Menikahi Pembunuh Pacarku

Menikahi Pembunuh Pacarku
CINTA & RAHASIA


__ADS_3

Saat orang tuaku sudah masuk ke kamarnya untuk beristirahat, aku dan Josh Rainer masih berada di taman luar di belakang rumah Josh Rainer yang megah, di kawasan Bel Air, Los Angeles, California.


Aku memang menunggunya. Dia harus menjelaskan banyak hal yang selalu dia tidak pernah jelaskan padaku.


Apapun itu alasannya.


Bagiku, kejujuran adalah segalanya. Aku lebih mengapresiasi orang yang memberitahuku fakta yang menyakitkan, dibandingkan menutupi banyak hal yang tidak kuketahui.


Terlebih, aku telah memilihnya sebagai pasangan hidupku. Aku berharap dia bisa lebih terbuka dan sama jujurnya seperti yang aku lakukan padanya.


“Josh, kita harus bicara,” kataku memulai percakapan ini.


Josh menengok ke arahku saat dia tengah berjalan dari area barbeque outdoor, tempat kami menghabiskan makan malam kami, dan menuju lantai dengan berbagai sound system dan lighting. Masih di area taman luar belakang rumahnya.


Dia tersenyum padaku sambil menyalakan musik dengan menekan tombol di salah satu speaker jumbo.


Dengan gerak cepat, dia juga menghidupkan lampu sorot tinggi yang membuat lantai yang dipijakinya kini berkerlap kerlip.


Oh.


Kini, area yang dia pijaki berubah menjadi  lantai dansa yang romantis. Berkerlap-kerlip syahdu di tengah kegelapan malam di bukit ini,


Terlebih, pemandangan indah skyview kota Los Angeles di belakangnya, benar-benar mendukung untuk menghabiskan waktu dengan orang yang terkasih.


Dia lalu menjulurkan tangannya yang kosong kepadaku dengan senyum sumringah di wajahnya.


“Kita bicarakan sambil berdansa?” ajaknya sambil membungkuk kepadaku.


Persis seperti pangeran yang sedang mengajak putri untuk berdansa di film Disney.


Aku sebetulnya lebih memilih untuk membicarakan keluhanku di ruang tertutup.


Namun aku juga tidak ingin kehilangan momen berdansa dengan lelaki yang telah memanah hatiku itu, terlebih di tempat terbaik yang pernah aku datangi seperti ini.


Aku lalu berjalan kearahnya dan menyerahkan tanganku sepenuhnya padanya.


Alunan musik klasik mengalun indah diantara kami. Aku menebak ini adalah musik yang di ciptakan di era Wolfgang Amadeus Mozart.


“ Ini bagian dari Piano Concerto yang diciptakan Mozart, salah satu musik favoritku,” jelasnya padaku sambil menempatkan kedua tangannya di pinggangku.


Lagi-lagi, aku merasa seperti dia bisa membaca fikiranku. Aku baru saja memikirkan tentang komponis musik ini dan dia menjelaskannya tanpa aku bertanya.


Apakah ini yang dinamakan jodoh? Ketika fikiran kami sering terkoneksi bersama?


Namun..


Secocok apapun fikiran kami, tidak ada gunanya jika hubungan ini tidak dilandasi dengan keterbukaan dan kejujuran.


Aku lalu mengalungkan tanganku ke lehernya. Kami bergoyang pelan mengikuti alunan musik romantis ini dengan wajah kami yang sangat berdekatan satu sama lain.


Momen yang indah sekali. Aku memang tidak pernah sebelumnya berdansa romantis seperti ini dengan siapapun.


Kami berdansa romantis sekitar 10 menit sampai akhirnya aku tidak ingin menunda lagi seluruh keingintahuanku tentang apa yang terjadi.


Saat ini, wajahku ada di samping kepalanya. Aku lalu membisikinya, to the point mempertanyakan keanehannya.


“Mengapa kamu tidak memberikan ponselku?”


