Menikahi Pembunuh Pacarku

Menikahi Pembunuh Pacarku
KAKAKKU SAYANG


__ADS_3

Pov : Aldebaran


Aku tertegun dengan tangan menumpu di atas setir mobilku.


Memikirkan ulang segala yang telah terjadi.


Mobilku kini terparkir di depan rumah satu lantai bertipe panggung yang di cat biru muda. Rumah yang tidak terlalu besar, namun cukup nyaman untuk ditinggali oleh keluarga kecil.


Rumah Selena.


Jika saja, aku tidak dikirim Celine bersekolah di luar negeri, apakah aku bisa menemukan rumah ini lebih cepat?


Jika saja, aku menemukan rumah ini lebih cepat, apakah Selena bisa jatuh ke pelukanku?


Jika saja semua itu terjadi, apakah aku dan Selena akhirnya bisa bersama selamanya?


…..


Semua itu hanya halusinasi.


Aku memperjuangkan hatiku, menyimpannya dalam-dalam selama ini karena yakin suatu hari Selena akan menepati janjinya untuk menjadi ratuku.


Aku percaya dia akan berpegang teguh pada apa yang sudah dia janjikan.


Tapi yang terjadi benar-benar tidak pernah kubayangkan.


Jika sudah begini, aku bisa apa?


Selena..


Kamu bisa memilih ratusan ribu lelaki di luar sana, dan aku siap untuk memperjuangkanmu kembali untuk berada di sisiku.


Tapi kenapa kamu memilih saudaraku sendiri?


Kenapa harus Josh Rainer?


...


Aku bisa bilang ini adalah momen paling curam yang pernah aku alami sepanjang hidupku.


Hidupku yang sudah sangat suram...


Ya..aku sudah terbiasa mengalami hal yang menyedihkan.


Seharusnya, aku juga bisa melewati semua ini perlahan.


Walau aku yakin, rasa sakit ini tidak bisa disembuhkan sepenuhnya.


Setidaknya aku bisa melihat dua orang yang paling aku sayangi berakhir bahagia.


Melihat mereka bahagia... seharusnya juga membuatku bahagia..


Aku harus tegar.


Demi kebahagiaan Josh Rainer dan Selena.


...


Aku harus pergi sejauh mungkin.


Saat aku masih termenung dalam sedu sedanku, tiba-tiba saja sesosok perempuan setengah baya keluar dari rumah panggung itu.


Perempuan yang saat masih muda kuyakin juga secantik anaknya.


Dia adalah satu-satunya perempuan yang kupanggil Ibu di hidupku. Aku cepat-cepat keluar dari mobilku dan segera menemuinya.


Untuk memberikan kata-kata perpisahan.


Ibu keluar dari pintu dengan membawa satu koper besar di tangannya. Dia lalu berusaha mengunci pintu namun kaget saat aku menyapanya dari belakang.


“Ibu.”


Wajah Ibu seperti sedang melihat badut. Cerah dan bercahaya saking senangnya.


“Al.. Ale!”


Guratan keriput dan uban yang memutih di rambut panjangnya tidak membuat lekang imaji terhadap Ibu yang cantik dan anggun, masih sama dengan saat aku bertemu dengannya dulu.


Dia kini menggenggam tanganku, sangat bahagia saat melihatku.


“Ibu tidak bisa menemukan kamu sejak kamu datang menjenguk ayah dan Selena kemarin, apakah kamu baik-baik saja?” tanyanya ramah.


Sangat ramah. Persis seperti anaknya.


“Maafkan aku, Bu. Aku.. menenangkan diriku..” kataku jujur padanya.


Raut wajah ibu berubah drastis saat mendengar pengakuanku.


Dia sepertinya tahu bahwa aku tengah mencoba menenangkan diriku setelah mimpi yang kukejar dan telah ada di depan mata harus pupus selamanya.


“Karena Selena kah Nak? Maafkan Ibu tidak bisa membantu apa-apa..” katanya kini merasa bersalah.


Aku merasa tidak enak karena seharusnya tidak ada yang dipersalahkan disini.

__ADS_1


Bukan salah Selena, bukan pula salah Josh Rainer.


Aku hanya tidak ditakdirkan untuk bersama Selena. Itu saja.


“Kenapa Ibu harus minta maaf? Ibu sudah sangat berjasa melahirkan anak setangguh dan sehebat Selena. Ibu sudah sangat berjasa..” kataku sungguh-sungguh.


Aku tidak ingat kalau Ibu juga gampang tersentuh sebagaimana seorang Selena. Kini dia mulai menitikkan air mata.


