
POV : Helena
Josh membimbingku masuk ke dalam rumah megah yang sudah sering kumasuki sejak aku kecil ini.
Kami kini berjalan cepat sekali menuju lantai dua.
Sepanjang perjalanan, Josh melihat ke kiri dan ke kanan, mencoba mencari-cari sesuatu yang aku tak tahu.
"Kamu bilang aku harus tanggung jawab? Untuk apa?" kataku bingung sambil mengikuti langkah kakinya.
Josh hanya memandangku dan menjulurkan lidahnya.
Astaga sudah lama sekali aku tidak melihat tingkah konyolnya seperti ini!
"Kakakku juga disini bersamamu?" tanya Josh sambil berjalan cepat, sama sekali tidak menjawab kebingunganku.
Aku kini telah berjalan disebelahnya, mencoba mengikuti irama derap kakinya yang cepat sambil kembali menggodanya.
"Sejak kapan kamu memanggil Al kakak?" godaku sambil tersenyum lebar.
Josh tidak memperlambat langkah kakinya dan malah membalas pertanyaanku tanpa melihatku.
"Sejak kamu menolakku tahun lalu. Dia banyak memberiku motivasi untuk tetap bertahan hidup," ujarnya santai.
Deg.
Aku berusaha menangkap informasi ini sejelas mungkin.
"Josh.. apa maksudmu?"
Apakah penolakanku padanya memang sangat membuatnya terpukul saat itu? Apakah memang segawat itu?
Namun Josh tidak membalasku dan memilih untuk mengetuk pintu di salah satu ruangan di lantai dua yang sangat familiar buatku.
Kamar tamu yang selalu kugunakan untuk menginap.
Mungkinkah.. kamar ini diisi oleh Selena?
Saat otakku masih berpikir, pintu itu akhirnya menjeblak terbuka.
Dari balik pintu, terlihat perempuan muda yang kecantikannya yang tak terkikis kendati matanya sembab seperti sedang habis menangis.
Dan ternyata, dugaanku benar!
Josh Rainer mempertemukan aku dengan Selena!
Mungkin dia tidak ingin ada salah paham yang berurat berakar disini antara kami.
Ya, sepertinya begitu. Dia ingin terbuka dan tidak mau Selena salah paham dengan hubungan kami.
Josh,
kamu pasti sangat tidak ingin kehilangannya..
Kamu pastilah sangat mencintainya..
Hatiku berdesir, sedikit sedih dengan bagaimana hati Josh Rainer akhirnya tidak bisa berlabuh untukku.
Namun, hidup harus terus berjalan Helena..
Dan kini, didepanku, Dokter Selena tak bisa menyembunyikan kekagetannya meskipun matanya sembab karena habis menangis.
Wajahnya juga terlibat tegang saat melihat Josh Rainer berada tepat didepan moncongnya bersama aku, si mantan kekasihnya yang tadi kedapatan mencoba menggoda lelakinya.
"Eh.. hai dokter, kita bertemu lagi" sapaku keki sambil nyengir lebar.
Selena mencoba menghapus air matanya cepat-cepat dan berusaha tersenyum senatural mungkin di depanku.
"Selena.. ini Helena.." Josh Rainer memperkenalkan aku di depan pintu calon istrinya.
__ADS_1
Selena tampak ragu pada awalnya untuk bersikap, namun dia kemudian mencoba tersenyum saat melihatku.
"Hai Helena, aku sudah banyak mendengar tentangmu.." katanya terdengar tulus.
Josh lalu memberi isyarat kepada Selena untuk mengizinkan aku dan dia untuk masuk ke kamarnya.
Selena menurut dan aku mengikuti langkah Josh ke dalam kamar yang sering aku inapi dulunya ini.
Kamar yang kupikir hanya akan dipakai olehku saja...
Kini kamar ini sudah berganti fungsi dan ditinggali calon istri Josh Rainer, Dokter Selena.
Duh! Aku harus segera move on!
Kini kami sudah duduk bertiga di kursi malas di dalam kamar Selena.
Hening.