Dia tetap bergoyang sambil memelukku, sambil menjawab kebingunganku.


“Supaya tidak ada yang menggangu kita disini. Aku ingin perjalanan ini menghapus seluruh hal mengerikan yang telah kita lalui. Aku ingin kita menikmati waktu indah kita bersama disini, tanpa adanya gangguan dari luar. Sejak kemarin aku juga tidak membuka ponselku,” katanya santai sambil mendekapku erat.


Benarkah begitu?


Dia sepertinya merasa bahwa aku ragu terhadap jawabannya. Dia lalu mengganti gaya berdansanya, dan kami kini sudah bertatap-tatapan sambil bergerak pelan di lantai dansa.


“Kamu tidak percaya padaku?” tanyanya balik.


“Bagaimana aku bisa percaya kalau banyak hal yang tidak kamu ceritakan tentang hidupmu?” kataku blak-blakan.


Josh tampak mengernyit saat mencerna kata-kataku.


“Selena..,” dia kini menghentikan derap kakinya, dan mencium tanganku erat.


Sementara aku masih menunggu penjelasannya.


“Aku.. kadang ingin menjadi seperti Aldebaran yang senang bercerita, supel dan disukai banyak orang. Kadang, aku ingin bisa melemparkan guyonan dan membuat semua orang tertawa. Tapi.. aku tidak bisa.. Beginilah diriku..” tanyanya dengan nada sedih.


Oh tidak.

__ADS_1


Aku sama sekali tidak bermaksud mengatakan bahwa tertutupnya Josh Rainer membuatnya menjadi sangat tidak menarik. Tidak seperti itu.


Namun, sepertinya dia sudah merasa insecure sendiri dan langsung membandingkan kepribadiannya dengan Aldebaran, saudaranya sendiri.


“Josh Rainer, aku sangat menyukaimu dirimu. Dirimu yang apa adanya. Namun, ada beberapa hal yang perlu kita luruskan jika kita ingin hubungan ini berjalan dengan lancar,” jelasku padanya.


Kami kini sudah tidak berdansa lagi.


Namun, suara alunan Piano Concerto Mozart masih menjadi musik pengiring dari pembicaraan serius kami malam ini.


“Aku kadang merasa sedih karena aku seperti tidak mengenal dirimu sama sekali,” jujurku padanya.


Josh masih menggengam kedua tanganku, dan memandangku serius.


“Aku hanya berharap kamu bisa lebih terbuka denganku. Kamu bisa cerita apapun denganku. Kamu adalah kekasihku. Kamu sendiri pernah bilang, duniamu adalah duniaku, dan duniaku adalah duniamu.”


Josh Rainer tiba-tiba saja langsung menarikku kedalam dekapannya.


Dia memelukku dalam diam. Erat sekali.


“Saat aku tidak tahu apapun tentang apa yang terjadi dengan ayah dan ibumu, dan kamu menceritakannya pada orang lain tanpa aku tahu lebih dulu.. aku sedih sekali..,” jelasku lagi.


Josh masih terdiam dan membalasnya hanya dengan memelukku semakin erat, membuatku sulit bernafas.


“Saat Helena lebih banyak tahu tentang dirimu.. sementara aku hanya tahu bahwa kamu adalah pasien yang tersandera dan nyaris dibunuh ibu tirimu sendiri, aku merasa aku tidak ada apa-apanya dibanding dia..” aku masih melontarkan keluhanku.


Josh masih bergeming dan masih mendekapku.


“Aku ingin mengenalmu secara utuh. Saat kamu pernah berada di titik terendahmu juga hari-hari bahagiamu. Karena aku ingin selalu menemanimu di setiap susah dan senang kita sampai nanti maut memisahkan kita..” getirku.


Punggung Josh kini sudah bergetar, apakah dia menangis?


“Aku mencintaimu Josh Rainer. Bisakah kamu lebih terbuka dan percaya padaku?” kataku sungguh-sungguh.


