
Pov : Aldebaran
Tidak... pasti ada yang salah.
Aku masih meringis sambil terduduk di ruang perpustakaan ini.
Mengetahui semua fakta ini....
Delapan belas tahun sudah aku berharap...
Menunggu untuk menggenapkan rasa cintaku dengan satu-satunya pujaan hatiku.
Aku sangat buta...
Bagaimana bisa aku baru tahu sekarang?
Bahwa bukan Selena yang menulis surat ini?
Bagaimana bisa bukan dia yang mengambar sosok raja dan ratu dalam surat ini?
Aku selama ini yakin bahwa inilah isi hati Selena!
Yang menempaku bertahun-bertahun menjadi Aldebaran yang sekuat ini!
Namun ternyata...
Aku salah sangka?
Bukan Selena yang menulis surat ini dari lubuk hatinya?
Lantas siapa?
Aku masih menggeleng-gelengkan kepalaku.
Aku merasa bodoh.
Merasa malu.
Merasa tidak berarti.
Selena bahkan tidak pernah menganggapku setinggi itu di hatinya!
Semua ini hanya khayalanku..
Halusinasiku.. hanya karena aku menginginkan dia membalas segenap rasaku.
Tapi lihatlah apa yang aku terima saat ini..
Hanyalah kebenaran yang menyakitkan.
Benar-benar sakit.
Seperti aku telah merasakan rasa sakit seumur hidupku, dan ajalku segera menjemput.
Mengapa mencintai bisa sesakit ini?
"Ale, kamu baik-baik saja?"
Selena menyela pikiranku. Disebelahku, dia tampak khawatir.
Tentu saja dia khawatir. Dia pasti tidak akan pernah menyangka akan melihat sisi menyedihkan seorang Aldebaran seperti ini.
Tanpa mendengar jawabku, dia mencoba menarik tanganku dari tanah dan membangkitkanku ke sofa di dekat piano.
Sementara, aku masih tidak bisa menyembunyikan perasaan terguncangku.
Perasaan maluku. Perasaan tidak ingin dikasihani atas kebodohan dari kebutaanku akan cinta yang tak berbalas.
"Ale..." Selena kembali mengajakku bicara.
Kami kini duduk diatas sofa beludru di ruangan perpustakaan yang dingin ini. Duduk bersisian, namun tak mampu untuk memandang wajah masing-masing meski kita sudah sedekat ini.
Kemudian, aku merasakan hangat tangannya turun ke belakang tubuhku.
Dia menepuk-nepuk bahuku, memberikan simpati terhadapku yang terpuruk begitu dalam.
"Aku sangat bangga padamu.."
Selena mengatakan hal itu dengan penekanan yang... sangat emosional.
"Aku mendengar semua orang bicara tentangmu. Aku membaca semua tentangmu. Kamu hebat sekali," Selena melanjutkan. Masih bicara dengan tatapan mata ke depan, tidak melihatku.
Selena...tetap saja, aku tidak lebih hebat dari adikku di matamu..
"Kamu menyelesaikan sekolah lebih cepat tiga tahun dari umurmu yang seharusnya. Kamu adalah calon doktor dari universitas bergengsi di dunia..." Selena berhenti sebentar untuk menarik nafas, sebelum melanjutkan pujiannya padaku.
"Kamu adalah pemimpin Tel-X di Eropa. Sekaligus, hobi berkudamu membuatmu masuk dalam skuad tim nasional untuk olimpiade tahun ini. Bukankah kamu sangat keren sekali?" Selena mencoba menguatkan hatiku.
Tentu saja Selena.. aku pikir semua yang kucapai ini akan membuatmu berpaling padaku..namun aku salah perkiraan..
"Aku dengar, kamu juga dikejar-kejar banyak wanita di seluruh dunia. Ale, semua lelaki pasti ingin menjadi dirimu!"
Itu tidak berarti apa-apa Selena... tidak ada artinya bila aku tidak bisa menggapai cintaku...
"Dan dari semuanya yang kamu lakukan, yang paling menggugah hatiku adalah.... kamu selalu menjadi kakak yang sangat baik untuk Josh Rainer..."
Deg..
__ADS_1
Aku tidak menyangka pembicaraan Selena akan bermuara ke topik itu.
"Aku mendengar semuanya.. bagaimana Josh dulu sangat membencimu.. namun kamu.. selalu ada disisinya, percaya padanya, menyayanginya.. seperti tidak ada lagi hari esok untuk membuatnya bahagia.." suara Selena kini terdengar bergetar.
Aku hanya bisa menatapnya nanar.
"Aku sangat berterima kasih padamu, telah memperlakukan Josh Rainer dengan baik dan terus menjaganya sampai hari ini. Kamu benar-benar penting buat kami Ale... kami penting dihidupku.. kamu penting di hidup Josh.."
