
“Dokter Selena?”
Aku dikejutkan kembali dengan suara Margaretha.
Saat tersadar, aku ternyata cukup lama tenggelam dalam imajinasiku terhadap dua pasangan sejoli yang sangat sepadan dan pantas bersama.
Josh Rainer dan Helena.
“Dokter, Nyonya meminta Anda masuk ke ruang pertemuan sekarang,” Margaretha kembali mengulang instruksi yang diberikan bosnya kepadaku.
Oh.
Inilah saatnya.
Aku akan berhadapan dengan Karina Gurnawijaya, nenek Josh Rainer yang juga pemegang kuasa semua konglomerasi bisnis Tel-X di seluruh dunia.
Kata Gery, dia adalah wanita yang disegani di kalangan miliuner karena inteligensinya dan kemahirannya dalam menjinakkan musuh bisnis.
Kakiku bergetar saat melangkah menuju ruang pertemuan. Jantungku kembali berdegup tanda tegang dengan situasi yang nantinya akan kulalui.
Aku pastilah akan di interogasi habis-habisan olehnya.
Margaretha membantuku membuka pintu ruang pertemuan itu. Semilir udara sejuk dari pendingin ruangan langsung terasa saat aku memasuki ruangan pertemuan tertutup itu.
Ruangan ini sendiri berisikan sofa kulit yang nyaman, meja pertemuan berukuran besar, kursi pertemuan ergonomis, layar monitor berukuran jumbo, proyektor, sound system hingga kamera.
Jomplang dengan besarnya ukuran dan canggihnya fasilitas di dalam ruang pertemuan ini, hanya ada dua orang yang berada di dalam ruangan ini untuk berdisukusi.
Josh Rainer dan neneknya.
Mereka duduk di sofa tengah berhadap-hadapan. Saat aku masuk, kedua pasang mata tersebut langsung menyambutku untuk mendekati mereka.
Aku pastilah berjalan seperti robot sekarang saking tegangnya.
Saat aku sudah mendekati sofa, nenek Josh Rainer bangkit dari duduknya dan menyalamiku.
Tidak ada kesan bahwa dia adalah wanita angkuh seperti Celine. Tidak ada kesan pula dia sedingin Josh Rainer. Tidak ada kesan pula dia seintimidatif Aldebaran.
Yang aku lihat, Nyonya Karina Gurnawijaya adalah wanita yang sangat elegan dan hangat.
“Dokter Selena, saya Karina Gurnawijaya. Saya tidak bisa mengatakan apa-apa selain terima kasih karena Anda sudah membantu cucu saya,” katanya sambil menyalamiku.
Perlahan, rasa tegang yang mengaliriku menghilang dengan keramahan yang ditunjukkan nenek Josh.
“Nyonya, saya dengan senang hati melakukannya,” balasku.
Aku melirik Josh Rainer yang duduk disampingku dan tidak ada lagi tatapan hangat terpancar darinya untukku.
Dia kini kembali menjadi Josh Rainer yang kutemui pertama kali di rumah sakit kala itu.
Dan itu ternyata membuatku merana.
Karina lalu memintaku bercerita tentang apa yang terjadi dan aku menceritakan semuanya yang ku tahu.
Hanya satu bagian yang tidak kuceritakan.
Yakni tentang Aldebaran yang membantu kami menemukan jalan keluar.
“Dokter, saya nyaris masuk ke perangkap yang disiapkan Celine selama ini. Saya pikir saya setiap hari berkomunikasi dengan cucu saya, ternyata dia adalah palsu,” jelasnya.
“Bagaimana saya bisa membalas budi Anda?” tanyanya kemudian.
Apakah Karina sedang memintaku untuk memilih hadiahku sendiri?
“Tidak apa-apa, Nyonya. Saya benar-benar melakukannya karena rasa kemanusiaan saya,” kataku cepat.
Karina tampak tak puas sekaligus tak percaya dengan jawabanku.
