
POV : Aldebaran
Beberapa menit berlalu sejak aku menutup telfon Josh Rainer.
Namun, aku masih terduduk di lantai sambil bersandar di daun pintu. Di salah satu kamar villa pribadi di gugusan Pulau Seribu.
Masih meratapi nasibku.
Rasanya, semua yang aku lakukan selama ini jadi tidak ada gunanya.
Sejak resmi diperkenalkan sebagai pewaris kedua Gurnawijaya, aku berusaha terus belajar setinggi langit.
Aku mendapatkan berbagai beasiswa dan pengakuan akademis yang membuat pendidikanku sangat cepat untuk kutempuh. Menjadi Doktor bidang ekonomi dan bisnis di Universitas paling bergengsi di Inggris di usia 25 tahun.
Setelahnya, aku masuk ke perusahaan Tel-X dan dipercaya memegang jabatan Business Development Manager untuk mengembangkan bisnis Tel-X di bagian Eropa, khususnya Inggris, Jerman, Prancis, negara skandinavia dan Balkan. Tak butuh waktu lama, aku lalu menduduki posisi Direktur Pengembangan Bisnis Tel-X untuk wilayah Eropa hingga saat ini.
Semuanya aku lakukan untuk menjadikan hidupku sangat bercukupan. Dengan begitu, aku dapat memberikan hidup yang lebih baik untuk Ayah, Ibu dan juga Selena.
Dan dengan begitu, aku dan Selena bisa hidup bahagia bersama anak-anak kami sampai dunia ini selesai untuk kami.
Namun ternyata, tak perlu menunggu dunia ini selesai.
Karena mimpiku itu tidak akan pernah sama sekali menjadi kenyataan.
Aku sangat terlambat saat menemukan Selena.
Dan aku sangat menyesal.
Jika saja waktu itu aku memilih untuk sekolah di Indonesia, aku akan terus mencarinya dan tidak perlu bertemu dengannya di waktu yang salah seperti ini.
Dengan begitu, skenario yang kususun akan berjalan sempurna.
Namun..
Mungkin ini adalah teguran dari Tuhan untukku.
Bahwa tidak selamanya mimpi yang manusia rancang dapat tercapai sesuai harapannya.
Tuhan sudah menakdirkannya.
Bahwa aku tidak akan pernah bersama Selena.
Adikku lah yang bisa bersamanya.
Tuhan merancang kisah sedih antara mereka berdua, namun juga memberikan bahagia untuk keduanya.
Sementara aku, hanyalah figuran dalam cerita cinta mereka.
Aldebaran..
Sudah saatnya kamu menutup kisahmu dengan Selena rapat-rapat.
Dan kembali melanjutkan hidupmu dengan membuat mimpi-mimpi baru.
Tapi..
Apakah aku bisa melakukannya?
Apakah Tuhan akan mengizinkannya?
Atau aku akan tersandera dalam belenggu ini untuk selamanya?
Saat aku masih berkontemplasi dengan fikiranku sendiri, pintu kamar tibat-tiba diketuk.
“Tuan.. maaf.. ini tentang kondisi Nyonya..” ujar suara parau dari balik pintu.
Aku bergegas bangkit dari dudukku dan membuka pintu.
Tak lupa, aku menghapus air mataku yang banjir setelah memberikan restu pada satu-satunya adik yang sangat kusayangi itu.
“Ada apa?” tanyaku kembali pada nada wibawaku yang biasa.
Di depanku, salah satu pengawal memasang wajah khawatir.
“Nyonya sudah tidak makan tiga hari dan dia mengancam jika dia tidak keluar dari sini, dia akan berhenti makan sampai mati..” kata pengawal setengah baya berambut cepak tersebut.
Celine mulai membuat drama.
Dan aku kesal mendengarnya.
“Aku akan bicara dengan Nyonya. Kalian tolong perkuat keamanan seperti biasa?” perintahku padanya.
“Baik Tuan,” ujarnya membungkuk padaku.
Aku kini berjalan menuju kamar Celine, yang letaknya ada di lantai paling atas.
Villa pribadi ini merupakan tempat rekreasi dan melepas penat yang dimiliki keluarga kami. Memiliki tiga lantai dan pemandangan laut dari kolam renang infiniti, membuat tempat ini mampu merilekskan diri layaknya sedang berkunjung ke Maldives.
Namun, sepertinya perasaan itu tidak berlaku bagi Celine.
Dia sama sekali tidak menikmati liburannya disini.
Padahal aku hanya memutus seluruh saluran telfon dan internet agar dia dijauhkan dari dunia luar. Namun, dia disediakan koki terbaik, perpustakaan dengan deretan buku terbaru dan dia bebas berenang jika dia mau. Meskipun dengan pengawasan yang ketat.
