Menikahi Pembunuh Pacarku

Menikahi Pembunuh Pacarku
AWAL YANG BARU


__ADS_3

POV : Helena


Percikan air jernih lautan Kepulauan Seribu membasahi kakiku.


Di depan mataku, hamparan biru warna air laut di pulau pribadi ini menggugah mataku.  Khususnya ketika cuaca tidak terlalu terik di pagi hari ini.


Saat ini, aku tengah duduk di tepian dermaga kapal yacht yang letaknya di belakang vila pulau pribadi Keluarga Gurnawijaya.


Aku seperti merasakan dejavu.


Ke masa-masa saat aku dan Josh Rainer adalah sepasang kekasih yang disukai semua orang.


Dulu kami sering kesini. Josh kesini untuk menjauhi hiruk pikuk kota dan mencari lokasi yang tenang untuk berlatih kemampuan bermain biolanya sebelum dia mengikuti berbagai lomba internasional.


Di sela-sela latihan, kami akan selalu menyempatkan waktu untuk menyelam, berjemur hingga bermain jetski air di kawasan ini.


Hanya berdua saja, seakan-akan dunia hanya milik kami.


Namun, kali ini bukan Josh Rainer yang ada disampingku.


Melainkan Aldebaran.


Yang juga tengah mencelupkan kakinya ke dalam air laut di tepi dermaga ini.


Dengan tatapan kosong ke arah laut.


Untuk pertama kalinya, aku melihat sosok kuat ini terlihat sedih sekali.


Dia bahkan kelihatan lebih terguncang daripada aku.


Padahal, aku datang kesini untuk minta dikuatkan olehnya. Kenyataannya akulah yang kini berusaha  membesarkan hatinya.


Untuk sama-sama melanjutkan hidup kami yang saat ini tidaklah mudah.


Setelah diri kami “dibuang” oleh orang yang kami cintai masing-masing.


Ya, kisah cintaku yang gagal dengan Josh Rainer ternyata tidak ada apa-apanya.


Dibandingkan dengan pengorbanan yang telah dilakukan Al bertahun-tahun untuk mengejar cinta sejatinya.


Dokter Selena..


Jika kisah ini diangkat untuk menjadi karya drama, wanita itu adalah pemeran utama dalam kisah ini.


Dia mampu mengubah Al dari sosok luar biasa perkasa menjadi lemah hanya karena mencintainya.


Dia mampu membuat Josh Rainer yang sulit mencinta menjadi tergila-gila dalam kasih sayangnya.


Dan dia mampu membuatku menjadi orang paling menyedihkan dalam kisah ini.


Aku yang telah menunggu bertahun-tahun disamping pemeran utama pria dan kini malah ditinggalkan.


Tidak ada yang tersisa sama sekali.


Ternyata berbagai peran cinta yang aku perankan dalam karya drama hanya kisah semu belaka.


Cinta tidak seindah yang semua orang pikirkan.


Cinta itu sakit. Dan mampu membuatmu jatuh sampai tidak ingin bangkit.


Seperti yang dirasakan Al saat ini.


Kami terdiam lama sekali di temani hembusan angin sepoi-sepoi pagi di Pulau Seribu ini.


Sampai akhirnya, Al tersadar bahwa bukan hanya dia yang sedang merasa sedih disini.


“Helena.. setelah semua yang telah kuceritakan padamu, apakah kamu baik-baik saja?” katanya dengan suara parau.


Aku memandangnya dengan tatapan tak biasa.


Apakah aku baik-baik saja?


Aku rasa ya. Aku sudah mempersiapkan hatiku menerima yang terburuk setelah meminta Josh menunggu selama satu tahun lamanya.


Aku seperti yakin bahwa Josh tidak akan memperjuangkanku.


“Al, seharusnya pertanyaan ini diajukan untukmu bukan? Apakah kamu baik-baik saja?” tanyaku khawatir.


Al kini menunduk dan dengan senyum dangkalnya dia membalasku.


“Tentu saja aku tidak baik-baik saja. Aku perlu waktu,” ujarnya pelan.


Sepertinya aku harus meralat ucapanku.


Bukan aku yang menjadi orang yang paling menyedihkan dalam kisah ini.


