
Di depanku terbaring Josh Rainer Gurnawijaya.
Josh adalah CEO perusahaan telekomunikasi yang sedang naik daun di negara ini.
Di usia 28 tahun, dia berhasil mencapai jabatan tertinggi di perusahaan bergengsi itu setelah menggantikan ayahnya yang meninggal dunia bulan lalu.
Josh sebelumnya lama tinggal di Amerika Serikat untuk kuliah dan merintis bisnis sendiri.
Kematian ayahnya memaksa Josh untuk kembali ke Indonesia dan meneruskan peran ayahnya untuk memimpin perusahaan.
Belum sampai sebulan mengendalikan perusahaan, dia harus kehilangan ingatannya karena satu kecelakaan.
Aku kemudian membaca riwayat pasien yang diberikan suster padaku. Josh dilarikan ke rumah sakit empat hari lalu dalam keadaan koma.
Empat hari lalu adalah waktu saat aku terbangun dari pingsanku di rumah sakit ini.
Di saat itulah Josh mendapatkan perawatan intensif yang dipimpin langsung oleh Dokter Bernard dan tim operasi bedah.
Josh hanya mengalami sedikit luka fisik di kepala, namun benturan yang kencang mengakibatkan luka dalam yang berujung pada amnesia retrogade.
Amnesia retrogade adalah kondisi dimana pasien tidak mampu mengingat informasi atau kejadian di masa lalu.
Dalam kasus ini, Dokter Bernard menyimpulkan bahwa Josh kehilangan seluruh ingatannya sebelum kecelakaan, termasuk siapa dirinya.
Dari observasiku hari ini, kemungkinan Josh juga mengalami trauma sehingga sulit bagi dia untuk mengekspresikan dirinya.
Dari catatan dokter Bernard, juga diketahui bahwa Josh mengalami efek samping amnesia, seperti tremor, sulit mengkoordinasikan gerakan tubuh dan kebingungan.
Dokter Bernard juga mengatakan kemungkinan Josh akan sembuh 6-8 bulan dengan terapi intensif dan pengaturan nutrisi yang seimbang.
Pengobatan yang harus dilakukan adalah terapi okupasi dan hipnosis. Namun, aku harus memeriksa dulu separah apa kondisi Josh saat ini untuk menentukan treatment yang tepat.
"Permisi, kamu dokter Selena?"
Suara wanita setengah baya membuyarkan konsentrasiku saat membaca hasil observasi Josh Rainer. Di depanku, seorang wanita dengan penampilan yang elegan mengajakku bicara.
"Saya Ibunya Josh," ucapnya.
"Oh, Selamat siang Bu, senang berkenalan dengan Ibu," sambutku ramah. Aku mempersilahkan dia untuk duduk di sebelah Josh.
Saat ini, Josh sedang tidur setelah makan siang dan diberi obat antidepresan.
__ADS_1
Berkali-kali, Josh tidak memberikan respons terhadap seluruh pertanyaanku. Satu-satunya respons yang dia keluarkan adalah saat melihat Dokter Bernard masuk untuk mengeceknya.
"Terima kasih sudah menyelamatkan saya, Dokter," ucapnya yang membuat aku dan Dokter Bernard kompak melongo.
Namun, reaksi itu membuktikan bahwa Josh Rainer memang mengalami amnesia retrogade dan trauma pascacedera otak.
Buktinya, dia masih ingat bahwa Dokter Bernard adalah orang pertama yang memeriksanya saat dia siuman. Josh hanya kehilangan memori masa lalu, tapi memori masa kininya tetap normal.
"Dokter sudah liat keadaannya langsung bukan? Apakah besok Dokter sudah bisa bekerja di rumah saya?" kata ibu Josh langsung ke topik masalah.
Ibu Josh kelihatan khawatir dan cemas.
Tentu saja begitu, Josh adalah anak satu-satunya dari keluarga Gurnawijaya. Jika Josh tidak selamat, maka dia sudah tidah memiliki siapapun lagi di dunia ini.
