Menikahi Pembunuh Pacarku

Menikahi Pembunuh Pacarku
PEMERAN PENDUKUNG


__ADS_3

POV : Helena


Aku menggiring Josh Rainer ke ruangan di lantai tiga yang sering kami gunakan untuk menghabiskan waktu bersama-sama.


Dulu.


Sudah bertahun-tahun kami tidak menghabiskan waktu bersama di ruangan favorit kami itu.


Tanpa perlawanan, Josh mengikuti di belakangku.


Kami sudah tiba di ruangan dengan pintu berpelitur indah di lantai 3 ini. Dengan langit-langit tinggi dan kedap suara, ini menjadi ruangan yang pas untuk berbicara empat mata dengan mantan kekasihku ini.


Ini adalah ruangan serbaguna yang bentuknya oval menyerupai panggung pertunjukkan. Ruangan ini memiliki panggung mini, lengkap dengan sound system, tata lampu dan kursi penonton kapasitas 20-30 orang didalamnya.


Sejak dulu, kami menyebutnya sebagai kamar kreatif. Di tempat inilah aku sering melatih kemampuan akting dan menyanyi musikalku.


Begitu juga dengan Josh. Disinilah dia banyak berlatih memainkan alat musik. Di panggung mini ini sendiri, terdapat piano klasik milik ibunya dan berbagai biola yang tergantung di sisi kiri studio ini.


Dulu, kami sering bertandem. Saat Josh memainkan alat musik, aku kadang mengharmonikannya dengan vokalku. Kadang jika aku sedang menghafalkan skenario broadwayku, Josh juga membantuku dengan memberikan musik pengiring di setiap latihanku.


Kami sangat cocok bukan sebenarnya?


Namun, sayangnya cinta itu tidak ada disana untukku.


Aku membuang nafas sambil membuka pintu kamar kreatif yang tidak terkunci ini.


Josh menyalakan lampu dengan remote otomatis di jam tangannya.


Aku bergegas menuju panggung mini di atas sana dengan setengah berlari.


Semuanya masih sama.


Panggung yang sama, orang yang sama.


Hanya perasaan saja yang sudah berbeda jauh.


"Selena punya rasa ingin tahu yang tinggi dan gampang insecure. Tolong jangan cerita yang membuatnya kepikiran selama kalian sekamar ya," Josh Rainer membuka pembicaraan sambil mengikutiku dari belakang menuju panggung mini.


Aku tersenyum dikulum.


Josh sangat amat perhatian dan mempedulikan perasaan Selena.


Josh akhirnya benar-benar merasakan cinta yang selama ini tak pernah dia rasakan.


"Bagaimana jika cerita dia denganmu lah yang akan membuatku insecure?" kataku berbalik padanya.


Kami kini sudah berada di panggung mini, tempat favorit kami untuk menghabiskan waktu selama ini.


Di depanku, rahang Josh Rainer tampak mengeras sebelum kembali melakukan pembelaan untuk dirinya sendiri.


“Kamu dan aku sudah selesai sejak tahun lalu, Helena. Kamu sendiri yang meninggalkan aku saat itu..” Josh membuka ucapannya.


Aku kini sudah berada dibawah lampu sorot di panggung ini.


"Josh Rainer, kamu berhutang penjelasan padaku," kataku membeberkan fakta.


Josh sepertinya tidak terlalu suka dengan topik pembicaraan ini. Dahinya tampak mengernyit.


"Aku ingin kita mengulasnya dari versi masing-masing apa yang sebenarnya terjadi diantara kira. Aku tidak ingin ada yang salah paham disini," kataku lugas.


Josh Rainer kini juga telah berdiri di bawah lampu sorot, membuatnya dan aku seperti sedang menjadi pemeran teater di kamar pertunjukan mini ini.


Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum mengeluarkan semua yang kupendam padanya selama ini.


“Kamu tahu alasan aku meninggalkanmu? Karena aku ingin kamu berpikir ulang bahwa pernikahan tidak sebatas menikahi sahabat sejak kecilmu," aku memulainya.


Josh Rainer tampak mendengarkan seksama.


"Aku berharap kamu bisa merasakan cinta yang aku rasakan juga padamu. Aku ingin waktu setahun tanpaku bisa membuatmu yakin bahwa kamu akhirnya juga bisa jatuh cinta padaku," cerocosku.

__ADS_1


Mata Josh Rainer mendelik seakan mencoba berpikir ulang.


"Apa maksudmu?" tanya Josh bingung.


