Menikahi Pembunuh Pacarku

Menikahi Pembunuh Pacarku
TAMU TAK TERDUGA


__ADS_3

Akhirnya, sampai juga di hari ini.


Hari yang kutunggu-tunggu sejak tiga minggu lalu. Menyelesaikan permintaan tidak berperasaan ayah dan ibu Dio kepadaku.


Uang ganti rugi biaya pernikahan karena kematian anaknya.


Cek bertuliskan nominal Rp500 juta rupiah itu kini sudah ada di genggamanku. Setelah aku memberikannya pada keluarga Dio, urusanku dengan mereka akan selesai.


Mereka tidak bisa lagi menghina dan menginjak-injak keluargaku.


Kami akan bebas.


Sebentar lagi.


Aku kini telah bersiap dan memandangi potret diriku di cermin besar di kamarku. Aku mengenakan celana kulot panjang hitam dengan blus lengan panjang warna senada dengan potongan asimetris.


Meskipun aku berpakaian serba hitam, wajahku kini sudah tak lagi menyiratkan rasa berduka. Wajah mendung tiga minggu lalu itu kini sudah tergantikan dengan mata cemerlang. Semburat merah di pipiku kini semakin nyata yang menandakan aku dalam kondisi sehat.


Aku kembali menjadi diriku sendiri setelah tiga minggu ditinggal pergi belahan hatiku untuk selama-lamanya.


Dio, kini aku berjuang kembali di hidupku.


Aku bangkit dan akan berusaha menjalani hidupku sebaik-baiknya.


Sampai nanti kita bertemu lagi di atas sana.


Tunggu aku, Dio.


Aku mengecek jam tangan dan waktu sudah menunjukkan pukul 8.30 pagi. Aku masih punya waktu 30 menit sebelum Becca menjemputku.


Ya, tadi malam dia bersikeras untuk datang menjemputku. Becca bicara terburu-buru sampai aku tidak sempat menanyai perihal kedatanganya ke kantor Josh Rainer kemarin. Dia langsung mematikan telfon saat aku mengiyakan tawarannya untuk menjemputku pagi ini.


Becca, kamu harus memberikanku alasan yang bagus tentang keterlibatanmu pada masalah Josh Rainer atau aku akan sangat sedih melihat teman terbaikku ikut bersekongkol untuk mencelakakan orang.


Aku mengambil tasku dan segera bergegas menuju ke luar kamar.


Aku akan menemui Josh Rainer dulu sebelum Becca tiba kesini.


Seharusnya, Josh tengah menikmati sarapannya saat ini. Aku membuka kunci dan masuk ke kamarnya. Di ruang tamu kamarnya, ada troli sarapan yang belum tersentuh oleh Josh.


Aku mendongak mencari Josh Rainer di tempat tidurnya. Namun dia tidak ada disana.


“Josh?”


Aku mengetuk kamar mandinya, namun disana juga kosong. Aku kemudian bergeser ke jendela geser di samping tempat tidurnya untuk menuju balkon. Mencarinya disana.


Aku menginjakkan kaki di balkon kamar yang besar itu dan mendapatinya tengah duduk bersila di atas matras.


Kedua tangannya berada di ujung lutut dan matanya terpejam.


Josh Rainer ternyata sedang melakukan gerakan yoga.

__ADS_1


Entah mengapa pemandangan ini tampak sangat indah di mataku.


Bukan karena Josh Rainer yang tengah bertelanjang dada dan menunjukkan otot di perut dan lengannya.


Bukan juga karena paparan sinar matahari yang membuat badannya berkilau bak pasir di lautan pada siang hari.


Tapi memandanginya saat ini memberikan kedamaian padaku.


Rasanya seperti energinya mengajakku untuk ikut menenangkan diri dan melepaskan semua kesedihanku.


Hatiku terasa damai.


Mungkin aku memandanginya satu menit atau sudah lima menit? Entahlah. Aku terpaku di tempatku dan rasanya tidak mau kedamaian ini langsung beralih begitu saja.


Sampai akhirnya aku sadar Josh telah menyelesaikan posenya.


Dia kini dia menatap lurus ke arahku.


Pandangan matanya yang tajam seperti mengulitiku.


Tatapan itu dingin, sama seperti saat pertama kali aku bertemu dengannya di rumah sakit dulu. Yang membuatku berpikir dia adalah orang yang arogan sama dengan ibu tirinya.


Namun dua minggu mengenalnya, persepsi itu salah total.


Kini, tatapan mata dingin itu diiringi oleh senyum lebar yang tercetak di wajahnya.  Dia kini beranjak dari matrasnya dan bangkit menuju ke arahku dengan senyum yang masih mengembang. Kini aku sepenuhnya melihat sosok Josh Rainer yang hangat.


Kamu berdiri berhadap-hadapan. Aku baru menyadari dia cukup tinggi untuk ukuran pria Indonesia. Aku sendiri sudah cukup tinggi dibandingkan teman-teman perempuan ku lainnya yakni setinggi 170 cm. Tinggi Josh Rainer mungkin hampir 190 cm, karena saat ini kepalaku setara dengan tengah dadanya.


Entah sengaja ingin pamer atau bagaimana, Josh tampak berpose di depanku memamerkan otot six pack nya.