Aku tahu ini merupakan momen yang awkward.
Didepanku ada mantan kekasihku bersama tunangannya yang baru dia kenal selama satu bulan terakhir.
Meski baru sebentar, Selena mampu membuat Josh mabuk kebayang dan tergila-gila dalam nuansa cinta.
Berbanding terbalik dengan nasibku, yang padahal selalu bersamanya sejak 24 tahun lalu tapi tetap gagal membuatnya jatuh cinta padaku.
Josh Rainer mendelik padaku, memberikan isyarat dalam wajahnya yang dingin agar aku memulai pembicaraan.
Oh ya, aku lupa bahwa aku diminta untuk mempertanggungjawabkan perlakuan mesraku pada Josh di depan calon istrinya di teras tadi agar tidak ada salah paham yang berkepanjangan.
"Ehem.." aku mencoba memecahkan suasana yang keki.
Selena dan Josh Rainer kini fokus memandangku.
"Dokter, aku mau minta maaf karena sepertinya kamu salah sangka dengan apa yang terjadi di teras tadi. Aku sering sekali nge-prank Josh, dan tadipun aku hanya bercanda dengannya," kataku bersungguh-sungguh.
Josh Rainer dan Selena kini berpandang-pandangan, sepertinya mereka sedang berkomunikasi dalam diam.
Tak aku sangka, Selena malah tertawa mendengar pembelaanku.
Aku menengok ke Josh, dan Josh memberikan jempolnya dengan cepat kearahku.
"Helena.. kamu lucu dan jujur sekali," ucap Selena berusaha menahan tawanya.
Josh Rainer kembali memandang calon istrinya, tak percaya mengapa dia ikut menertawakan wajah datar tanpa ekspresinya itu.
Selena kini sudah kelihatan sudah rileks dan jauh lebih tenang sekarang.
"Helena, kamu bisa panggil aku Selena saja. Senang bertemu denganmu. Dan.. maaf.. soal.. Josh Rainer," kata Selena tak bisa melanjutkan kata-katanya.
Suasanya kembali canggung dan aku benar-benar tidak tahu harus ngapain.
Sampai akhirnya Josh mengambil alih pembicaraan.
"Aku jatuh cinta padamu dan kamu membalasku, tidak ada yang salah soal itu," kini Josh Rainer menggengam tangan tunangannya.
Huft.
Mereka pamer kemesraan didepanku..
Pasti nanti aku akan terbiasa melihat ini. Sekarang masih terasa sakit, tapi nanti pasti semuanya akan menguap dan terasa biasa saja.
Aku pasti bisa mengatasi sakit hati ini.
"Betul Selena, hubunganku dan Josh sudah berakhir tahun lalu. Aku menolak lamarannya dan Josh jelas sekali sudah move on," kataku mencoba kuat.
"Apakah kita bisa berteman?" tanya Selena mengagetkanku.
Selena kelihatan baik, tulus dan orang yang sangat positif. Jika saja tidak ada Josh Rainer diantara kita, Selena pasti akan menjadi teman yang lebih baik bila dibandingkan dengan Becca.
__ADS_1
Namun, bisakah kami berteman?
Aku tidak ingin kehilangan Josh Rainer sebagai temanku. Yang artinya aku juga harus berteman dengan tunangannya bukan?
"Kita.. bisa coba, asalkan kamu tidak memanfaatkanku seperti si Becca yang tidak tahu diri itu," kataku pada akhirnya.
Saat mengatakan nama Becca, mata Selena tampak meruncing, seperti masih merasa terintimidasi.
Josh lalu menggengam tangan Selena, menguatkannya.
"Tapi aku harus memberitahu kalian satu hal," kataku pada akhirnya.
Masih berpegangan tangan, pandangan mereka kini tertuju lagi padaku.
"Hati-hati dengan Becca. Selama aku berteman dengannya lima tahun terakhir, dia akan selalu berusaha mendapatkan apapun yang dia inginkan bagaimanapun caranya.." kataku mengingatkan mereka.
