Menikahi Kakak Angkatku

Menikahi Kakak Angkatku
Bab 71


__ADS_3

“Aku bersedia menjadi ibu sambung untuk Yaya.” 


Ayleen mengucapkan dengan yakin. Ia tidak mengatakan bersedia menikah, tetapi membawa nama Dayana di dalamnya. Hutomo tersenyum, begitu juga dengan Veronica. Wajah renta keduanya tampak bahagia. 


Erka diam, melirik gadis manis itu tak berkedip. Pernyataan dan jawaban Ayleen akan mengubah hidup dan dunianya. Tentu saja, ia akan terikat lagi dan menjalani rumah tangga untuk kedua kalinya. 


“Kalau Ayleen sudah setuju, artinya kamu sudah tidak bisa menolak lagi. Lebih tepatnya tak ada alasan menolak. Bukannya jawaban Ayleen artinya jawabanmu juga?” tegas Hutomo, berbinar bahagia.


“Ya, Dad.”


“Bersiaplah. Daddy dan Mommy tidak jadi pulang sampai pernikahanmu terlaksana.” 


Ucapan yang membuat Erka dan Ayleen terbelalak bersamaan. Dikiranya, pernikahan itu bisa diundur, menunggu semua persiapan.


“Ha-harus sekarang?” Erka terbata-bata.


“Secepatnya, Ka. Setelah itu kami mau kembali ke Bandung."


“Tapi persiapan itu tidak bisa dilakukan secepat kilat.” Erka masih berusaha mengelak. Berjalan mendekati Ayleen yang kini sudah duduk di depan Hutomo. 

__ADS_1


“Yang penting kalian luangkan waktu untuk mencari cincin pernikahan dan fitting gaun pengantin, selebihnya Mommy akan meminta Erick mengurusnya.” Veronica bersuara.


Ayleen diam seribu bahasa, kepala tertunduk dengan kedua tangan saling meremas di atas pangkuan. Memutuskan untuk menikah tidak mudah untuknya. Butuh pertimbangan panjang, ia tidak bisa tidur semalaman. 


“Leen, kamu tidak punya pendapat?” Hutomo mencari tahu.


“Aku hanya ingin tetap melanjutkan kuliah. Yang lain ... aku menurut saja.” 


“Baiklah. Berarti tidak ada masalah lagi. Bagaimana kalau akhir bulan?” Hutomo memberi ide.


“Ha?”


“Jangan khawatir, orangku akan mengurus semuanya. Kalian tinggal duduk manis, berdandan cantik, jadi raja dan ratu sehari.”


Erka menggeleng, bibirnya terkunci rapat. Ini pernikahan yang dirancang kedua orang tuanya dan disiapkan mereka juga. 


“Aku banyak pekerjaan dalam minggu ini.” Erka menegaskan.


“Tidak masalah. Ayleen tidak ada kegiatan, Daddy dan Mommy akan melibatkannya untuk semua persiapan.” Hutomo tersenyum simpul. Dipandanginya calon pengantin yang tampak tampan dan cantik pagi ini.

__ADS_1


“Baiklah. Aku menurut saja.” Erka meletakkan tangannya di kedua bahu Ayleen dan menunduk. “Leen, aku harus ke kantor sekarang. Pekerjaanku menumpuk. Hubungi aku kalau membutuhkan persetujuanku,” bisiknya pelan.


“Ya, Kak.”


“Dad, Mom, aku berangkat ke kantor. Masalah yang lain-lain, aku serahkan pada Ayleen. Aku pamit dulu.” Pria tampan dengan setelan kerja itu sudah bergegas menuju pintu. Ia masih sempat berbalik dan tersenyum kecut.


Tepat saat pintu ruang kerja terbuka, Erka disambut adik laki-lakinya. Entah sejak kapan Ersa berdiri di ambang pintu. Wajah tampannya pagi ini tampak kusam dan kacau. Ia memaklumi, obrolan mereka kemarin sudah cukup menjadi alasan kenapa pria muda itu berantakan.


Tatapan sendu Ersa seakan meminta jawaban. Ia tak bisa tidur semalaman dan di detik-detik terakhir masih dibuat penasaran dengan sikap kakaknya yang misterius.


“Aku harus ke kantor dulu, Sa.” Tepukan pelan di pundak Ersa tak menjawab apa-apa.


“Ka, apa jawaban Ayleen?” Ersa menatap punggung kakaknya yang menjauh.


“Ka?” 


Tak ada jawaban, Erka hanya melambaikan tangan dari posisi membelakangi. Direktur utama Aryyacement itu tak mengiyakan ataupun menolak.


“Masih misteri. Aku harap Ayleen menolak. Ada banyak cara untuk menjaga Yaya tanpa harus menikah dengan papanya.” Ersa bermonolog.

__ADS_1


Masih berdiri mematung di depan ruang kerja yang pintunya tak tertutup rapat, darah Ersa berdesir ketika indra pendengarannya menangkap ucapan Hutomo yang menjawab penasarannya sejak tadi.


__ADS_2