
Pov : Becca (flashback ke masa kecil)
Aku masih mengejar Aldebaran di depanku.
Aku masuk lebih dalam ke semak belukar yang membuat gaun princess berwarna pinkku menjadi lusuh.
Namun aku tidak peduli.
Aku hanya ingin berkenalan dengan Aldebaran dan ingin lebih dekat dengannya. Titik.
Setelah berjalan sekitar 100 meter, semak-semak itu akhirnya menuju ke pintu keluarnya.
Saat tiba di ujung semak, aku dihadapkan dengan lapangan besar berwarna hijau yang bisa dipakai untuk bermain sepak bola, basket hingga kasti.
Aku melihat sekeliling dan menyadari bahwa tidak ada Aldebaran dimanapun.
Dimana dia?
Aku mencoba berkeliling dan akhirnya mataku terpaku pada salah satu pohon yang kokoh dengan desain yang unik di dahannya.
Satu-satunya pohon yang memiliki rumah kayu di dahannya.
Aldebaran pastilah disitu!
Tidak pikir panjang, aku langsung berlari dan mencoba menaiki rumah pohon yang tidak memiliki tangga itu.
Ternyata aku harus memanjat beberapa dahan sampai menuju teras rumah ini!
Perlahan-lahan aku memanjati dahan pohon hingga akhirnya sampai di teras.
Dan disitulah aku mendengar perbincangan yang seharusnya tidak kudengar.
Antara Aldebaran dan lelaki yang dari suaranya terdengar seusia dengannya.
"Aku tidak akan mengambil ayahmu, kakekmu dan nenekmu. Aku tidak pernah bermaksud mengambil keluargamu darimu. Aku tidak seperti itu," kata Aldebaran dari dalam rumah pohon.
Aku berusaha mendekat dan menempelkan kupingku ke dinding kayu rumah yang tergantung di pohon itu.
"PEMBOHONG! KAMU ITU PARASIT! KAMU SAMA DENGAN IBUMU! KALIAN PARASIT!"
Saat itu, aku tidak tahu dengan siapa Aldebaran berbicara, namun perbedaan sifat sangat jelas terdengar dari keduanya.
Aldebaran terdengar sangat tenang dan dewasa sementara lawan bicaranya terdengar emosional dan kekanak-kanakan.
"Josh! Aku hanya ingin berteman denganmu! Aku juga tidak tahu bagaimana anak panti asuhan sepertiku bisa masuk ke keluarga ini..."
Josh? anak lelaki ini adalah Josh Rainer?
Aku bahkan lupa bahwa keluarga Gurnawijaya memiliki satu orang pewaris lainnya, yakni Josh Rainer.
Josh dikenal sebagai anak yang tertutup dan jarang terekspos di lingkungan sekolah kami. Aku bahkan tidak tahu bagaimana tampangnya. Yang aku dengar, Josh ini lebih suka menghabiskan waktu di rumah dan bermain musik.
"AKU TIDAK INGIN DEKAT DENGAN SEORANG PARASIT SEPERTIMU! PERGI!" kata Josh Rainer menolak ajakan pertemanan Aldebaran.
Aku masih mendengarkan dengan seksama
"Apa masalahmu?" tanya Aldebaran sabar.
"MASALAHNYA ADALAH KAMU! DENGAR APA KATA KAKEK KEMARIN? KAMU SANGAT MENYENANGKAN DAN MIRIP DENGAN DIA. KAKEK INGIN KAMU MENJADI PENERUS AYAHKU! DAN AYAH LEBIH BANYAK MENGHABISKAN WAKTU DI KAMAR MU DARIPADA DI KAMARKU!"
__ADS_1
"Josh Rainer! Dengarkan aku! Jika kamu khawatir aku akan menggangumu untuk menjadi pewaris utama keluarga ini, kamu salah besar. Aku tidak tertarik! Aku bersumpah tidak akan mengambil sepeserpun hartamu!"
"Aku pun tidak peduli dengan warisan sialan ini! Aku tidak butuh uang! Aku hanya ingin kamu tidak menganggu kebahagiaanku sebagaimana yang dilakukan ibumu! Jangan ganggu kehidupanku! Jangan ambil ayah dan kakekku!"
Suasana kemudian hening. Aldebaran tampaknya sudah tidak ingin melanjutkan debat karena tahu masalah utama Josh Rainer adalah tidak mau menerimanya sebagai anggota keluarga Gurnawijaya.
"Mau bagaimanapun kamu membenciku, aku akan selalu ada buatmu. Kamu adalah satu-satunya saudara sedarah yang kumiliki dan sudah kewajibanku untuk mendukung kakakku."
Kata-kata ini... merasuk ke jiwaku dan mengendap dalam hatiku
Disinilah, awal mula aku jatuh hati padanya.
Bagaimana seorang Aldebaran kecil dapat begitu sangat dewasa dan tulus?
Bagaimana seorang Aldebaran memiliki hati yang sangat baik meskipun dunia menentangnya?
Aku tidak pernah menyukai pria lebih dari ini.