“Ale.. jika Ibu punya kuasa, Ibu juga sangat ingin membesarkanmu disini seperti anakku sendiri. Kamu tahu.. kami selalu menganggapmu sebagai kakak laki-laki Selena..”


Kakak laki-laki Selena..


Ya, selamanya aku hanya akan menjadi kakak laki-laki Selena yang selalu mencintainya diam-diam.


Tidak bisa lebih.


Aku kini mencoba mengusap air matanya.


“Aku janji akan selalu mengunjungi Ibu dan Ayah setiap kali aku kembali ke Indonesia,” kataku menenangkannya.


Namun, Ibu tampak bergidik saat mendengar kata-kataku.


“Memangnya kamu mau pergi? Kamu.. tidak akan tinggal disini?” tanyanya tidak percaya.


Aku juga sangat ingin tinggal, Bu.


Namun, sudah tidak alasan bagiku untuk tetap disini.


“Ibu.. maafkan aku.,” kataku tidak bisa menyembunyikan kesedihanku.


 “Tapi aku harus kembali melanjutkan hidupku. Terima kasih sudah mau menerimaku. Sampaikan salamku untuk ayah dan Selena ya?”


Ibu masih bergeming, seperti tidak mau melepaskanku.


Namun, akhirnya Ibu membalasku.


“Apa boleh Ibu membuatkanmu teh untukmu? Ibu ingat kamu selalu suka teh susu kesukaan Ibu..” pintanya padaku.


Aku mengangguk dengan semangat.


“Tentu saja. Tidak ada satu orangpun yang bisa membuat teh susu seenak Ibu!”


Ibu tersenyum, namun tidak melepaskan wajah sedihnya. Dia lalu membuka kembali pintu dan mempersilahkan aku untuk masuk.


Masuk ke dalam rumah yang telah membesarkan ratu di hatiku itu.


Rumah ini didekorasi dengan sentuhan tradisional. Banyak sekali hiasan dinding, lukisan dan guci antik yang sejak dulu dikoleksi oleh Ayah.


Banyak pula foto-foto keluarga, namun yang paling mencuri perhatianku adalah foto yang ditempatkan di tengah dinding ruang keluarga ini.


Mereka masih menyimpannya..


Satu-satunya potret diriku bersama keluarga yang hangat ini.. Dan mereka menggantung foto langka ini di posisi tengah.. seakan inilah foto utamanya.


Aku terharu.


Di foto itu, kami berpose di depan rumah lama yang mereka tinggali. Aku bahkan memeluk Selena kecil dan tersenyum lebar di foto ini.


Sementara itu, Selena kecil tampak luar biasa menggemaskan dengan seragam karatenya, waktu awal-awal dia mulai mengikuti ekstrakurikuler di sekolahnya.


Seharusnya..


Kita bisa punya foto keluarga lagi di masa saat ini jika saja aku tidak terlambat.


“Kamu selalu ada di rumah ini, Ale.. walaupun ini pertama kalinya kamu disini..” sahut Ibu yang memperhatikan gerak-gerikku dari dapur.


Aku tersenyum getir.


“Kalian juga selalu ada di hatiku..” jawabku kini tidak bisa mengendalikan emosiku.


Aku akhirnya menangis.


Tuhan pun tahu bahwa aku rela membuang hidupku yang serba mewah untuk kembali ke masa kecil dalam didikan Ayah dan Ibu.


Merekalah keluargaku yang sebenarnya. Hanya mereka yang menerimaku apa adanya dan membesarkanku dengan tulus.


Dan aku rela menukar semua yang sudah kudapatkan saat ini untuk selalu bersama-sama dengan Selena sejak kecil.


Aku sangat rela, ya Tuhan.


Namun, hidup yang kau berikan padaku selalu berjalan sebaliknya.


Selalu berakhir di luar harapanku.


Aku mencoba menjauh dari ruang keluarga, tidak ingin ibu melihat tangisku.


Kini aku berjalan melewati gitar tua sampai akhirnya mataku terpatung di depan salah satu kamar yang terletak di pojok rumah ini.


Dan tersenyum ke il saat melihat gantungan kata-kata di depan pintu.


“Selain Selena, Di Larang Masuk”


Perempuan itu benar-benar tidak berubah sejak kecil..

__ADS_1


Kamar itu sendiri sedikit terbuka, sehingga aku bisa melongok ke dalam dan melihat sekilas apa isinya.


Kamar yang didekorasi dengan warna monokrom-hitam dan putih. Kasur bersprei hitam, selimut berwarna putih, bantal dan guling yang berwarna senada. Secara keseluruhan, kamar tersebut di cat dengan warna putih, namun hiasan dinding, lampu, lemari hingga meja dan kursi belajar semuanya memiliki sentuhan warna hitam.