Aku bisa melihat dengan jelas bulir-bulir keringat mengalir dari dahinya, turun menetes ke pundaknya yang bidang dan melewati perut kotak-kotaknya sebelum jatuh ke lantai.


Belum lagi rambutnya yang selalu rapi kini terlihat acak-acakan karena keringat. Dia berulang kali merapikan rambutnya dengan satu tangannya kemudian berkacak pinggang. Sekilas, aku melihatnya seperti pemain film Hollywood kesukaanku, Chris Hemwsorth namun dengan kearifan lokal.


Wajahku saat ini pasti saat ini memerah.


Tidak. Aku tidak boleh salah fokus. Pandang saja wajahnya seperti biasa, Selena!


“Pagi, Dokter Selena.”


Tanpa kusadari, Josh telah memegang papan tulis kecil untuk interaksi diam-diam kali selama ini dan menunjukkkan kata-kataku itu di depanku.


“Selamat pagi! Kamu bisa melakukan yoga?”


Balasku mencoba fokus ke papan tulis, tidak ke Josh Rainer. Jika dia melihat wajah merahku, aku pasti akan dicap sebagai dokter yang tidak professional.


“Aku selalu melakukannya jika sedang butuh ketenangan.”


Aku lalu mengambil spidol dari tangannya, masih tetap tidak mau memandang Josh. Di depanku, dia masih berkacak pinggang dengan wajah tampannya.


“Aku juga ikutan tenang tadi melihatmu.”

__ADS_1


Josh tampak terperangah.


Aku sedikit menyesali kata-kata itu dan mencoretnya secepat kilat.


“Maksudku, energi yogamu bahkan menular ke aku. Aku jadi merasa lebih tenang. Pagi ini aku gugup sekali,” kataku langsung bahkan tanpa menuliskannya ke papan tulis. Kemudian aku menyadari hal tersebut sangat salah dan mencoba meraih papan tulis lagi.


Namun Josh Rainer menahanku. Dia tersenyum simpul kemudian mengambil kaus olahraga di meja yang tak jauh dari tempat kami berbicara.


Jujur, aku senang saat dia kini memakai kembali pakaian olahraganya sehingga wajahku tidak akan memerah lebih lama. Aku butuh pengalihan.


Kini dia sudah lengkap dengan pakaian olahraganya dan duduk di kursi balkon. Dia mempersilahkanku untuk duduk di sampingnya.


“Kenapa kamu gugup?”


“Kamu bisa bicara tanpa menulis, aku sudah cek disini tidak ada perekam suara. Tapi ada perekam kamera yang tergantung di ujung taman sana. Kita tidak akan terlalu terlihat namun untuk jaga-jaga, lebih baik aku tetap berakting seperti ini kan?”


Si pria pintar ini sudah mengecek di daerah mana saja di sekitar kamarnya yang berpotensi membuat rahasianya terbongkar. Untung saja balkon ini tidak dipasangi penyadap.


“Hari ini aku akan ke rumah orang tua tunanganku yang telah tiada. Aku menunggu hari ini tiba tapi di satu sisi aku juga takut,” kataku membayangkan betapa mengintimidasinya orang tua Dio selama ini.


Josh tampak sedih mendengar kata-kata itu. Apakah dia punya pengalaman yang sama denganku yakni ditolak mentah-mentah oleh calon mertua?


“Apa yang bisa aku bantu supaya kamu tidak takut?”


Aku sedikit terenyuh melihat kalimat itu.


“Tidak usah Josh, menjadi dokter pribadimu telah menyelesaikan masalah dengan mereka. Kini, aku bisa membayar uang ganti rugi pernikahan yang mereka minta padaku. Untuk kali ini, aku harus berterima kasih pada Celine.”


“Makanya hari ini aku akan menyelesaikan satu-satunya urusan terakhirku dengan mereka. Aku sangat senang tapi entah kenapa aku merasa intimidasi mereka tidak akan selesai begitu saja. Mereka sangat membenciku karena akulah yang menyebabkan anak laki-laki semata wayangnya meninggalkan dunia ini,” jelasku panjang lebar.


“Josh?” aku mencoba mengajaknya bicara lagi namun dia terlihat sangat tidak nyaman dengan ceritaku.


Apa dia sedang bersimpati atas penderitaan yang aku alami?


Dia akhirnya terkesiap dan sadar tengah berbicara denganku. Dia lalu mengampil spidol lagi dan menuliskan kalimat berikutnya di papan tulis.


“Aku minta maaf.”


Aku terperangah.


“Maaf? Kenapa kamu harus minta maaf?” tanyaku bingung.


Di saat Josh Rainer ingin menjawab, kami dikagetkan dengan sosok perempuan berambut ikal yang tiba-tiba saja ke luar dari kamar Josh dan berada di balkon yang sama dengan kami.


Jantungku hampir copot melihatnya.


Didepanku berdiri Becca yang sama kagetnya melihat interaksi dekat antara aku dan Josh.


“Apa yang kalian bicarakan? Bukannya kamu bilang dia amnesia?”


Becca terlihat ketakutan. Sama halnya dengan aku yang sudah tidak tau lagi harus berkata apa.

__ADS_1


__ADS_2