
Mata Josh Rainer terbelalak kaget saat aku menyebut namanya.
Entah kaget karena aku mengetahui identitasnya atau karena aku jelas-jelas telah membalas perasaan cintanya.
Dia kini mulai melecuti maskernya dan membuka topi, kemudian tersenyum lebar sekali.
“Kamu.. tahu?” katanya terkejut.
Masih berbaring di atas pahanya, aku tersenyum padanya sambil meringis.
“Bagaimana..mungkin…. aku tidak kenal .. orang...yang sudah menembus hatiku?” kataku bersusah payah mengatakannya.
Mata Josh tampak berbinar.
Dia kembali mencium tanganku hangat.
Setelahnya, bibirnya turun ke keningku.
Mencium dahiku penuh rasa.
Menimbulkan sensasi bahagia yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata.
Aku sangat kagum dengan kecerdikan Josh.
Dia berusaha menyamar menjadi Ale dan menutupi bentuk badannya dengan setelan lengan panjang hitam, topi dan masker.
Josh pastilah telah mempertimbangkan bahwa Ale adalah titik lemah dari seorang Becca.
Dengan begitu, akan ada celah untuk mengelabui Becca demi menyelamatkan nyawaku.
Ya, Josh Rainer dan Aldebaran memang mirip. Mereka adalah saudara seayah yang jika sekali lihat, kalian juga akan berpikir mereka adalah orang yang sama.
Perbedannya, Josh Rainer lebih tinggi sedikit daripada Ale, namun badan Ale jauh lebih bidang dan berotot.
Warna kulit Josh Rainer juga lebih terang seperti kulit oriental, sementara Ale berwarna gelap kecoklatan seperti kulit masyarakat di Indonesia Timur.
Dan tentu saja, aku tidak salah menebak suara khas Josh Rainer yang terekam nyata di memoriku.
Saat pertama kali dia bicara dengan para pengawal tadi, aku sudah yakin bahwa Josh Rainer lah si penyelamatku.
Dengan mencoba berpura-pura menjadi Aldebaran.
Aku sangat tergugah dengan keberaniannya.
Namun, semua penyamaran ini tidak akan berarti apa-apa lagi.
Karena aku akan segera habis disini.
Aku akan mati.
Empat pengawal berbadan gagah sedang mencari tempat persembunyian kami di ruangan ini.
Dan itu bukanlah hal yang sulit bagi mereka yang bersenjatakan api.
Sebentar lagi, mereka akan menangkap basah diriku dan menjauhkan Josh Rainer dari sini.
Nasib kami akan sangat berbeda.
Aku akan dicelakai dan dibunuh di tempat ini juga.
Sementara itu, Becca yang mengira Josh adalah Ale akan merangkulnya untuk menjauhi kematian
Josh masih bisa berpura-pura menjadi Ale sampai dia keluar dari sini.
Dan melanjutkan hidupnya kembali.
Sebagai pewaris keluarga Gurnawijaya.
Yang pastilah akan dikelilingi banyak perempuan yang setara dengannya.
Josh...
Selamat tinggal.
Aku yakin kamu tidak akan merindukanku.
__ADS_1
Kamu akan tenggelam kembali dalam duniamu yang indah dan bisa memilih siapapun untuk menjadi pasangan hidupmu.
Entah itu Helena atau perempuan hebat lainnya.
Terima kasih karena sudah pernah menjadi berarti di hidupku.
Walaupun sangat singkat.
Aku benar-benar... menyanyangimu.
Sampai jumpa, Josh Rainer.
Di pintu gerbang keabadian.
…
Namun, Josh masih tak mau menyerah.
Dia kini mencoba menutupi kami dengan tumpukan dus yang ada di bawah kami.
Dia mencoba membuat para pengawal terkecoh bahwa di belakang lemari ini tidak ada yang bersembunyi, melainkan tumpukan kardus bekas yang menggunung.
Kini aku tidak bisa melihat cahaya dengan adanya tumpukan kardus yang menutupi kami.
Namun, aku bisa merasakan nafas memburu Josh Rainer yang sama kencangnya denganku.
Dia lalu menarikku lebih erat ke dekapannya.
Di dalam gelapnya tumpukan kardus dengan celah untuk bernafas yang sedikit.
"Maafkan aku tidak datang lebih cepat," bisiknya merasa bersalah.
Bodoh.
Aku lah yang harusnya merasa bersalah.
