
Wajah perempuan tua itu masih didepan mukaku.
Dia kelihatan marah sekali.
“Nenek, kami tidak bohong! Cucu Anda sedang diracun dan butuh pertolongan anda!” Gery di sampingku berteriak membelaku.
Si perempuan tua tampak membetulkan kacamatanya dan mulai berpindah mendekati Gery.
Dia menyerap ucapan Gery dan dahinya tampak mengerut.
“Saya bukan nenek tuan muda. Saya ketua ART disini. Saya Margaretha,” balasnya dengan suara parau.
Aku dan Gery yang masih sama-sama tersungkur di tanah saling berpandangan. Ingin tertawa tapi tidak elok untuk situasi saat ini.
“Sekuriti, bawa mereka kedua ke dalam rumah,” perintahnya. Tak berapa lama dua sekuriti memegang tanganku dan memanduku untuk berjalan ke dalam rumah.
Aku tentu saja melawannya.
“Tunggu, kami bukan penjahat. Bisa tolong lepaskan dan dengarkan kami?” aku mencoba berdiplomasi.
“Saya Selena Ariadna, saya punya sertifikasi dokter yang bisa kalian cek di website. Saya dokter pribadi Josh Rainer dan saya kesini atas permintaan langsung beliau untuk menyelamatkan nyawanya.”
Aku berusaha meyakinkan Margaretha agar dia tidak memperlakukan kami sebagai tawanan.
Margaretha tampak tidak yakin namun akhirnya luluh juga.
“Baik sekuriti, kalian cukup pantau mereka saja dari belakang. Kalian berdua ikut saya masuk.”
Aku dan Gery kemudian dibimbing masuk ke dalam rumah dengan lebih dahulu menaiki mobil golf yang disiapkan di depan kami. Sekitar satu menit kemudian, kami sudah tiba di teras istana ini.
Margaretha berjalan cepat di depanku. Perempuan tua ini mungkin usianya sekitar 60 tahunan, yang membuat Gery sempat salah sangka bahwa dia adalah nenek Josh Rainer. Gaya berpakaian Margaretha sangat formal, celana kulot panjang dan blazer hitam yang trendy. Tidak terlihat seperti Ketua ART.
Kami kemudian digelandang ke salah satu ruangan besar yang didepannya terdapat layar proyektor.
Di layar proyektor itu, semua kamera pengawas dapat terlacak. Termasuk empat kamera pengawas yang dipasang di gerbang istana tempat kami tadi berusaha masuk.
“Kalian pembohong. Apa motif kalian kesini? Kalian ingin minta uang?”
Aku dan Gery bertatapan bingung. “Saya bicara jujur dan ini adalah bukti dari perkataan kami tadi.”
Aku memberikan kertas partitur yang dibelakangnya terdapat coretan Josh.
Tulisan tangan yang meminta obat yang asli kepadaku, serta alamat rumah neneknya untuk menyelamatkan dia.
Aku juga memberikannya nomor ID profesi dokterku untuk dicek bahwa aku bukan dokter gadungan. Aku juga memberikan dia foto Josh Rainer saat baru sembuh dari koma dan foto dia belakangan ini yang pucat saat dipaksa meminum obat palsu oleh Diana.
Margaretha kini tidak sendiri. Disebelahnya, ada beberapa staf yang mengerubungi. Mereka kemudian berdiskusi apakah bukti ini valid atau tidak. Sembari mereka memverifikasi bukti, aku menjelaskan apa yang terjadi termasuk keanehan yang dilakukan Celine.
Semua cerita dan bukti tampaknya mulai mempengaruhi mereka. Margaretha kini tampak kebingungan.
“Tidak mungkin. Nyonya Gurnawijaya baru saja mengirim pesan ke ponsel tuan muda dan tuan muda mengatakan dirinya baik-baik saja. Nyonya menyuruh saya untuk menindak kalian karena kalian telah berusaha menipu kami,” katanya bingung.
Apa?
Nenek Josh berkomunikasi dengan Josh Rainer dan dia mengatakan tidak terjadi apa-apa?
Bagaimana mungkin?
__ADS_1
Yang aku rawat dalam dua minggu terakhir ini jelas-jelas adalah Josh Rainer.
Tidak mungkin ada dua Josh Rainer di dunia ini kan?
Wajah Gery kini tampak ngeri saat kami bertatapan.
