
Apakah kami akan kehabisan waktu?
Apakah kami terlambat?
Aku akan mengutuk diriku sendiri jika Josh Rainer mati.
Aku menutup mata dan mencoba berdoa di tengah kencangnya kecepatan motor yang dikendarai Gery.
Jangan sampai dua kali ketidaksengajaanku berbuah kematian orang terdekatku.
Jika aku tidak menyanggupi ajakan Dio untuk menjemputku, Dio pasti masih hidup dan akan menjadi suamiku saat ini.
Dan jika saja aku tidak menyanggupi ajakan Becca untuk mengunjungi makam Dio, Josh Rainer tidak akan berada dalam bahaya saat ini.
Lagi-lagi karena aku.
Aku mohon padamu, Tuhan.
Kali ini berikanlah harapan pada Josh Rainer.
Tolong selamatkan dia.
Aku masih meringis, tidak habis pikir mengapa aku begitu ceroboh.
Bagaimana aku bisa lupa?
Bagaimana aku bisa tidak ingat apa yang terjadi saat aku menelepon Becca minggu lalu? Bahwa ada suara Celine yang menyahut dan bilang ingin melakukan sesuatu pada hari Sabtu?
Jika aku tahu bahwa yang dia maksud adalah rencana mencelakaan Josh di hari Sabtu, aku tidak akan pergi dari rumah hari ini.
Aku akan menjaga Josh Rainer.
Meskipun tawaran Becca juga tak kalah menggiurkan yakni menemaniku datang ke pemakaman kakaknya.
Aku memang belum pernah mengunjungi tempat peristirahatan kekasihku itu. Becca pasti tahu betapa inginnya aku untuk menjenguk Dio dan memanfaatkan celah ini.
Sediki celah yang akan membuat Celine begitu leluasa memuluskan rencananya.
Jika aku dapat memilih, aku akan tinggal di rumah dan membantu keselamatan Josh ketimbang datang ke pemakaman Dio.
Bukan karena aku tidak menghargai Dio, namun karena inilah prioritas yang harus kulakukan saat ini.
Aku harus melanjutkan hidupku.
Aku sudah berjanji pada Josh dan neneknya untuk menjaga keselamatannya.
Namun, aku lalai.
Aku amat sangat ceroboh dan hal ini sungguh mengecewakanku.
Membayangkan Josh Rainer hanya sendirian.
Saat Celine dan orang-orangnya datang menyergapnya.
Tidak ada aku, tidak ada Rikian.
Josh Rainer sendirian dalam bahaya.
Aku sungguh kesal dengan diriku sendiri.
Aku mengecek jam tanganku dan menemukan bahwa aku sudah pergi sekitar tiga jam.
Aku kini berharap pada keajaiban.
Semoga aku sama sekali belum terlambat.
Dan semoga orang cerdas itu menemukan cara untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Josh, kamu harus selamat.
Aku masih berpegangan kencang pada Gery saat aku mengingat sesuatu yang penting.
Memberitahukan bahaya ini kepada Margaretha.
Dengan susah payah, aku mencoba mengetik pesan di atas jok motor di tengah angin sore yang bertiup kencang.
"Margaretha, Josh Rainer dalam cengkeraman Celine. Aku sedang di luar dan segera kembali ke rumah. Tolong bantu Josh secepatnya. 30 menit lagi aku sampai."
Aku khawatir.
Aku takut.
__ADS_1
Aku berharap tidak akan mengucapkan maaf dan turut berduka cita pada keluarga Josh Rainer.
Tidak. Aku tidak mau membayangkannya.
Josh Rainer adalah orang yang banyak akal dan kuat. Dia pasti akan bertahan.
Benar begitu kan, Josh?
Gery masih memacu motor gedenya dengan kecepatan tinggi.
Sementara itu, pikiranku terus dipenuhi dengan bayangan buruk. Tak sadar, 30 menit sudah berlalu dan kini kami sudah semakin dekat dengan rumah Josh.
Gery perlahan menurunkan kecepatannya. Saat ingin berbelok menuju perumahan Josh Rainer, tiba-tiba saja Gery mengerem kencang.
Siluet truk pasir terlihat samar-samar didepanku karena aku sudah dipenuhi rasa panik akan bahaya lain.
Oh tidak.
Kami akan menabrak truk itu.
CKIT……………
Gery berusaha mengendalikan motornya dengan mengerem kencang.
Saking kencangnya, badanku terdorong menekan Gery. Dalam sekejap, aku telah mengambang ke udara.
Oh tidak.
Aku akan jatuh.
BAM!
Bunyi dentuman terdengar keras dan aku takut itu adalah bunyi badanku yang tak bisa menahan gravitasi.
Aku jatuh terlempar.
Mengapa ini terjadi di saat aku tengah berusaha menyelamatkan Josh?
Apakah aku memang ditakdirkan untuk kehilangan dua orang hebat dalam waktu kurang dari satu bulan?
Memang benar kata banyak orang.
Hidup memang tidak pernah adil.
Apakah aku terluka?
Apakah aku berdarah?
Lalu bagaimana Gery?
Apakah dia selamat?
Gery! Dia harus selamat.