Tapi Aldebaran.


Dibuang oleh keluarganya sejak bayi, menemukan harapannya saat bertemu Selena, dan harus berpisah dengan cintanya itu sampai baru bisa menemukannya sekarang.

__ADS_1


Dia juga tidak dianggap oleh saudara yang amat dia sayangi selama belasan tahun, tetap memperjuangkan harapannya dengan terus menyukseskan dirinya, namun akhirnya harus merelakan cintanya diambil oleh saudaranya sendiri.


Miris sekali.


Dan sepertinya dia benar-benar tidak akan baik-baik saja sampai waktu yang lama.


“Aku tidak pernah tahu bahwa hubungan kalian sejak kecil itu.. hanya.. akting?” tanya Al padaku mengonfirmasi.


Aku tersenyum mengingat hal itu.


“Semua orang menjodoh-jodohkan kami. Sementara Josh Rainer sangat anti keramaian. Jadi ya sudah.. aku mengambil inisiatif dan bilang ke semua orang bahwa kami berpacaran supaya wajahnya tidak selalu seperti kepiting rebus saat dia ke sekolah. Josh sangat berterima kasih padaku,” kataku sambil mengingat-ngingat semua itu.


Al tampak masih tak percaya.


“Aku sering mendengar kalian dari atas loteng, bicara tentang menikah di masa depan dan hidup bersama dengan punya banyak anak. Aku benar-benar masih tidak percaya bahwa Josh Rainer hampir tidak pernah mencintaimu..” Al masih tidak menerima kenyataan.


Aku menepuk punggungnya pelan.


“Al, kenyataannya memang seperti itu. Dia tidak pernah mencintaiku sebagaimana dia mencintai dokter itu. Aku hanyalah sahabatnya dan akan selalu begitu.  Dan yang kamu dengar, itu adalah bagian dari Josh Rainer membantuku latihan sejak kecil untuk mencapai mimpiku menjadi aktris professional.. aku tidak menyangka bahwa kamu juga berfikiran kami berpacaran sejak kecil..” aku menegaskan kembali.


Al kini mengangguk.


“Ya.. ini menjelaskan semuanya. Aku akhirnya paham mengapa dulu kamu bilang suka padaku, Helena. Aku saat itu marah sekali karena mengapa kamu tega sekali bermain-main dengan perasaan adikku?” katanya lagi.


Aku kini menghembuskan nafas panjang.


“Aku selalu menganggapnya sebagai saudaraku, Al. Namun perasaanku padamu dulu adalah perasaan yang benar-benar nyata antara perempuan dan laki-laki. Kamu langsung pindah ke Inggris saat itu untuk pergi jauh-jauh dari aku dan Josh. Padahal saat itu aku dan dia memang tidak pernah ada hubungan serius apapun,” jelasku.


Aku masih belum menyelesaikan bagianku.


“Sampai akhirnya dia memintanya untuk menjadi kekasihnya yang betulan..”


Mata Al kini sudah membelelak.


“Kamu tahu dia tidak mencintaimu tapi mengapa kamu menerimanya?” kata Al bingung.


Aku kembali mengingat masa-masa indah itu.


“Karena..aku saat itu menyadari.. bagaimana jika Tuhan memang mengirimkan Josh Rainer untuk selalu bersamaku sampai tua? Dan pernyataannya saat itu benar-benar menggugah hatiku..” kataku jujur.


“Apa yang dikatakan adikku saat itu?” Al kini sudah mengganti cara duduknya, sepenuhnya memandang kearahku.


Aku tersenyum mengingat-ngingatnya.


“Dia bilang begini.. Helena, aku memang tidak tahu bagaimana rasanya mencintai, tapi aku mau mencobanya dan jika kamu setuju aku akan terus berusaha seumur hidupku untuk menjadi pria yang selalu ada untukmu sampai rambut kita memutih dan raga kita terpisah,” aku mencontohkan suara dan gelagat Josh Rainer di depan kakaknya.


“Aku mengacaukannya, Al. Dia berusaha dengan sangat keras untuk mencintaiku dan bertahun-tahun semuanya terasa baik-baik saja. Sampai akhirnya aku menolak lamarannya.." aku sedikit tercekat saat membicarakan ini.