“Nyonya saat ini sedang berada di Amerika namun dia sangat intens selalu berkomunikasi dengan tuan moda Josh. Tapi, ini memang tulisan tuan muda. Foto itu juga adalah tuan muda, saya ingat betul tahi lalat yang ada di leher tuan muda dalam foto itu,” aku Margaretha.
Apakah sedang ada yang menyamar menjadi Josh Rainer di depan Nyonya Gurnawijaya?
Tidak mungkin Josh yang kurawat dua minggu ini adalah gadungan kan?
“Bisakah saya langsung berbicara dengan Nyonya Gurnawijaya? Josh bilang dia bisa mati kapan saja jika neneknya tidak segera membantunya.”
Saat ini kondisinya berubah.
Aku dan Gery yang awalnya tidak dipercayai menjadi semakin kuat dengan bukti-bukti yang kami perlihatkan.
Margaretha kini terlihat ketakutan. Dia lalu keluar dari kamar sebentar dan tiba kira-kira lima menit kemudian.
“Kami akan menyambungkan kalian dengan nyonya lewat panggilan video,” kata Margaretha lugas sambil mengganti layar proyektor kamera pengawas menjadi mode telfon sambungan jarak jauh dengan video.
Gery mengelus pundakku.
“Kita pasti berhasil,” bisiknya padaku.
Tak lama, wajah seorang perempuan tua yang elegan dan berpakaian formal sudah ada di depan wajah kami. Wajahnya tetap cantik dengan rambut digelung tinggi meskipun keriput terlihat di beberapa sudut wajahnya. Usianya terlihat lebih tua dibandingkan Margaretha.
“Halo Selena, saya Karina Gurnawijaya. Nenek Josh Rainer,” ucapnya sopan namun tegas kepadaku.
“Halo Nyonya Gurnawijaya,” balasku. “Saya.. bukan.. tapi Josh Rainer membutuhkan pertolongan anda segera,” kataku langsung ke inti pembicaraan.
Nenek Josh lantang bertanya padaku. Meskipun dia bertanya sangat to the point, tidak ada nada menghina seperti yang Celine selalu lakukan padaku.
“Apakah Nyonya bekomunikasi hanya lewat teks dengan Josh selama dua minggu ini? Pernahkah melakukan panggilan suara atau video?” tanyaku sambil mencoba menginvestigasi.
Nenek Josh tampak berpikir, dia lalu mengecek kembali ponselnya. “Ya mungkin satu bulan ini komunikasi kami hanya lewat pesan saja, karena dia sempat bilang sedang sibuk sekali mengurusi perpindahan kepemimpinan ayahnya ke dirinya. Saya tidak mau ganggu lebih banyak.”
Dugaanku betul. Aku yakin ada yang mengambilalih ponsel Josh dan berkomunikasi seperti biasa dengan neneknya seperti tidak terjadi apa-apa.
“Nyonya, ini baru dugaan saya. Sepertinya.. mungkin.. ada yang berpura-pura menjadi Josh Rainer dalam dua minggu terakhir ini dan berkomunikasi dengan anda.”
Tidak sadar, builr-bulir keringat dingin mengucur dari dahiku di tengah ruangan yang dingin ini. Aku betul-betul grogi berhadapan dengan Nyonya Karina Gurnawijaya.
Aku melanjutkan sambil mencoba meredakan grogiku.
"Sementara.. yang saya ketahui saat ini Josh Rainer yang asli tengah dalam bahaya besar jika anda tidak segera menyelamatkannya.”
Nenek Josh Rainer seperti mencoba menyaring kata-kataku. Dia kemudian memberikan perintah pada orang yang berada di sebelahnya.
“Cek laporan transaksi masuk dan keluar perusahaan satu bulan terakhir, apakah ada yang ganjil?”
Orang disebelahnya langsung menelepon seseorang dan membuka laptopnya. Menjalankan apa yang diperintahkan.
“Dokter Selena, saya sesungguhnya masih tidak yakin dengan kondisi yang kamu jelaskan,” katanya tegas sambil mengurut dahinya.
“Apa yang bisa membuat saya percaya pada Anda bahwa yang kamu katakan bukanlah khayalan?”
__ADS_1
Aku mencoba memutar otak di tengah situasi ini.
Ayo Selena, pikirkan hal yang bisa membuatnya percaya padamu.
Aku kemudian teringat satu hal yang sangat penting.