Josh kini telah melepaskan dekapannya.


“Terima kasih sudah membalas perasaanku, Selena.. aku.. sudah lama tidak pernah merasakan bahagia seperti ini..” ujarnya tersenyum getir. “Dan maafkan aku, aku akan berusaha lebih terbuka dan lebih baik lagi untuk menjadi pasangan sehidup sematimu..”


Mengapa Josh selalu manis sekali saat kami sudah bicara tentang perasaan?


“Jadi.. apakah kamu mau menceritakan padaku apa yang terjadi dengan orangtuamu? Dan mengapa ada Celine diantara mereka?” tanyaku penasaran.


“Bolehkah kita menyelesaikan dansa yang terhenti ini dulu? Sejak lama aku selalu ingin berdansa diatas sini dengan kekasihku. Setelah itu, jika kamu mau kita bisa bicara sampai pagi..” ujarnya.


Aku tersenyum dan kembali memberikan tanganku untuknya.


“Dengan senang hati, Yang Mulia,” candaku.


Kami menghabiskan sekitar satu jam untuk berdansa berdua dibawah temaram bulan langit California.


Sesekali, aku menginjak kakinya dan dia akan balas menginjak kakiku, membuat malam kami tak hanya romantis namun juga sangat menyenangkan.


Apalagi, Josh Rainer adalah seseorang yang senang melantunkan syair indah dan romantis. Beberapa kali, bisikan-bisikan maut Josh Rainer membuat jantungku berdegup lebih cepat saking indahnya.


..Pesonamu lebih menghangatkanku daripada bulan di malam ini..


.. Kamu adalah aurora yang dikirimkan Tuhan untuk menerangi sisa hidupku..


..Aku mencintaimu selamanya, Selena. Dan rela melakukan apapun untuk menjagamu disisiku..


Hidungku sepertinya bakal mimisan jika terus mendengarkan manisnya mulut Josh Rainer semalaman ini.


Tiba-tiba saja, hujan turun deras.


Membuat kami menyelesaikan dansa dengan kelimpungan. Kami kini bergegas kembali menuju rumah utama untuk menghindari derasnya air hujan.


Kami berlarian sambil tertawa, dalam basahnya malam dan saling berkejar-kejaran menuju rumah utama.


Asisten rumah tangga yang masih menunggui kami menyodorkan masing-masing handuk kering kepada aku dan Josh Rainer, sesaat kaki kami menjejaki rumah utama yang luas dan megah itu.


Kini kami sama-sama mengeringkan badan kami di ruang tamu yang dipenuhi berbagai barang antik yang mewah ini. Beberapa kali dia mencoba mengeringkan rambutku dengan handuknya kemudian mencium pipi dan bibirku, sebagai ekspresi kebahagiannya malam ini.


Sampai akhirnya mataku tertambat pada lukisan besar di ruang tamu itu.


Lukisan seorang perempuan muda dan anak laki-lakinya yang baru meninggalkan usia balita.


Perempuan yang anggun dan memiliki kesamaan wajah dengan Josh Rainer.


Pastilah ini ibunya.

__ADS_1


“Ibumu mirip sekali denganmu,” kataku mengaguminya.


Josh mendelik ke arahku dan mengerti maksud bicaraku saat melihat mataku tak beralih dari potret besar di dinding itu.


“Secara fisik dan sifat, ya. Aku pun mewarisi pendiamnya ibu. Di sisi lain Al tidak mirip ibu sama sekali, dia sangat berbeda dengan kami. Dia lebih mewarisi sifat pandai bergaulnya ayah,” katanya sekenanya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


Hah?


Apa maksud Josh?


“Tentu saja kan? Mana mungkin Al mungkin mewarisi sifat ibumu karena dia adalah anak.. Celine?” tanyaku tercekat di kerongkongan.


Tangan Josh Rainer terhenti dari kepalanya yang masih terlilit handuk. Dia kini melihatku dalam-dalam.


