Menikahi Pembunuh Pacarku

Menikahi Pembunuh Pacarku
MELEPAS HARTA


__ADS_3

“Jika aku bilang kita akan selamat, maka kita akan selamat. Jika aku bilang kita akan mati bersama setelah menikah dan punya anak, ya kita juga akan mati bersama dengan bahagia nanti!”


Pipiku pasti kembali memerah. Bibirku pasti sedang menyengir malu. Saat mengingat momen paling menegangkan sekaligus melegakan hatiku saat itu.


Ketika Josh Rainer mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkanku.


Dan kata-kata itu sukses membuatku terbius dan menembus relung hatiku yang terdalam.


“Sayangku, aku lebih baik terluka parah daripada harus kehilanganmu..”


Josh Rainer..


Kamu sungguh hal termanis yang Tuhan berikan padaku di tengah penderitaan bertubi yang aku alami belakangan ini.


Di saat kehidupanku hancur dan berantakan sepeninggal Dio, masih ada lelaki yang rela berkorban dan melindungiku walaupun nyawa sebagai taruhannya.


Aku sungguh tersentuh oleh semua tindakannya.


Aku malah mungkin sangat menggilainya.


Mengingat ini saja membuat jantungku seperti ingin pecah, bagaimana jika dia berada disini dan mengatakan hal manis lagi seperti ini?


Tepat ketika aku sedang tenggelam dalam imaji yang indah itu, kenop pintu kamar pasien ini diputar.


Aku tersentak dan refleks melihat si pengunjung yang langsung masuk dengan setengah berlari ke kamar ini.


Sang ksatria itu..


Berlari cepat ke arahku dengan wajah yang sangat lega melihatku telah membuka mata.


Josh Rainerku..


Dia tidak mengatakan apa-apa selain mendekap hangatku hangat. Erat.


Josh Rainer tidak lagi mengenakan setelan baju hitamnya. Dia kini mengenakan sweater biru tua, warna kesukaannya dan celana panjang berwarna khaki. Wangi tubuhnya membuatku teringat kembali masa-masa saat aku merawatnya kala dia berpura-pura menjadi pasien yang amnesia.


Kini, dialah yang ganti merawatku.


“Ibumu sedang pulang ke rumah, membawa beberapa pakaian ganti untuk ayahmu. Aku sudah meneleponnya dan dia sangat lega kamu sudah sadar. Ayahmu sedang tertidur karena pengobatan, namun situasinya sudah stabil,” jelasnya dengan nada datarnya yang biasa.


Dia tahu bahwa keluarga adalah yang terpenting bagiku dan dia mencoba menjelaskan keadaan keluargaku setelah aku siuman agar tidak membuatku khawatir.


“Terima kasih sudah menyelamatkanku, terima kasih sudah memberikan darahmu buatku, terima kasih telah menjaga keluargaku..” aku sungguh-sungguh mengatakannya.


Dia kini melepaskan dekapannya dan memegang bahuku.Dengan tatapannya yang mampu mengaduk-aduk hatiku.


“Hidupku kini adalah hidupmu juga, Selena. Duniaku juga adalah duniamu..” balasnya yang lagi-lagi membuat jantungku seperti sedang dipompa kencang.


Aku benar-benar harus segera terbiasa dengan kata-kata puitis yang selalu dilontarkan Josh Rainer kepadaku. Jika tidak, mungkin aku bisa kena serangan jantung setiap hari.


“Josh..” aku tidak tahu mau membalas apa.


“Jangan pergi lagi dariku ya?” pintanya lirih. Dia kini bahkan mengecup lama keningku, benar-benar memaksudkannya.


Sekaligus menyinggungku karena telah kabur dari perlindungannya, yang akhirnya membuatku terlibat dalam penyekapan ini.


“Asal kamu jangan membuatku bingung,” balasku menggantung.


Josh tampak berpikir sebentar, memikirkan apa maksudku. Dia kemudian mengelus kepalaku sambil tersenyum.


“Selena, jika kamu merasa aku mempermainkan perasaanmu dengan Helena, itu salah. Hubunganku dengannya sudah berakhir sejak setahun lalu,” katanya sambil membelai lembut rambut panjangku.


Benarkah begitu?

__ADS_1


“Helena memperkenalkan dirinya padaku sebagai kekasihmu. Dia juga berusaha menciummu dan kamu tidak menolaknya,” kataku meminta penjelasannya. Kini nadaku telah beralih serius.


Josh menghembuskan nafasnya kencang.


“Kamu benar ingin membahas ini? Aku sangat khawatir dengan kesehatanmu, aku ingin kamu istirahat dulu,“ ujarnya.


Namun, aku tidak peduli.


Bagiku, yang paling penting saat ini adalah kejelasan setelah aku memilih Josh sebagai pendamping hidupku.


