
Pov : Aldebaran
Tidak pernah ku pikirkan aku akan satu meja lagi bersama dengan orang tua angkatku untuk makan malam bersama.
Dua orang tua yang telah mengajarkanku kehidupan yang tulus dan makna dari bekerja keras untuk bisa selamat dari kerasnya dunia.
Dan tidak pernah kupikirkan juga bahwa akan ada Josh Rainer, yang kini sangat manis kepadaku dan mantan tunangannya, Helena yang seharusnya menjadi istrinya di meja yang sama.
Mereka berdua tampak masih akrab, seperti tidak ada drama yang terjadi setahun belakangan. Keduanya bahkan sesekali tertawa karena celetukan masing-masing.
Dan yang paling membuatku tak mempercayai mataku adalah bergabungnya tambatan hatiku yang kucari-cari selama ini, Selena Ariadna dalam meja yang sama.
Sayangnya, dia disini bukan untuk mendampingiku.
Melainkan untuk bersama dalam suka dan duka dengan adikku sendiri.
Josh Rainer, orang yang paling kusayangi dalam hidupku.
Melihat mereka berdua bertatapan, saling berpegangan tangan, dan berbicara dua arah penuh dengan rasa cinta yang menggelora..
Aku sungguh tidak pernah menyadari takdirku akan semengenaskan ini.
Namun...
Jika dua orang yang paling kamu cintai dalam hidupmu bersatu, sepertinya ini akan membuat semua jadi mudah bukan?
Aku bisa saja hidup tanpa rasa sampai aku mati nanti.
Asalkan aku bahagia melihat dua orang ini selalu bahagia.
Dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku bersumpah untuk membuat mereka selalu bahagia.
Aku janji, akan membantu mereka untuk selalu bahagia.
Walaupun aku mungkin tak pernah bisa merasakan bahagia untuk diriku sendiri.
"Jadi, apa yang membuat Nak Ale dan mba Helena buru-buru mengunjungi kami kesini?" tanya Ibu.
Fikiranku menguap. Aku tersenyum pada ibu yang sedang mengambilkanku nasi dan lauk pauk di depan meja makan besar ini.
"Helena dapat kabar dari nenek bahwa Josh dan Selena akan segera menikah, jadi kami tidak mau ketinggalan pernikahannya," kataku gamblang.
Ibu tampak terperanjat mendengarnya, sedangkan ayah langsung terbatuk-batuk, tersangkut makanannya sendiri saking kagetnya.
"Maksudnya.. kalian akan segera melangsungkan pernikahan disini? Secepat ini?" ayah mencoba mengklarifikasi Selena dan Josh Rainer.
Josh tampak ingin membuka suara, ingin meluruskan kegaduhan yang terlanjur ku buat.
Namun Selena memegang Josh, dalam bahasa isyarat, Selena seperti memberi aba-aba agar dia saja yang maju dan meluruskan kepada orangtuanya.
"Ibu dan Ayah, aku dan Josh Rainer sudah bicara. Kami ingin pernikahan digelar secepat mungkin. Kami... tidak ingin ada pihak-pihak yang menganggu lagi.. dan dengan jauh dari orang jahat seperti Becca dan Celine, kami pikir ini adalah jalan terbaik."
Josh tampak melongo tak percaya, namun terlihat sangat lega.
Dia tidak menyangka calon istrinya mengatakan hal yang berbeda dengan apa yang mereka sempat debatkan beberapa jam lalu.
Selena menentang pernikahan cepat-cepat mereka, namun kini dia menyelamatkan Josh Rainer dari ceceran pertanyaan orang tuanya.
Ayah tampak memanggut mendengar jawaban Selena, sedangkan Ibu masih berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
"Kalian yakin?" tanya ibu sekali lagi.
Josh ikut coba menjelaskan.
"Kami siap Ibu. Selain itu.. memang ada satu masalah di perusahaan, yang mana untuk mengatasinya saya harus menikah untuk bisa mengubah regulasi perusahaan. Ini ada di perjanjian AD/ART perusahaan saat ayah saya meninggalkan wasiat.." jelas Josh Rainer.
Namun, Selena akhirnya memotongnya.
"Namun itu tak jadi soal. Aku bersedia menikah dengan Josh tanpa paksaan dan membantu perusahaan Gurnawijaya untuk menyelesaikan masalah. Sembari, mengumpulkan bukti-bukti untuk menyeret Becca dan Celine ke pengadilan," Selena kembali membela Josh di depan orang tuanya.
