
“Kak Erka? Kapan datang?” Ayleen masih dilanda kebingungan. Menatap pria gagah yang menurut cerita Mommy semalam telah resmi menyandang status sebagai ayah dari bayi perempuan mungil.
“Maaf.” Suara berat Erka terdengar bersamaan dengan dekapan di pinggang Ayleen pun terlepas. Pria gagah dengan kemeja putih bergaris vertikal dan celana denim hitam itu tampak menyembunyikan salah tingkah di balik sikap dinginnya.
Belum sempat Ayleen bersuara, Erka sudah berjalan mendahului. Turun menuju ke ruang makan dan bersiap sarapan sebelum memulai hari.
“Aneh?” Ayleen bergumam pelan.
Tentu saja aneh. Pria yang seharusnya sedang berbahagia menemani istrinya menyambut kelahiran putri mungil di Jakarta, tiba-tiba muncul di Bandung saat tak ada siapa pun. Kedua orang tuanya sedang di Jakarta dan Erka malah berada di sini.
“Benar-benar aneh!” Ayleen tak mau berpikir. Semakin mengingat, ia makin bingung. Entah apa tujuan Erka menginap di Bandung di saat kebahagiaan menjadi seorang ayah tengah datang menyapa.
Langkah kaki membawa gadis muda itu menuju ke meja makan. Di sana sudah tersaji sarapan pagi dengan dua menu andalan keluarga Hutomo, yaitu nasi goreng dan roti selai.
__ADS_1
“Kenapa tidak makan? Kamu tidak ke kampus?” Erka sibuk menyuapkan nasi goreng ke dalam mulut. Pria itu duduk tegak tak melirik ke arah lawan bicaranya.
“Hah?” Ayleen terperangah. Dipandanginya wajah tampan yang selalu dingin belakangan ini. Ia seperti kehilangan sosok Erka yang dulu, merindukan kakak tertua yang penyayang dan bersikap lembut.
“Duduk dan nikmati sarapanmu, Leen. Setelah itu bersiaplah, aku menunggumu.”
“Hah!”
“Aku akan mengantarmu ke kampus sebelum ke proyek,” tegas Erka, masih tak mau memandang adik perempuannya.
Sepanjang bersiap, pikiran Ayleen menerawang jauh. Gadis itu merangkai kemungkinan-kemungkinan yang terjadi. Ada begitu banyak keanehan ditangkapnya. Dari perceraian yang dibahas sebelum kelahiran hingga ketidakhadiran Erka saat Cindy tengah bertarung nyawa untuk mengantar putri mereka ke dunia.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Berdiri di depan meja rias, Ayleen menatap pantulan dirinya sendiri. Ia tersenyum mengagumi kecantikannya sembari mengibas rambut hitamnya ke belakang.
__ADS_1
“Aku yakin ada yang disembunyikan Kak Erka dari semua orang. Pasti ini!” Ayleen menerka-nerka. “Ini tidak normal. Seburuk apa pun hubungan pernikahan, seorang anak tak pantas diperlakukan seperti ini. Apa lagi, Kak Erka itu tipe penyayang keluarga walau sering kelayapan hingga larut malam. Aku yakin ....”
Suara Ayleen lenyap bersamaan dengan ketukan di pintu kamar. Ayleen terkesiap, menoleh ke belakang.
“Siapa?” tanyanya setengah berteriak.
“Aku Erka. Kamu sudah selesai bersiap? Aku harus ke proyek, Leen.” Suara maskulin itu menjelaskan dari seberang pintu yang tertutup rapat. Suara kencang setengah berteriak yang sanggup membuat pemilik kamar tersentak.
“Leen.”
“Ya, Kak. Tunggu aku di bawah saja. Aku segera menyusul. Lagi pula aku masih harus mengganjal perut.” Ayleen menjelaskan panjang lebar.
“Ya, Kak. Tunggu. Kalau Kak Erka buru-buru, tidak masalah kalau aku naik taksi online saja. Kampusku tidak terlalu jauh dari rumah,” cerocos Ayleen. Ia memilih berangkat sendiri setelah merasa tidak nyaman diburu-buru. Apalagi ia masih memiliki waktu untuk bergosip di dunia maya dengan para teman online tak kasat mata untuk mengisi waktu di kala senggang.
__ADS_1
Merapikan make up dan tatanan rambutnya, Ayleen masih santai di dalam kamar. Pikirnya, Erka sudah pergi dan ia tak perlu buru-buru. Namun, alangkah terkejutnya gadis itu saat berjalan keluar sembari menenteng tas tangannya.
Langkah kaki Ayleen membeku di tempat, tatapannya terkunci pada sesosok tampan yang sedang menunggunya. Di dekat pintu kamar, Erka masih menunggu sembari bersandar di dinding. Kedua tangan terlipat di dada, mata elang pria itu terpejam rapat.