
Tok.. Tok.. Tok..
Aku baru saja mandi dan mengeringkan rambutku saat pintu kamarku diketuk dari luar.
Pastilah Josh Rainer.
Aku bergegas menuju pintu dan membukanya.
Kemudian, mendapati pria yang gagahnya bak pangeran itu tengah tersenyum manis bersandar di daun pintuku.
Mengenakan piyama warna biru kesukaannya.
“Sudah bersih?” dia bertanya sambil mengelus pipiku.
“Tinggal mengeringkan rambut..” kataku, kemudian tanpa babibu dia langsung menarik tanganku masuk ke dalam kamarku sendiri.
Eh?
Mengapa Josh Rainer buru-buru?
Josh Rainer memintaku untuk duduk di sofa kamar dan dia masuk begitu saja ke kamar mandiku. Tak berapa lama, dia keluar dari kamar mandi dengan hair dryer di tangannya.
“Sini aku keringkan. Kalau tidak cepat nanti bisa sakit,” ucapnya sambil mencolok kabel hair dryer yang terpasang dibawah lampu dekat sofa.
Astaga..
Seumur hidup, tidak pernah ada orang yang mengeringkan rambutku selain pekerja di salon!
Josh Rainer adalah orang pertama yang berinisiatif mengeringkan rambutku seperti ini.
Manis sekali!
“Apa kamu pernah mengeringkan rambut orang lain selain aku?” tanyaku spontan begitu saja.
Josh Rainer tiba-tiba saja terbatuk setelah mendengarnya.
Oh tidak.
Aku menanyakan pertanyaan yang akan menyakiti diriku sendiri!
Tentu saja, setelah dua puluh tahun bersama-sama, dia pastinya sering melakukan ini dengan Helena.
Memikirkan itu saja membuatku sedih dan kesal bersamaan.
“Tidak usah dijawab!” aku merevisi pertanyaanku.
Aku tidak mau mendengar fakta yang menyakitkan bahwa Helena banyak menghabiskan waktu berhaga bersama Josh Rainer bila dibandingkan dengan aku.
Aku lebih baik mengeyahkan fikiran ini saja daripada terus merasakan cemburu karena selalu membandingkan diriku dan Helena!
Tak kusangka, Josh Rainer malah tertawa terkekeh.
“Tentu saja, Sayang. Aku sering mengeringkan rambut nenekku. Apa kamu kesal karena aku mengeringkan rambutnya?”
Aku tertawa mendengarnya.
Pria manis yang misterius ini ternyata kadang bisa juga melucu.
“Kan kamu tadi minta… agar kamu bisa tahu segalanya tentangku. Jika kamu mau mendengarnya, aku akan bercerita selain nenek siapa lagi yang rambutnya pernah ku keringkan. Tapi jika kamu sudah tidak ingin, juga tidak apa-apa..” katanya lembut masih sambil mengeringkan rambutku.
Sudah jelas kalau begitu. Sudah pasti Helena juga kan?
“Dengan.. Helena..?”
Aku akhirnya mengatakannya!
Bodoh sekali. Padahal jelas-jelas pernyataannya akan membuatku lebih cemburu dari ini!.
“Iya,” Josh hanya menjawab singkat.
Tuh kan!
“Apakah sering?” aku tahu aku sedang menabur jarum untuk lukaku sendiri.
Josh Rainer kembali terbahak.
“Kamu benar ingin tahu? Tidak apa-apa nih?” sepertinya Josh berusaha menjaga hatiku.
Aku kini sudah berpaling ke arahnya.
“Sebetulnya aku tidak ingin mendengarnya tapi aku ingin tahu setengah mati..” aku jujur mengenai perasaanku sekarang.
Dia memandangku dengan senyum yang lebar.
Kini, dia sudah menghentikan hair dryer setelah rambutku sudah hampir kering di tangannya.
