
Dua bulan lalu, aku masih bertanya-tanya seperti apa kehidupanku nanti setelah menikah dengan Dio?
Setiap hari pastilah rasanya pasti seperti sedang bulan madu. Kami yang saling mencintai akan menjadi pasangan tak terpisahkan sampai tua nanti.
Apalagi, kami memiliki rencana meninggalkan Indonesia untuk sama-sama mengejar karir kami di Polandia, Dio sebagai diplomat muda dan aku meneruskan pendidikan spesialis kedokteran. Kami akan menghabiskan banyak waktu bersama untuk saling mendukung mimpi kami dan bahagia bersama-sama
Kami pasti juga akan menyempatkan waktu untuk membawa orangtua kami jalan-jalan. Meskipun aku tidak terlalu akur dengan ayah dan ibu Dio, namun dengan sering bertemu pastilah rasa tidak suka mereka terhadapku akan luntur.
Dan tentu saja, aku akan membawa ayah dan ibuku berkeliling Polandia dan negara-negara di Eropa. Kami yang selama ini hidup sederhana nyaris tidak pernah liburan karena penghasilan ayah dan ibuku yang terbatas, mereka lebih memilih untuk selalu menabung demi hidup yang tidak pasti di hari tua nanti.
Karena itulah, bayangan aku dan Dio yang mengajak ibu dan ayah jalan-jalan di negara skandinavia menjadi salah satu rencana yang paling ingin kuwujudkan. Aku ingin orang yang telah melahirkan dan membesarkanku dengan sepenuh hati itu juga merasakan bahagia seperti yang banyak orang tua lain rasakan, berlibur bersama anaknya ke luar negeri.
Dua bulan lalu, bayangan itu masih terasa nyata.
Namun kini, bayangan itu berubah menjadi sesuatu yang di luar dugaanku sebelumnya.
Kini, ayah dan ibuku tengah bercengkerama penuh tawa dengan lelakiku yang baru, di luar tanah Indonesia.
Dia adalah Josh Rainer, bukan Dio.
Dan kami saat ini sedang berada di Amerika, bukan Eropa.
Inilah daur hidup..
Yang kadang-kadang memang sulit dimengerti.
..
Tak terasa, hari pertama kami di Negeri Paman Sam kini sudah berganti malam. Sepanjang hari ini, Josh mengajak kami untuk seharian istirahat untuk mengobati jetlag, sebelum akhirnya mengantar ayah untuk pengobatan intensif besok.
Namun, akhirnya kami tak sepenuhnya Istirahat dengan berdiam diri di kamar saja. Ayah sangat bersemangat saat masuk ke dalam rumah Josh Rainer, yang didekorasi dengan gaya Amerika klasik yang mewah.
Pasalnya, banyak sekali barang-barang antik yang menjadi pemanis interior rumah Josh Rainer yang memiliki tiga lantai dan terlihat seperti museum ini.
Sebagai pengangum barang antik, ayah pasti lah akan bersemangat sampai lupa bahwa lambungnya masih sakit dan perlu istirahat lebih lanjut.
Josh Rainer yang biasanya pendiam pun hari ini terlihat sangat banyak bicara saat menjamu kedua orangtuaku. Dia bahkan meminta ART untuk menyiapkan kursi roda untuk ayah, sehingga dia bisa mengajak ayah berkeliling melihat rumahnya yang dipenuhi berbagai lukisan, guci dan clutter antik itu tanpa ayah merasa kelelahan.
Yang membuatku tersenyum lebar.
Dua bulan lalu.. aku yakin aku merasa bahagia dengan bayangan yang aku reka di fikiranku bersama Dio.
Dan dua bulan setelahnya.. ternyata aku sama bahagianya, melihat orang-orang yang kucintai berkumpul dan menghabiskan waktu bersama.
Dio.. kamu bahagia jika aku bahagia bukan?
Aku kini sangat bahagia dan berharap kamu merasakan hal yang sama.
Lamunanku tentang Dio terhenti saat mendengar suara di telingaku.
