Menikahi Pembunuh Pacarku

Menikahi Pembunuh Pacarku
PERLAWANAN


__ADS_3

Tolong.


Josh Rainer, pasien yang juga CEO perusahaan aplikasi terkenal di negaraku kini tengah mencekikku di atas tempat tidurnya.


Dia menindihku dan betul-betul mencengkeram leherku kuat. Matanya menatapku tajam dan menyiratkan kebencian yang dalam.


"To...to..long.."


Aku hanya bisa mengerang kecil.


Aku mencari cara untuk menendangnya namun cengkeraman Josh betul-betul kuat.


Aku mencoba menahan tangannya, menggunakan sisa-sisa tenagaku. Namun dia semakin kuat mencekikku.


Aku sudah kesulitan bernafas sekarang.


Aku mencoba meraih ponselku di kantong celana. Berharap bisa memanggil Rikian untuk menyelamatkanku.


Namun, Josh dengan sigap menghentikan gerakanku.


Dia bahkan membuang ponsel ku ke lantai.


Aku kini menatapnya meminta belas kasihan. Aku benar-benar sudah tidak bisa bertahan lagi.


Dio, tolong aku.


Aku akan selesai.


"To..long.. Dio... tolong aku.."


Tiba-tiba saja Josh mengendurkan cengkeramannya.


"Dio tolong aku!" aku mengeluarkan sisa-sisa tenagaku.


Tanpa kusangka, kini Josh melepaskan cengkeramannya padaku.


Aku terbatuk-batuk dan masih merasa lemas saat melihat perubahan yang ganjil terjadi pada Josh.


Josh kini terlihat ketakutan.


Josh kini menelengkupkan kedua tangannya sambil histeris menatapku.


"Tidak!" teriaknya.


Aku menjauh dari tempat tidur untuk menyelamatkan diri. Tepat sekali saat Rikian masuk untuk membawakan Josh makan siang.


"Bu Dokter!"


Rikian kaget melihatku sudah terduduk di lantai sedangkan Josh kini masih terduduk sambil berteriak.


"Tidaaaaaak!"


Kini dia bahkan berusaha memukul dirinya sendiri.


Aku masih tersengal-sengal dan syok, namun tetap mencoba bangkit dari tempatku dan pergi menuju kotak obat yang terletak di samping meja tidur Josh.


Aku buru-buru mencari obat anti depresan dan menghitung dosisnya dalam satu suntikan.

__ADS_1


Masih berusaha mengatur kembali nafasku, aku berhati-hati mendekati Josh. Kini situasinya berbalik, Josh lah yang terlihat sangat ketakutan sehingga tidak sulit bagiku untuk memegang lengannya dan menyuntikan obat untuknya.


Perlahan-lahan, Josh lunglai dan terdiam. Kini tatapan matanya kosong dan tidak lama setelahnya dia tertidur.


Aku terjatuh kembali di lantai masih bingung dengan apa yang terjadi.


Rikian mencoba membantuku. Aku kembali bangkit dan berkata padanya untuk menjaga Josh dan memastikan dia menyantap makan siangnya saat nanti dia bangun.


Kemudian aku kembali ke kamarku dengan pikiran yang berdesing bak mesin.


Aku yakin Josh memang kehilangan ingatannya.


Namun Josh seharusnya hanya kehilangan ingatan yang terjadi sebelum kecelakaan saja. Dari gerak-geriknya, ingatannya setelah kecelakaan seharusnya normal walaupun dia tidak tahu pasti siapa dirinya.


Dengan begitu, seharusnya dia bereaksi normal untuk menjawab semuq pertanyaanku, namun dia berpura-pura linglung dan tidak ingin menjawab apapun.


Analisaku kecil kemungkinannya salah. Dia mengganti sendiri bajunya dengan piyama dan meletakkannya di tempat pembuangan adalah bukti nyata otaknya berfungsi normal setelah kecelakaan.


Namun dia menutupinya.


Entah apa motifnya.


Apa sebetulnya yang terjadi dengan Josh?


xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx


Aku tengah menuliskan laporan observasi hari pertamaku menangani Josh di kamarku saat pintu kamarku diketuk.


Celine.


"Saya dengar tadi Josh tantrum lagi dan menyerang kamu?" Celine bertanya dengan nada angkuhnya.


"Betul Bu, saat saya sedang melakukan observasi," jawabku.


"Saya sudah bilang kan kamu hanya boleh bertemu dengannya jika sudah ada suster? Kamu mau melanggar kontrakmu di hari pertama kamu kerja?"


Hah?


Aku kira, Celine akan khawatir karena Josh kembali menyerang orang. Namun, dia hanya peduli mengenai poin pelanggaran konyol itu.


"Saya hanya ingin mengecek dan melakukan observasi. Ada Rikian juga disana dan saya tidak melakukan terapi apapun disana sehingga saya tidak mau di mana letak kesalahan saya," aku membela diri.


Aku melanjutkan, "Seingat saya, saya melanggar aturan jika saya melakukan terapi tanpa adanya suster atau peraturannya sudah Ibu ubah dalam sehari?"


Celine tampak kesal dengan pembelaan diriku.


"Lalu apa tindakanmu kedepannya? Ada temuan baru hari ini?" dia mencoba melupakan kecurigaannya padaku.


