
“Ratuku.”
Panggilan itu membuatku kembali menjejaki tanah.
Panggilan dari Aldebaran di kupingku.
Aldebaran, anak dari Celine yang tingkahnya sangat membingungkan.
Sekaligus juga meresahkan.
Benarkah dia ada di satu tim bersama kami? Benarkah dia akan mencelakai Ibunya sendiri?
Aku menelan ludah sebelum mampu kembali berbicara dengannya.
“Aldebaran, aku tidak tahu apa motifmu tapi terima kasih sudah membantu membersihkan namaku,” kataku lugas.
Di seberang sana, Aldebaran tampak terkekeh.
“Hanya minta maaf? Kamu harus memberikanku hadiah,” katanya tampak tak puas.
Aku benar-benar tidak tahu mau menjawab apa.
“Aku sudah cukup mengalami banyak masalah, bisakah kamu diam dan tidak usah lagi meneleponku?”
Aku benar-benar serius dengan ucapanku.
Dengan semua halusinasi yang Aldebaran paparkan di depan semua media tentang hubungan kami, aku benar-benar ingin pergi saja ke Kepulauan Bahamas seperti apa yang dia dibualkan dan menyendiri di sana sampai semua orang lupa dengan pemberitaan tentang diriku.
“Kata-kata ini menusukku sampai hatiku pecah, aku sedih sekali,” katanya dengan nada yang tidak sedih sama sekali. Dia masih mengatakannya dengan bersemangat dan tampak tidak menyesal.
Orang yang sangat aneh.
“Selena, aku tidak akan melepaskanmu lagi,” katanya lagi-lagi membuatku pening.
Oh Tuhan,
Aldebaran ini kurasa perlu ke rumah sakit untuk dicek kejiwaan dan mentalnya.
Tidakkah dia tahu bahwa aku sudah menolaknya mentah-mentah dari awal?
“Kita harus bertemu,” katanya lagi.
“Aku tidak mau bertemu dengan anak dari orang yang ingin memenjarakanku,” balasku tegas.
Di ujung telfon sana, Aldebaran terkekeh lagi.
“Ingat janjimu. Kamu bilang kita ingin menikah kalau aku bisa membuktikan padamu tentang janji yang kamu buat dulu. Nah ini aku ingin memberikan buktinya langsung padamu.”
Tidak mungkin!
Bukti apa yang dia miliki?
Aku sama sekali tidak berjanji apapun dengannya. Aku bahkan tidak kenal dia!
“Jangan gila,” aku hanya bisa mengatakan ini saking lemasnya.
“Bagaimana bisa sih kamu menolak aku yang sempurna ini? Semua perempuan ingin kencan denganku tapi kamu malah mencuekiku begini. Kamu pasti sedang berpura-pura kan, Sayang?”
Stop.
Aku mual dan langsung mematikan telfon itu.
Lalu memblokir nomornya.
Aku sudah tidak bisa mendengar apapun lagi karena semua ini membuat kepalaku semakin melesak.
Aku tidak peduli Aldebaran ada di tim mana, yang pasti aku tidak mau lagi berurusan dengan keluarga sinting ini.
Aku ingin bebas.
Dan tentu saja.
Aku harus melepaskan diri dari Josh Rainer.
Sedih.
Membayangkannya saja sudah sakit sekali.
Apakah aku bisa?
…
Kamu harus bisa, Selena.
Aku menghembuskan nafasku kencang sebelum aku memutar kenop ruangan ini dan mulai keluar.
Aku berjalan menuju koridor untuk segera menuju kamarku.
Oh,
Aku akan melewati kamar Josh Rainer yang ada disamping kamarku.
Aku sendiri belum pernah masuk ke kamar Josh di rumah ini.
__ADS_1
Apakah Josh dan Helena sedang berduaan di kamarnya?
Memikirnya mereka saling mesra, kembali membuatku kesal.
Aku harus membuang pikiran ini dan fokus dengan prioritasku sekarang.
Keluar dari rumah ini.
Tanpa ketahuan Josh Rainer. Tanpa ketahuan neneknya. Dan tanpa ketahuan Margaretha .
Aku kini sudah ada di depan kamarku dan siap masuk untuk segera mengambil tasku.
Saat aku lihat pintu kamar Josh terbuka lebar.
Oh.
Apakah mereka berdua disana?
Keringat dingin dan degup jantungku rasanya seperti tak terkendali.
Aku sangat ingin sekali tahu apa yang mereka bicarakan.
Walaupun,aku tahu sebenarnya aku tidak boleh ikut campur.
Namun, aku sangat-sangat penasaran dan tak mampu lagi menahan rasa ingin tahuku.
Baiklah.
Aku memutuskan untuk masuk dan melihat apa yang sedang terjadi.
Aku meneguk ludah dengan keringa5 bercucuran sebelum memasuki ruangan si Pangeran.
Yang sama besarnya dengan kamarku namun terlihat lebih mewah, lagi-lagi dengan furniture yang didominasi oleh emas dan perak.
Aku terus menelusuri kamar sampai melihat kedua sosok manusia sedang berdiri di dekat jendela balkon, di sebelah tempat tidur.
Mereka berdua tampak berpagut dalam satu pelukan.
Tidak.
Aku bodoh. Bodoh. Bodoh sekali.
Laki-laki yang memintaku untuk memberikannya kesempatan kini tengah memeluk wanita lain.
Laki-laki yang telah mengacak-acak hatiku itu membiarkan wanita lain ada di dalam sandarannya.
Aku sedih. Aku kesal. Aku marah.