__ADS_1
“Sayang.. sering mengeringkan rambut Helena tidak ada dampaknya terhadap rasa cintaku padamu yang bahkan tak bisa diukur saking besarnya..” katanya kemudian mengecup pipiku tiba-tiba.
Aw!
Rasanya gula darahku langsung jatuh bebas, membuatku serasa mengalami serangan jantungan mendadak.
Aku benar-benar merasa ketagihan dengan perlakuan Josh Rainer yang seperti ini!
Dan entah bagaimana, perlakuan ini malah membuat aku menjadi kehilangan kendali.
Aku ingin semakin dekat dengannya..
Aku ingin jauh lebih dekat dengannya..
Dan tanpa kusadari, aku kini telah menarik Josh Rainer yang berdiri di belakang sofa untuk duduk di sampingku.
Dia tampak kaget, namun akhirnya menurut padaku.
Aku mengalungkan lenganku ke lehernya dan dengan cepat kini aku berpindah duduk di kedua pahanya.
Josh tampak tidak percaya dengan yang aku lakukan.
Dengan pakaian malam berbentuk dress putih tipis diatas lutut, aku kini telah berada dekat dengan daerah rawannya.
Lebih dari itu, dia tampaknya sangat kaget karena aku mengambil inisiatif yang lebih jauh dari yang kami biasa lakukan.
Aku kini bahkan telah mendaratkan bibirku ke bibirnya. Mencari-cari lidahnya dan menyatukannya dengan lidahku yang bebas.
Nafasku beberapa kali menderu dan kini aku mulai menciumi pipi hingga naik ke kupingnya.
Josh yang perlahan lembut dan membiarkanku berkuasa, kini mulai mengikuti irama permainanku.
Bibir Josh yang kini bebas mencoba mengulum leherku yang kini persis di depan mulutnya.
Sambil tangannya melingkar ke bawah punggungku, dan sesekali dia mengusapnya.
Oh!
Aku tidak bisa mengungkapkan betapa nikmatnya situasi ini!
Aku benar-benar merasa bahagia.
Kini Josh Rainer beralih mengambil inisiatif balik.
Dia kini menciumi wajahku bak singa jantan yang baru bertemu kembali dengan betinanya.
Namun, Josh Rainer tiba-tiba berhenti. Dia memandangku serius dan berbisik.
“Kamu yakin?” katanya meminta izinku.
Aku..
Apakah aku yakin?
…
Aku sangat menikmati suasana ini dan ingin terus melanjutkannya.
Namun, aku tidak pernah berbuat lebih jauh dari ini.
Bersama Dio selama delapan tahun lamanya, aku tidak pernah melakukan hal yang lebih jauh selain berpelukan dan berciuman seperti orang pacaran pada umumnya. Kami sama-sama memiliki prinsip untuk menunggu aktivitas yang lebih jauh sampai kami resmi menjadi suami istri.
Bagi kami, hubungan yang sehat adalah dengan sama-sama mendukung tujuan hidup kami masing-masing. Aktivitas fisik hanyalah bonus.
Namun kini…
Aku seperti tidak bisa menghentikan gairahku..
Aku sangat menginginkan Josh Rainer..
Dan ingin dia untuk lebih dekat mendekapku.
“Selena.. aku tidak ingin mengambil keuntungan darimu..Apakah benar ini yang kamu inginkan?” ujar Josh kembali mengonfirmasi aksiku.
Aku mencoba berfikir jernih.
Aku selalu berprinsip untuk menjaga harga diriku sampai aku menikah nanti.
Dan jika aku mengiyakannya malam ini, mungkin aku akan kecewa setengah mati dengan diriku sendiri yang tidak bisa menepati prinsip.
Lagipula..seharusnya aku sangat bahagia sekarang.
Melihat pangeran di depanku menanyakan perasaan dan fikiranku mengenai setujukah aku untuk melanjutkan aktivitas fisik yang lebih jauh dari ini.
Aku seharusnya bahagia karena Josh sama sekali tidak memanfaatkan situasi ini untuk kesenangannya sendiri.