Tapi, dia malah mengurung dirinya di kamar tiga hari berturut-turut dan memilih mogok makan. Dia bahkan mengancam untuk mati saja jika tidak keluar dari rumah ini.
Celine sungguh bodoh. Padahal aku masih berbaik hati padanya.
__ADS_1
Aku kini telah berada di depan kamarnya saat dua pengawal di depan pintu membungkuk padaku. Pengawal kemudian membukakan pintu kamarnya untuk aku masuki.
Saat aku masuk, suasana kamar ini nyaris tidak berubah dengan beberapa waktu yang lalu, saat aku mengkonfrontasinya dan memaksanya untuk bicara soal kecelakaan Josh Rainer.
Kamar ini gelap, dia sengaja tidak membuka gorden dan jendela. Sprei dan selimut berantakan. Kursi, kaca dan meja diruang tengah masih hancur setelah aku banting tadi untuk mengancamnya bicara soal kecelakaan Josh Rainer yang sebenarnya.
“Kalau kamu beneran ingin mati, aku tidak akan menghalangimu. Aku akan menyuruh koki di bawah pulang karena urusannya sudah selesai disini,” kataku memulai pembicaraan.
Celine terbaring dengan menelungkupkan wajahnya ke bantal. Dia tengah menangis tersedu-sedu.
“Al.. aku ini ibumu! Kamu lahir dari rahimku!” teriaknya sambil menangis.
Aku mendengus kepadanya.
“Celine, sudahlah. Akhiri saja kucing-kucingan kita selama ini!" kataku menghardiknya.
Celine makin melolong tak tertahankan.
"ALDEBARAN AKU ADALAH IBU YANG MELAHIRKANMU! TEGA SEKALI KAMU MELUKAI HATI IBUMU SENDIRI!" teriaknya kesetanan.
Aku menendang meja yang sudah di hancur dekat kakiku. Menghasilkan bunyi kencang yang cukup mengangetkan buat Celine.
"Apa kamu pikir aku tidak tahu kelicikanmu selama ini, Celine? Bahwa
kamu berusaha keras membuat ahli waris jatuh ke tanganku supaya kamu yang mengaku-aku sebagai ibuku ini bisa mendapatkan harta Gurnawijaya yang tak terhingga?” kataku dengan nada tinggi.
“Al..AKU BENERAN IBUMU! OTAKMU PASTI DICUCI OLEH JOSH RAINER SAMPAI TIDAK MENGANGGAPKU SEBAGAI IBU DAN BAHKAN MENGURUNG IBUMU SEPERTI INI! KAMU BAHKAN RELA MELIHATKU MATI DISINI! SADAR AL!” Celine kini sudah melolong tak tertahankan.
Karena penerangan yang suram, aku sebelumnya tidak memperhatikan bahwa wajah Celine kini benar-benar parah.
Kantung matanya hitam tebal menggantung di bawah matanya yang merah. Rambutnya awutan-awutan dan keriput di wajahnya seperti bertambah berkali lipat, sangat berbeda dengan wajah elegannya yang biasa.
“Celine, hentikan bertingkah seperti anak kecil. Aku sama sekali tidak simpatik,” kataku tegas.
“KAMU ANAK DURHAKA! BAGAIMANA BISA KAMU MALAH MEMBELA ANAK INGUSAN YANG MEREPOTKAN ITU DIBANDINGKAN IBUMU SENDIRI!” Celine masih di luar kendali.
Aku capek mendengarnya berteriak.
Dalam gerakan cepat, aku kembali mengambil patahan meja yang sebelumnya aku hancurkan dan melemparkannya ke arah tempat tidur.
Yang nyaris sekali mengenai kakinya.
Aku sendiri memang tidak bermaksud melukainya, hanya ingin sedikit menggertaknya.
Namun, tetap saja lemparan itu membuatnya terlihat shock setengah mati.
“Jangan pernah kamu mengbandingkan betapa berharganya adik kembarku dengan orang sepertimu,” kataku pelan namun tegas.
Celine tampak lebih kaget mendengar kata-kataku.
“Kenapa? Kamu kaget mengapa aku bisa tahu rahasia yang kamu sembunyikan bertahun-tahun lamanya? Bahwa sebenarnya aku dan Josh Rainer adalah saudara kandung dari ayah dan ibu yang sama! Dan kamu datang mengambil kesempatan untuk mengaku kepada semua orang bahwa aku adalah anak perselingkuhan antara ayahku dan kamu?” aku kini sudah mendekatinya dan berkata tajam.
Mata Celine masih terbelalak, tak percaya bahwa rahasia yang dia simpan 29 tahun lamanya kini sudah tidak ada harganya.
