
Lagi-lagi aku berada di posisi ini.
Aku seperti deja vu.
Ketika orang-orang kaya mencoba mengatur nasibku sendiri demi keuntungan mereka, tanpa peduli bagaimana pendapatku.
Sebelumnya, kekesalan ini sudah melanda saat aku dan Josh berhasil menyelamatkan diri.
Saat itu, nenek dan Josh punya rencana untuk tidak memberingus Celine dan Becca setelah kami berhasil melarikan diri, tanpa berdiskusi dulu denganku.
Dan lihatlah dampaknya karena terus menjalankan rencana rahasia mereka itu.
Becca hampir membunuhku, keluargaku dan teman-temanku!
Jika Josh Rainer dan Al tidak datang tepat waktu menyelamatkan kami saat itu, aku tidak akan bisa melihat keluarga dan teman-teman tersayangku lagi.
Akulah yang paling banyak berkorban dan dirugikan dalam tindakan brutal Celine dan Becca.
Namun.. mereka bahkan tidak melibatkanku.
Tidak pedulikah Nenek terhadap mentalku? Yang ketakutan setengah mati bila teror kembali aku dapatkan dari dua bejat itu?
Aku bahkan tidak punya latar belakang memimpin perusahaan dengan backgroundku yang hanya seorang dokter ini!
Dan kini...
Situasi yang sama terjadi lagi.
Aku kesal sekali.
Apa Nenek tidak tahu kalau aku adalah manusia yang punya hati?
Mengapa seenaknya saja dia mengatur-atur pernikahan kami?
Mengapa dia bisa sesukannya menyuruhku menjadi direktur utama sementara menggantikan cucunya?
Mengapa dia bahkan tidak menanyai pendapatku sama sekali?
Apakah dia pikir aku hanya boneka yang akan patuh untuk disuruh menikah besok dan menjadi direktur Tel-X?
Sebenarnya Nenek Gurnawijaya menganggap aku ini apa? Pion yang bisa dia mainkan untuk menjaga bisnisnya tetap berjalan saja?
Apakah dia hanya peduli soal kelangsungan bisnisnya saja? Tidakkah dia peduli bahwa aku sama sekali tidak mau terlibat dalam intrik bisnis konglomerat ini setelah semua kegilaan dan kebengisan yang aku terima?
Ya Tuhan,
Aku akan masuk dalam lingkaran konglomerat yang menyeramkan seperti ini!
Dan aku benar-benar kesal sekali sekarang!
"Josh Rainer," nadaku kini sudah meninggi, aku tidak bisa menyembunyikan kekesalanku lagi. "Apa nenekmu tidak peduli sedikitpun terhadap kesehatan mentalku?" kataku tajam.
Josh didepanku tampak berusaha menenangkanku.
__ADS_1
"Aku hampir dipenjara karena kejahatan yang bukan aku lakukan, aku hampir mati dan keluargaku berada dalam bahaya karena terlibat dalam problem keluarga konglomerat kalian. Aku hidup dalam bayang-bayang ketakutan sampai hari ini," kataku lirih.
"Dan yang dipedulikan nenekmu hanya kita harus menikah cepat-cepat sehingga aku bisa menggantikanmu di Tel-X?" aku kini sudah mengeluarkan semua uneg-unegku.
Josh didepanku tampak frustasi.
"Selena, aku tahu ini tidak mudah. Kita pulang dulu, sambil tunggu nenekku ya? Dia pasti punya alasan mengapa meminta dua hal ini dari kita," Josh berusaha melunakkanku sambil berusaha menggandeng tanganku.
"Josh, aku tidak mau menikah denganmu cepat-cepat karena paksaan orang lain dan aku tidak tertarik menggantikanmu di Tel-X" kataku tajam. "Mengapa nenekmu tidak peduli sedikitpun terhadapku? Mengapa dia bahkan dia tidak bertanya padaku, apakah aku keberatan setelah aku nyaris mati karena kalian?"
"Selena, ketahuilah Nenek sangat berutang budi dan menyesalkan apa yang terjadi padamu. Kali ini, aku juga tidak tahu apa yang terjadi. Lebih baik kita pulang dulu, tenangkan dirimu, dan tunggu nenekku tiba untuk bisa kita pikirkan jalan yang terbaik," Josh masih mencoba menenangkanku dan berusaha menggandeng tanganku untuk pulang.
Namun aku menolak gandengannya, dan kini melipat tanganku di dada.
Aku benar-benar tidak mau bergerak dari sini sampai semua amarahku tersampaikan.
"Coba kita tebak apa alasan nenekmu meminta ini dari kita," kataku dengan nada sinis.
Josh kini tampak membuang nafasnya. Tak mau memperbesar maslaah ini.
