Menikahi Pembunuh Pacarku

Menikahi Pembunuh Pacarku
PENJAHAT YANG SEBENARNYA


__ADS_3

Aku tidak pernah mendengar Josh Rainer sesedih ini.


Meskipun hubungan kami selalu berjarak, namun dia selalu menampilkan sisi dingin dan acuh didepanku.


Dan untuk pertama kalinya.. kini dia menunjukkan dirinya yang rapuh.


Rapuh karena hidupnya kini bak buah simalakama.


Karena dialah penyebab kematian mantan tunangan Selena, orang yang dia cintai saat ini.


Jika aku jadi Josh, aku pasti juga akan merasakan hal yang sama.


Aku kini menutup mataku dan mengembuskan nafas yang panjang.


Situasi ini sangat pelik untuk Josh maupun Selena. Meskipun mereka mengaku saling mencintai, namun fakta ini sangat amat memilukan dan berpotensi menghancurkan hubungan mereka.


Yang seharusnya bisa menjadi kesempatan buatku untuk mendapatkan hati Selena.


Namun...


Rasanya hal itu sangat salah untuk kulakukan.


Di depan adikku yang akan merasa hancur.


Meskipun menyedihkan buatku, aku tetap ingin melihat mereka berdua bahagia.


Karena mereka berdua adalah sumber bahagiaku.


“Jangan menyalahkan diri Josh, kamu bukan pembunuh. Ingat, kamu adalah obat bagi luka yang dirasakan Selena. Dia akan mengerti,” sanggahku.


Josh, diujung telfon sana, kelihatan sekali berusaha terdengar biasa saja.


“Terima kasih, kak.”


Kakak...


Lagi-lagi, dia akhirnya mengatakan kata-kata yang kuinginkan selama ini terdengar dari mulutnya.


Kata-kata itu sangat pendek, namun sangat menggugah hatiku.


Aku akan selalu mendukungmu, Josh.


Walau itu akan menjadi akhir hidupku. Walau hal itu akan membahayakan hidupku.


Karena tak ada lagi yang ingin kulakukan dalam hidup selain melihat orang yang paling kupedulikan hidup bahagia.


Dan kini kamu juga adalah sumber bahagianya Selena.. Aku harus bahagia karena melihat kalian bahagia.


“Apa yang bisa kubantu?” tanyaku mencoba membuat bebannya mudah.


Josh tampak berfikir namun dia akhirnya membalas.


“Tidak ada, aku bisa mengurus semuanya. Aku akan membuat orang itu mengaku dan dia harus dihukum atas semua kejahatannya,” ujar Josh.


Aku masih tidak habis pikir, siapa yang punya motif untuk membunuh lebih besar dari Celine?


Saat Margaretha menghubungiku saat itu, aku bahkan tidak pernah menyangka Celine, yang sangat terpandang, mau terjun dalam risiko dengan merencanakan pembunuhan Josh.


Meskipun, hubungan mereka dari dulu tidak pernah akur, namun sejahat-jahatnya Celine, aku tidak pernah menyangka dia berani membunuh seseorang.


Apalagi, seseorang ini adalah pewaris konglomerat Gurnawijaya. Dengan nenek yang sangat berkuasa dan dihormati oleh pemerintahan, Celine tidak memiliki jalan keluar bila dia tertangkap basah telah membunuh salah satu klan bisnis penting di negara ini.


Mengapa Celine menjadi sangat sembrono?


“Siapa orang ini? Apakah dia saingan bisnis kita?” tanyaku tak mengerti.


Josh Rainer terdengar terkekeh dari ujung telfon.


“Kamu belum bisa menebaknya? Coba pikirkan baik-baik," Josh menggodaku.


Aku sudah mencobanya sedari tadi dan masih tidak memiliki petunjuk siapa yang punya motif lebih besar dari Celine untuk melakukan pembunuhan terhadap pewaris Gurnawijaya.


"Coba fikirkan, mengapa harus Selena yang menjadi dokter pribadiku? Padahal kamu tahu aku punya dokter keluarga sendiri yang sangat tahu betul kondisi kesehatanku sebelum amnesia..” Josh kini memberikan isyarat.


Namun, aku semakin tidak mengerti.


Apakah rencana pembunuhan pertama dan rencana pembunuhan kedua saling terkait?