“Sayang? Kamu lebih suka daging steak sirloin atau tenderloin?” tanyanya lembut di telingaku.
Oh!
Ibu dan ayahku terlihat menahan tawa sambil mesem-mesem tak karuan melihat Josh yang begitu perhatian kepadaku.
Kami saat ini tengah berada di tempat barbeque yang terletak di area outdoor rumah Josh, berbatasan langsung dengan kolam renang besarnya yang dilengkapi dengan jacuuzi.
Kata Josh, area ini merupakan tempat favorit para tamu yang berkunjung ke rumahnya karena dapat menikmati pemandangan malam Los Angeles dari atas bukit sambil makan daging panggang.
“Aku suka sirloin, kematangan medium well. Aku bantu kamu memasak ya?” kataku tersadar bahwa Josh tengah memanggang sendiri beberapa steak di panggangan di depan kami.
Dia memberikan isyarat tidak dengan tangannya.
__ADS_1
“Aku tidak pernah mempersilahkan tamu untuk memasak di rumahku. Apalagi kekasihku sendiri,” gumamnya yang membuat aku seperti ingin terbang semakin tinggi ke puncak bukit di California.
Ibu sendiri masih tersenyum melihat bagaimana Josh Rainer memperlakukanku seperti puteri raja di depan matanya sendiri.
Sementara itu, ayah masih terus berbicara dengan Josh Rainer mengenai sejarah Amerika kuno dan beberapa peninggalan historis yang menjadi kesukaannya. Wajah ayah bahkan berbinar saat Josh mengajaknya untuk mengunjungi Museum J. Paul Getty yang berisikan banyak koleksi seni dunia, berlokasi di pinggiran Los Angeles.
“Tapi tunggu Ayah sembuh ya. Besok kita akan bertemu dokter dan mungkin perlu beberapa hari perawatan intensif sebelum Ayah diperbolehkan untuk jalan-jalan,” balas Josh Rainer sambil membalikkan daging yang dia masak buat kami.
Ayah mengangguk cepat dan berjanji akan menuruti semua perintah dokter untuk cepat sembuh, termasuk bila ia harus lebih lama lagi tinggal di Amerika.
Yang membuat kami tertawa bersama.
Kami makan malam dengan suka cita.
Aku sendiri tidak pernah menyangka bahwa seorang Josh Rainer dapat memasak steak dengan saus barbeque seenak masakan di hotel bintang 5.
Suka citaku bertambah dengan memandang panorama malam yang menawan dari area outdoor ini. Kami bisa melihat kerlap-kerlip lampu pusat kota Los Angeles dari atas bukit yang tenang.
Benar-benar menyejukkan mata.
Pembicaraan kami juga sangat menyenangkan. Aku tak hanya mendapat informasi mengenai kehidupan Josh yang selama ini bolak-balik Indonesia Amerika, namun juga baru mengetahui bahwa selain musik, Josh Rainer juga sangat menyukai seni lukis dan sejarah dunia.
Yang membuat ayah dan Josh menjadi sangat klik, seperti ayah dan anak yang tidak ada jarak.
Dan hatiku sangat bahagia dibuatnya.
Ibu menyenggolku saat melihat ayah dan Josh Rainer lagi-lagi berdiskusi tentang karya seni mesir kuno yang aku tak paham sama sekali.
“Nak, apakah kamu bahagia?” tanya ibu dengan senyum lebarnya seakan menggodaku.
Seharusnya ibu tahu itu adalah pertanyaan retoris. Jawabannya sangat jelas tergambar diwajahku, yang memerah dan malu saat tiba-tiba dia menanyaiku begitu.
“Aku tidak pernah lebih bahagia daripada hari ini, Bu,” kataku jujur padanya.
Kini, aku mencoba membantu ibu membereskan sisa-sisa makanan kami di meja makan dan membuangnya ke tempat sampah di dekat panggangan barbeque, menjauh dari para lelaki.
Dio memang selalu ada disini, Bu.
Dio adalah malaikat penjagaku saat ini.
Dia berjanji padaku untuk selalu bersamaku sampai aku akhirnya bisa bertemu dengan penggantinya, untuk bisa melewati suka dan duka denganku hingga rambutku memutih.
