Menikahi Pembunuh Pacarku

Menikahi Pembunuh Pacarku
ORANG LAMA


__ADS_3

Tangan kekar itu masih memiting leherku dari belakang.


Aku berusaha melepaskan diri namun tak ada yang bisa kulakukan selain mematung di tempatku.


Orang dibelakangku ini sangat kuat, aku tidak bisa bergerak.


Aku bahkan tidak bisa meraih ponselku yang masih dalam mode merekam di kantong celanaku, untuk kukirim ke Gery dan Anna.


Di saat yang sama, kawanan Celine terdengar menyudahi pembicaraan rahasia mereka dan bergegas ingin keluar perpustakaan untuk mengecek apa yang salah dengan sekuriti rumah ini.


Tamatlah aku.


Dalam beberapa detik, Celine akan melihatku disini.


Hancur sudah rencana yang aku susun bersama Josh Rainer dan Gery beberapa hari ini.


Jika saja aku tadi langsung menuju kamar Josh Rainer, penangkapan ini tidak akan terjadi.


Jika saja aku memprioritaskan Josh Rainer sejak awal, kami masih mungkin selamat.


Apakah ini semua memang takdir?


Apa aku memang tidak bisa merasakan bahagia lagi setelah kehilangan separuh hidupku?


Jika benar begitu, hidup memang tidak pernah adil.


Untuk Dio, untukku dan untuk Josh Rainer.


Terutama untukmu Josh.


Maafkan aku tidak bisa menepati janji.


Aku kini sudah memejamkan mata dan pasrah dengan apa yang akan terjadi setelahnya.


Apakah aku akan dieksekusi oleh salah satu dari kawanan Celine?


Atau apakah mereka akan tetap membunuh Josh Rainer dan mengatur seolah-olah aku adalah pembunuhnya?


Apapun yang terjadi setelahnya, dua pilihan ini sama-sama membuatku hancur.


Jika bisa memilih, aku mungkin lebih baik mati saja.


Dengan begitu aku bisa bergabung kembali dengan Dio, kan?


Ya, aku lebih siap untuk mati daripada harus mendekam puluhan tahun di penjara untuk kesalahan yang bahkan aku tak pernah niatkan.


Saat aku sudah pasrah dengan keadaan ini, suara langkah kaki semakin mendekat ke arah pintu perpustakaan yang kupijaki.


Sebentar lagi, aku akan selesai.


Selamat tinggal semuanya.


..


Semoga ayah dan ibuku tetap sehat bagaimanapun nanti takdirku.


Semoga Gery dan Anna dapat diberikan kebahagiaan dan dijauhkan dari celaka seperti yang aku alami.


Dan semoga.. aku bisa segera bertemu dan berjalan berdampingan lagi dengan Dio di dunia sana.


Dan semoga Josh Rainer.. semoga dia….


Aku tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat atas harapanku untuk Josh Rainer.


Dah entah kenapa, tiba-tiba saja wajah Josh Rainer memenuhi pikiranku.


Waktu dia pura-pura tidur..


Waktu dia membelai wajahku dan menggumamkan nama di kupingku…


Waktu wajahnya memerah saat menanyai tentang Gery..


Waktu dia terlihat sangat damai melakukan yoga tanpa baju atasnya..


Waktu dia memintaku jangan pergi…


Mengapa?


“Kamu tetap denganku kan?”


Pertanyaan Josh Rainer yang memintaku untuk tinggal kala itu kini bergaung di otakku.


Ketika aku hampir selesai dengan urusan dunia, mengapa bayangan tentang Josh Rainer muncul di fikiranku?


“Selena..”

__ADS_1


Suara lembutnya..


Badan kokohnya..


Wajahnya yang dingin namun tampan..


Semuanya kini tak hanya memenuhi ruang fikiranku.


Tapi rasanya kini dia menyelimuti tubuhku.


Josh?