Jika iya, bukankah Celine otak dari rencana pembunuhan yang kedua? Kalau begitu seharusnya dia juga dalang dari kecelakaan pertama kan?


“Aku tidak paham. Kamu mau bilang bahwa dua rencana pembunuhan ini dilakukan dengan orang yang sama? Bukankah rencana pembunuhan kedua dilakukan sepenuhnya oleh Celine? Lantas mengapa bukan dia yang mencelakai mobilmu?” aku meminta penjelasan.


Josh Rainer masih mendengus di ujung telfon sana.


“Kak, aku baru tau dari Helena rencana pertemuan antara aku dan dia pada malam kecelakaan diusulkan oleh seseorang. Menurutmu siapa yang bisa melakukan itu?” Josh mengajak otakku bermain detektif-detektifan.


Siapa?

__ADS_1


"Tebaklah. Kamu sangat mengenalnya," Josh masih berusaha keras membuatku berfikir.


Coba fikirkan, Ale.


..Rencana pembunuhan pertama, sasarannya adalah Josh Rainer. Namun yang terbunuh adalah Dio, calon tunangan Selena..


..Rencana pembunuhan kedua, sasarannya adalah Josh Rainer dengan target menimpakan semua kesalahan pada Selena..


..


Mengapa keduanya terhubung dengan Selena?


..Kemudian, pertemuan Helena untuk membahas pernikahan dengan Josh di malam kecelakaan itu ternyata atas usulan orang yang dekat dengannya..


..Jika bukan Celine, siapa lagi orang yang akan menikmati kematian Josh Rainer?


...


Pikirkan Ale.. dimana otakmu yang cemerlang itu?



..Jika kupikir lebih lanjut, ada yang janggal disini..


...Seharusnya Celine juga menyadari bahwa jika Josh mati, dia pun tidak bisa menikmati harta Gurnawijaya...


.. Karena jika Josh mati, seluruh harta warisan Gurnawijaya pastilah akan jatuh ke..


Ke tanganku…


Oh tidak!


Bulu kudukku merinding.


Jangan bilang.. jangan bilang..


Semua rencana pembunuhan ini dilakukan seseorang yang ingin melihatku mengenggam semua warisan Gurnawijaya?


Ya Tuhan!


Dan sekaligus, pembunuhan ini direncanakan untuk mengkambinghitamkan Selena sebagai pelaku pembunuhan saudaraku sendiri..


Dengan begitu, rasa cintaku pada Selena akan terputus dan berganti menjadi benci untuk selamanya.


Ini semua menjawab semuanya!


“Sudah paham? Awalnya, motif rencana pembunuhan yang pertama adalah memusnahkanku sehingga kamu bisa mendapatkan seluruh warisan Gurnawijaya," jelas Josh dari ujung sana.


"Namun karena Dio tewas, pembunuhan selanjutnya dimaksudkan untuk membuat Selena mendekap dalam penjara.. sehingga Selena yang sangat dia benci tidak akan pernah merebutmu dari dia..” jelas Josh Rainer gamblang.


Aku kini terduduk lemas.


Jadi...


Wanita licik itulah yang sudah menghancurkan keluargaku dan nyaris membunuh dua orang yang paling berharga buatku!


“Aktor dari dua rencana pembunuhan untuk melenyapkanku dari dunia ini adalah.." Josh akhirnya membuka wajah dari pelaku yang sebenarnya.


...


Josh Rainer dan aku mengambil nafas bersamaan.


"Becca...," ucap Josh Rainer dan aku berbarengan.


Sekujur tubuhku masih merinding tak tertahankan.


Mengetahui fakta bahwa ada orang segila Becca yang rela melakukan apa saja, termasuk melenyapkan orang, demi melihat pria yang dia cintai mendapatkan segalanya dalam hidup.


Dan orang yang dia cintai adalah aku..


Aku yang tak pernah membalas sedikitpun harapannya!


Dan dia melakukan semua hal bodoh ini, termasuk membahayakan Selena dan hampir memusnahkan Josh Rainer hanya demi pikiran semu bahwa aku akan bahagia?


Becca! Kamu nyaris membunuh dua orang yang menjadi alasan aku untuk masih hidup sampai detik ini!


Aku tidak bisa bahagia tanpa mereka dan kamu nyaris melenyapkan bahagiaku!


Becca..