Aku sempat melihat Gery sekuat tenaga mencoba membelokkan motornya dengan menahan laju motor dengan kakinya sendiri sebelum aku jatuh.
Gery jangan bilang kamu juga dalam bahaya!
...
Kemudian, aku merasa ada yang aneh.
Aku tidak merasa sakit sama sekali di sekujur badanku.
Ternyata, aku baik-baik saja dan bisa menggerakkan tubuhku.
"Selena..."
Suara rintihan terdengar dari bawah badanku.
Dan aku melihat Gery yang entah mengapa ada persis dibawah tubuhku.
Oh tidak.
Sepertinya Gery menjatuhkan dirinya sebelum motornya menabrak ke truk pasir di depan kami.
Kemudian, aku malah jatuh tepat diatas badannya. Makanya aku tidak merasa sakit sama sekali.
Aku tidak jatuh ke aspal jalanan, melainkan menimpa badan Gery yang gempal bak bantal penolongku.
Dan kini dia tengah merintih kesakitan
__ADS_1
"Ya Tuhan Gery!" jeritku.
Aku langsung berdiri dan mencoba mendudukan Gery. Aku panik setengah mati dan mencoba mencari adakah luka terbuka di badannya.
"Gery, kamu baik-baik saja?" tanyaku melengking ketakutan.
Aku sedikit lega saat melihat tidak ada darah yang mengucur di sekitar tempat kejadian peristiwa.
"Selena, kamu berat sekali."
Gery! Di saat mengkhawatirkan seperti ini dia masih saja bercanda tentang berat badanku.
"Jangan berisik," kataku kesal. Aku lalu memapahnya untuk membuatnya bisa berdiri normal.
Aku kini memintanya memutar badannya untuk melihat adakah luka akibat jatuhnya kami dari motor tadi.
"Sel aku udah biasa jatuh kan waktu masih jadi joki balap liar. Ini mah kecil," katanya santai meskipun tangannya masih gemetar saat memeriksa adakah kerusakan di motor kesayangannya.
"GUE PIKIR LO BAKALAN MATI JUGA TADI!"
Aku sungguh benar-benar ketakutan tadi.
Di tengah fikiranku yang lara karena telah kehilangan Dio,
Serta bahaya yang akan menimpa Josh Rainer,
Lalu aku harus mengalami kecelakaan bersama sahabatku.
Aku betul-betul kalut tadi.
Aku tidak mau kehilangan ketiga orang dekatku secepat ini.
"Enggak Sel, untunglah Tuhan belum bolehin aku mati. Tapi ini emang pusing banget sih," ucapnya.
Gery membuka helmnya dan masih kelihatan linglung. Mungkin karena kerasnya dentuman tadi saat badannya terlempar ke tanah.
“HEI! Mata kalian dimana?”
Tanpa kami sadari, si supir truk kini sudah turun dari kendaraannya dan mendumel kepada kami. Dia kelihatan mengecek apakah truknya baik-baik saja setelah ditabrak oleh Gery.
Untung saja Gery sempat menahan laju motor dengan kedua kakinya sebelum kami menabrak truk itu, sehingga tidak ada kecelakaan yang fatal.
Di sisi lain, ban motor Gery tampak bocor karena kerasnya gesekan yang Gery lakukan untuk membelokkan motor tadi. Namun, tidak ada lecet yang berarti di truk itu.
“Selena, kita akan kehabisan waktu. Aku akan mengurus supir ini dulu, kamu lebih baik langsung kesana. Aku akan cari mobil untuk bisa membawa kalian pergi dari rumah itu, oke?”
Wajah Gery terlihat cemas saat mengatakan itu. Dia pasti tidak mau membiarkan aku terancam bahaya dengan masuk ke kandang singa sendirian.
“Gery, percaya padaku.”
Aku hanya ingin meyakinkannya bahwa masih ada harapan. Walaupun aku sebetulnya sangat takut setengah mati.
Dia melepasku dengan tatapan pilu. Aku menyemangatinya dengan toss biasa kami.
Meskipun aku takut setengah mati.
Takut bahwa kami baru saja selamat dari kematian.
Dan kini bisa saja Josh Rainer tengah merenggang nyawanya.
Aku berusaha membuang bayangan buruk itu kemudian segera berlari menuju arah rumah Josh Rainer di ujung perumahan ini.
Josh Rainer adalah orang yang sangat cerdik.
Aku yakin dia punya cara untuk mengelabui orang-orang jahat ini.
Namun apakah dia bisa kabur?
Ya, sedikit lagi.
Aku masih berlari dengan nafas yang memburu.
Dan akhirnya sampai juga di depan rumah keluarga Gurnawijaya.
Dengan nafas tersengal-sengal, aku mencoba masuk lewat gerbang utama.
Aku tahu kehadiranku akan ketahuan. Namun aku sungguh tidak punya cara lain. Pintu masuk satu-satunya di rumah ini adalah gerbang utama ini.
Aku siap ketahuan dan sudah tidak peduli lagi dengan semua akting yang aku lakukan untuk mengikuti permainan Josh.
Tujuan utama saat ini adalah membawa Josh Rainer keluar dari rumah ini dalam keadaan selamat.
__ADS_1
Hanya itu yang kini penting bagiku.