Apa kamu sedang menyemangatiku untuk tetap hidup?


“Selena, jangan pergi.”


Lagi-lagi rekaman pembicaraan kami muncul kembali di pikiranku.



Josh.


Aku tidak akan pergi darimu.


Kita akan bersama-sama.


Kita akan terus hidup.


Entah dari mana keyakinan itu datang, aku kini merasa sangat mampu untuk menemukan cara keluar dari sini.


Pikirkan, Selena. Kamu biasanya sangat ahli mencari jalan di saat kepepet.


Yang kupikirkan hanya satu, menendang area perut dan paha laki-laki kekar tersebut dari belakang sampai dia melepaskanku.      


Namun, tiba-tiba saja jantungku seakan mau copot dari rongganya.


Celine dan kawananya terdengar seperti menghentikan langkahnya dan terdengar menjauh dari pintu.


Entah apa yang menghentikan mereka, namun ini adalah kesempatan yang baik buatku.


“Mama, aku dapat kabar dari penjaga villa bahwa Selena belum keluar dari pemakaman sejak tadi. Tidak perlu dicemaskan,” kata Becca.


Celine terdengar tidak membalas apapun.


Mereka berhenti karena informasi dari penjaga villa ini?


Mereka lalu terdengar seperti kembali duduk di ruang baca.


Syukurlah, ada sedikit nafas untukku.


Celine belum tahu bahwa aku sudah ada disini sejak tadi.


Masalah yang tersisa saat ini adalah bagaimana caranya aku melepaskan diri dari orang kekar ini.


Tunggu.


Ada yang aneh.


Jika dia memang ingin mengumpankanku pada Celine, mengapa tidak dari tadi dia menggelandangku untuk masuk ke dalam perpustakaan?


Kenapa dia masih berdiri dibelakangku dan memitingku begini?


Otakku masih berdesing saat orang tersebut mengendurkan pitingannya di leherku.


Aku punya niatan untuk segera meninju perut dan pahanya, namun aku masih ragu tindakan itu malah akan membuatku ketahuan Celine dan kawanannya di dalam.


Aku memilih diam.


Laki-laki kekar itu kini membalikkan badanku ke arahnya.


Kini kami saling berdiri berhadapan.


Kami berdiri dekat sekali sampai aku bisa mencium wangi parfum dari tubuhnya.


Entah mengapa, bau parfum ini mengingatkanku pada aroma Dio.


Aku lalu memandangnya wajahnya lekat-lekat, berharap itu memang kekasihku yang sudah dikubur di dalam tanah.


Namun, tentu saja dia bukan Dio.


Yang kupandang saat ini adalah lelaki asing yang tengah menunjukkan senyum lebarnya padaku.


Aku mencoba mengamatinya namun entah mengapa kali ini wajah dan perawakannya malah mengingatkanku dengan Josh Rainer.


Yang membedakannya hanya kulit lelaki ini berwarna kecoklatan, sementara Josh berwarna putih ukuran orang Asia. Rahangnya sangat tegas dan lebih tajam dibandingkan Josh, sehingga membuat orang ini kelihatan lebih tidak ramah. Sama-sama berhidung mancung, namun lelaki ini memiliki wajah yang lebih tirus.

__ADS_1


Dan ternyata, laki-laki ini tidak sekekar yang aku kira. Postur tubuhnya mirip dengan Josh Rainer, namun mungkin lebih pendek beberapa sentimeter. Namun, dia adalah tipe fitness guy, terlihat dari otot bisep di lengannya yang tercetak sempurna. Itulah yang membuatnya sangat kuat ketika memitingku tadi.


Siapa dia?


Dan kenapa dia masih diam saja, tersenyum didepanku dan tidak menendangku ke depan muka Celine saat ini juga?


Saat aku masih menerka-nerka motif lelaki ini, dia kembali mendekatkan wajahnya kepadaku.


Apa yang harus kulakukan?


