Menikahi Pembunuh Pacarku

Menikahi Pembunuh Pacarku
GAMANG


__ADS_3

Jantungku masih berdebar kencang.


Aku kini sudah berada di kamar yang disiapkan untukku oleh Margaretha di istana megah Gurnawijaya.


Namun, degup jantung ku masih tak terkendali, seakan tak percaya dengan apa yang kudengar di ruang pertemuan tadi.


Ini bukan soal Celine dan Becca yang membabi buta menikamku dari belakang untuk menghancurkanku. Aku sudah tidak peduli dengan mereka dan siap untuk  membalas segala perbuatan jahat mereka kepadaku.


Tapi ini soal ucapan Karina Gurnawijaya.


Apa maksud Nenek Josh?


Apakah dia sedang membujukku untuk semakin dekat dengan cucunya?


Dan apakah artinya dia memberikan lampu hijau untuk aku dan Josh Rainer?


Bagaimana bisa?


Keluarga Gurnawijaya merupakan salah satu konglomerat yang masuk dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia. Mereka pastilah punya standar dalam pergaulan dan hubungan antarrelasi untuk tetap menjamin keberlangsungan keluarga bergengsi ini.


Dan aku tentu saja adalah pilihan yang buruk.


Keluarga Dio yang strata sosialnya tidak seprestisius keluarga Josh saja terang-terangan menginjakku. Logikanya, aku hanyalah debu belaka untuk keluarga Gurnawijaya kan?


Aku memang menolong Josh Rainer keluar dari bahaya kematian. Dan ini membuat keluarga Gurnawijaya merasa hutang budi padaku.


Apakah karena ini keluarga Gurnawijaya mau menerimaku?


Apakah karna hutang budi ini yang membuat hati Nyonya Gurnawijaya luluh?


Entahlah, aku tidak punya jawabannya.


Masih berdiri di balik pintu, aku mulai memasuki kamar yang disiapkan untukku.


Megah sekali.


Kamar ini rasanya dua kali lipat lebih besar dari kamar yang disiapkan untukku di rumah sebelumnya.


Ukuran dan interior kamar ini mirip dengan kamar Josh Rainer. Mulai dari ruang tamu, ruang makan mini hingga kasur berukurang king size premium yang tampak seperti memanggilku untuk segera melabuhkan tubuhku keatasnya.


Saat tersadar, aku baru merasakan lelah dan nyeri disekujur tubuhku.


Ternyata, aku memang butuh tidur.


Dengan seluruh kejadian gila dan menegangkan sepanjang hari, tubuhku seakan memintaku untuk segera melompat ke kasur yang nyaman itu.


Aku berniat ingin membersihkan diri dulu sebelum terjun ke tempat tidurku. Namun, bunyi telepon menghentikan langkahku ke kamar mandi.


Aku mengambil ponselku dan panggilan ini dari Ibuku.


Oh tidak, dengan seluruh wajahku ada dimana-mana sebagai terduga pembunuhan, mereka pasti sangat mengkhawatirkanku sekarang!

__ADS_1


Aku langsung mengangkat telfon itu dan mencoba menjelaskan seluruh perkara ini kepada orangtuaku setenang mungkin.


“Selena, nak… bagaimana kabarmu?”


Suara ibu mencicit dari ujung telfon. Namun, sepertinya ada yang salah.


Ibuku sama sekali tidak terdengar khawatir.


“Ibu dan ayah jangan dengarkan apa yang disiarkan di televisi tentangku!" kataku mencoba langsung ke inti permasalahan.


"Ini adalah perangkap buatku. Aku akan cerita pada ibu dan ayah sesegera mungkin setelah aku menyelesaikan masalah ini," lanjutku meyakininya.


Di ujung telfon ibu seperti memahami maksudku.


“Nak, ibu sudah tahu semua dari Gery dan Anna. Dan mereka meminta kami untuk sembunyi dulu, takutnya permasalahan ini malah akan membahayakan ibu dan bapak. Sekarang kami sedang dalam perjalanan ke villa Anna di Bandung bersama mereka,” jelas ibu.


Ya ampun.


Dengan perlakuan Becca yang tidak pantas disebut manusia, Gery dan Anna adalah contoh sahabat sejati yang benar-benar membantu temannya bahkan sebelum diminta.


Aku sangat beruntung memiliki mereka.


“Ibu, sampaikan terima kasihku untuk mereka berdua ya. Memang tidak aman jika kalian berdua masih di Jakarta saat semua orang sedang menjadikanku serbuan,” kataku masih terharu dengan apa yang dilakukan Gery dan Anna.