Sepertinya, dia seperti baru menyadari apa yang dia bicarakan sangatlah aneh.


Namun, aku tidak bisa menyangkal bahwa lagi-lagi hal yang ganjil terjadi disini.


Josh Rainer mengatakan sesuatu yang sangat tidak wajar.


Seakan-akan.. Ale adalah saudara kandungnya dari ayah dan ibu sama?


Tidak mungkin bukan?


Ale adalah anak Celine dan ayah Josh Rainer. Bukankah nenek Josh juga mengamini hal ini sebelumnya?


Apa Josh hanya salah bicara?


Namun, mengapa Josh juga bereaksi kaget begini jika ia hanya salah bicara?


“Josh..” aku mencoba menggali lebih banyak tentang kebingunganku, namun kata-kataku seakan terlepas di udara.


“Kamu lebih baik mandi dulu ya? Aku takut kamu sakit,” katanya mengalihkan pembicaraan, kemudian mendorongku untuk segera naik ke kamar dan membersihkan badan.


“Baru saja aku memintamu untuk lebih terbuka..” kataku mengingatkannya, hampir marah jika dia kembali menutupi hal yang tak aku tahu.


Josh Rainer tampak terdiam beberapa detik. Sepertinya dia sedang berfikir keras.


“Selena, aku janji akan menceritakan semua hal tentang hidupku. Kamu mandi dulu ya? Aku nanti akan ke kamarmu,” katanya berusaha tersenyum getir.


Apa lagi yang aku tidak ketahui tentangmu, Josh?


Apalagi yang kamu sembunyikan dariku?


Aku menggeleng-gelengkan kepalaku sembari berjalan menuju kamarku. Meninggalkannya tanpa aku melihat lagi  ke belakang.


Menyadari bahwa orang yang aku cintai benar-benar penuh dengan kerahasiaan, yang sama sekali tidak ingin dia bagikan denganku jika aku tidak memintanya.


Aku kesal, tapi masih berusaha memahaminya.Karena seperti yang dia katakan, inilah dia apa adanya.


Lagipula, aku akan menunggu penjelasan masuk akal darinya sebentar lagi. Dia sudah berjanji akan terbuka dengan kisah hidupnya kepadaku.


Josh masih berada di bawah tangga sana dan aku kini telah mencapai pintu kamarku. Aku kemudian membuka kenop pintu dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.



Tanpa aku tahu bahwa salah seorang asisten rumah tangga kini mendekati Josh, tepat setelah aku sudah menutup pintu.


“Tuan muda, ada telfon dari tuan Aldebaran. Sudah sekitar 10 kali dia menelepon dari tadi,” kata pelayan itu sambil menyerahkan telfon rumah kepada Josh.


Josh mengambil telepon itu dan mengucapkan terima kasih kepada asisten rumah tangga dan meminta para ART untuk segera beristirahat.


Josh juga mengingatkan agar besok pagi-pagi sekali para ART harus sudah menyiapkan sarapan dan seluruh persiapan keluarga Selena untuk menuju Ronald Reagan UCLA Medical Centre, rumah sakit terbaik di Los Angeles yang akan kami datangi besok untuk pengobatan ayah Selena.


Kemudian Josh Rainer berjalan cepat dan menaiki tangga menuju kamarnya, yang berada persis di sebelah kamar Selena.


Lalu menguncinya rapat-rapat.


“Ada apa?” tanya Josh sekenanya dari balik telepon.


“Aku sudah tahu semuanya soal kecelakaan itu. Apa kamu tidak punya hati, Josh? Pergi meninggalkan Indonesia agar Selena tidak pernah tahu apapun bahwa kamulah penyebab tunangannya tewas?” suara Aldebaran dari ujung telfon terdengar seperti membakar ruangan.


.


.


.


.

__ADS_1


...Dag dig dug suerrr kira-kira gimana nih kelanjutan percakapan ini versi kalian? Yuk isi di kolom komentar! ...


__ADS_2