Aku spontan ingin menyampaikan temuan baru mengenai kemungkinan Josh sudah bereaksi normal, tapi entah mengapa dia berpura-pura pasif. Namun, aku menahannya.


Aku tahu Celine adalah orang yang mempekerjakanku namun dengan teka-teki kondisi Josh saat ini, rasanya aku ingin menyampaikannya ketika semuanya jelas.


Aku akan menyimpan kejadian yang terjadi hari ini dari semua orang dan memastikan kondisi Josh memang sudah stabil saat aku menyampaikan laporan kemajuan nantinya.


"Saya akan kembali mengeceknya besok namun dari temuan hari ini terlihat trauma pascakecelakaan yang dirasakan Josh sangat dalam," jelasku.


"Lalu apa rencanamu?" tanyanya masih melipat dada.

__ADS_1


"Saya sudah memberikan daftar makanan bergizi kepada Pak Rikian yang bisa memperkuat memori Josh."


"Selain itu, saya akan meresepkan beberapa obat yang diperlukan Josh, seperti obat penguat memori dan anti depresan jika kondisi Josh kembali tidak terkendali."


"Terakhir, saya juga akan melakukan beberapa terapi untuk mengingatkan dia kepada masa lalunya," jelasku.


"Oke, besok kamu bisa memberikan resepnya ke suster, dia akan datang besok pagi. Untuk terapi, saya ingin laporan berkala setiap minggu bagaimana kemajuannya," ujar Celine sambil berlalu. Dia langsung keluar begitu saja tanpa menyapaku lagi.


Aku geleng-geleng kepala dengan sikap angkuhnya.


Sepertinya, tidak memberitahukan kejadian tadi siang kepada Celine adalah keputusan yang tepat. Aku pasti akan dirongrong dan didesak untuk terus memuktahirkan observasiku bila aku sampaikan hal ini.


Namun, kasus Josh memang unik.


Jika Josh masih dirawat di rumah sakit, aku pasti akan berkonsultasi dengan mentorku Dokter Bernard untuk menyimpulkan apa yang terjadi dengan Josh hari ini.


Sayangnya, aku tidak bisa melakukannya karena sudah tak terkait lagi dengan rumah sakit.


Oh iya.


Aku bisa bertanya pada Anna.


Sahabatku itu pasti punya pendapat lain tentang kondisi Josh saat ini. Sama denganku, Anna juga tertarik dengan spesialisasi kesehatan jiwa dan neurologis. Kesamaan inilah yang membuat kami dekat sejak program magang dokter dulu.


Aku mencari ponselku untuk menelepon Anna saat kusadari bahwa aku tak bisa menemukannya dimana-mana.


Oh tidak.


Ponsel ku sepertinya masih tertinggal di kamar Josh!


Ya, dia melempar ponselku saat aku berusaha mencari bala bantuan tadi siang.


Saat ini sudah menunjukkan pukul 11 malam. Seharusnya Josh sudah kembali tidur sesuai dengan perkiraan minum obat penenang yang kuberikan kepada Rikian tadi sore.


Aku bisa saja turun ke lantai bawah dan meminta salah satu asisten rumah tangga untuk mengambilnya, namun aku tidak ingin menganggu waktu istirahat mereka.


Baiklah, aku bangkit dari kursi malas dan bergegas menuju kamar Josh yang berada di sayap kanan di lantai ini.


Saaat tiba di depan kamarnya, tidak ada satupun ART yang menjaga. Aku pun langsung membuka pintu secara perlahan. Aku tidak mau membangunkan Josh dan membuat keributan kembali.


Aku meraba-raba dalam gelapnya kamar Josh dan menebak dimana lokasi ponselku dilempar oleh Josh tadi siang. Di kamar ini, hanya lampu utama yang berada di ruang tamu yang yang hidup. Aku memfokuskan pencarian di karpet di sekitar bawah tempat tidur dengan kondisi cahaya temaram.


Aku tertegun sejenak saat mengetahui ponselku tidak ditemukan dimanapun di lantai kamar. Mataku masih mencari sambil beradaptasi dengan gelapnya kamar ini saat melihat Josh yang terbaring rileks diatas kasur.


Namun dia tertidur tanpa mengenakan selimutnya. Aku tidak bisa melihat wajahnya secara jelas karena gelapnya ruangan ini. Aku sengaja tidak menyalakan lampu karena tidak ingin si pangeran terbangun.


"Josh, aku berharap kamu bisa segera sembuh. Dengan begitu, aku bisa kembali bebas menentukan hidupku," gumamku.


Spontan saja, aku kemudian menyelimutinya.


"Kamu pasti bisa sembuh. Aku janji."


Aku kembali mencari ponsel kali ini di sekitar ruang tamu kamar Pangeran. Tetap, aku tidak menemukan ponselku dimanapun. Mungkin saja Rikian sudah memungutnya dan lupa memberikannya padaku?


Aku menyerah dan memutuskan kembali ke kamarku. Aku pelan-pelan menutup pintu agar tidak membangunkan Josh.


Saat aku menutup pintu, aku tidak tahu bahwa kelopak mata Josh kembali terbuka. Dan dia mendengar seluruh gumamanku sepanjang malam ini.

__ADS_1


__ADS_2