Karena menolak lamaran itu adalah hal yang paling kusesali dalam hidupku kini.


"Hanya karena.. aku ingin dia benar-benar mencintaiku, bukan hanya berusaha untuk mencintaiku saja.. Dan disinilah aku benar-benar selesai dengannya. Dia tidak kembali dan tidak ingin berusaha lagi karena aku sudah meminta hal yang tak mungkin untuknya..” jelasku sedih.


Al kini mulai bersimpati pada ceritaku.


“Dan pada akhirnya.. kamu benar-benar mencintainya?” Al mengonfirmasi lagi.


Aku kini menyeruk air dibawah kakiku dan memercikannya di wajah Al.


“Menurutmu kenapa aku kesini? Aku ingin menangis meraung-raung di depanmu karena hatiku dipatahkan oleh adik kesayanganmu itu! Eh… ternyata kamu jauh lebih membutuhkan pertolongan daripada aku..” kataku blak-blakan.


Akhirnya, Al bisa tersenyum sedikit saat ini.


“Maafkan aku, Helena. Aku hanya.. masih berusaha memproses semua ini. Aku bahagia jika orang yang aku sayangi bahagia, tapi mengapa rasanya begini sakit?” ucapnya dalam.


Matahari kini semakin terik. Dan aku bisa melihat jelas bulir-bulir airmata kembali jatuh dari sudut mata Al.


Aku meraih lengannya.


“Karena aku dan kamu adalah manusia, Al.  Rasa sakit adalah bukti bahwa kita hanyalah manusia yang rentan, dan mengalahkan rasa sakit akan menjadikanmu manusia yang bijak,” kataku separuh berbisik padanya.


Al melihatku seperti kaget sekali.


“Sadarkah kamu cara bicaramu kini semakin mirip dengan Josh?” tanya Al dengan alis terangkat.


Aku tertawa padanya.


“Menjadi kekasih palsu dan beneran dengannya bertahun-tahun, tentu saja aku menyerap banyak darinya.Terutama soal kata-kata puitis seperti ini. Ini sangat membantuku dalam membaca skenario untuk dramaku loh,” kataku bersyukur.


Al masih menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Aku masih tidak percaya kamu dan Josh Rainer tidak akan menjadi sepasang suami istri,” Al masih sulit menerima ini semua.


Al benar-benar berada di titik terendahnya.


“Yah, apalagi yang bisa aku buat? Memarahi Tuhan? Mengamuk pada Josh Rainer bahwa aku gagal menjadi Nyonya Gurnawijaya yang bergelimang harta?” kataku sarkas.


Al kini tengah mengasihaniku.


“Helena, maaf aku bertanya soal ini. Tapi, apakah kamu menginginkan harta keluarga kami?”

__ADS_1


Aku tidak percaya apa yang kudengar.


Setelah bertahun-tahun menjadi sahabat dekat Gurnawijaya, mereka menganggap aku akan mencuri harta mereka?


“Aku punya karir yang bagus, prospek yang baik, dan tentu saja uang yang akan mengalir deras. Mengapa aku harus mengemis dibawah ketek kalian? Aku bisa mendapatkan semuanya tanpa aku menjadi keluarga Gurnawijaya,” kataku sedikit kesal.


Al malah kelihatan puas sekali.


"Bagus lah, dengan begini aku semakin yakin bahwa kamu benar-benar tidak ada kaitannya dengan Becca," kata Al lega.


Becca..


Selama ini aku tidak pernah menyadari bahwa dia adalah ular.


Untung saja Al selama ini mengacuhkannya dan pertunangan antarkeduanya belum terlaksana.


"Aku benar-benar tertipu dengan ular itu! Kalau kamu tau dia dimana, antar aku karena aku ingin menjambaknya! Dia hampir membunuh Josh dan membahayakan posisimu di Tel-X dengan skandal pencucian uang itu! Bertahun-tahun dia berpura menjadi anak yang manis di depanku, ternyata dia gadis sundal!" pekikku.


Sepertinya, semua sumpah serapahku terhadap Becca mempengaruhi mood Al dengan baik.


Karena sekarang dia tertawa.


Lepas sekali.