Wajah Josh benar-benar bahagia kini. Dia hampir tidak percaya Selena akan mengubah pikirannya secepat ini dan membantu menyelamatkan wajahnya di depan orang tuanya.
__ADS_1
Dalam pembicaraan yang sangat serius ini, tiba-tiba saja mataku terpatri pada ekspresi wajah Helena.
Helena duduk di samping Josh, tepat berada di seberangku. Saat Selena dan Josh sedang meyakinkan orang tua calon mempelai istri untuk segera menikah, Helena malah berusaha membuatku tertawa. Dia menempelkan kedua tangannya di pipi dan memberikan ekspresi sedang menangis dengan tampak yang konyol.
Kemudian dia menunjuk dirinya dan diriku.
Hahahah Helena! Orang yang tidak kenal Helena pasti akan melihat dia sebagai barbie cantik yang sangat pintar berakting, namun tidak pernah tahu betapa lucu dan gilanya dia.
Aku hanya tersenyum membalasnya.
"Baiklah.. jika kalian berdua sudah setuju, ibu rasa kami hanya bisa mendukung kalian kan?" ucap Ibu pada akhirnya.
Josh Rainer tampak ingin menyalami tangan Ibu dan Ayah secepat mungkin. " Terima kasih Ibu, ayah saya berjanji akan selalu membahagiakan Selena.."
Lagi-lagi, Helena memberikan ekspresi konyolnya. Kali ini dia menggigit lidahnya dan kembali berpantomim seperti sedang menangis namun mengigil.
Helena pasti juga sedih, sama sepertiku. Namun, dia benar-benar berusaha tegar dengan memperlihatkan sisi guyonnya kepadaku untuk menghiburku.
Aku membalasnya dengan ucapan tanpa suara "Thank you".
"Kapan tepatnya kalian akan menikah?" tanya ayah kembali.
"Kami masih menunggu Nenek, kemungkinan Nenek akan tiba besok pagi. Dan biasanya dia sudah membawa semua persiapan.." ucap Josh.
Ayah dan Ibu berpandangan bersama. Dia kemudian memandang Selena, seperti ingin mengatakan agar anaknya memang bahagia dengan apa yang sudah dia putuskan.
Selena tampak menenangkan orang tuanya. "Ibu dan Ayah pasti nervous ya? Tenang saja, kami akan memastikan semuanya berjalan lancar dan menyenangkan untuk kita semua."
Josh mendelik calon istrinya lagi. Tampaknya Josh juga bertanya-tanya apa yang membuat Selena bisa berubah sikapnya secepat ini.
Sebetulnya, aku pun bertanya-tanya.
Satu jam yang lalu, Selena masih meragukan motif Josh Rainer dan mencoba mengorekku untuk tahu kebenaran dari rencana pernikahan mendadak ini.
Dan saat itu dugaannya tepat. Dia yakin bahwa semua rencana pernikahan ini adalah gagasan Josh Rainer, bukan neneknya.
Aku pikir dia akan bersikeras menentang rencana ini sampai Josh Rainer mengatakan alasan yang sebenarnya.
Apakah ada sesuatu yang Selena sedang rencanakan? Sesuatu yang diam-diam dia ingin lakukan?
Makan malam pun berakhir. Ayah dan Ibu segera berpamitan untuk ke kamarnya, sedangkan Selena dan Helena tampak akrab sekali berjalan beriringan menuju kamar mereka. Aku bahkan mendengar bahwa Helena akan membantu mencarikan gaun pengantin tercantik untuk Selena.
Kadang aku sungguh tidak mengerti jalan pikiran wanita..
Di ruang makan ini, hanya menyisakan aku dan Josh Rainer.
Josh mendatangiku dan memelukku.
"Terima kasih sudah datang, kak. Dengan semua pengorbanan yang kakak lakukan buatku dan Selena..."
Aku menghentikan ucapannya.
"Hanya karena kamu bersumpah akan membahagiakannya. Jika kamu menyakitinya.." aku tidak sempat menyempurnakan kalimatmu karena Josh yang memotong ucapanku.
"Tidak akan kubiarkan dia menderita. Dia akan menjadi wanita paling bahagia di dunia ,"ujarnya lagi.
Aku tersenyum namun mengernyit.
"Pastikan kamu jujur padanya. Dia harus mendengar dari mulutmu sendiri soal kecelakaan itu," aku berpendapat.
Josh tampak resah saat aku mengingatkannya perihal kecelakaan yang telah merenggut nyawa Dio.
"Ayo kita bicara di ruanganku.." dia memintaku untuk mengikutinya ke ruang kerjanya di lantai dua.