Kini wajah Selena sudah basah karena air mata.
Hentikkan, Selena.
Aku tidak bisa melihat orang yang aku cintai menangis didepanku seperti ini.
Sesenggukan.. berderai air mata.
Aku ikut sakit melihatmu sedih begini.
"Karena itu aku mohon.. demi kami... teruslah hidup seperti Ale yang kami kenal. Ale yang kuat, dapat diandalkan, disukai semua orang... Ale, kakak laki-lakiku yang paling hebat... "
Selena menghapus tangisnya perlahan
Dia lalu memandangku dalam-dalam.
Tangannya meraba ke pipiku, memberikanku semangat dalam matanya.
Dia mengharapkanku untuk terus menjadi aku.
Walaupun jiwaku sudah tercabik-cabik tak karuan karena harapan semu.
Dia masih punya keyakinan terhadapku.
Untuk maju.
Membuang semua rasa malu dan mengasihani diri seperti ini.
Kembali menemukan jalanku...
"Aku.. tidak yakin.. apakah aku bisa melakukannya.. aku..." aku benar-benar kehilangan diriku saat ini.
"Ale... aku sempat hampir mati namun malah menemukan keyakinanku di adikmu. Dan jika kamu sekarang merasa ingin enyah dari muka bumi ini, ingat kisahku. Kamu pasti akan menemukan alasan untuk menguatkanmu hidup.."
Selena kini menggenggam tanganku erat-erat.
"Kamu tahu... aku tidak akan menemukan orang yang bisa menggantikan dirimu.." aku mengatakannya sambil tertawa.
Selena tersenyum dikulum.
"Kadang, kita harus menjilat ludah kita sendiri untuk merasakan jatuh cinta lagi. Siapa tahu belahan jiwamu sudah nenek-nenek? Atau malah baru lahir?"
Kami tertawa setelah menangis sesenggukan bersama.
Pelukan seorang adik kepada kakaknya setelah delapan belas tahun berpisah.
Mana bisa aku lupa semua itu? Hanya itu kenangan yang selalu terputar setiap hari di pikiranku.
Namun kini, aku harus jauh-jauh menguburnya.
Demi Selena. Demi Josh Rainer.
Perasaan ini harus selesai hari ini. Rasa harap ini tidak boleh berkembang lagi lebih dari ini.
"Tapi hari ini aku malah dapat lantunan piano sumbangmu.."Selena kembali berkelakar.
"Maaf, aku bukanlah si jenius musik yang jadi juara di panggung opera dunia," kataku merujuk pada Josh Rainer.
Selena tertawa.
"Dia menyayangimu. Kamu tahu itu.." Selena berucap sambil mengendurkan pelukannya padaku.
"Butuh waktu bertahun-tahun untuk meyakininya bahwa aku sangat ingin menjadi temannya.. aku selalu menyayanginya, tidak pernah menganggapnya sebagai sainganku dan aku tidak ingin kehilangan dia.. untunglah dia melihat usahaku.." kataku pada Selena.
Selena mendengarkanku sambil membuka mulutnya. Namun dia menutup lagi.
Seperti ada yang ingin dia katakan, namun dia urung mau melontarkannya.
"Ada apa?" tanyaku penasaran.
"Aku tidak tahu apakah aku boleh mengatakan ini kepadamu.. Josh.. ingin memberikan semua kekuasaan Tel-X kepadamu," ucapnya cepat.
Aku masih memproses informasi ini pelan-pelan.
"Lalu kami berniat untuk pergi dan hidup bahagia dengan mimpi kami masing-masing," Selena berujar lagi.
Tidak mungkin.
Ayah berusaha keras menjadikan Josh Rainer satu-satunya pewaris kekuasaan.
Nenek hanya mengakui Josh Rainer sebagai satu-satunya suksesor konglomerat Gurnawijaya.
Aku hanyalah pion diantara mereka.
Lantas mengapa Josh ingin berbuat sebaliknya?
Tidakkah dia tahu hal ini akan mengkhianati kepercayaan ayah?
"Semua orang akan menentangnya, percaya padaku," hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.
__ADS_1
Selena mengangguk.
"Ya, dengan semua prahara ini. Manajemen Direksi yang akhirnya tau bahwa Celine menggelapkan uang atas namamu.. aku rasa rencana Josh Rainer akan sulit terwujud.." kata Selena gamblang.
Aku terheran-heran mendengarnya.
"Manajemen direksi sudah tahu perihal aksi licik Celine? Bagaimana bisa?"
Bukankah permasalahan ini hanya dijaga untuk internal keluarga saja? Bagaimana bisa direksi sudah tahu?
