
Rasa kesal, marah dan tidak percaya menggangguku.
Dengan setengah berlari, aku menuju kamar Josh Rainer dengan perasaan campur aduk tak menentu.
Tulisan Josh Rainer di kertas tersebut terus melesak di kepalaku,
Mereka meracuninya.
Josh mengatakan “mereka” yang meracuninya, bukan dia.
Mereka merujuk pada beberapa orang, bukan hanya satu individu saja.
Apa maksudnya Celine dan Diana?
Siapa lagi kalau bukan mereka?
Dengan gerak-gerik aneh yang mereka tunjukan selama ini, merekalah yang paling mungkin melakukan kejahatan ini.
Yang bagiku sudah sangat kelewatan.
Sejak awal Josh menginformasikan bahwa kami sedang diawasi, aku merasa semua hal yang terjadi sangat janggal.
Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa tujuan utama dari pengawasan ketat yang dilakukan Celine adalah untuk mencelakakan Josh.
Darah dagingnya sendiri.
Dia ingin meracuninya.
Ibu Josh Rainer ingin anak yang dia kandung sembilan bulan lamanya celaka.
Mungkin dia malah ingin anaknya mati.
Kejam.
Tiba-tiba saja perasaan takut menjalariku.
Jika memang mereka dalang dari semua ini, apakah Rikian terlibat?
Apakah Becca juga ambil bagian?
Pikiranku semakin tak menentu saat aku tiba di kamar Josh Rainer.
Melihatnya lemah dan kehilangan kesadaran diatas tempat tidurnya.
Entah kenapa membuatku nelangsa.
Bagaimana bisa seorang ibu nekat mencelakai anaknya sendiri?
Apa tujuan sebenarnya Celine?
Apakah Josh pernah berbuat jahat pada ibunya?
Jika memang itu yang terjadi, apakah wajar hal ini menjadi pembenaran untuk mencelakakan anaknya sendiri?
Entahlah. Semua kegilaan ini ibarat masih berbentuk puzzle, menunggu aku untuk mencocokan semuanya.
Diluar itu semua, yang paling terpenting saat ini adalah Josh.
Aku hanya berharap keadaan Josh tidak memburuk dari keadaan saat ini.
Rikian baru saja membaringkan Josh Rainer di kasurnya dan menunggu instruksiku.
“Pak Rikian tolong ambilkan kotak obat,” kataku dengan tangan bergetar. Masih tidak habis pikir dengan apa yang terjadi.
__ADS_1
Aku meraba dahi Josh, tidak ada tanda-tanda demam disana.
Sebaliknya, badannya dingin sekali. Jika dugaanku betul, Josh mungkin mengalami infeksi atau luka didalam organ tubuhnya karena diberikan obat yang salah.
Aku tidak tahu obat apa yang diberikan, tapi jika melihat dari kondisinya kemungkinan besar Josh tidak diberikan obat rutinnya untuk mengatasi depresi. Dia sepertinya diberikan obat untuk melemahkan saraf motorik.
Aku segera memberikan penawarnya dalam dua kali injeksi.
Kini wajah pucatnya sudah ada didepan wajahku. Tanpa sadar aku mengelus pipinya.
“Josh kamu harus kuat,” kataku. Bahkan bulir-bulir air mata mengalir dari pipiku.
Mungkin karena aku masih dalam keadaan berduka, aku sangat amat berempati padanya.
Aku bisa merasakan kehancuran meskipun permasalahan kami berbeda.
Ternyata tidak hanya aku yang memiliki kesedihan luar biasa saat ini. Di depanku, ada ibu yang diduga tega meracuni anaknya sendiri entah untuk apa.
Aku lalu membayangkan ibuku sendiri. Dan melihat dia sengaja meracuniku membuatku hatiku semakin sakit.
Kamu tidak pantas diperlakukan begini, Josh.
Aku kemudian menginstruksikan Rikian untuk menyiapkan makan siang plus susu penuh nutrisi untuk Josh. Dia mengangguk dan berpamitan untuk ke dapur.
Meninggalkanku berdua dengan Josh Rainer.
Inilah saatnya. Mumpung Diana belum kembali ke kamar ini.
Aku mengaduk-aduk kotak obat dan menemukan obat anti depresan, obat nyeri dan antibiotik. Aku kemudian menaruhnya di amplop dengan gerakan hati-hati, seperti sedang menghitung jumlah obat.