“Mungkin karena Dio dan Josh Rainer memiliki kesamaan, Bu? Sama-sama menerimaku apa adanya dan sangat tulus,” kataku menjawab kebingungan ibu.
Ibu tersenyum dan kemudian memelukku.
"Ya, mereka berdua adalah anak yang baik dan tulus," ucap ibu.
Namun, ibu belum selesai dengan bicaranya.
“Mengenai pembicaraan sebelumnya bahwa ibu sangat ingin kamu menikah dengan Ale suatu hari nanti..” aku langsung berusaha mencegatnya, tidak ingin diskusi ini berkembang lebih jauh.
“Ibu, aku sudah memilih Josh Rainer,” tegasku sambil keluar dari dekapannya.
Ibu terlihat keki, namun akhirnya dia melanjutkan.
“Ibu hanya mau bilang anggap saja ibu tidak pernah meminta ini padamu ya? Yang paling penting adalah dengan siapa kamu bahagia dan kamu sudah memiliki jawabannya,” kata ibu mengkonfirmasi.
Aku tersenyum terharu.
“Dan Ale.. juga sudah berhenti mengejarmu. Dia kembali ke Inggris dan kembali melanjutkan hidupnya.Namun, ibu bilang padanya bahwa kapanpun dia kembali, kita akan selalu menerimanya sebagai anak ibu yang paling tua..” jelas ibu padaku.
Oh ya?
__ADS_1
Ale kembali ke Inggris?
Akhirnya dia berhenti mengejarku...
Dan dia melanjutkan hidupnya.
Seharusnya aku merasa senang dan mendukungnya.
Namun, aku..
Aku seperti kehilangan Ale untuk kedua kalinya.
Aku tahu ini mungkin akan terdengar egois. Tapi mengapa.. rasanya aku tidak rela dia pergi?
Rasanya.. aku selalu ingin melihat Ale di rumah kami setiap hari.
Aku ingin seutuhnya dia menjadi kakakku, yang tinggal satu rumah dengan kami dan akan kusibukkan dengan curhatku.
Aku benar-benar merindukannya selama ini, dan dia sekarang pergi lagi bahkan tanpa mengatakan apapun kepadaku?
Aku bahkan belum berterima kasih padanya karena telah menolong ayah, ibu, Gery dan Anna keluar dari lokasi penculikan Becca..
Ale..
Bisakah kamu benar-benar melepaskanku?
Dan bisakah kamu benar-benar menganggapku sebagai adikmu?
Dan dengan begitu, bisakah aku tidak kehilanganmu?
“Selena?” suara ibu membuyarkan lamunanku.
“Aku akan menelepon Ale nanti, berterima kasih untuk semua yang telah dia lakukan kepada kita, Bu. Namun, aku kehilangan ponselku," kataku padanya.
Ibu membalasku bingung.
"Ponselmu? Ibu sudah berikan kepada Josh kemarin. Dia belum memberikannya padamu?" tanya ibu dengan kening mengerut.
Bagaimana bisa ponselku ada dengan ibu?
Dan mengapa Josh tidak mengembalikan ponselku?
"Mengapa ibu bisa menyimpan ponselku?" tanyaku lebih bingung.
Ibu menjelaskannya dengan cepat.
"Ale menyimpan ponselmu untuk mengelabui Becca sebelum penculikan berlangsung. Dan dia mengembalikannya kepada ibu kemarin."
"Lalu ibu berikan kepada Josh sebelum kita pergi kemarin. Jadi Josh belum mengembalikannya padamu?" ibu mengonfirmasi.
Dia tidak bilang apa-apa..
Dan Josh tidak mungkin lupa..
Mengapa dia tidak memberikannya langsung padaku?
Ataukah..
Dia takut Ale memberikan pesan tersembunyi dalam ponselku?
Mengapa dia harus takut?
Josh Rainer..
__ADS_1
Lagi-lagi kamu terasa seperti orang asing yang tidak aku kenal.
Aku harus segera bicara dengannya.