Aneh sekali memang. Aku dan mantan pacarku tengah membicarakan apa yang terjadi pada hubungan kami yang kandas kendati kini dia sudah bertunangan.


"Tapi kamu malah benar-benar pergi dan seperti orang asing padaku sejak saat itu, Josh. Aku sedih sekali," jelasku lagi sangat serius.


Josh tampak tercekat dan bingung untuk meresponsku.


"Kamu menolak lamaranku, kamu tidak ingin menjadi istriku saat itu padahal itulah yang diharapkan oleh kedua ayah kita. Kamu bilang kamu ingin fokus dengan karirmu, ingat?" Josh mencoba merefresh kembali masalah kami tahun lalu.


"Satu-satunya kesalahanku disini adalah aku lupa kamu sangat tidak sensitif dengan perasaan orang lain. Kalau saja aku bilang padamu apa yang sebenarnya kumau, mungkin kamu tidak akan bersikap dingin padaku dan semua ini tidak akan terjadi?" kataku penuh harap.


Josh tampak ingin menginterupsi namun aku sela kembali.


"Josh Rainer, aku ingin menikah denganmu jika kamu juga merasakan cinta yang aku rasakan padamu. Bukan karena desakan orang lain, aku tahu ini penting buatmu tapi apakah kamu tidak memikirkan bagaimana perasaanku? Memiliki suami yang sepanjang hidupnya tidak pernah mencintaiku?"


Nadaku kini sudah meninggi. Jika Selena mengintip dari balik pintu masuk, dia pasti sudah mendengar ini semua.


"Helena.. aku bilang padamu saat itu aku mau mencoba! Kamu tahu bagaimana hidupku yang pelik telah mengambil semua rasa cintaku. Aku perlu waktu! Dan kamu pergi dariku karena tidak mau menungguku?" ujar Josh dengan nada meninggi.


Aku kini sudah menangis hebat.


"Bagaimana jika sampai akhir hayat kamu tidak pernah mencintaimu? Josh.. aku hanya tidak mau keinginan orang tua kita malah menjadi bumerang untuk masa depan kita. Aku tidak ingin menjalani kehidupan seumur hidup dengan orang yang berpura-pura mencintaiku," kataku kini terisak-isak.


"Aku sebetulnya tidak mau lagi membicarakan ini. Tidak hanya kamu yang sakit, aku juga! Sampai ayahku meninggal, aku tidak bisa satu kalipun menuruti keinginannya!" emosi Josh.


Kami masih bertatap-tatapan di panggung mini ini. Kami juga mengeluarkan emosi yang tidak bisa kami tahan atas kejadian tanpa penjelasan yang sudah terjadi.


"Aku rasa semua sudah clear. Aku hanya ingin kamu mencintaiku sebagaimana aku sangat mencintaimu. Dan kamu hanya ingin pernikahan terjadi agar akhirnya ayahmu bangga padamu sekali saja dalam hidupmu," kataku tajam.


"Jangan bicara mengenai aku dan ayahku seperti itu!" teriaknya.


Josh sudah sangat terbakar emosi saat aku mengatakan itu. Aku sendiri kaget mendengarnya.


"Ya dan sudah sangat jelas kamu ingin menikahiku hanya agar ayahmu senang. Kita memang tidak cocok disini. Kita memang tidak bisa bersama," kataku berusaha tegar.


Aku kini mencoba memegang lengannya.


"Aku hanya mau bilang padamu. Tidak ada satupun wanita di bumi ini yang ingin mendengar alasan pernikahan selain cinta yang murni dari pasangannya," kataku tegas.


Josh berusaha menekan amarahnya padaku.


"Dan aku melihat hal yang berbeda antara dirimu dan Selena. Itu baru yang namanya cinta..." kataku berusaha terdengar kuat.


Josh kini kelihatan melunak setelah aku menyebut nama tunangannya.


Kami terdiam beberapa saat sampai akhirnya Josh memulai lagi.


Dia tampak lebih tenang saat ini.


"Kamu mau mendengar versiku?" kata Josh tajam.


Aku mengangguk cepat.


"Aku ingin menikahimu karena tidak ada perempuan sebaik dirimu di hidupku saat itu," katanya tegas.


Aku kini menunduk dengan air mata yang tak bisa kutahan.


"Aku memang tidak tahu apa itu cinta, namun yang pasti aku ingin membuatmu bahagia. Kamu adalah orang yang paling mengerti aku, yang paling baik denganku dan selalu ada untukku. Aku rasa alasan itu sudah cukup dan aku harap cinta akan datang sendirinya nanti," jelasnya lagi.