Dia seperti mengamati mataku, hidungku, pipiku hingga bibirku dengan jarak yang sangat amat dekat. Aku benar-benar gemetar saat ini, takut dia berbuat hal yang tidak senonoh padaku.


Kemudian, tangannya menggapai kupingku. Dia memilin rambutku ke belakang kuping sebelum mendekatkan bibirnya kembali ke telingaku.


“Jangan bilang kamu lupa padaku?” bisiknya.


Kemudian, dia menjauh dariku dan mengusap-usap kepalaku.


Dia kenal aku?


Aku merasa tidak pernah bertemu orang ini sebelumnya. Dan dia seperti menangkap kebingunganku dari ekspresiku.


“Selena, aku sudah menunggu selama ini untuk bertemu kamu lagi. Dan kamu melupakan aku begitu saja?” dia masih berbisik di depan pintu perpustakaan.


Apa dia orang gila?


Aku benar-benar tidak ingat kenal siapa dia.


“Maaf, tapi aku sedang buru-buru,” kataku sambil berusaha melepaskan cengkramannya dariku. Namun dia kembali menahanku.


“Kamu tidak takut aku akan teriak bahwa kamu dari tadi menguping disini?” ancamnya tersenyum masih dengan berbisik.


Oh tidak.


Orang ini ternyata adalah kawanannya Celine.


“Mengapa tidak kamu lakukan dari tadi?” tanyaku kesal sambil berusaha untuk menemukan cara berlari.


Namun, aku gagal. Dia kembali menghentikanku.


Dia kini melipat kedua tangan didadanya masih sambil tersenyum padaku.


“Sudah jelas kan? Aku ingin membantumu biar kita impas,” katanya.


Impas?


Apa aku memang pernah bertemu orang ini di masa lalu?


Apa dulu aku pernah membantunya?


Karena aku benar-benar tidak ingat apapun tentang orang yang mirip Josh Rainer yang pernah kutemui di hidupku.


Namun, ini sangat baik kalau dia memang ada di pihakku dan mau membantuku.


“Bagus, lepaskan aku sekarang karena aku harus buru-buru,” bisikku sekenanya dan mencoba menjauh darinya.


Saat aku mencoba untuk berlari ke kamar Josh Rainer, dia kembali menarik tanganku.


“Dengarkan aku baik-baik,” pintanya sambil menahanku.


Aku benar-benar tidak mengerti apa motif orang ini dan siapa dia sebenarnya, namun jika dia memperlambat rencana membawa kabur Josh Rainer, aku tidak akan tinggal diam.


“Bisakah kamu melepaskan aku sekarang, please? Dengan kamu melepaskanku, kamu sudah membantuku,” mohonku padanya.


Dia masih tersenyum di atas cetakan wajah angkuhnya.


“Selena yang aku kenal adalah orang yang sangat pemberani, cerdas dan jago taekwondo. Aku kecewa kamu tidak mengeluarkan jurus taekwondomu untuk menyerangku tadi,” katanya masih memegang tanganku erat.


Taekwondo?


Ya, aku dulu mengikuti ekstrakurikuler taekwondo saat masih SD bersama Gery.


Apa dia dulu teman sekolahku?


Aku sungguh tidak yakin karena hampir kenal semua teman-teman sekolahku lewat reuni rutin yang kami sering lakukan.


Jadi orang ini siapa?


“Aku mohon, aku baru saja ditinggal mati orang yang sangat penting bagiku dan jika kamu tidak melepaskanku sekarang mungkin aku yang akan mati!” aku masih berbisik namun dengan nada tegas.


Dia masih menanggapinya dengan santai dan kembali mendekati wajahku.


Kini bibirnya kembali mendarat tipis di telingaku.


Kemudian dia membalas permohonannku dengan kata-kata yang membuatku merinding.

__ADS_1


“Aku tidak akan membiarkanmu mati Selena. Karena kamu akan menikah denganku.”


__ADS_2