“Nyonya, saya dengar dari Rikian, Josh sangat menyayangi biolanya. Yang dia simpan di ruang kerja ayahnya. Tidak ada satupun yang berani menyentuh biola itu, bahkan pengurus rumah tidak pernah membersihkannya,” Rikian pernah menyebutkan hal ini padaku di sela terapi Josh.
“Betul sekali,” balasnya.
“Nyonya, saya tahu persis ada ukiran angka halus di bagian bawah biola Josh. Saya menyadari ini saat memainkan biola waktu melakukan terapi dengannya. Angka itu 200892,” jelasku berharap kini dia mempercayaiku.
Nenek Josh kini tampak syok.
“Ini membuktikan bahwa saya betul berada di rumah itu. Saya diberikan akses menuju ruang baca dan memainkan biola Josh karena saya adalah terapisnya. Dan adalagi ini,” aku menunjukkan kertas permintaan tolong Josh.
“Ini adalah tulisan yang cucu Anda diam-diam tulis saat dia tengah dalam tekanan dan kesakitan luar biasa setelah diracun oleh Celine. Dia putus asa dan menunggu pertolongan dari Anda,” kataku tegas.
Nenek Josh kini menghembuskan nafasnya lalu mencoba kembali meraih telfonnya.
“Memang, tidak ada yang boleh menyentuh biola itu oleh Josh karena itu adalah peninggalan ayahnya. Dan ukiran itu adalah ulang tahun Josh, bermakna 20 Agustus 1992. Hanya ayahnya dan saya yang mengetahui detail ukiran itu,” katanya masih tidak percaya. Nenek Josh Rainer masih mencoba menelepon seseorang dan mendekatkanya ke telinga.
Aku menunggu dia untuk mengatakan dia percaya pada ceritaku namun dia masih menunggu jawaban telepon dari ujung sana.
“Josh Rainer tidak mengangkat panggilan telfonku. Dua kali ditolak,” ucapnya.
Aku berpandangan dengan Gery. Gery tersenyum sambil mengelus pundakku. Kami hampir menang.
Namun, tak lama dari Nenek Josh menutup telfon, terdengar dering ponsel bunyi pesan masuk. Dia kembali melihat telfonnya.
“Lihat, Josh mengirimiku pesan yang mengatakan dia sedang di kantornya. Dia bahkan melakukan selfie bersama tumpukan dokumen di kantornya,” katanya padaku minta penjelasan.
Apa?
Tidak mungkin. Aku tidak tahu siapa yang memegang ponsel Josh Rainer namun ini semua adalah kejahatan yang sangat direncanakan.
“Ehem…Nyonya Gurnawijaya,” Gery memulai membuka pembicaraan. “Saya adalah Gery Andrean. Saya bekerja di Tel-X, perusahaan Josh Rainer."
"Saya bisa jamin bahwa Josh Rainer tidak terlihat selama dua minggu di kantor. Kami dikabari bahwa Bos sedang melakukan perjalanan bisnis. Anda bisa cek absensi di kantor kami, tidak ada tanda sidik jari Bos masuk ke kantor. Saya bagian HRD yang biasa mengurusi kehadiran karyawan, Nyonya."
Gery, kamu penyelamatku!
Bukti ini adalah yang paling sakti untuk membalas aksi palsu Josh Rainer gadungan.
Nyonya Gurnawijaya terlihat semakin gamang.
“Cek kehadiran karyawan dua minggu terakhir,” dia memerintahkan staf disebelahnya. Staf itu mengangguk dan langsung mengecek lewat laptopnya.
Sementara itu, satu staf lagi yang tadi diminta mengecek laporan keuangan akhirnya berdiri dan mencoba menyampaikan hasilnya kepada nenek Josh.
“Nyonya, memang ada laporan keuangan yang mencurigakan. Dua minggu ini sudah ada transaksi Rp1,2 triliun yang mengalir ke perusahaan cangkang kita di negara suaka pajak," kata salah seorang staf.
Nenek Josh tampak semakin mengernyit namun tetap berusaha tenang.
"Lanjutkan," perintahnya.
"Ehmm...perusahaan ini terdaftar atas nama tuan muda Aldebaran. Namun semua persetujuan pemindahan dana modal ini disetujui oleh tuan muda Josh Rainer dengan sidik jarinya.”
__ADS_1
Dari semua wajah tenang nan tegas yang nenek Josh perlihatkan pada kami, baru ini akhirnya dia menampakkan mimik ngeri yang tak tertahankan.
“Al..Aldebaran? anak haram Celine?” dia tak mampu menahan kengeriannya.