"Entahlah, aku memang baru dan akan jadi calon anggota keluarga kalian. Namun percayalah aku sedang belajar membaca semua kompleksitas keluarga Gurnawijaya, termasuk mengapa direksi sampai tahu masalah pribadi ini.."
Aku masih tidak habis pikir.
Kemudian pikiranku bermuara ke satu hipotesa.
"Mungkinkah... rencana pernikahan kalian yang diburu-buru ini karena masalah ini? Karena aku tidak bisa tampil di depan direksi dan Josh masih harus berpura-pura sakit? Sehingga kamu yang akan menggantikan perannya?"
Aku menatap Selena dengan perasaan bersalah.
Selena mengangguk sambil tersenyum kecut.
"Kamu bisa bayangkan jadi diriku? Ale, hidupku tidak bisa normal lagi setelah menginjakkan kaki ke properti Gurnawijaya.. Aku dimanfaatkan oleh nenek kalian yang sangat opportunis itu," ucap Selena sinis.
Oh Selena..
Mungkin kamu tidak menyadarinya...
Bahwa sebenarnya kamu telah masuk dalam rencana yang disiapkan Josh Rainer..
Untuk menyelesaikan semua masalah yang dia mulai..
Agar kamu tidak mengetahui kebenarannya..
Tenggorokanku tercekat. Ingin memperingatinya, namun aku tak mungkin bisa membuka rahasia Josh Rainer di depan orang yang paling penting baginya..
Harus Josh Rainer yang menjelaskan semua masalah ini pada Selena.. Bukan aku.
"Ale, ada satu hal yang mengganguku.." Selena kini berubah serius.
Dia memandangku dalam-dalam.
"Tolong katakan dengan jujur. Mengapa Josh masih ingin berpura-pura sakit? Padahal dia bisa saja tampil normal dan memproklamirkan pada dunia bahwa Becca dan Celine hampir membunuh kami."
Oh tidak.
Aku benar-benar tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya pada Selena.
Bahwa Josh Rainer telah menabrak tunangannya.
Dan karena itulah dia harus diam, sampai Becca membuat pengakuan bahwa kecelakaan itu di lakukan oleh wanita jahat itu.
"Dia bilang sedang menyelidiki kasus yang kemungkinan melibatkan kematian ayah kalian. Apakah mungkin ayah kalian juga dibunuh oleh Becca atau Celine?" Selena masih berapi-api menanyaiku.
Aku masih terdiam, berusaha menyusun kata-kata tepat untuk ku lontarkan kepada Selena.
Aku menarik nafas, kemudian menjawabnya.
"Jika kamu saja mempertanyakan strategi Josh Rainer, menurutmu dia akan cerita motifnya padaku?"
Selena mendengarku saksama.
Dia menatap mataku dengan mata seriusnya. Sepertinya dia tengah menimbang apakah aku berkata yang sebenarnya.
Aku kemudian melanjutkan lagi.
"Josh selalu suka berstrategi, dan dia lebih suka tidak ada orang yang tahu rencananya. Jika kamu meragukannya, mengapa tidak kamu tanyakan langsung padanya?"
Selena mendelik padaku.
Wajahnya kini berubah lagi.
Raut muka serius itu telah menguap. Kini yang tampak adalah wajah yang khawatir.
"Aku punya dugaan..," katanya padaku.
Selena tampak menarik nafas panjang sebelum dia melanjutkannya lagi.
"Aku punya dugaan, Josh Rainer lah yang ingin pernikahan kami dipercepat. Josh Rainer lah yang ingin aku menjadi pengendali perusahaan, sementara dia masih cacat. Aku punya dugaan ini semua adalah rencananya, bukan nenek. Dan masalahnya, aku tidak tahu apa motifnya."
Boom.
Aku menatap wanita yang kucintai setengah mati ini dengan mata tak berkedip.
Wanita yang sangat sepantar dengan adikku itu.
Sama-sama cerdas, sama-sama pintar menganalisis segala sesuatunya.
Josh Rainer benar-benar mendapatkan partner yang selevel dengan dirinya.
Selena.. kamu sudah memilih Josh Rainer. Aku harap kamu bisa terima semua konsekuensinya..
Termasuk bagaimana dia mengatur semua hal untuk bisa sejalan dengan harapannya.
"Selena.. aku tidak punya jawabannya. Namun yang bisa aku pastikan, adikku sangat mencintaimu dan ingin hidup damai bersamamu."
Aku harap kata-kata ini bisa melunakkannya.
__ADS_1
Namun, di depan mataku, Selena tampak tak puas. Aku sadar bahwa sedikit salah jalan dapat membuat rencana Josh Rainer bisa berantakan.
Terutama di depan Selena yang sangat waspada.