Ibu sepertinya melihatku tertegun di depan kamar, dan tahu betapa aku sangat ingin bersentuhan dengan dunia Selena.


Dia akhirnya berteriak, “Masuk saja Nak, barang-barang pribadi Selena juga sudah kosong karena dia bawa semua ke rumah Gurnawijaya untuk mengurus kakakmu..” ujar Ibu.


Kakakku?


Aku selalu geli setiap kali mendengar semua orang mengatakan Josh Rainer adalah kakakku.


“Baik Bu, aku masuk ya,” kataku masih meminta izin.


Selena inikah duniamu?


Aku mulai memasuki ruang pribadinya dan mencoba menganalisa seperti apa Selena ketika dewasa.


Sama seperti saat kecil dulu, tidak ada boneka, barbie apapun box kutek yang berbau feminim di kamar ini.


Selena tetaplah Selena.


Kamar ini lebih banyak ditempeli dengan memo dan kata-kata pemberi semangat, yang dia tempelkan di depan meja belajarnya.


Memo seperti jadwal jaga dokter, kalender evaluasi kinerja, hingga rencana peningkatan kompetensi dokter selama enam bulan kedepan.


Dinding itu juga banyak ditempeli kata-kata motivasi seperti “Push Yourself, Because No One Else Is Going to Do It For You” dan “Don’t Stop When You’re Tired, Stop When You’re Done”


Selena tidak berubah.


Dia tetap seorang perempuan yang mandiri, pekerja keras dan tidak pernah menyerah..


Aku kemudian beranjak ke samping meja belajar itu dan melihat seluruh dinding kosong ditempeli oleh potret diri.


Gambar wajah di seluruh foto dengan ukuran yang bervariasi. Sepertinya, dia menempel seluruh foto orang-orang terdekatnya di sudut dinding ini.


Aku bisa melihat potret diri ayah dan ibu, lengkap dengan tulisan stabilo hitam yang dia tulis di bawah setiap foto.


Ada pula Becca disana.. di beberapa foto mereka tampak sangat dekat dan berfoto berdua.


Lalu foto Gery dan Anne, teman dekatnya yang kutemui kemarin di rumah sakit.


Tentu saja, dari semua foto itu Selena paling banyak menempelkan potret diri seorang lelaki yang selalu terlihat mesra dengannya.


Lelaki ini pastilah Dio.


Semua momen bersama Dio dalam delapan tahun masa pacaran mereka ada disini.


Tidak ada rasa cemburu yang timbul saat aku melihat semua ini.


Yang ada hanyalah perasaaan haru saat tahu Selena tetap menjalani hidupnya dengan bahagia, sebelum akhirnya kami bertemu lagi.


Aku lega dia selalu menemukan bahagianya dengan caranya sendiri.


Kini, aku berusaha bergeser dan pandanganku tertumbuk pada bagian dinding yang lain.


Saat aku melihat sesuatu yang familiar...


Oh tidak..


Aku menutup mulutku saking kagetnya.


Selena!


Dia menggantung baju jersey klub sepak bola Juventus, yang dulu dibelikan ibu untukku sebagai hiasan di kamarnya. Dia menggantungnya dengan menaruh kaus itu di dalam pigura kaca.


Aku mendekat dan melihat baju olahraga anak kecil itu ditimpakan tinta yang sepertinya adalah tulisannya sendiri.


"Baju Kesukaan Kakakku"


....


Aku kini menangis sejadi-jadinya.


Mengeluarkan semua emosi, yang sudah lama sekali aku tidak lakukan.


Tak lama, terdengar suara derap kaki mendekat. Sepertinya, Ibu mendengar suara tangisanku dan segera menyusulku.


"Ale..! Anakku.."


Ibu ku kini merengkuhku dan memelukku dalam dekapannya.


Berusaha untuk menghentikan rasa piluku.


Kini, semua rasa yang kupendam terasa seperti molotov yang memaksa keluar dari badanku.


Rasa haru bahwa aku dipertemukan kembali dengan keluarga yang menyanyangiku seutuhnya..


Namun juga rasa getir yang luar biasa karena orang yang kucintai selalu menganggapku sebagai kakaknya, tidak lebih..


Dan lagi...perasaan harus melepaskan cinta matiku itu untuk kebahagiaan orang yang juga kusayang.


Selena...

__ADS_1


Mungkin ini saatnya..


Aku rasa ini waktunya aku harus menyerah dan melupakanmu..


__ADS_2