Aku masih berusaha mencerna kata-katanya dengan perasaan berdebar tak karuan.


"Aku ingin menikah denganmu, dan punya anak darimu Helena. Lalu aku akan mencoba menjadi suami dan ayah terbaik dari anak-anak kita, belajar dari bagaimana aku tidak mendapatkan figur ayah yang kuharapkan sepanjang hidupku," lanjut Josh.


Oh tidak.


Mengapa pengakuan ini begitu menyakitkan?

__ADS_1


"Helena, alasan utamanya adalah aku ingin melihatmu bahagia. Aku ingin bahagia bersama orang yang selama ini selalu ada untukku disaat sedih maupun senang. Perihal keinginan ayahku dan ayahmu, itu hanyalah pelengkap saja untuk benar-benar bisa mengikat kita. Hanya sebagai pengingat bahwa sepertinya semesta mendukung kita untuk bersama-sama," ucap Josh Rainer, kini dengan nada yang lembut.


Entah mengapa semua pengakuannya itu membuatku seperti tersengat listrik yang luar biasa.


Aku kini jatuh dan terduduk, sambil masih menangis sesenggukan.


Mengetahui fakta dia dulu berharap bisa terus bahagia bersamaku sampai kita mati.


Sementara aku, menuntutnya untuk membuktikan rasa cintanya kepadaku sebelum kami lanjut.


Hal yang jelas-jelas sulit dia buktikan, dengan semua masalah hidup yang telah dia jalani


Akulah yang egois disini.


Dan aku juga yang telah menghancurkan impianku sendiri.


Untuk bisa terus mencintainya sepanjang hidupku.


Aku benar-benar menyesal.


"Waktu kamu menolakku, kamu bisa bayangkan bagaimana rasanya? Aku tidak punya siapa-siapa lagi yang tulus mendukungku. Aku tidak punya siapapun lagi yang bisa aku perjuangkan kebahagiaanya," ujarnya lirih.


"Lalu berbulan-bulan kemudian, ayahku meninggal. Kamu bisa bayangkan rasanya menjadi orang yang terbuang dan tak punya siapapun lagi yang peduli padaku setelah kalian semua pergi?" ujarnya lagi.


Josh Rainer kini ikut duduk bersimpu di depanku. Dia kini mengusap kepalaku.


Membuat tangisku semakin pecah tak karuan.


"Aku akan selalu mengingat semua kebaikanmu untukku, Helena. Aku juga berterima kasih padamu, jika kita tidak berpisah, aku tidak akan mungkin merasakan cinta yang sesungguhnya dari Selena. Inilah takdir yang sebenarnya," ucapnya menenangkanku.


Aku mencengkeram bahunya keras. Menangis lirih disana.


Memeluknya.


"Aku mencintaimu Josh Rainer."


Josh tampak ingin melepaskan cengkeramanku padanya, namun aku tak izinkan.


"Saking cintanya aku padamu, aku benar-benar merelakanmu untuk pergi dariku."


Kini Josh Rainer berusaha menarik wajahku, tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Pergilah dariku dan gapai cintamu dengan Selena. Aku akan selalu mendukungmu selama kamu bahagia," ucapku sakit, namun terasa lega.


Tanpa kusangka, kini Josh memelukku balik.


Erat sekali.


"Terima kasih untuk tetap baik padaku. Terima kasih.. untuk segalanya Helena. Kamu tetap orang paling baik di hidupku," ujarnya lirih.


Jika saja aku diberikan waktu untuk kembali..


Aku rasa aku juga tidak akan menggunakanya.


Karena bilapun aku tetap menerima lamarannya saat itu, setahun kemudian dia akan bertemu Selena.


Dan tak ada jaminan kisah cinta diantara mereka akan berubah.


Ya, memang beginilah takdirku.


Dan seperti inilah takdir antara Josh dan Selena.


Selamanya, aku dan Aldebaran hanyalah pemeran pendukung dalam kisah mereka.


"Josh, ada satu hal terakhir yang perlu kamu lakukan," kataku tiba-tiba teringat hal penting.


Josh tampak bingung dan melepaskan pelukannya padaku.


"Telfon ayahku, jelaskan padanya bahwa perjanjian antara ayahmu dan ayahku untuk menikahkan kita tidak akan pernah terjadi," kataku lugas.

__ADS_1


__ADS_2