__ADS_1
“Dokter, menyelamatkan cucu saya artinya anda menyelamatkan bisnis saya yang tersebar di belahan dunia. Saya berutang pada Anda dan izinkan saya membalasnya. Apa yang sedang Anda butuhkan saat ini?” tanyanya lagi.
Aku benar-benar jujur dengan perkataanku. Aku tidak menginginkan apapun sebagai balasan.
Namun, jauh di dalam hatiku, satu-satunya hal yang kuinginkan saat ini adalah tetap bersama dengan Josh Rainer.
Entah mengapa aku merasa demikian. Namun aku tidak mungkin mengatakan ini kepada neneknya kan?
Aku menoleh kepada Josh Rainer, meminta pertolongan untuk meyakinkan neneknya bahwa aku melakukan semua ini tanpa pamrih.
Namun, dia tidak disana. Sikapnya benar-benar mengeras kepadaku.
Seakan memberitahuku bahwa dia juga setuju tidak ada yang harus dilanjutkan dari kami.
Serta menegaskan sinyal bahwa hal romantis yang dia lakukan tadi memang tidak berarti apa-apa.
Baiklah kalau begitu.
“Saya melakukannya tanpa pamrih, Nyonya. Namun, jika Anda memaksa, saya hanya ingin kembali ke pekerjaan lama saya dan bekerja normal seperti sebelumnya di rumah sakit,” kataku akhirnya.
Memang ini yang seharusnya kita lakukan kan, Josh?
Membiarkan semuanya selesai sebelum sesuatu mekar di antara kita.
Saat aku selesai mengatakan itu, Josh tampak bergidik dan bangkit dari kursinya.
Kini, ekspresi wajahnya yang cuek berubah menjadi mimik kaget dan tidak percaya.
“Tidak boleh. Saya masih sakit dan butuh Anda untuk menyembuhkan saya,” katanya tajam sambil menunjuk telunjuknya kepadaku.
Dan tanpa permisi dia langsung berlalu begitu saja di depanku.
Aku kaget melihat reaksinya.
Josh Rainer tidak setuju dengan pengunduran diriku dan dia marah sekali dengan permintaanku barusan.
“Nenek, maaf aku lelah sekali dan butuh tidur,” katanya tanpa memandang wajah neneknya dan langsung membuka pintu keluar dari ruangan.
Meninggalkan kami dengan bunyi BAM pada pintu.
Aku dan nenek Josh Rainer kini sudah bertatap-tatapan.
“Harap maklum Dokter. Cucu saya memang sangat sulit mengekspresikan dirinya. Namun, jika kamu sudah mengenalnya, kamu tidak akan mau berpisah darinya,” ujar Karina sambil tertawa.
Apa maksud nenek Josh Rainer barusan?
Apa dia sedang mencoba menggodaku dengan cucunya?
Tidak mungkin.
Josh sudah memiliki pasangan dan itu adalah Helena.
Neneknya mungkin hanya ingin mencairkan suasana saja denganku.
Mana mungkin dia mau menjodohkan cucunya dengan dokter biasa seperti ku kan?
“Dokter, apakah Anda memiliki bukti waktu Celine bicara soal rencana pembunuhan dan pemindahan kekuasaan Tel-X secara ilegal?” tanyanya sambil menuangkan teh ke cangkirku.
Dia lalu memberikan cangkir itu padaku sambil tersenyum.
Memang, Karina adalah sosok wanita elegan yang sangat berbeda dengan Celine.
“Saya..” aku teringat tentang perekam suara yang diam-diam kuaktifkan selama pembicaraan kotor itu berlangsung.
Jika aku mengatakannya sekarang, nenek Josh pasti ingin meminta rekaman itu saat ini juga.
Sementara itu, rekaman tersebut memuat seluruh obrolan yang terjadi dari pertemuan di perpustakaan hingga kami mendarat di pekarangan rumah ini. Jika aku memberikannya sekarang, Karina akan tahu bahwa Aldebaran membantu kami dan itu artinya aku tidak menepati janjiku padanya.