"Selena, akan lebih bijak jika kita tunggu nenek dan mendengarkannya .." ucap Josh yang langsung aku sela.
"Oh.. kamu yakin nenekmu akan mendengarkan aku? Aku sungguh tidak yakin. Dia hanya akan melakukan apa yang menurutnya terbaik untuk menjaga hartanya."
Aku mengatakan itu tanpa filter apapun.
Saat aku sadar kata-kata itu tampaknya menancap di hati Josh Rainer.
Wajahnya kini berubah tak karuan.
"Kamu.. mengatai nenekku apa barusan?"
Jika aku tidak memasang kupingku baik-baik, aku tidak mendengar Josh bicara dengan nada sedingin itu.
Josh kini mencengkeram tanganku kencang.
"Selena, perempuan yang bagimu hanya ingin menjaga hartanya itu adalah pengganti ibu untukku selama ini. Dan hanya dia yang peduli padaku saat semua orang tidak pernah menganggapku ada," katanya masih dengan nada yang sangat dingin.
Josh memandangku dalam-dalam, tanpa senyum yang tercetak di wajahnya.
Aku tidak pernah melihat Josh semarah ini.
Namun, Josh harus tahu bahwa neneknya memang sangat kelewatan dan terlalu punya kuasa dalam hubungan kami berdua.
"Aku tidak bermaksud Josh... Tapi nenekmu sudah sangat kelewatan jika meminta kita menikah sesegera mungkin hanya agar ada penerus kekuasaan perusahaan yaitu aku! Aku sulit menoleransi ini!" aku memekik.
"Aku sudah bilang dari tadi, sebaiknya kita pulang dan tunggu nenekku menjelaskan semuanya. Semuanya masih bisa terjadi, termasuk apakah kita sebaiknya tidak menikah seperti yang kamu inginkan," kata Josh tajam sambil membelakangiku. Kini dia bahkan berjalan kedepan tanpa melihatku.
Dia sudah salah sangka.
"Hey, aku tidak bilang bahwa aku tidak ingin menikah denganmu! Aku hanya tidak suka jika caranya begini!" aku kini malah berbalik membuntutinya dan mencoba menggandeng tangannya.
Namun Josh Rainer tak berhenti, dia berjalan terus saja tanpa memedulikanku.
__ADS_1
Aku berusaha sekuat tenaga untuk membuatnya berhenti dengan menarik lengannya kuat-kuat.
Akhirnya dia menghentikan langkahnya dan menatapku dingin.
"Josh Rainer, aku paling benci melihat orang pergi saat masalah yang kita bicarakan disini belum selesai!"
Aku kini sudah tidak mampu lagi menahan tangisku. Bulir-bulir air mata deras menuruni pipiku.
Sosok dingin di depanku pun perlahan melunak.
"Bagiku, nenek adalah pahlawanku dan salah satu alasan mengapa aku bisa hidup sampai saat ini. Aku memohon padamu, tolong jangan benci dia," ujarnya lirih.
Aku tidak tahu, Josh Rainer.
Aku tidak ingin dikontrol seperti ini. Ini tidak adil untukku.
Tapi aku tidak ingin menyakitimu.
Mengapa mencintai seseorang harus sepelik ini?
"Ayo kita pulang," ujarnya saat tak ada jawaban dariku.
Aku menghentikan tangannya.
"Baiklah, jika dia tetap menginginkan kita menikah besok, lusa atau minggu depan. Dan aku siap jika dia mau melihatku menjadi penggantimu di Tel-X, tapi dengan satu syarat," kataku memberikan hargaku.
Josh sepertinya sudah tidak mau membahas ini.
"Aku mendengarkanmu," katanya masih dengan nada dinginnya.
Aku menghembuskan nafas dalam-dalam. "Aku ingin Celine dan Becca dipenjara dulu sehingga aku bisa tenang untuk menjadi istrimu dan memimpin perusahaan," ujarnya.
Mata Josh Rainer tampak kosong.
"Selena, bicarakan ini nanti."
Aku melongo.
Jawaban Josh Rainer jelas tidak menjawab apa yang sedang kuutarakan.
Dia kini kembali berbalik dan berjalan menuju mobil tanpa menggandengku.
Benar-benar meninggalkanku di atas pasir pantai Malibu.
Oh Tuhan.
Ini adalah perdebatan pertamaku dan Josh.
Dan rasanya sangat mencekam.
Inikah yang namanya cobaan sebelum pernikahan?
Hai semuanya, I'm back!
__ADS_1
Terima kasih yang sudah lama menunggu! Semoga kali ini aku bisa rutin posting tentang kisah cinta Selena sampai tamat ya. Jika kalian ada saran untuk pengembangan plot cerita kedepannya, cuss isi kolom komentar ya! Thank you!
Sampai disini, kalian team Josh Rainer atau team Aldebaran nih?