“Kamu tahu? Bertahun-tahun aku merasa jijik, karena harus berpura-pura tidak tahu rahasia ini dan terus memperlakukanmu sebagai ibu yang kucintai. Karena dengan sifatmu yang tamak, aku yakin akan ada hari dimana kamu akan berusaha menghancurkan Josh Rainer dan mengambil semuanya untuk keuntunganmu!” kataku kini sudah mencengkeram rahangnya.
Celine kini ketakukan setengah mati.
Dia berusaha melepaskan genggaman tanganku dengan kedua tangannya.
Sementara aku, terus mengencangkan genggamanku pada rahangnya.
Aku terlalu kuat untuknya.
“Mana mungkin.. Al.. kamu.. ini pasti ada.. kesalahan! Lepaskan.. aku.. ibumu.. ibu yang melahirkanmu!”
“Aku lebih marah lagi saat mendengar bahwa kamu merencanakan pembunuhan untuk melenyapkan adikku sendiri. Celine, Josh Rainer adalah satu-satunya saudaraku! Ingin membunuhnya berarti kamu juga ingin melenyapkanku!” teriakku sambil semakin mencengkeram rahangnya.
Celine kini sudah terlihat sangat histeris.
“Tidak.. a..ku.. ti..dak.. per..nah..ber..niat.. mem..bu..nuh..nya!” ujarnya kesusahan karena rahangnya ingin kuremukkan.
“Ya, untung saja kamu tidak ingin membunuhnya. Dan kamu tahu siapa yang membelamu? adikku! Adikku yang ingin kamu celakakan itu mengatakan bahwa kamu bukanlah otak dari semua rencana ini! Jika saja aku tidak tahu soal ini, aku pasti sudah menghancurkan wajahmu yang busuk ini,” kataku menggertaknya.
Aku kemudian melepaskan genggamanku, membuat Celine kini megap-megap berusaha bernafas normal setelah aku intimidasi.
Kemudian aku mencari kursi yang masih dalam kondisi baik dan menyeretnya ke samping tempat tidur dimana Celine sedang terduduk ganjil.
“Sekarang ceritakan padaku, sejauh mana kontribusimu dalam konspirasi ini dan mengapa kamu mau mengikuti semua rencana busuk Becca?” tanyaku garang.
Celine lagi-lagi dibuat kaget dengan banyaknya informasi yang aku dapatkan untuk mengancamnya.
“Aku.. tidak.. aku.. sudah janji.. padanya..” jawabnya takut-takut.
Kemudian tawaku menggelegar.
“Kamu masih tidak mau bicara? Baiklah. Karena kamu tidak jujur, aku akan menyeretmu ke kantor polisi dengan tuduhan menjadi pembantu untuk pembunuhan pewaris utama keluarga Gurnawijaya,” gertakku.
Mata Celine kini semakin membesar, dia bahkan tampak seperti memohon belas kasihanku.
“Aku juga akan membeberkan perbuatan licikmu yang sudah memindahkan uang Tel-X sampai Rp 1,2 triliun ke rekening perusahaan cangkang atas namaku, tanpa sepengetahuan manajemen. Jadi kamu punya dua kejahatan untuk kasus ini, merampok uang yang bukan milikmu dan juga mencatut namaku untuk kepentinganmu..” tambahku.
Mulut Celine kini sudah sebesar bola tenis. Terngaga karena tidak percaya aku tahu mengenai skandal yang dia lakukan dengan Becca, yakni pencucian uang perusahaan.
“Dan aku., juga akan melaporkanmu atas tuduhan pemalsuan dokumen dan pembohongan publik atas identitasku. Selama 18 tahun kamu membohongi publik dan membuat tes DNA palsu yang menyebutkan bahwa aku adalah anak kandungmu. Celine, padahal kamu tidak bisa memiliki anak!” aku membuka lagi kejahatannya.
Badan Celine kini sudah bergetar hebat. Wajahnya benar-benar seperti burung hantu, yang tertekuk kedalam karena ketakutan.
__ADS_1
“Coba saja kamu hitung semua kejahatan itu dan berapa lama kira-kira kamu akan mendekap di penjara? Atau.. mungkin kamu akan mendapatkan hukuman mati karena telah ikut merencanakan pembunuhan? Ini baru untuk kejahatan yang aku tahu, apalagi yang belum aku tahu..” kataku mendengus.
Tiba-tiba saja, Celine bangkit dari tempat tidurnya dan meraih kakiku.
Dia bertindak seperti orang gila sekarang, dengan berusaha menciumi kakiku.
“Ampuni..ampuni aku.. aku akan bersaksi untuk kejahatan Becca.. tapi tolong jangan kirim aku ke penjara.. aku.. sama sekali tidak pernah berniat untuk membunuh Josh.. aku hanya ingin melihatnya lumpuh sehingga dia tidak bisa kerja dan akhirnya Tel-X akan berpindah ke tanganmu.. aku hanya tidak tahu bahwa aku dibohongi rubah itu.. bahwa ternyata dia ingin membunuh Josh.. itu tidak sesuai rencana kami.. aku tidak berani membunuhnya.. karena kalian adalah keponakanku..” kata Celine menyembah kakiku.