"Ya, saya bisa langsung mulai besok Bu," jawabku. "Maaf Bu, mengenai pembayarannya bagaimana ya?"
"Saya besok akan siapkan cek untuk kamu," balasnya datar. "Saya akan keluarkan Josh malam ini dari rumah sakit."
"Oh iya, panggil saja saya Celine. Apakah dia akan sulit sembuh?" tanya Ibu Celine sambil meraba tangan Josh secara hati-hati.
"Masih perlu observasi mendalam Bu, namun normalnya penyakit ini bisa sembuh dengan terapi dalam enam sampai delapan bulan kedepan," jelasku.
"Dia tidak perlu lagi ke rumah sakit! Kami akan menyediakan seluruh peralatan dan obat yang Dokter butuhkan di rumah saya," kali ini Ibu Celine tegas menghardikku.
"Tapi supaya pengobatan ini maksimal sebaiknya Josh tetap di periksa berkala di rumah sakit Bu," aku memberitahunya.
"Itulah mengapa saya mempekerjakan kamu," tegasnya. "Kalau tidak, apa gunanya kamu?" sengit Ibu Celine.
Aku sedikit kaget dengan perbedaan perlakuan Celine padaku. Awalnya dia ramah meskipun datar, namun kini dia malah membentak saran dari seorang dokter untuk kesembuhan maksimal anaknya.
Tiba-tiba, aku teringat dengan kata-kata Becca sebelumnya. Keluarga Josh tidak ingin publik tahu bahwa Josh sedang tidak sehat karena dapat mengancam valuasi perusahaan.
Oleh karena itu, keluarga memutuskan untuk menyembuhkan Josh secara pribadi. Dengan begitu, masyarakat tidak akan tahu bahwa Josh sebetulnya sedang dalam keadaan hilang ingatan.
"Baik Ibu Celine, saya akan berusaha sebaik mungkin untuk kesembuhan Josh," kataku.
Di saat itu, tanpa kami sadari Josh tiba-tiba terbangun.
Dia memandangku dan Celine bergantian. Sampai akhirnya suara memekakkan telinga terdengar dari mulutnya.
"KELUAR! KELUAR DAN JANGAN PERNAH MUNCUL LAGI!"
__ADS_1
Aku masih berusaha menangkap apa yang terjadi di depanku.
Tiba-tiba semuanya cepat saja terjadi. Dalam sekejap, Josh bereaksi dengan melempar bantal dan selimut ke arah Celine.
Untungnya, Celine sigap dan langsung pergi terbirit-birit keluar dari kamar.
Josh baru saja mengalami tantrum.
Dia memukuli ibunya sendiri.
Aku mencoba menenangkan Josh, namun dia semakin tidak bisa dikendalikan.
Aku kembali mencoba menenangkan dia. Perlahan-lahan dia mulai melunak. Emosi Josh masih naik turun saat aku mencoba mengelus bahunya.
Tanpa kusangka, setelah itu Josh malah bergerak cepat untuk mencengkramku.
Oh, tidak.
Aku kaget setengah mati dan siap untuk kemungkinan yang terburuk.
Namun, aku salah.
Dia tidak mencengkeram dan mencoba memukuliku.
Dia malah memelukku. Sangat erat.
"Maaf," ucapnya di telingaku. Dengan suara beratnya yang khas.
Hanya itu yang dia katakan. Kemudian, dia melanjutkan pelukannya padaku sampai dia kembali tertidur akibat efek obat yang masih berjalan.
Meninggalkanku sendirian terjaga dalam ingatan yang terbuka tentang mantan pacarku.
Tenggelam dalam pikiranku mengenai Dio.
Pelukan itu mengingatkan aku bahwa aku sudah tidak akan pernah dipeluk oleh orang yang kusayangi itu.
Bukan kamu yang mengatakan maaf karena tidak bisa bersamaku lagi, Dio.
Dan bukan kamu yang kini memelukku, meskipun aku sangat ingin
Dio, bantu aku melanjutkan hidup tanpamu ya
__ADS_1