Dan aku lega melihatnya. Si lelaki kuat itu akhirnya kembali ke wajahnya yang asli.


"Sayangnya, hanya Josh Rainer yang tahu dimana perempuan Sundal itu sekarang. Josh menutup mulutnya rapat-rapat agar semua sesuai dengan rencana," balas Al masih tak tahan untuk tidak tertawa.


Ah, Josh Rainer selalu begitu.


Dia selalu bekerja sendiri dan tidak ada orang yang dapat menganggu setiap rencana briliannya.


Si detektif itu sepertinya kini menemukan pasangan yang pas dengannya.


Dokter Selena..


Karena aku bukalah tipe wanita yang senang bermain dengan logika dan tebak-tebakkan yang memusingkan seperti itu.


Aku hanyalah wanita yang senang menikmati hidup dan mengisinya dengan sesuatu yang kusukai, seperti berakting dan modelling.


Yang artinya, aku memang tidak akan pernah menjadi wanita yang pantas untuk Josh Rainer.


"Ayo kita pulang kalau begitu. Kamu kenal Josh, dia akan menyelesaikan semuanya sendiri dan tak ada lagi yang harus kita lakukan disini. Kita tinggal tunggu saja undangan pernikahan mereka," kataku mencoba santai dan kini beranjak dari tempatku.


Kemudian, aku memberikan tanganku kepada Al untuk mengikuti jejakku.


"Pu..pulang? Maksudmu ke Inggris?" Al kebingungan dengan ajakanku. Kini dia sudah berdiri di belakangku.


"Tentu saja.. Kamu mau meratapi nasibmu sampai 10 tahun ke depan disini? Hidup kita masih panjang dan hal ini tidak layak ditangisi sampai seumur hidup. Jangan rusak yang sudah ditakdirkan Tuhan untuk terjadi," kataku padanya.


Wajah Al tampak bengong mendengarku.


"Bagaimana..bagaimana bisa kamu setegar itu?" Al takjub melihatku.


Aku kini berjalan menuju ke arahnya. Dan kini aku kembali mengelus bahunya.


"Aldebaran, aku mencintai Josh Rainer. Tapi aku lebih mencintai diriku sendiri. Dan kini Josh Rainer telah membebaskanku. Hidup harus terus lanjut dan aku tidak boleh kalah hanya karena satu hal tidak sesuai harapanku, bukan?" ucapku.


Kelihatannya, saat mengatakan ini semua aku melakukannya dengan gampang sekali. Namun, faktanya hatiku masih teriris-iris.


Namun, tak ada artinya aku terus bersedih dan tidak melakukan apa-apa bukan?


Duniaku terus berjalan dan ini lebih penting untuk kujalani keseriusi ketimbang menyalahkan diri sendiri dan nasib yang tak sesuai dengan keinginanku untuk menjadi pasangan hidupnya selamanya.


"Helena... kamu dewasa sekali.." Al masih terpancang di tempatnya.


Aku tersenyum menggodanya.


"Saat kamu pertama kali datang dari panti asuhan, aku tergila-gila pada sosok yang aku pikir sangat dewasa untuk seusianya. Ternyata kamu segini saja.." candaku.


Al tersenyum dan kini meraih punggungku.


Dia memelukku.


Lelaki yang sedang rapuh ini benar-benar butuh kekuatan untuk bangkit.


"Terima kasih Helena," bisiknya masih memelukku. "Kata-kata sarkas mu selalu jadi moodbosterku.." lanjutnya.


"Cepat sembuh, Al. Lanjutkan hidup dan ciptakan rumah baru untuk kita masing-masing," kataku kembali berbumbu ala-ala Josh Rainer.


Di tengah teriknya matahari, aku merasa badan Al juga semakin panas. Semoga saja, ini tandanya dia kembali bersemangat untuk menjalani hidupnya.


"Helena.. kita sama-sama pulang ke Inggris ya?"


Aku tersenyum mendengar ajakan itu. Ini akan menjadi petualangan yang baru dari dua insan yang patah hati untuk kembali memulai hidup masing-masing.


Dan meraih kebahagiaan yang berhak dimiliki semua orang.


Termasuk, untuk aku dan Aldebaran.

__ADS_1


__ADS_2