Selena tampak menelan ludah, sementara Josh rahangnya semakin mengeras.
"Helena, aku berteman dengan Becca lebih lama. Tapi aku benar-benar tidak pernah membayangkan Becca yang periang dan selalu menolong itu bisa menjadi buas dan mengerikan seperti ini," kata-kata Selena bergetar.
Aku tersenyum dikulum.
"Entahlah, mungkin karena obsesinya terhadap Al yang kembali muncul saat mereka bertemu lagi di Inggris? Sejak pertama kami berteman, Becca sangat ambisius dan menghalalkan segala cara untuk dia bisa lebih dekat dengan Al," jelasku.
Josh kini mencoba menyimpulkan.
"Dalam hal ini yang paling dia inginkan adalah Aldebaran, seharusnya sudah tidak ada lagi urusannya dengan aku dan Selena kan?" Josh menarik hipotesa masuk akal.
Selena membalas pertanyaan tunagannya dengan tergesa.
"Bisa jadi tidak, akulah penyebab Ale membenci dia seperti sekarang ini. Mungkin saja dia akan kembali dan membalaskan dendamnya padaku kan?" kata Selena berusaha tegar.
Josh kini bangkit dari kursinya dan memeluk Selena dari belakang.
Yang membuatku kembali ingin cepat-cepat keluar saja dari kamar ini.
"Tidak akan kubiarkan itu terjadi padamu. Becca sekarang dalam pengawasanku dan dia masih belum sadar," kata Josh tegas.
Selena tampak membalas pelukan lelakinya yang hangat.
Oh... sepertinya sebentar lagi aku akan meleleh dan berubah menjadi kubangan air yang tak penting di kamar ini.
"Ya.. itu juga kekhawatiranku. Kalian tetap waspada dan jangan segan cerita padaku. Siapa tahu aku bisa membantu. Aku berada di tim kalian loh!" seruku pada mereka, sekaligus untuk merespons pemandangan yang sebetulnya menggangu mata dan hatiku ini.
"Helena, terima kasih," ucap Josh Rainer sungguh-sungguh. Kini dia kembali duduk di posisinya yang semula.
"Helena, apakah kamu mau tidur bersamaku di kamar ini selama kamu menginap disini?" pinta Selena tiba-tiba.
Josh tampak ingin mimisan dibuatnya.
Aku sendiri tidak tahu harus membalas apa. Apa sebetulnya tujuan Selena? Apa dia masih tidak percaya bahwa aku di tim mereka dan ingin membuktikannya? Atau dia ingin mengorek-orek sesuatu dariku tentang keluarga Gurnawijaya?
"Eh, aku hanya ingin lebih dekat denganmu saja kok. Kalau kamu membolehkannya," tambah Selena lagi.
Josh mendelik padaku dan seakan memintaku dengan ekspresi datarnya agar aku menolak permintaan calon istrinya.
Namun, karena aku senang mengerjai Josh, aku terima saja permintaan Selena ini!
"Oke, tapi aku kalau malam suka tidur mendengkur tidak apa-apakan?" candaku.
Selena kembali tertawa.
"Tidak masalah, aku juga suka mendengkur sepanjang malam," ucapnya dengan nada bercanda.
Kami berdua lalu tertawa bersama, meninggalkan Josh Rainer yang menepuk keningnya tak tahu mau menanggapi apa.
"Selena, bolehkah aku mengajak Josh Rainer bicara sebentar?"kataku sudah tak sabar ingin banyak meminta penjelasan dari lelaki dingin ini.
"Eh, silahkan saja kenapa harus minta izin padaku!" kata Selena berusaha menganggap permintaanku normal. "Kita ketemu lagi nanti makan malam ya dibawah," ucapnya lagi.
__ADS_1
Aku mengangguk dan mengajak Josh Rainer keluar dari kamar. Selepas pintu Selena tertutup, aku berbisik pada Josh Rainer.
"Aku sudah tanggung jawab perbuatanku, sekarang giliranmu," kataku lugas sambil menarik tangannya menuju ruangan favorit kami di rumah ini.