Kemudian aku sengaja menumpahkan berbagai macam obat minum ke badan Josh Rainer. Aku berpura bersungut-sungut dan memasukkan kembali obat-obatan ke dalam kotaknya. Dengan gerakan kecil, aku menyelipkan obat-obat yang sudah kusiapkan tadi di bawah bantal Josh Rainer.
Aku sengaja melakukan hal aneh semacam ini untuk mengelabui kamera pengintai.
Aku mohon kamu segera bangun, Josh Rainer.
Aku akan membantumu sebisaku.
Aku duduk di kursi samping tempat tidur Josh Rainer.
Memikirkan ulang semua yang terjadi sampai hari ini.
Satu pertanyaan penting tiba-tiba saja muncul di pikiranku.
Mengapa aku bisa disini?
Jika Celine ingin mencelakakan Josh, mengapa dia merekrutku?
Jika Celine ingin meracuni Josh, bukankah lebih mudah jika dia tidak merekrutku?
Dia sudah punya Diana yang patuh seperti anak anjing. Dia juga punya Rikian untuk membantu segalanya yang dia butuhkan.
Mengapa masih perlu aku?
Dan mengapa dia membatasi pekerjaanku jika ingin anaknya segera sembuh?
Aku masih berusaha berpikir keras. Adakah kira-kira informasi yang terlewat dari yang kuketahui selama ini?
Aku sungguh tidak punya jawabannya.
Perlahan, aku tidak menyadari bahwa aku menyerah pada lelah fikiranku dan menyusul Josh ke dunia mimpi.
Nyenyak sekali.
__ADS_1
Seperti waktu sudah lama sekali berjalan, aku terbangun oleh tangan yang menggengamku erat.
Aku tersentak dan melihat sekeliling.
Masih tidak ada siapapun di ruangan ini kecuali aku dan Josh Rainer.
Rikian belum kembali. Diana tidak tampak. Celine juga kemungkinan masih menangani urusan kantor sepeninggal kepemimpinan Josh Rainer.
Dan tangan yang menggengamku adalah tangan Josh.
Wajahnya masih pucat, namun tangannya sudah menghangat dan tidak sebeku tadi.
Josh Rainer memandangku dengan tatapan penuh harap.
Dia kembali menarikku mendekat kepadanya dan menempelkan bibirnya tepat di telingaku.
“Tolong keluarkan aku dari sini,” lirihnya.
Aku terperanjat.
Setelah dua minggu pascakecelakaan yang mengubah hidupnya, Josh Rainer tampaknya sudah tidak mampu berakting dan memutuskan untuk kabur dari dekapan Celine.
Entah apa yang terjadi pada keluarga ini, aku sudah memutuskan hal yang pasti.
Kemanusiaan diatas segala privasi.
Aku akan menolong Josh Rainer.
“Kamu punya rencana?” aku membalasnya sambil berbisik.
Josh melihatku dengan tatapan berbinar.
“Baca lagi kertas partitur tadi, aku meninggalkannya disana.”
Aku refleks segera mengecek kantong jas dokterku dan masih menemukan gumpalan kertas itu disana.
Ternyata masih ada pesan tersembunyi yang luput dari penghilatanku.
Namun aku tidak bisa mengeceknya sekarang. Situasi kamera pengawas dan penyadap membuatku harus berhati-hati bertindak di kamar ini.
Aku memberikan jempol tanda mengerti pada Josh Rainer dan tersenyum padanya.
Dia juga membalas senyumnya padaku. Ini adalah senyuman pertama yang dia berikan padaku.
“Moonlight Sonata mu indah sekali, Dokter.”
Jantungku rasanya hampir copot mendengar pujian itu.
Hanya ada satu orang yang pernah memuji permainan biola ku.
Hanya ada satu orang yang sangat menyukai permainan Moonlight Sonata ku lewat dawai biola yang kugesek.
Hanya ada satu nama. Dan itu adalah Dio.
Dan kini, di depanku bertambah satu orang lagi yang menyukainya.
Josh Rainer.
Bedanya Josh Rainer hidup di dunia ini dan Dio telah mati.
Hatiku seperti terkoyak saat mengetahui bahwa aku masih bisa mendengar pujian yang sama.
Meski dari orang yang berbeda.
__ADS_1
Untuk dua minggu penuh derita yang pernah terjadi dalam hidupku, aku bisa mengatakan ini adalah hari terbahagiaku.