__ADS_1
Dan lagipula… aku juga tidak ingin nenek Josh Rainer mendengarkan rekaman tentang bagaimana cucunya berlaku romantis kepada dokter pribadinya sendiri. Di saat cucunya sudah memiliki pasangan yang serius.
Dan terlepas dari semua, aku tidak ingin kehilangan benda yang dapat mengingatkanku terhadap kenangan manis bersama Josh Rainer yang tersimpan di rekaman itu.
“Nyonya, saya punya rekamannya..”
Mata Karina membelalak dan hampir tersedak oleh teh yang baru saja dia tuangkan untuk dirinya sendiri.
“Kamu merekamnya? Kamu benar-benar wanita cerdas! Pantas saja cucuku malu-malu padamu,” pujinya padaku.
Hah?
Apa aku tidak salah dengar?
Apa yang Nenek Josh ketahui tentang cucunya? Apakah Josh cerita pada neneknya tentang perlakuan romantisnya kepadaku?
Dan mengapa respons neneknya seperti tidak melarang cucunya sama sekali?
Bukankah cucunya sudah punya Helena?
Lagi-lagi, persoalan pribadi keluarga Gurnawijaya membingungkanku!
“Tapi sekarang ponselku mati, Nyonya. Bagaimana kalau saya berikan bukti itu besok pagi?” tawarku padanya.
Ya, aku perlu waktu untuk mengedit rekaman itu dan menyimpan sisanya hanya buatku.
Sebagai simpanan kenangan bahwa seorang Josh Rainer pernah memintaku untuk tetap ada disisinya.
Walaupun aku tahu dia tidak benar-benar memaksudkannya.
Nenek Josh Rainer tersenyum sambil memegang bahuku, “Tentu saja Selena. Kamu bisa istirahat malam ini dan serahkan semua urusan Celine padaku mulai saat ini.”
Dia bahkan kini mendekatkan cangkirnya padaku untuk mengajakku melakukan toast.
“Selena, kami masih berhutang pada kebaikan hatimu. Tolong jangan merasa tidak enak. Jika kamu memiliki keinginan kamu bisa kapan saja mengatakannya padaku,” katanya kemudian.
“Tentu saja permintaan selain berhenti bekerja sebagai dokter pribadi Josh. Aku tidak ingin cucuku tidak menyapaku sampai satu bulan jika aku menyetujui pengunduran dirimu,” ucapnya sambil menahan tawa.
Untunglah Josh Rainer masih memiliki nenek yang sangat baik seperti Karina.
Dan Josh Rainer pastilah sangat menyayangi neneknya.
Saat aku belum sempat menjawab, Margaretha masuk ke dalam ruangan tergesa-gesa tanpa mengetuk pintu.
Wajahnya terlihat kalut.
“Nyonya, maafkan saya lancang masuk tanpa mengetuk pintu. Namun ini penting sekali,” ucapnya sambil ngos-ngosan.
Aku dan Karina saling berpandangan. Saling menebak apa yang membuat Margaretha sehisteris itu.
“Celine.. sekarang sedang melakukan siaran langsung bahwa kepemilikan Tel-X sudah resmi jatuh ke tangannya,” katanya terburu-buru.
Karina kini sudah meletakkan cangkirnya dan berdiri mendengar informasi itu.
“Celine.. cepat sekali dia bergerak padahal dia bilang baru akan menyebarluaskannya besok pagi,” gumamnya seperti bicara sendiri.
“Dan ada satu lagi Nyonya… dia mengumumkan bahwa.. bahwa ..”
“Dia mengumumkan kepada wartawan bahwa Dokter Selena telah melakukan percobaan pembunuhan dan tengah menyekap tuan muda Josh Rainer yang sedang mengalami amnesia!”
Aku lunglai.
Celine benar - benar gila.
Tak ada yang bisa aku lakukan selain jatuh dari dudukku dan bersimpuh ke lantai setelahnya.
__ADS_1