Menikahi Pembunuh Pacarku

Menikahi Pembunuh Pacarku
DI LUAR KHAYALAN


__ADS_3

Aku tidak mengerti.


Di pikiranku, aku membayangkan diriku, Josh Rainer dan neneknya menggelar konferensi pers tandingan untuk membalas apa yang telah dilakukan Celine.


Wartawan akan mencecarku dengan beragam pertanyaan dan menghujaniku dengan kilatan lampu kamera. Aku mengambil kesempatan itu untuk memaparkan fakta bahwa aku dan Josh lah yang menjadi korban dari kekejaman Celine, bukan sebaliknya.


Di imajinasiku, aku akan memutar rekaman sahih yang ku ambil di balik pintu perpustakaan tersebut di depan para wartawan. Mereka akan terkejut mengetahui hal yang sebenarnya : aku dan Josh telah menjadi korban persengkongkolan jahat Celine dengan motif perebutan kekuasaan salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia tersebut.


Setelahnya, Celine bakal ngompol saking takutnya mendekam seumur hidup di bilik penjara yang dingin. Dia dan Becca mencoba mencari jalan untuk kabur, namun polisi yang dikirim oleh Josh Rainer tidak bisa dilawan. Mereka akan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di hotel prodeo, mungkin untuk beberapa tahun atau hingga selamanya.


Lalu, dengan sendirinya nama baikku akan bersih, aku bisa melanjutkan hidupku kembali dan pulang ke rumah orang tuaku dengan rasa aman.


Dan tentu saja, Josh Rainer akan duduk kembali di tempatnya sebagai CEO Tel-X. Nyonya Gurnawijaya tetap menjadi pemegang saham terbesar Tel-X karena seluruh saham curian Celine akan terdelusi dan tidak ada artinya untuk kelangsungan perusahaan.


Aku pikir itu yang akan terjadi.


Nyatanya...kami tidak melakukan apa-apa.


Kami tidak melakukan serangan balik, malah hanya berdiam diri di ruangan pertemuan dan menunggu apa yang akan dilakukan Celine setelahnya.


Sangat amat jauh dari ekspektasiku.


Padahal, mereka sebelumnya tegas mengatakan tidak akan membiarkan Celine menghancurkan keluarga mereka lebih dalam dan segera membersihkan namaku.


Namun, komitmen itu tidak terlihat dari gerak-gerik mereka saat ini.


Josh Rainer dan neneknya kini tengah duduk bersandar sambil mendiskusikan risiko keuangan perusahaan setelah dibobol Celine. Hanya ada aku, Josh Rainer, neneknya dan Margaretha di dalam ruangan pertemuan keluarga yang sangat luas ini.


Mulutku terasa gatal dan ingin menginterupsi mereka.


Sudahkah mereka menyiapkan rencana untuk menjebloskan Celine ke dalam penjara?


Celine sendiri mengatakan akan melakukan konferensi pers pagi ini untuk menyambut penerus kekuasaan Tel-X yang baru, Aldebaran Gurnawijaya.


Apakah Josh dan neneknya tidak berusaha untuk mengagalkan rencana busuk lanjutan yang dilakukan Celine?


Mengapa mereka tampak duduk santai dan membicarakan hal lain, sementara ada masalah yang belum diselesaikan disini?


Aku sungguh tidak mengerti.


Tiba-tiba saja, Margaretha menerima pesan masuk dari walkie talkie canggih yang selalu dia genggam di tangannya. Terdapat layar kecil di walkie talkie itu yang tampaknya bisa memantau seluruh sudut ruangan rumah ini dan menerima pesan dari anak buahnya via virtual.


Setelahnya, dia kelihatan mengangguk, kemudian berjalan menuju layar proyektor dan menghidupkannya.  Margaretha kemudian membesarkan volume dari siaran langsung yang tampaknya diberitakan oleh seluruh stasiun televisi nasional saat ini.


Siaran langsung konferensi pers yang disiapkan Celine.


Yang akan memperkenalkan Aldebaran sebagai pengganti Josh Rainer dan kembali menikamku sebagai terduga penculik dan rencana pembunuhan CEO Tel-X yang sedang sakit keras.

__ADS_1


Sementara itu, Josh dan neneknya masih tampak santai dan tenang. Nenek Josh bahkan beberapa kali menyeruput teh kesukaannya itu beberapa kali sambil mencecapkan lidahnya.


“Sudah mulai?” tanya nenek Josh dengan nada biasa saja.


Margaretha mengangguk dan mempersilakan Nyonya Gurnawijaya yang sebelumnya duduk di sofa untuk bergeser menuju kursi pertemuan di depan proyektor. “Sebentar lagi Nyonya,” balas Margaretha.


Josh juga berdiri dan bergerak menuju kursi di ruang pertemuan. Dia kini berdiri bersisian denganku.


“Enjoy the show,” ucap Josh sambil tersenyum padaku.


Dia juga menepuk bahuku seperti memberikan semangat atas apa yang akan dibicarakan Celine dalam konferensi pers ini.


“Kenapa kita hanya diam saja disini?” tanyaku dengan nada meninggi, mengeluarkan kebingunganku.


Josh masih memasang senyumnya, yang dingin tapi misterius itu hanya buatku.


“Kamu akan tahu sebentar lagi,” katanya santai.


Apa tidak ada satu orangpun disini yang ingin menjelaskan padaku mengapa dua orang kaya ini sangat tenang sementara Celine akan segera mencuri seluruh harta mereka sebentar lagi?