Kami tiba di ruangan kerja Josh. Penuh dengan pigura dan foto-foto kemenangannya saat mengikuti berbagai kejuaraan musik internasional.
Dia mengunci pintu dan mengajakku berjalan menuju jendela besar yang memperlihatkan pemandangan perbukitan ala California.
"Dia menduga kamu yang ingin mempercepat pernikahan ini namun dia tidak tahu motifnya," aku gamblang saja mengatakannya pada Josh.
Wajah Josh tampak kalut.
__ADS_1
"Kakak tidak menyinggung soal kecelakaan itu sama sekali kan?" Josh benar-benar ketakutan sekarang.
Aku menggeleng. Itu bukan kuasaku untuk memberitahunya.
Harus Josh Rainer yang menjelaskan semuanya. Walau aku tahu membohongi Selena seperti ini amat sangat salah.
"Josh, Selena bukan perempuan bodoh. Dia akan tahu dengan sendirinya apa yang terjadi. Dan aku harap kamu tidak terlambat saat itu tiba," kataku menasehatinya.
"Aku sedang berusaha! Namun Becca masih koma, dia seperti tidak ingin bangun dari tidurnya! Aku butuh pengakuannya segera. Aku juga hampir gila dibuatnya!" Josh tidak bisa menahan emosinya yang kini telah berapi-api.
"Mungkin kita bisa coba dari pengakuan saksi lain? Mungkin Celine bisa berguna?" aku memberikan ide.
Josh masih gemetaran. "Celine hanyalah pion Becca. Bukti tidak akan kuat jika bukan Becca sendiri yang menyerahkan dirinya!"
"Kita bisa coba. Celine tahu detail kecelakaan itu, dia juga yang membantu membereskan namamu di media. Pasti semua itu disuruh Becca," asumsiku.
Josh tampak masih tidak yakin.
Aku kini mencoba menenengkan Josh Rainer.
"Kamu harus tenang, ingat kesehatanmu bisa terganggu," kataku menepuk-nepuk punggungnya.
"Bagaimana aku bisa tenang? Penjahat yang sebenarnya sedang tidak berdaya dan jika Selena tahu semua ini dia pasti.." Josh tidak mampu menyelesaikan kata-katanya.
"Dia pasti.. meninggalkanku kak. Dia pasti membenciku. Aku pasti hancur saat itu.." ujarnya lirih.
"Menurutku, kita harus gunakan Celine. Karena dia satu-satunya penyambungmu dalam keadaan ini. Anggap saja Becca tidak mampu untuk kembali normal.."
"Dia harus kembali normal sebelum mati. Dia harus mempertanggungjawabkan semuanya. Aku nyaris tidak bisa tidur tiap hari dikejar-kejar masalah ini! Aku sudah tidak mampu lagi menutupi ini semua dari orang yang kucintai!"
Nafas Josh kini tersengal-sengal, dia sungguh sangat emosional sekarang.
"Setelah pernikahanmu, aku akan mengunjungi Becca. Semoga dengan kehadiranku dia bisa sembuh," aku menawarkan diri.
Josh mendelik kepadaku, dia tampak tak menyangka aku masih akan berurusan dengan Becca.
"Kak, Becca sudah memberikan kekacauan terhadap hidupmu. Aku tidak mau membuatmu tambah merana.."
Aku sebetulnya juga tidak mau Josh.
Aku lelah.
Namun, ada banyak masalah yang harus aku luruskan dengan Becca.
Dan aku yakin, kehadiranku akan membuatnya sadar.
Dia sangat terobsesi denganku.
Memang harus aku yang maju.
"Aku akan ikut merana jika kekacauan Becca membuatmu dan Selena tidak akan pernah bahagia selamanya. Percaya padaku?"
Nyaris tanpa berkedip, Josh kini menubrukku.
Dia memelukku kuat-kuat.
"Aku sudah membuatmu berkorban, membuatmu menderita, dan kamu masih mau membantuku menyelesaikan masalah ini.." Josh meringis sambil memelukku erat.
Ya Tuhan..
Aku benar-benar sangat menyayangi adikku.
Walaupun aku harus mengorbankan hidupku.
Aku hanya ingin melihat dia bahagia tanpa cela.
"Apa yang harus aku lakukan untuk membalas budiku padamu kak?" Josh Rainer kembali meringis di balik pelukannya.
"Jangan pernah mengecewakan kepercayaanku padamu. Segera jujur pada Selena dan jangan pernah menyakitinya," hanya itu yang memang aku inginkan.
Demi kebahagiaan adikku dan kekasih hatiku.
__ADS_1