__ADS_1
Malahan, dia sangat peduli padaku dan tidak ingin aku mengambil langkah yang membuatku menyesal.
Josh..
Kamu memang pantas mendapatkan cintaku.
Aku kini perlahan turun dari pahanya dan berdiri di depan Josh, yang masih terduduk dengan wajah yang masih kaget.
“Maaf.. aku tadi kehilangan kendali..” aku kini mengatakannya malu dan membalikkan diriku kini tidak berani memandangnya.
Pastilah Josh Rainer berpikiran aku perempuan yang liar!
Pasti dia berfikir yang tidak-tidak tentang aku!
Aku sangat malu sekarang.
Tanpa aku sadari, Josh Rainer telah berdiri dari sofa dan dengan cepat kini dia memelukku dari belakang.
Dia lalu membisikku.
“Kenapa harus minta maaf? Aku.. kaget tapi aku benar-benar bahagia.. jika kamu belum siap, aku tidak akan pernah memaksa..” katanya lembut.
Aku masih terdiam. Tidak tahu mau berkata apa.
Josh merasakan bahwa aku masih berperilaku ganjil.
“Apa kamu akan lebih baik jika aku pergi sekarang?” tanyanya perhatian.
Aku menggeleng cepat.
“Aku ingin menghabiskan malam ini denganmu..” balasku cepat, kini berani untuk menatap balik matanya.
Aku melihat wajah tampannya dihiasi dengan senyuman yang sangat cemerlang.
“Baiklah, kalau begitu tuan puteriku,” katanya manis sambil mencium punggung tanganku.
Kini dia kembali menarikku untuk kembali ke sofa panas ini.
“Kita kembali ke rencana awal ya? Aku sudah siap dengan pertanyaan-pertanyaanmu. Aku akan menjawab jujur dan tidak akan ada yang kusembunyikan..” katanya lembut sambil mengelus pipiku yang masih memerah saking malunya.
Aku harus meluruskan ini padanya.
“Josh.. pertama-tama.. aku mau bilang bahwa apa yang kamu lihat malam ini bukanlah aku yang biasa.. aku selama ini selalu menjaga diriku..” kataku tertunduk.
Josh Rainer tampak kaget aku masih mempermasalahkannya.
“Selena.. tidak apa-apa. Ini tidak mengubah apapun, karena aku mencintai jiwamu dan semua tentangmu apa adanya..” ujarnya menenangkanku.
Aku kini berusaha meliriknya.
“Aku sangat mencintaimu dan.. aku pun selama ini selalu menunggu untuk melakukannya dengan orang yang tepat. Yakni orang yang akan kunikahi dan menemaniku sampai aku mati. Jadi, aku senang ketika mendengar kamu juga memiliki prinsip yang sama denganku,” jelasnya.
Apa?
Artinya Josh Rainer pun tidak pernah berhubungan macam-macam dengan Helena?
Rasanya, aku ingin mengibarkan bendera di puncak Jayawijaya saking bahagia mendengarnya!
Aku benar-benar tidak akan mundur lagi. Aku semakin mantap untuk terus bersamanya dalam dunia ini.
“Kenapa? Kamu tidak percaya?” tanyanya karena aku tidak membalas pernyataannya.
Aku tersenyum lebar sekali.
“Sini.. aku akan jelaskan hubunganku dengan Helena..,” katanya menarikku semakin dekat dalam dekapannya.
Aku menurut seperti anak kucing. Kini aku bersandar di lengannya yang kokoh.
"Setelah ini, jangan pernah membandingkan lagi dirimu dengan orang lain ya? Karena itu sia-sia. Di mataku tidak ada yang bisa menandingimu.." ujarnya lembut.
Oh Josh Rainer...
Aku benar-benar tergila-gila denganmu!
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
...Guys gimana nih kalian suka gak sama kemesraan Selena dan Josh Rainer? Enaknya ditambah lebih banyak atau dikurangi aja nih sesi romantisnya? hihi komen dibawah yaa!...