Jika aku tahu kamulah dalang semua kejadian ini, aku akan menembakmu betulan saat itu!


“Dan jika dugaanku benar, Celine bahkan tidak tahu bahwa dia telah dimanfaatkan sejak awal oleh wanita gila itu," Josh Rainer bergumam.


Benarkah?


Jika begitu, benar fikiranku sejak awal yang meragukan motif Celine untuk membunuh Josh Rainer!

__ADS_1


Selama ini, Becca lah yang membisiki Celine untuk melakukan hal-hal yang dia mau, termasuk rencana pembunuhan itu!


Namun, mengapa Celine mau saja mengikuti Becca?


Apa yang dijanjikan Becca pada Celine?


"Dimana kamu sembunyikan perempuan itu?" tanyaku pada Josh dengan gigi bergemerincing.


Josh Rainer tampaknya tahu bahwa kini emosiku sudah meluap tak tertahankan.


"Aku yakin kamu akan bereaksi begini jika aku cerita padamu sejak awal. Kamu ingin datang padanya dan menggebukinya kan?" duga Josh.


Tidak, Josh.


Kamu salah.


Aku akan membuangnya hidup-hidup dari puncak gunung menuju kebawah lautan di palung yang terdalam.


Biar dia tahu rasanya bermain-main dengan kematian.


"Josh Rainer, katakan padaku dimana dia sekarang!" aku kini sudah berteriak lantang.


Josh, diujung telfon sana, membalasku dengan nada datarnya yang biasa.


"Maaf kak, aku tidak bisa memberitahumu karena dia aset untukku. Kamu akan membunuhnya, sedangkan aku butuh pengakuan dan kesadarannya untuk mengakui semua kejadian ini adalah idenya.." jelas Josh Rainer.


Aku marah.


Namun aku sadar ucapan Josh Rainer masuk akal.


Josh Rainer membutuhkan Becca untuk tetap hidup.


Karena hanya pengakuan Becca yang akan membuat Selena percaya bahwa Josh bukanlah orang jahat.


"Saat ini, dia sedang dalam pengobatan fisik dan mentalnya di tempat yang kurahasiakan. Aku akan memaksanya bicara saat dia sudah sembuh nanti," tutur Josh.


Aku mendengus panjang.


"Benar-benar tidak ada yang bisa kubantu?" kataku lagi menawarinya tenaga dan fikiranku.


Josh cepat menyambar.


"Tidak ada kak. Aku hanya butuh restumu untuk menikahi adik kecilmu, apakah kamu sudah merelakannya?"


.....


Rasanya aku seperti melayang kemudian dijatuhkan kebawah perut bumi saat mendengar ini.


Apakah aku sudah merelakannya?


Apakah aku mampu melihat Josh Rainer dan Selena mengikat janji cinta sehidup semati di depan mataku?


Ya Tuhan...


Apakah pengorbananku ini akan membuatku bahagia?


Atau akan membuatku menjadi orang yang paling sengsara seumur hidup?


"Mengapa.. cepat sekali?" hanya itu yang keluar dari mulutku.


Josh diujung sana membalas dengan nada cemas.


"Kamu tahu.. aku tidak punya banyak waktu.." ujarnya.


Josh.


Aku tahu.. tapi tetap saja ini berat sekali buatku.


....


"Apa kamu benar-benar mencintainya?" aku akhirnya hanya bisa mengatakan ini di tengah hatiku yang terkoyak.


Tak butuh waktu lama untuk Josh Rainer menjawabku.


"Kak.. aku siap mati untuknya jika itu bisa membuatnya bahagia... aku mencintainya dan tak ada lagi hal di dunia ini yang kuinginkan selain mencintai dia sampai mati."


Air di pelupuk mataku kini jatuh deras tak tertahankan.


Aku tahu nasibku sejak dulu tidak pernah mujur.


Aku tahu dan sudah terbiasa menjadi orang yang paling merana.


Namun, tidak ada hal yang paling menyedihkan di sepanjang kisah hidupku yang suram selain merelakan Josh Rainer dan Selena untuk bersama.


"Aku rela selama kalian berdua bahagia," aku akhirnya mengatakan ini dan kemudian segera menutup telfon.


Kemudiab melolong bak serigala yang kehilangan sinar bulan untuk selama-lamanya.

__ADS_1


 


__ADS_2