Besar kemungkinan para wartawan akan mengubek berbagai informasi untuk mencari tahu keberadaanku yang telah melarikan pewaris keluarga Gurnawijaya ini.


Mereka pasti akan datang ke rumahku dan mengekspos ayah dan ibuku yang tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini.


Gery dan Anna benar-benar melakukan hal yang tepat dengan segera memindahkan mereka. Aku harus berterima kasih pada mereka yang berinisiatif membantuku untuk keluar dari lubang jarum ini.


“Tapi kamu baik-baik saja kan, Nak?” ibuku kini mulai terdengar khawatir.


Aku menghela nafas panjang.


Aku masih dalam situasi yang tidak baik. Mengetahui banyak misteri yang belum terbongkar, kebingungan soal perasaanku terhadap Josh Rainer hingga seluruh fitnah keji yang dituduhkan sekawanan biadap untuk menghancurkan hidupku.


Namun, aku tidak boleh membuat orang tuaku cemas.


“Ibu, aku berada di tempat yang tepat saat ini untuk menyelesaikan masalah ini. Setelah itu kita akan pulang kerumah ya.”


Aku tidak tahu, semoga saja ini hanya perasaan yang salah. Namun saat mengatakannya, entah mengapa aku merasa aku tidak akan pernah kembali bersama mereka ke rumah.


Firasatku buruk.


Semoga saja aku hanya lelah dan butuh istirahat untuk mendinginkan otak agar tidak kepikiran hal yang tak masuk akal.


Ibu menutup telfonku setelah sebelumnya memberikan wejangan terakhir agar aku berhati-hati dan terus berdoa. Aku juga mengatakan hal yang sama dengan mereka dan menutup telfon.


Setelahnya, aku mengetik panjang lebar betapa aku sangat terbantu dan terharu dengan apa yang dilakukan Gery dan Anna lakukan kepadaku. Aku mengirim dua pesan ini kepada nomor Gery dan Anna bersamaan.


Teman-temanku bahkan sudah mati-matian melindungi aku dan keluargaku. Aku harus kuat dan segera membereskan masalah yang tersisa dengan Celine dan Becca sesegera mungkin.

__ADS_1


Saat aku kembali ingin melangkahkan kaki ke kamar mandi, lagi-lagi suara bunyi menghentikan langkahku.


Kali ini adalah bunyi ketukan di pintu.


Mungkin Margaretha yang mengetuk untuk mengantarkan makan malam dan pakaian ganti untukku?


Aku bahkan tidak repot-repot untuk mengintipnya dulu dari lubang pintu.


Aku membuka pintu dengan penampilan masih sama parahnya saat aku turun dari helikopter tadi. Kotor dan banyak luka gores di wajah dan tanganku. Saat aku terngaga melihat sosok yang mengetuk di balik pintu kamarku.


Aku kini bertatap-tatapan dengan lelaki berbadan atletis dan berkulit putih khas Asia namun berwajah tegas dan mata kecoklatan seperti orang Eropa.


Josh Rainer Gurnawijaya.


Jantungku rasanya seperti ingin berhenti saat ini juga.


“Dokter, boleh aku bicara sebentar?” pintanya sopan dengan tatapan mata yang teduh buatku.


Dan entah mengapa, seluruh cuplikan kebersamaan kami seperti terulang jelas di kepalaku saat memandangi wajahnya.


Saat dia memintaku jangan pergi.


Saat dia memelukku erat.


Saat dia mencium keningku hangat.


Saat dia mengengam tanganku dan tak mau melepaskannya sampai kami berada di tempat yang aman.


Dan kini, dengan dia hadir di depan pintuku rasanya lelah dan penat tubuhku jadi menghilang begitu saja.


Lalu, kata-kata Nenek Josh  bergaung kencang di kepalaku.


Bahwa cucunya sangat mempedulikanku dan dia tidak merisaukan itu.


..


Aku kembali berada dalam mode gamang.


Aku harus bagaimana denganmu Josh?


.


.


.


...TEBAK KARAKTER...


JAWABAN YANG BENAR : BECCA


Hayo siapa yang benar menebak karakter mba yang sadis banget nikam sahabat sendiri dari belakang ini? hihi

__ADS_1



Becca memiliki wajah khas Asia dengan kulit kuning langsat, berhidung mancung, bermata hitam, berambut coklat namun bergelombang ikal. Kalau Selena seperti apa ya kira-kira? ❤


__ADS_2