“Aku sudah sehat sekarang. Aku tidak mau terus menerus cemas bahwa mungkin saja aku telah mengambil jodoh orang lain. Aku ingin semuanya jelas,” kataku tegas.


Dia kini membantuku untuk mendudukanku di tempat tidur elektrik ini.


“Baiklah, sayang. Jika ini bisa membuatmu lebih baik,” ujarnya kemudian.


Ya Tuhan..


Setiap kali Josh Rainer mengatakan sayang padaku, rasanya aku seperti tersetrum dan harus kembali berkonsentrasi dengan apa yang dia ingin katakana


padaku.


Aku benar-benar harus segera terbiasa dengan semua ini.


“Kamu mungkin sudah tahu bahwa aku selalu bersama dengan Helena sejak kecil. Tahun lalu aku memang mengajaknya menikah, namun dia menolakku mentah-mentah," dia memulai ceritanya.


"Dia bilang masih ingin fokus pada karirnya dan memintaku untuk menunggunya selama setahun. Namun, dia semakin tidak bisa kugapai..”


Aku berusaha mendengarkannya dengan seksama.


“Dia disibukkan dengan semua jadwal drama musikalnya, bolak balik Inggris dan Amerika demi menanjakkan karirnya. Ketika ayahku meninggal, dia bahkan tidak ada waktu untuk menanyakan keadaanku.. karena dia punya prioritas lain untuk dikejar,” dia masih menjelaskan semuanya dengan tenang.


Kini, matanya telah jauh memandang ke depan jendela.


“Tepat setahun setelah lamaran itu, adalah hari di saat aku mengalami kecelakaan. Saat itu, aku memintanya pulang karena aku ingin menjelaskan satu hal. Namun, dia tidak datang, lagi-lagi karena alasan pekerjaan. Dia baru datang kemarin dan mengira bahwa aku frustasi dan mencelakaan diriku sendiri karena tak kunjung mendapatkan jawaban darinya..” jelasnya.


“Selena, saat itu aku memintanya pulang karena ingin menjelaskan padanya bahwa aku tidak lagi menunggunya dan dia bebas melakukan apapun. Namun kecelakaan itu malah terjadi dan membuatku terseret pada kejahatan yang direncanakan Celine, sehingga aku harus berpura-pura amnesia didepannya. Kemarin, dia berusaha untuk menciumku lagi, namun aku mendorongnya. Tidak ada apapun yang terjadi diantara kami,” jelasnya sungguh-sungguh.


Betulkah begitu Josh?


“Dan asal kamu tahu, saat dia memintaku untuk menunggunya setahun lagi, aku langsung memutuskan hubungan kami berdua saat itu. Aku bukannya tidak mendukung karirnya, aku malah sangat bangga dan terus menjadi pendukung setianya untuk mencapai mimpi-mimpinya."


"Aku memahaminya karena aku juga punya mimpiku sendiri. Dan aku rela untuk tinggal bersama dengannya dan melepaskan gelar pewaris perusahaan, demi melakukan hal yang kusuka bersama dengan orang yang kucintai. Aku mau kami bersama-sama mencapai mimpi-mimpi kami. Namun ternyata dia marah sekali dan tidak mendukung gagasan itu,” katanya kini agak emosi.


“Akhirnya aku sadar. Di matanya, aku sangat berharga karena aku adalah pewaris perusahaan Tel-X yang menguasai Asia dan Eropa. Aku bukan Josh Rainer, yang selalu ada dalam suka dan duka dan terus mendukung mimpinya sejak kecil. Aku sangat amat kecewa dan sedih saat itu,” ujarnya.


Kini, aku sudah menutup mulut dengan kedua tanganku.


“Aku tidak pernah berfikir bahwa orang yang sangat amat ingin kunikahi adalah orang yang melihatku sebagai permata yang berjalan, sebagaimana orang lain selalu melihatku. Dia tidak peduli dengan perasaanku yang juga manusia biasa..”


Aku kini telah memegang kedua tangan Josh Rainer yang dingin.


Aku bisa merasakan bagaimana hancurnya perasaan Josh Rainer yang tumbuh dari keluarga yang tidak lengkap, selalu di bully ibu tirinya dan dibayang-bayangi oleh kehebatan adik tirinya sendiri.


Dan saat dewasa, dia tidak bisa menemui harapan yang dia pikir dapat membuatnya bahagia. Orang yang dicintainya tidak memandangnya secara utuh, tidak menerima Josh Rainer secara apa adanya.


 “Aku sudah mengakhiri hubunganku dengan Helena setahun lalu saat dia mengatakan kata-kata menyakitkan itu, Selena. Dia meminta waktu setahun agar dia bisa mencapai semua mimpinya dan setelahnya bisa menjadi nyonya besar keluarga Gurnawijaya. Dia ingin memiliki keduanya bersamaan. Yang artinya, dia tidak ingin memiliki aku karena aku, dia hanya ingin hartaku..”