Nenek Josh tampaknya paham dari wajahku yang kalut bahwa aku sedang butuh penjelasan.


“Selena, percayakan pada kami,” katanya meyakinkanku.


Aku tidak bisa mengatakan apapun selain menganguk. Kini aku sudah melipat dada, sedikit kesal dengan bagaimana mereka tidak menjelaskan rencana diam mereka yang sangat penting buatku.


Padahal, aku sudah mengatakan semua yang kuketahui tentang Celine dan memiliki bukti yang tak bergerak. Lantas, mengapa mereka tidak bisa melakukan hal yang sama terhadapku?


Mengapa mereka hanya menyusun rencana ini berdua saja dan tidak ingin melibatkan aku?


Aku bukannya mau ikut campur, namun aku tegaskan kembali bahwa ini sangat-sangat berpengaruh terhadap masa depanku.


Dan semua ini terjadi karena aku secara sukarela membantu penyelamatan pewaris keluarga Tel-X. Aku hanya ingin mereka terbuka terhadap rencana mereka sebagaimana aku juga terbuka tentang semua hal yang terjadi. Tapi mereka malah tidak ingin aku sama sekali terlibat disini.


Mereka tidak menganggapku ada disini.


Josh yang meminta kesempatan padaku itu bahkan tidak ingin terbuka denganku.


Aku kecewa.


Pikiranku tiba-tiba teralihkan dengan bunyi langkah orang yang masuk dalam ruangan konferensi pers. Tak butuh waktu lama, para wartawan foto menghujani orang itu dengan kilatan dan bunyi jepretan kamera.


Namun sosok yang masuk ke dalam ruangan itu sanggup membuat jantungku serasa mencelos.


Aldebaran.


Dengan badan tegapnya, dia masuk ke ruangan konferensi pers dan telah duduk dengan microphone yang tertempel di depan mejanya.

__ADS_1


Aku terkejut.


Bukan karena perawakan Aldebaran yang terlihat sangat gentle dengan setelan tuksedo berwarna biru laut. Bukan juga karena wajah menawan dan kepercayaan dirinya ketika dia mulai menghidupkan microphone untuk mulai bersuara.


Namun, karena tidak ada siapapun yang mendampingi dia saat ini. Tidak ada Celine dan Becca. Hanya Aldebaran sendiri yang menjadi narasumber dalam konferensi pers hari ini.


Pasti ada yang tidak beres.


“Selamat pagi teman-teman media semuanya,” katanya memulai sambutan.


Aku mendelik ke arah Josh, minta penjelasan yang konkret mengapa Celine selaku otak kejahatan tidak hadir di acara sepenting ini. Namun, Josh malah menempatkan telunjuknya di bibir, memintaku untuk tidak bersuara dan dengarkan saja penjelasan dari Aldebaran.


Sementara itu, Nenek Josh juga tidak terlihat kaget sama sekali melihat cucu yang tidak pernah dia anggap ada di depan matanya saat ini.


“Saya Aldebaran, adik tiri dari Josh Rainer selaku CEO Tel-X International. Mungkin banyak yang belum tahu bahwa Josh memiliki adik, sampai Ibu saya tadi malam memberitahukan kalian bahwa Josh telah meminta  saya untuk mengambil alih posisinya,” kata Aldebaran membuka konferensi pers dengan suaranya yang sangat macho.


Aku, Josh Rainer dan Nyonya Gurnawijaya menunggu lanjutan penjelasan darinya.


“Pada kesempatan ini, dengan berat hati, saya ingin memberitahukan bahwa saya tidak bisa menerima tawaran dari kakak saya tersayang itu. Dikarenakan, saat ini saya sedang dalam konsentrasi penuh untuk mewakili Indonesia dalam kejuaran Olimpiade cabang olah raga berkuda, yang akan berlangsung dua bulan lagi,” katanya dengan kemampuan public speaking yang sempurna.


Aku masih mencerna kata-kata Aldebaran.


Dia menolak jabatan CEO Tel-X?


Bukankah ini namanya dia sedang menghancurkan apa yang sudah disiapkan Celine untuknya?


“Saya juga ingin meluruskan isu mengenai kakak saya yang dibawa lari oleh dokter pribadinya dan dugaan rencana pembunuhan, yang sejak tadi malam beredar luas di khalayak. Semuanya itu tidak benar,” katanya lagi.


Kini jantungku rasanya seperti berhenti berdebar.


Apa yang terjadi disini?


Mengapa Aldebaran, anak kandung Celine malah membuang semua usaha yang dilakukan ibunya untuk membantu Josh Rainer?


Bagaimana bisa dia menyia-nyiakan seluruh rencana kotor ibunya dengan menolak jabatan CEO?


Dan mengapa harus Aldebaran yang membersihkan namaku, sementara aktor utamanya adalah Celine?


Semua kejanggalan ini berputar-putar di kepalaku.


Sementara itu, Josh Rainer hanya memamerkan senyum lebarnya padaku. Tanda puas dengan apa yang disampaikan Aldebaran.


Rencana apa yang sebenarnya kamu susun Josh?


Jika aku penting buatmu, mengapa kamu tidak memberikan aku kesempatan untuk terlibat?


Aku kini merasa frustasi dan kecewa bersamaan. Rasa yang sangat antitesis dengan perasaan membuncah bak bunga yang mekar yang kurasakan untuk Josh Rainer beberapa jam sebelumnya.

__ADS_1


 


__ADS_2