Jika aku tidak menuruti Ale untuk pergi dari rumah Gurnawijaya, aku tidak akan menjadi lumpuh begini.
Dan semuanya akan berjalan baik-baik saja sesuai rencana yang disusun Josh dan neneknya.
Rasanya, waktu seperti berjalan lama sekali.
Jantungku mencoba memberikan tanda jika pengawal sudah mendekat dengan kami.
Namun, di telingaku, para pengawal masih mencoba mencari sudut lain untuk menemukan kami.
Masih ada beberapa detik untuk kami berpelukan.
Masih ada beberapa detik untuk aku mengatakan kata-kata terakhirku.
Masih ada beberapa detik untuk menikmati momen terakhirku di dunia.
"Jika aku.. sudah mati.. nanti..," aku mencoba mengatakan apa yang ada di hatiku.
Namun, Josh Rainer tidak mau mendengarnya sama sekali.
“Selena, jangan pernah sekalipun kamu berpikir untuk mati dan meninggalkanku disini,” katanya kini kembali erat mendekapku.
Aku dapat merasakan degupan jantungnya yang kencang untuk terakhir kali.
Di detik-detik terakhirku ini, berada dalam pelukannya adalah kebahagiaan yang tak bisa kuminta lebih.
“Tidak..ada jalan..keluar.. buatku..” kataku pesimis.
Praaaang...
Mereka datang.
Di dekat kami, terdengar suara berisik yang sepertinya habis mengobrak-abrik perkakas lama di dekat tempat persembunyian kami.
“Cek lemari di sudut sana!” teriak salah satu pengawal.
Aku mendengar kata-kata pengawal itu dengan jantung terasa mendidih.
Inilah saatnya.
__ADS_1
Josh Rainer menatap mataku teduh, dia seperti masih ingin memotivasiku untuk hidup.
Namun, tak ada pilihan lain untukku.
Aku akan mati dalam beberapa menit ke depan.
“Tepati..janjiku.. ya?” pintaku untuk terakhir kali padanya.
Josh Rainer menggeleng kencang.
“Kita akan keluar dari sini. Kita akan bersama-sama sampai mati. Kita akan menikah. Kita akan punya anak. Dan kita akan bahagia selamanya!” pekik Josh masih tidak ingin berdamai dengan keadaan.
Saat aku mendengarnya, aku sungguh bahagia.
Dan untuk terakhir kalinya, aku mencoba membayangkan memiliki kehidupan bersamanya sampai maut memisahkan.
Menikah dengannya, memiliki anak-anak yang lucu, menjalani hidup kita dengan riang gembira.
Namun sayangnya, semua itu hanyalah imajinasi.
Hanyalah delusi.
FIksi yang tidak akan pernah terjadi.
Sebentar lagi aku akan mati.
Aku tidak akan menikah dengannya.
Aku tidak akan pernah melahirkan.
Aku tidak akan pernah bahagia bersamanya sampai maut memisahkan.
Josh Rainer akan menemukan kebahagiaannya, tapi bukan denganku.
Siapapun dia, perempuan itu akan sangat beruntung.
Kamu harus bahagia, Josh.
Kamu berhak bahagia.
Bersamaan dengan pikiran-pikiran indah itu, aku mendengar derap langkah semakin kencang menuju ke arah kami.
Aku tahu, itu adalah derap kaki salah satu pengawal.
Mereka akan segera menemukan kami.
Sebentar lagi...
Kami akan berpisah selamanya.
Josh kini tidak mau menatapku lagi.
Dia tampak meraba saku di dadanya dengan penuh harap.
Dan pada saat yang sama, aku mendengar suara dari saku di setelan baju panjang hitamnya itu.
Josh tampak tersentak dan langsung buru-buru mengeluarkan benda kecil hitam seperti walkie talkie dari dalam saku itu.
Kemudian, suara yang lebih jelas kini terdengar dari alat penghubung komunikasi jarak jauh itu.
“Bos, pasukan sudah siap,” jelas suara yang terdengar dari walkie talkie.
Josh Rainer tampak terperangah awalnya, seperti tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
“Sekarang!” perintahnya tegas.
Sedetik kemudian, suara ramai dan derap langkah dari luar gedung terdengar dengan jelas.
Bahkan aku bisa mendengar suara helikopter yang sepertinya berada tepat diatas gedung ini.
Aku mencoba mencari tahu dari indera pendengaranku,
Apa yang sedang terjadi?
Mengapa ramai sekali?
__ADS_1
Apakah kami akan segera tertangkap?