Kini giliran aku yang kaget setengah mati.
Aku baru tahu fakta ini dan kini badanku seperti teraliri listrik.
Dia mengaku sebagai tanteku?
Dengan begitu, dia adalah saudara perempuan ibuku sendiri?
"Bohong.." kataku lemas tak percaya.
Celine masih menciumi kakiku dengan tangis melolongnya.
"Aku bicara jujur Al.. kalian berdua adalah keponakanku. Aku menyanyangimu seperti anakku sendiri.. tapi aku tak bisa melakukan itu terhadap Josh karena kamu tau sendiri perlakuannya padaku juga tidak baik.. aku tidak pernah berniat membunuh salah satu dari kalian.." Celine tersedu-sedu di kakiku.
Ya Tuhan.
Sekarang rasanya aku ingin pingsan.
Bagaimana bisa orang sejahat Celine masih merupakan keluarga aku dan Josh?
“Lalu dimana otakmu? Menghancurkan pernikahan saudaramu sendiri? Kemudian ingin membuat lumpuh keponakanmu? Terbuat apa hati dan pikiranmu Celine!” aku kini berusaha melepaskan kakiku dari perempuan yang semakin membuatku jijik ini.
Celine kemudian melolong lebih keras.
“Aku mencintai ayahmu! Dan ayahmu juga sangat mencintaiku! Namun aku hanyalah anak adopsi di keluargaku, keluarga Gurnawijaya tidak menyetujui hubungan ayahmu dan aku. Nenekmu yang bengis itu akhirnya menjodohkan ayahmu dengan adikku! Adik yang selalu kuurus sejak kecil itu mengambil tempatku yang seharusnya! Dan kamu lihat.. hubungan mereka tidak bisa langgeng karena ayah dan ibumu tidak saling mencintai! Karena cinta ayahmu hanya untukku!” teriaknya.
Tuhan....
Apakah kamu mengutuk keluarga kami?
Apakah sejak dulu kami selalu dihadapkan dengan drama percintaan antara kakak dan adik seperti ini?
Saat aku masih ingin berdebat dengannya, tiba-tiba saja pintu kamar Celine diketuk.
“Tuan.. maaf menggangu. Namun ada tamu di depan..” lolong salah satu pengawal.
Tamu?
Mengapa ada tamu yang bisa datang ke villa pribadi keluarga kami ini?
Hanya orang terbatas yang mengetahui rumah di tepi pantai ini.
“Siapa?” teriakku bertanya-tanya.
Suara pengawal terdengar lagi.
“Nona Helena, Tuan..”
Helena?
Mengapa dia bisa sampai disini?
Apakah.. dia sudah tahu apa yang terjadi dan kini mencariku untuk mengkonfirmasi?
Aku berjalan menjauh dari Celine namun dia tidak mau melepaskanku.
“Al.. aku benar-benar tidak pernah berniat membunuh Josh.. aku mengaku sangat tamak tapi aku tidak pernah berniat sekalipun membunuhnya.. tolong percaya aku…” ringisnya.
Aku memandangnya dan benar-benar tidak ada rasa iba untuk semua yang sudah dia lakukan.
Namun dia harus tetap hidup.
Karena dia adalah saksi kunci semua perbuatan Becca dalam kejahatan ini.
Dan dengan pengakuan Celine, mungkin Josh Rainer dapat terbantu untuk membebaskan namanya dari kecelakaan itu.
“Makan. Jika kamu tidak ingin ke penjara atau mati, kamu harus makan. Aku akan kembali lagi,” kataku sambil berlalu.
Celine tampak bersyukur dengan menangis tersedu-sedu, melihat ada peluang yang baik untuk masa depannya.
Padahal, sebetulnya, aku hanya ingin meninggalkan Celine sekarang ini.
Aku benar-benar sedih saat mendengar bahwa dia adalah bagian keluarga dari ibuku, namun kelakukannya tidak sama sekali mencerminkan seperti saudara.
Aku lelah dengan dunia yang palsu, lelah dengan semua orang yang terlalu menuhankan harta.
Sampai tega mengorbankan keluarganya sendiri dan membuatnya menderita.
Aku benar-benar butuh berfikir jernih.
Aku butuh teman bicara.
Dan Helena datang pada saat yang tepat.
Dan ketika aku pikir kembali..
Aku dan Helena berada di posisi yang sama.
Yang paling terluka dan berkorban begitu banyak untuk orang yang kami cintai.
__ADS_1