Menikahi Pembunuh Pacarku

Menikahi Pembunuh Pacarku
IDENTITAS SEBENARNYA


__ADS_3

Lelaki yang berusaha melindungiku dan tengah memiting Becca saat ini adalah Aldebaran?


Apa aku tidak salah dengar?


Aku kembali memandangi pria misterius yang masih memiting Becca di depanku.


Dia memakai topi dan masker serta baju setelan hitam lengan panjang yang membuat aku tidak bisa mengenalinya.


Namun, aku tahu betul suaranya.


Aku tidak mungkin salah.


Saat menyadari bahwa lelaki yang menghentikan tindakan anarkisnya adalah Aldebaran, Becca tampak kaget sekali.


Dan entah bagaimana, Becca seperti kembali pada kesadarannya.


“Al? Aldebaran sayangku.. tidak.. ini tidak seperti yang kamu lihat,” katanya langsung bereaksi berbeda.


Ternyata, Becca tidak butuh obat penenang yang sedang diambilkan oleh pengawalnya.


Obat penawar untuk kejiwaan Becca adalah Aldebaran.


Kini, Becca sudah tidak lagi meronta-ronta. Dia malah kelihatan ingin mendekatkan kepalanya ke wajah pria misterius.


Dia berusaha menempelkan bibirnya ke telinga lelaki itu untuk berbisik.


Dan karena disini sepi sekali, aku bisa mendengar semuanya dengan jelas.


“Sayang..Selena mencoba mencelakaiku. Dia ingin merebutmu dariku, sehingga aku harus mengurungnya disini.. ini..” kata Becca mencoba menjelaskan situasi palsu untuk menyelamatkan citranya di depan Aldebaran.


Dan tidak kuduga, respons pria misterius membuat mataku terbelalak.


“Kamu membuatku jijik,” katanya tanpa belas kasihan.


Becca tampak terperangah mendengar kata-kata tidak berperasaan itu dari orang yang sangat dia kasihi.


Pasti hati Becca sakit sekali.


Sementara itu, pria misterius kembali memberikan instruksi kedua bodyguard yang ingin menyerang mereka untuk mundur.


“Aku beri waktu kalian sampai lima untuk pergi dari sini sekarang!” teriaknya kepada pengawal yang sudah menyiapkan kuda-kuda.


Mereka tidak ingin menurut.


Pengawal itu malah mencoba menyerang penyelamatku yang masih memiting Becca di dekapannya.


Namun, pria misterius bereaksi gesit. Alih-alih melukai badannya, dia malah melemparkan Becca ke arah si pengawal.


Tak kusangka seorang Aldebaran akan melakukan ini.


Dengan tidak berperasaan dia mengumpankan Becca dan akhirnya Becca lah yang terkena tendangan maut si pengawal!


“AAAAAAAAAH!” teriak Becca kesakitan.


Sementara itu, saat tubrukan antara Becca dan pengawal menutupi pandangan pengawal yang memegang pistol, pria misterius buru-buru menggendongku.


Dan dengan cepat dia berlari menuju lemari di belakang tumpukan kardus tinggi untuk menyelamatkan diri dari peluru.


“DOOR”


Jantungku sekarang seperti naik roller coaster.


Tembakan itu tipis sekali hampir mengenai kami. Dua boks di samping kami kini sudah tumbang akibat tembakan itu.


Sementara itu, sambil menggendongku, pria misterius kembali berjalan menjauhi tumpukan kardus yang tidak akan mampu menyelamatkan kami dari tembakan.


Dia membawaku ke ujung ruangan di sudut gudang ini saat para pengawal masih mengira kami berada di belakang kardus.


Kami kini tengah berlindung di lemari yang tampak kokoh di sudut ruangan.

__ADS_1


Dua pengawal itu pasti masih mengira kami di belakang kardus. Tembakan kembali terdengar dengan harapan dapat melumpuhkan kami.


Sementara itu, aku bisa merasakan degup jantung pria penyelamatku yang sama kencangnya dengan punyaku saat ini.


Dia tetap tidak ingin melepaskanku dan masih memelukku erat.


“Kamu tidak apa-apa kan?” katanya pelan sambil mencoba memegang tangan dan kepalaku.


Aku menggeleng lemah padanya.


Namun, mataku tidak bisa menutupi ketakutanku mengenai betapa buntunya kami saat ini.


Aku khawatir kami tidak akan bisa keluar selamat dari sini.


Saat ini, posisi kami berada di sudut gudang dengan lemari kayu sebagai penghalang kami dari para algojo.


Hanya tinggal menunggu waktu, para pengawal itu akan segera tahu bahwa kami sudah tidak berada di belakang kardus.


Mereka akan berpencar mencari kami.


Dengan gudang yang tidak terlalu besar, mungkin hanya perlu waktu kurang dari lima menit untuk menemukan kami tengah bersembunyi di belakang lemari ini.


Sementara itu, pintu keluar jauh berada di seberang kami. Pintu keluar lebih dekat dengan posisi para pengawal dan Becca saat ini.


Kami tersudut.


Tahu bahwa aku tengah kalut, pria misterius mengelus kepalaku.


 “Percaya padaku, kita akan keluar hidup-hidup dari sini,” ujarnya pelan masih dalam balik maskernya.