Wanita berambut panjang berwarna coklat itu tampak mengendurkan pelukannya dan mulai membelai wajah lelaki yang kusukai.
Mereka berdua semakin mendekat.
Aku tidak melihat adanya penolakan dari laki-laki sama sekali.
Laki-laki itu diam saja, tidak berusaha menjauh dan mengikuti permainan si wanita.
Dan wanita itu sudah hampir mendaratkan bibirnya yang merah ke lelaki yang kupuja itu.
Sedikit lagi.
Josh, aku mohon tolak dia.
....
Tetap tak ada penolakan sama sekali dari lelaki yang kupuja itu.
Sampai aku sudah tidak mampu menahan seluruh emosi yang membuncah di dadaku.
Aku memutuskan untuk berlari, keluar dari ruangan ini dan tidak mau tahu lagi dengan apa yang terjadi di antara mereka.
Hatiku hancur. Fikiranku kacau.
Saat aku berbalik, tak sengaja aku menabrak kursi malas yang ada di depanku.
Yang membuat kedua insan itu tampak kaget dan menghentikan kemesraannya.
Aku sudah tidak peduli lagi.
Namun, saat aku sudah mau menangkap pintu kamarku, ada tangan lembut yang memegang bahuku.
Aku sudah tidak peduli Josh.
Aku sudah tidak mau sakit lagi.
Namun ternyata aku salah.
Bukan Josh yang mengejarku.
Saat berbalik, sesosok wanita yang cantiknya seperti Barbie lah yang menghentikan langkahku.
Helena.
Kini dia memegang pundakku.
__ADS_1
Dia sedikit lebih tinggi dariku, namun badannya sangat proporsional. Kakinya jenjang, lekukan pingangnya sangat bagus dengan wajah yang benar-benar seperti boneka.
Kulitnya putih mulus, rambut coklatnya panjang terurai ikal dan hidungnya sangat mancung.
Cantik. Sangat amat cantik.
Dan dialah yang dipilih Josh Rainer untuk mengisi hatinya.
“Apakah kamu Dokter Selena?” tanyanya sopan.
Cantik, berprestasi dan tingkah lakunya sangat baik.
Aku tidak mungkin menang darinya.
“Ya, dan Anda?” tanyaku mencoba tetap tenang dan sopan.
“Saya, Helena. Kekasih Josh,” katanya sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
Kekasih Josh.
Kata-kata itu terdengar seperti sambaran petir buatku.
Aku tetap mencoba tenang dan menyalaminya.
“Terima kasih sudah merawat Josh. Saya kaget sekali dengan pemberitaan sejak tadi malam dan sempat berburuk sangka dengan Anda. Untunglah Al menjelaskan semuanya dan pas sekali saat saya tiba di Jakarta. Setelahnya, Al menjemputku di bandara dan memberitahuku bahwa kalian sedang disini, bukan di Bahamas,” jelasnya.
Al? Maksudnya Aldebaran?
Dan Aldebaran yang memberitahunya bahwa kami disini?
“Sudah menjadi pekerjaan saya untuk menyembuhkan Josh,” aku hanya bisa berkata demikian.
Helena menyunggingkan senyumnya, namun kemudian murung.
“Seharusnya.. saya kembali ke Jakarta saat itu.. Sehingga Josh tidak perlu kecelakaan dan amnesia begini..” katanya sedih.
Saat itu? Maksudnya hari di kecelakaan itu?
Apakah mereka berdua seharusnya bertemu malam itu?
Dan dari nada bicaranya, apakah dia berpikir Josh masih mengalami amnesia?
“Maaf saya tidak bermaksud lancang, apakah Anda memang punya janji dengan Josh Rainer di malam kecelakaan itu?” tanyaku penasaran.
Dia memejamkan matanya, terlihat sangat frustasi.
“Ya, saya seharusnya datang ke tempat rahasia kami malam itu dan menjawab lamarannya,” ujarnya.
Rasanya aku seperti ditelan bumi.
Helena mungkin akan bingung dengan mimik dan ekspresiku saat ini.
Yang masih tak percaya dengan apa yang kudengar di kupingku.
Tiga minggu lalu, Josh Rainer menunggu jawaban wanita ini di depanku ini untuk menikah.
Wanita yang telah bersamanya sejak kecil, suka duka dilewati bersama hingga dewasa.
Ternyata.
Sejak awal dia memang tidak pernah serius dengan kata-katanya terhadapku.
Aku seharusnya tidak terbawa perasaan konyol ini.
Tidak.
Josh Rainer, aku benci kamu.
.
.
.
.
.
.
...❤❤❤ SAATNYA POLLING ❤❤❤...
Baru saja cinta Selena untuk Josh Rainer dimulai, Helena malah kembali dan membuat Selena sedih setengah mati 🤮😤
Menurut kalian, Selena sebaiknya berjodoh sama siapa sih?
a. Josh Rainer. Josh pasti punya alasan untuk enggak menolak pelukan Helena dan apesnya kelihatan saja sama Selena 😔
b. Aldebaran. Meskipun narsis parah, dia rela mengorbankan nama baiknya untuk kebaikan Selena 😎
c. Gery. Datang dari status keluarga yang sama, selalu ada saat Selena susah dan selalu jadi tempat bersandar sejak kecil. Gak ada celah kan? 🤗
__ADS_1
d. Dio, one and only. Meskipun tinggal kenangan, mending Selena enggak sama siapa-siapa deh sampai nanti ketemu lagi di alam yang sama dengan Dio 😇
Yang mana menurut kalian?