
“Selena.”
Aku terkesiap mendengar suara halus bicara di telingaku.
Saat aku sadar, aku tengah melamun di tengah terapi palsu yang kusiapkan untuk Josh Rainer.
Melamunkan Dio.
Dan suara yang membangunkan aku dari lamunan tadi adalah milik Josh Rainer.
Dia berbisik untuk melanjutkan komunikasi kami melalui papan tulis kecil dan spidol yang kubawa khusus untuk berinteraksi dengannya. Di tengah banyaknya kamera yang mengawasi kami.
“Jangan pergi.”
Dia kembali menuliskan pesan itu untukku.
Membuatku terenyuh lagi.
Ada rasa bahagia ketika seseorang memintaku untuk tidak pergi kemana-mana.
Perasaan dibutuhkan untuk tetap ada.
Persis seperti perasaan dulu saat Dio menginginkan aku menjadi istrinya.
Namun ini berbeda.
Josh membutuhkanku untuk menyelamatkan hidupnya.
Setelah itu, kami pasti tidak akan berhubungan lagi.
Aku akan melanjutkan hidupku dan begitu juga Josh Rainer.
Benar begitu kan?
Sebelum memberikan aku spidol, dia menulis lagi.
“Jika semua ini sudah selesai, kamu tetap denganku?”
Aku mencerna tulisan itu dengan perasaan campur aduk.
Apa maksudnya dia tetap membutuhkan dokter pribadi?
Aku mengambil spidol dan membalasnya.
“Kamu sehat, tidak butuh aku”
Dia tampak muram melihat jawabanku.
Sangat muram sampai aku tidak pernah mengenali ekspresi kecewa yang dia tampilkan hari ini.
Aku kemudian menulis lagi untuk mengingatkan bahwa dia tidak harus bermuram seperti itu.
“Kamu punya Becca yang akan menjagamu kan?”
Dia lalu menoleh padaku cepat dan menggeleng kencang.
"Bukannya dia pacarmu?"
Aku mengkonfirmasi hal yang sudah ingin kulakukan sejak lama.
Josh tampak berpikir keras kemudian membalasnya lagi. Aku baru tersadar melakukan coret-mencoret dalam diam. Lupa bahwa ada penyadap audio di kamar ini yang tengah mendengarkan percakapan kami.
“Josh kamu pintar, ayo bisa sedikit lagi,” kataku palsu
__ADS_1
Dia lalu menulis balasan untukku, tidak menjawab rasa penasaranku sama sekali.
“Laki-laki tadi malam itu pacarmu?”
Saat dia menyerahkan spidol padaku, Josh Rainer tidak bisa menyembunyikan semburat di pipi merahnya.
Josh Rainer memperhatikan gerak-gerikku tadi malam?
Dan dia malu-malu menanyakan ini padaku?
“Nah, sekarang kita ganti kalimat ya. Tuliskan aku suka memainkan biola,” teriakku sambil menulis balasan asli padanya.
“Aku pernah bilang kan pacarku sudah di surga?”
Entah mengapa jantungku berdegup menunggu balasannya.
“Maaf."
Dia hanya membalas satu kata itu saja.
Aku tersenyum padanya, mengatakan tidak masalah. Namun, tak kusangka dia keliatan tidak puas dan terus bertanya.
“Siapa dia?”
Mengapa Josh sangat ingin tahu detail orang terdekatku?
Dan mengapa Josh tahu bahwa tadi malam aku bersama dengan Gery?
Apakah dia mengintip kami?
Aku segera membalasnya.
“Dia kerja di tempatmu dan sudah kuanggap seperti saudaraku.”
Dia lalu tersenyum padaku, tak tampak lagi wajah muramnya.
Dengan semua keanehan yang dilakukan Josh, tidak mungkin dia sedang cemburu kan?
Ya, tidak mungkin. Dia punya Becca yang sepantar dengannya.
Tidak mungkin dia menyukaiku dalam waktu dua minggu ini saja kan?
Setelahnya, dia membalas cepat.
“Aku tidak kenal Becca”.
Aku terperanjat.
“Kamu tidak hilang ingatan kan?”
Dia tertawa dalam diam. Tanpa disangka, kini Josh Rainer mengenggam tanganku sambil memandangku ceria.
Dia lalu menggeleng kencang dan melepaskan tanganku. Dia kembali meraih spidol.
“Tentu tidak, Dokter. Aku ingat betul kapan aku lahir.”
“Aku tahu rasanya sakit saat ibuku meninggalkanku.”
“Aku ingat tahun lalu aku pergi ski dengan nenekku.”
“Aku ingat semuanya.”
Aku mendelik kebingungan.
__ADS_1
Jadi, apa yang dimaksud Becca tempo lalu?
Apakah Becca berbohong lagi?
Jadi apa sebenarnya hubungan Becca dengan keluarga Gurnawijaya?
Lalu, Josh kembali menuliskan sesuatu di papan tulis.
“Aku juga ingat wajah sedihmu saat kita bertemu pertama kali di rumah sakit.”
Di saat aku masih memikirkan kaitan Becca dengan keuarga ini, hatiku terasa berdesir melihat kata-kata itu.
Aku tersenyum padanya.
Dia kembali menulis.
“Kini kamu tidak sedih lagi.”
Aku tidak sedih lagi?
Mungkin lebih tepat aku lupa caranya sedih dengan semua masalah yang bertubi-tubi datang padaku.
Tok..tok..tok..
Suara di pintu menganggu kami. Asisten rumah tangga yang tadi mengantarkan sarapan untukku sudah membawakan makanan pagi untuk Josh Rainer.
Aku mengambil nampan dari meja dorong yang dia bawa lalu menyuapi Josh Rainer pagi itu.
Kami berinteraksi sangat banyak sepanjang hari. Kebanyakan aku bercerita tentang detail saat kemarin aku bicara dengan neneknya, dugaan penggelapan uang oleh Celine sampai bagaimana rasanya saat dia diracuni oleh Diana.
Tidak ada yang kututup-tutupi. Kami bercerita tanpa ada batasan.
Dan satu yang aku sadari dari pembicaraan tulis-menulis kami itu. Aku sangat senang kembali mendapatkan tempat untuk bercerita sepeninggal Dio dari hidupku.
Teman baru untuk membagikan kisah selain dengan Gery, Anna dan Becca.
Namun, aku menangkap hal yang berbeda saat aku bertanya tentang detail kejadian dia mengalami kecelakaan.
Dia kembali memperlihatkan wajah muram.
“Aku belum bisa cerita sekarang.”
Jawaban itu membuatku sedikit kecewa. Aku betul-betul jujur padanya tentang semua yang terjadi. Namun, dia tidak cukup mempercayaiku.
Saat aku ingin menutup terapi kami sore itu, tiba-tiba saja ponselku bordering.
Dari Gery.
“Maaf aku harus mengangkatnya,” kataku pada Josh Rainer dan bergerak menjauh menuju balkon.
Aku tidak mau pembicaraan pribadi kami juga disadap Celine.
“Ada apa?” tanyaku pada Gery.
“Yang namanya suster Diana itu perawakannya pendek dan agak gempal bukan? Gayanya kaya sosialita?” tanya Gery bersemangat padaku.
“Kok tau?” kataku bingung.
Gery cengegesan di ujung telfon.
“Aku juga enggak menyangka, dia baru diangkat jadi staf khusus Ibu Celine, selaku komisaris di perusahaan kami.”
“Demi apa!"
__ADS_1
Sekujur tubuhku lunglai. Otakku kembali berdesing memikirkan apa lagi yang akan dilakukan Celine dan berharap semua hal buruk segera berakhir.