“Tapi dia menolak mendengarkanku dan mengatakan bahwa kami hanya butuh break. Dan tetap saja, setahun masa break kami, dia benar-benar tidak menunjukkan betapa dia mencintaiku secara tulus."


"Saat ayahku meninggal, yang dia tanyakan pertama kali bukan betapa sedihnya aku, tapi kapan aku segera ditunjuk menjadi pemegang kendali Gurnawiijaya.. Aku hancur bertubi-tubi saat itu, karena aku tidak hanya kehilangan ayahku, namun aku juga kehilangan sosok Helena yang selama ini aku kagumi,” jelasnya.


“Inilah aku, Selena.." dia mengatakannya dengan getir, kini kembali memandangku lekat-lekat.

__ADS_1


"Saat aku pikir duniaku sudah tidak bisa diperbaiki lagi, kamu datang dan membuat segalanya menjadi lebih baik. Aku tidak akan pernah melupakan momen saat aku berakting amnesia, saat kamu percaya padaku dan ingin membantuku keluar dari cengkeraman Celine. Aku merasa.. akhirnya ada orang yang tulus datang ingin menolongku.. Menolongku karena aku, bukan karena hartaku.."


Dia melanjutkan, "Aku bahagia sekali saat itu. Sangat amat bahagia dan mudah saja jatuh cinta padamu..”


“Josh..” aku tercekat, masih speechless dengan semua pengakuannya.


Dia memang benar-benar merindukan kasih sayang tulus yang seharusnya bisa dia dapatkan dari keluarganya, namun tak pernah lengkap dia terima selama ini.


Bersamaku, dia bisa kembali merasakan rasa tulus saat mencintai seseorang.. mencintai siapa dirinya.. mencintai dunianya bersamaan..apa adanya.


Aku juga mencintaimu, Josh Rainer.


“Selena, aku akan selalu berusaha membahagiakanmu. Meskipun itu hal terakhir yang bisa aku lakukan dalam hidupku..”


Mata kami kini saling berkaca-kaca, memberikan sinyal rindu yang ingin segera dilampiaskan satu sama lain.


Aku lalu mengalungkan tanganku ke lehernya, sementara dia semakin mendekatkan bibirnya yang kecil namun tebal ke wajahku.


Semakin dekat, hingga akhirnya bibir kami saling bertemu.


Bertaut. Lama. Hangat.


Saling mengungkapkan betapa kami sangat bahagia bisa bertemu dengan orang yang bisa menyalakan nyala hidup kami yang hampir tak punya harapan.


Setelahnya, kami sama-sama tersenyum dan kembali berpelukan lama.


“Selena, jika aku membuang semua warisanku hanya untuk menjalani hidup yang kita sukai bersama-sama, apa kamu bersedia?”


Dia tiba-tiba bertanya hal itu.


Dia ingin memastikan bahwa aku bukanlah Helena.


“Josh, aku mencintai jiwamu, bukan hartamu..” aku mengatakannya tanpa pikir panjang.


Dia tampak bahagia mendengarnya dan kembali mendaratkan ciuman yang manis di bibirku.


Kembali memberikan aku sensasi tersetrum yang membahagiakan.


Dan aku, berharap semoga tidak ada yang bisa mengusik kami.. dua insan yang saling mencinta ini..


Namun, entah bagaimana, aku tergelitik ingin menuntaskan rasa penasaranku.


“Josh, jika kamu ingin mencabut hak warismu, lalu siapa yang akan melanjutkan bisnis Gurnawijaya?” kataku sambil melepaskan rangkulannya.


Wajahnya yang bahagia berganti dengan warna yang sedikit menyiratkan rasa sendu saat membalas pertanyaanku.


“Aku akan memberikan segalanya pada Aldebaran. Dialah yang paling pantas dan telah rela menanggung banyak kesulitan untukku selama ini,” tutup Josh Rainer sambil berkaca-kaca.


.


.


.


.


.


Gimana nih gaes, Josh Rainer berencana mundur dari hak waris dan memberikannya kepada Aldebaran. Kira-kira bakal bagaimana ya nantinya?


A. Gak akan disetujui sama Neneknya, Josh akan tetap jadi pewaris keluarga Gurnawijaya yang sah 😎


B. Bakal dibalikin sama Aldebaran, karena yang paling penting buat Ale adalah hatinya Selena, bukan harta 💔

__ADS_1


C. Tidak semudah itu ferguso! Celine punya rencana untuk nyedot semua harta Gurnawijaya ke kantongnya! 🤮


D. Ehm.. jangan-jangan nanti malah jatuh ke tangan Selena! 🙈


__ADS_2