Aku ingin sekali mempercayai omongan ini.


Namun situasi saat ini benar-benar tidak berpihak pada kami.


“JANGAN TEMBAK LAGI BODOH! JANGAN BUNUH TUNANGANKU!”


“HABISI PEREMPUANNYA, TAPI JANGAN LELAKIKU. JANGAN TEMBAK ASAL-ASALAN LAGI. KALAU TUNANGANKU TERLUKA, KELUARGA KALIAN JADI TARUHANNYA,” perintahnya pada si pengawal jelas.


“Siap Nona,maafkan kami,” balas salah satu pengawal.


Becca, meskipun telah diumpankan untuk dilukai oleh para pengawal itu, tetap masih membela Aldebaran dan mencintainya sepenuh hati.


….


Aku lalu menatap pria penyelamatku itu.


“Kita akan segera.. ketahuan disini,” kataku pelan, meringis sambil menahan sakit.


“Aku tidak akan membiarkan kita ketahuan oleh mereka,” kata pria misterius tegas.


“Kamu akan selamat.. aku..” aku mencoba berbicara namun pinggangku semakin ngilu.


Aku takut tidak sempat mengatakan permintaan terakhirku padanya karena sakit tak tertahankan di perutku.


“Aku akan selamat, dan kamu juga akan selamat,” dia memotong bicaraku dan kembali menjawabnya tegas.


“Tolong..jaga orang tuaku. Tolong hibur mereka jika aku..”


“Aku tidak akan membiarkanmu mati! Kalau kamu mati, aku juga mati,” katanya kini dengan nada tinggi.



Oh tidak.


Rasanya seperti jantungku tertikam.


Di tengah perasaan menderu karena nyaris di ujung tanduk ini.


Di tengah jantung kami yang saling berpacu, aku kini menatap matanya dalam-dalam.

__ADS_1


Ada ketulusan disana.


Ketulusan untuk benar-benar melindungiku bagaimanapun caranya.



Berhari-hari, aku dipusingkan dengan perasaanku yang tak menentu.


Apakah mencintai orang baru sangat tidak etis di dalam kondisiku yang baru ditinggal mati Dio.


Belum lagi, fakta bahwa aku menjadi orang ketiga yang menghancurkan hubungan pria ini dengan perempuan yang seharusnya dinikahinya.


Aku takut, aku khawatir dan aku insecure.


Aku merasa tidak pantas bersamanya.


Namun, dengan semua tindakan ksatrianya hari ini, apakah aku masih bisa mengabaikan perasaan di hatiku?


Apakah aku masih bisa berpura-pura bahwa aku tidak jatuh dalam cintanya?


Tanganku kini berusaha menggapai wajahnya.


Berusaha mengelus pelan pipinya.


Namun, aku mendengar suara derap langkah baru memasuki ruangan gudang ini.


Kami kini berpandangan waswas.


Aku mencoba memusatkan pendengaranku dan setelahnya aku menyadari bahwa kami akan semakin terjepit.


Dua pengawal yang sebelumnya pergi telah kembali ke ruangan ini.


Dua-duanya memiliki senapan api.


"Nona, mereka telah pergi!" pekik salah satu pengawal kepada Becca.


Becca tampak panik dan sepertinya dia juga telah mengecek ke belakang tumpukan kardus.


"Kalian semua bodoh! Cepat cari mereka pasti sedang bersenyembunyi di ruangan ini!" perintah Becca.


Dan sampai sini, aku tidak melihat ada peluang aku untuk hidup.


Aku akan mati di depan orang yang telah berhasil mengambil hatiku ini.


Si pria misterius ini.


“Aku hanya.. mampu.. mengatakan ini.. satu kali. Tolong.. jangan.. potong.. aku,” pintaku padanya dengan energi yang tersisa. Air mata mengalir dari sudut dua mataku.


Penyelamatku hanya menggeleng sambil merengkuh tanganku. Dia lalu mencium punggung tanganku lama, seperti kami sedang tidak menghadapi situasi  antara hidup dan mati.


“Terima kasih.. untuk.. semuanya.. Teruslah… hidup.. dan.. dapatkan.. kebahagianmu..,” kataku sepenuh tenaga.


Lelaki itu masih mencium tanganku dengan penuh rasa. Tangannya mencoba menghapus air mata dari pipiku.


 “Tolong..jaga.. orang.. tuaku..jangan.. biarkan.. mereka.. sedih..,” kataku hampir menuju kata-kata terakhirku.


Aku yakin jika pengawal menemukan kami dan langsung menghabisku, rasanya tidak akan terlalu sakit.


Karena badanku sendiri saat ini seperti sudah menolak kehidupan.


Rasa sakit yang tak tertahankan di perut dan kepalaku akan segera membuatku terlelap.


Sehingga, kematian seharusnya malah akan menghentikan seluruh kesakitanku ini bukan?


“Aku tidak akan membiarkanmu mati di depan mataku! Aku mencintaimu, Selena. Sepenuh hatiku,” ucap si lelaki itu masih bersikeras.


Aku tersenyum bahagia padanya. Mungkin untuk yang terakhir kalinya.


“Terima kasih, Josh Rainer. Aku juga mencintaimu.”

__ADS_1


__ADS_2