tengah meratapi nasib. Nada sambung terdengar mencekam, memaju adrenalin. Tak butuh waktu lama, terdengar suara feminin menyapa.


“RK, akhirnya ....” Suara lemah lembut disertai ******* manja itu memang sengaja memancing.


Hening. Ayleen tak bersuara. Ia menghela napas berulang untuk mengontrol emosinya. Desiran angin malam membuat tulang linu dan kulit meremang. Namun, tak ada apa-apanya dibanding rasa yang diciptakan Vania sesaat menyambut panggilan telepon.


“Tidak perlu bermanis-manis. Suamiku tak akan terpengaruh dengan suara manjamu.” Ayleen menegaskan dan membuat Vania melotot di seberang panggilan. Tadinya dikira Erka, ternyata orang lain. 


“Ba-bagaimana ponsel RK ada padamu.” Vania terbata-bata.


“Ini ponsel suamiku. Tentu saja ada padaku! Jangan ganggu Erka kalau tak mau dipermalukan. Pose menantangmu itu sudah tak mempan. Suamiku tidak suka dengan wanita yang terlalu baik hati, mengobral tubuh di mana-mana.” Ayleen menyerang ke sasaran. “Jangan pernah meminta Kak Erka menemuimu, karena itu tidak akan pernah terjadi!” ancam Ayleen.


Tak ada jawaban, hanya helaan napas kasar. Sepertinya Vania tengah mengatur emosinya untuk tidak meledak.


“Sudahlah, tidak perlu basa-basi. Intinya, suamiku tidak terlalu tertarik dengan wanita murahan sepertimu. Sekali lagi aku tahu kamu masih menghubungi Kak Erka, habis kariermu! Jangan kira aku tidak tahu apa pekerjaanmu.” Ayleen mengirim ancaman.


Belum sempat gadis itu melanjutkan, terasa tepukan di pundak yang menghancurkan konsentrasinya. Semua kata-kata yang dirangkainya untuk menyerang mendadak menguap. Ayleen berbalik dan menatap sosok gagah yang juga tengah memandang lekat padanya hingga ia jengah.


Senyum terselip di sudut bibir. Erka dengan wajah lelahnya entah sejak kapan berdiri di belakangnya dan menguping pembicaraan.


“Kak Erka?” Ponsel di telinga mendadak turun tanpa sempat dimatikan.

__ADS_1


“Hmm.” Tak ada jawaban, pria dewasa itu hanya bergumam dan memandang pekatnya malam. Lama terdiam hingga akhirnya Erka bersuara. “Mulai menunjukkan taringmu, Nyonya?”


Ayleen cemberut.


“Aku belum mengucapkan apa pun padamu, Leen. Yang jelas, terima kasih sudah bersedia menjadi istri untukku dan Mama untuk Dayana. Aku tidak mudah menjadi dirimu, untuk itu aku rasa harus berterima kasih.” Erka menepuk pundak Ayleen dan tersenyum manis. 


Pandangannya terangkat ke langit malam. Rembulan bulat penuh sedang bercengkerama dengan bintang-bintang di sekelilingnya.


“Jangan lakukan ini lagi, Leen. Aku bukan tidak suka.” Erka menyambar ponselnya dari genggaman Ayleen. “Terima kasih. Tapi, aku bisa mengurus semua masalahku sendiri. Aku tidak mau kamu terlibat, Leen.” Erka mematikan sambungan telepon.


“Cukup berdiri di sebelahku dan urus Yaya, selebihnya biar menjadi urusanku.” Erka merangkul pundak Ayleen dan membiarkan merebah di pundaknya.


Tak ada sanggahan atau bantahan, Ayleen hanya menurut di dalam kebungkamannya.


...T H E E N D...


Bagi yang menunggu judul baruku, tetap di favorit, ya. Aku akan mengabari melalui pengumuman. Kemungkinan awal bulan depan, kisah Rarendra Tan up di sini.


Siapa Rarendra Tan? Teman baik Erka, yang sempat dijodohkan dengan Ayleen.


Untuk karyaku yang lain, spoiler dll, bisa follow instagram : casanova_wety.s.hartanto.

__ADS_1


Yang suka kisah orang ketiga, bisa mampir di REUNI. visual, video, spoiler ada di instagram.


__ADS_2