Dia adalah cinta pertamaku, yang sempat berusaha kuhapus dari hidupku namun kembali kukejar karena memang dia begitu indah.
Rasanya seperti aku tidak bisa hidup tanpanya.
Kembali ke cerita dulu, Aldebaran keluar dari rumah pohon itu dan terkejut melihat aku tengah terpaku di depan pintu.
"Adik kecil, kamu tersesat?" katanya ramah saat itu.
Aku memilih mengangguk. Karena tak tahu harus mengatakan apa saking groginya.
"Ayo aku antar kembali ke rumah," katanya sambil menjulurkan tangannya kepadaku.
Aku masih mematung dengan wajah memerah. Aku ingin sekali memegang tangannya tapi sangat malu saat itu.
"Jangan bilang kamu naksir padaku?" katanya yang membuat mulutku terngaga.
Apakah begitu kelihatan?
Bagaimana dia bisa tahu?
Aku ingat perasaan malu setengah mati yang menjalar dari kepala sampai kaki saat itu.
Aldebaran kembali melemparkan senyum ramahnya padaku. Kali ini, dia langsung menarik tanganku dan membantuku untuk turun dari pohon yang cukup curam.
Aku berkeringat dingin hebat saat kami sudah tiba di bawah pohon dan dia melepaskan tangannya.
"Kak, kamu keren sekali!" aku akhirnya berhasil mengutarakan kekagumannya padaku.
"Terima kasih, ayo kita kembali. Orangtuamu pasti sudah mencarimu," katanya.
Sepanjang jalan, Aldebaran mewanti-wantiku untuk jangan pernah mengungkit perihal jalan rahasia menuju rumah pohon ini kepada siapapun.
Dia juga bilang bahwa aku terlarang untuk masuk ke tempat rahasia ini dan jika ketahuan aku akan dilarang untuk diundang dalam acara Gurnawijaya selanjutnya.
Barulah saat dewasa aku menyadari bahwa peringatan ini hanyalah gertakan saja dari Aldebaran agar aku tidak menyebarluaskan informasi kepada siapapun bahwa Josh Rainer selama ini memiliki tempat persembunyian dari kekejaman ibunya sendiri.
Dengan begitu, rahasia Josh Rainer aman dan tidak akan ada yang mengendus kemana perginya Josh saat dikurung dalam kamarnya oleh Celine.
Meskipun Josh berlaku buruk padanya, dia tetap ingin membantu kakaknya.
Dan akhirnya, aku juga tidak pernah menyangka bahwa Josh yang amnesia akan kabur bersama dengan perempuan itu dari pengawasan kami kemarin ke tempat persembunyiannya.
__ADS_1
Meskipun aku tahu, Aldebaran lah yang ada di belakang ini semua.
Bagaimana bisa orang yang sedang amnesia seperti Josh ingat betul soal tempat persembunyiannya?
Sudah pasti, Aldebaran yang membantu penyelamatan Josh Rainer kemarin.
Aldebaran tetap memprioritaskan keselamatan kakaknya, meskipun ibunya sendiri jelas-jelas ingin menghancurkan Josh Rainer agar Aldebaran dapat mengambil kesempatan menjadi penerus keluarga tunggal Gurnawijaya.
Dia tidak peduli dengan keinginan Celine dan tetap menjaga janjinya dulu bersama Josh Rainer. Dia bahkan melawan ibunya sendiri dan kini menahannya bak tawanan.
Satu hal yang memang tidak pernah berubah dari Aldebaran adalah janji. Dia orang yang sangat menepati janji.
Janji...
Dan cerita ini belum usai.
Saat Aldebaran tengah mengantarkanku untuk bertemu orangtuaku, aku mengatakan padanya bahwa aku ingin terus bermain dengannya.
"Apa aku boleh sering-sering main kesini?" pintaku.
Aldebaran tampak tak ingin menjawabku.
"Aku ingin berteman denganmu! Aku suka denganmu! Namaku Becca" ucapku lantang saat itu.
Aldebaran tampak terkekeh saat itu.
Dia kemudian memegang kedua bahuku dan mengatakan kata-kata yang membinasakan harapanku untuk pertama kalinya.
"Kamu tidak boleh suka denganku, aku sudah punya ratu," katanya saat itu.
Yang membuatku tidak mengerti kata-kata itu pada awalnya, namun langsung terasa pilu saat aku tahu bahwa hatinya sejak saat itu telah memilih cinta abadinya.
"Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri hanya akan bersama dengan satu wanita seumur hidupku. Namanya Selena."
.
.
.
.
.
...SAATNYA QUIZ!...
Duh ternyata cerita lama di dalam keluarga Gurnawijaya semakin pelik ya. Gimana pendapat kalian setelah banyak kisah yang terkuak?
A. Merasa kasihan sama Becca
B. Makin suka sama Aldebaran!
C. Josh Rainer berarti jahat ya?
D. Duh cepetan POV Selena lagi dong!
E. Semuanya!
Isi di kolom komentar ya! Dan ditunggu chapter selanjutnya ❤
__ADS_1