Menikahi Pembunuh Pacarku

Menikahi Pembunuh Pacarku
SISA RASA


__ADS_3

Kami pulang ke rumah Josh Rainer dengan diam.


Di bangku kemudi, Josh mengendarai Porsche hitamnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Dia bahkan meluncur begitu saja di beberapa lampu merah, terburu-buru hingga tak peduli dengan rambu-rambu yang harusnya dia taati.


Aku tahu, dia begitu karena dia sedang merasa kesal padaku.


Josh pasti masih merasa sensi karena aku telah menuduh nenek yang dia sayangi sepenuh hati tadi.


Namun, bukan hanya dia yang boleh merasa kesal disini.


Aku juga berhak mengekspresikan emosiku.


Perasaan kecewa dan tidak habis pikir dengan keluarga kaya yang sama sekali tidak memikirkan perasaan rakyat biasa sepertiku.


Pernikahan bukanlah hal yang gampang. Bagiku, pernikahan haruslah khidmat dan sakral.


Namun Nenek Josh membuatnya seakan-akan ini adalah hal yang biasa.


Bagi Nenek Josh, dengan kami menikah artinya keluarga Gurnawijaya akan mendapat calon pemimpin baru untuk mengendalikan Tel-X yang sedang dalam krisis kepercayaan. Dengan begitu,pundi-pundi saham Keluarga Gurnawijaya tetap aman dan tak tersentuh.


Dan dia menginisiasi semua ini tanpa meminta persetujuanku!


Duuk!


Josh lagi-lagi berbelok tajam tanpa mengerem, yang membuat derit ban mobil bereaksi berlebihan dan menimbulkan bunyi yang nyaring.


Dia tidak peduli apapun sekarang selain secepat mungkin sampai rumah.


Sebentar lagi, kami akan sampai di gerbang perumahan papan atas Bel Air Mansion.


Sejak tadi kami masih terdiam dan tak ada yang tertarik memulai pembicaraan.


Untuk pertama kalinya, aku dan Josh Rainer berdebat hebat dan berada dalam situasi yang tidak harmoni.


Kami telah memasuki gerbang Bel Air yang diawasi ketat oleh para sekuriti. Josh akhirnya memelankan mobilnya dan melaju pelan menuju rumahnya yang masih harus mendaki jalanan berbukit.


Pandanganku masih terpatri ke kaca mobil yang disuguhi dengan rumah mewah nan luas di kawasan elite nomor satu di California ini.


Aku sempat diberitahu Josh sebelumnya beberapa rumah tokoh penting juga bermukim di kawasan ini, seperti penyanyi Beyonce, mantan presiden AS Ronald Reagan, hingga selebritis Kim Kardhasian.


Mataku terpatri pada rumah-rumah mewah itu, namun pikiranku melayang kemana-mana.


Ke pembicaraan tengah malam kami selama sepekan lebih aku telah berada disini.


Bahwa Josh Rainer tidak menginginkan jabatannya di Tel-X...


Setelah menikah, dia berharap bisa melanjutkan hidupnya dengan berkontribusi di dunia musik.


Sejak lulus kuliah, Josh telah membangun gedung pertunjukan orchestra dan teater di pusat kota Los Angeles dan terus berkarya sampai membesarkan tempat itu. Semuanya terjadi sebelum ayahnya memanggilnya pulang untuk melanjutkan Tel-X.


Dan dia sangat tegas mengatakan keinginanya kepadaku.  Setelah huru-hara ini selesai, dia ingin kembali melanjutkan hidupnya disini.


Yang artinya membawaku juga ke dunianya yang serba baru.


Aku sendiri tidak masalah dengan itu. Selama aku bersama orang yang kucintai yang mendukung mimpiku sepenuh hati, tidak masalah aku harus tinggal jauh meninggalkan tanah kelahiranku. Toh itu pula rencanaku dulu dengan Dio.

__ADS_1


Aku bahkan akan merasa senang bila bisa melanjutkan pendidikan spesialisku di sini, negara dengan studi pendidikan kedokteran terbaik dan tercanggih di dunia. Jika mujur, aku mungkin berpeluang untuk menjadi bagian dari staf medis terkemuka di UCLA Medical Center yang sangat termahsyur itu.


Hidupku pasti akan sangat berbeda disini, namun tentunya tidak akan kekurangan cinta kasih dari calon suamiku yang sangat amat menyayangiku itu.


Disisi lain, Josh telah merencanakan untuk “membebaskan dirinya” dari Tel-X dan memberikannya kepada pewaris yang sah baginya, Aldebaran Gurnawijaya. Dengan identitas asli Al sebagai kakak Josh, sudah sepatutnya lah Al yang berhak memegang tampuk kekuasaan konglomerasi multinasional itu.


Sayangnya, semua tidak berjalan sesuai dengan rencananya.


Ayahnya, yang meninggal belum lama ini mewariskan seluruh bisnis Tel-X kepada Josh Rainer. Hanya Josh Rainer pewaris tunggal bisnis ini, entah kenapa.


Namun, Josh sangat diuntungkan dengan isi wasiat itu. Salah satu poinnya adalah : Josh dapat menunjuk pengganti pemimpin perusahaan dengan pertimbangan matang dan persetujuan direksi, namun dengan syarat Josh harus berstatus sudah menikah.


Celah inilah yang diharapkan Josh bisa dimanfaatkannya dengan keadaan ini.


Josh berharap isu mengenai kesehatannya yang tak stabil menjadi pertimbangan kuat direksi untuk menggantikannya dengan Ale. Di sisi lain, di saat kesehatannya belum pulih, Josh menikahiku, yang membuatnya layak membuat keputusan mengenai penggantian dirinya.


Sampai tadi siang, Josh Rainer yakin semua rencananya akan berjalan sesuai harapannya.


Hingga akhirnya, telfon dari nenek mengacaukan semua asanya.


Membuatnya menjadi pria tanpa pilihan yang menguntungkan buatnya. Jika dia menampakan dirinya saat ini di depan direksi, artinya dia siap kembali menjadi pemimpin Tel-X dan membuat mimpinya berkarya disini kembali tertunda.


Atau, dia tetap berpura-pura sakit dan pada akhirnya akulah yang muncul sebagai pengendali sementara perusahaan. Sampai Josh dapat menemukan cara baru untuk membuatnya kabur dari Tel-X dan menyerahkan sepenuhnya pada Ale.


Aku sendiri masih berpikir keras. Tidak ada salahnya jika Josh melakukan pilihan pertama, berkorban sedikit dan menunda mimpinya untuk melanjutkan karirnya disini. Setidaknya sampai dia punya cara untuk membersihkan nama Ale dan memberikan sepenuhnya warisan ayahnya untuknya.


Namun, mengapa Josh seperti tidak melihat skenario ini sebagai jalan keluar?


Mengapa dia bersikeras tetap harus berpura-pura sakit?


Padahal, ini tidak akan berlangsung lama jika semuanya berjalan sesuai rencananya.


Ataukah ada sesuatu yang tidak kutahu disini?


Adakah sesuatu yang tidak diceritakan Josh Rainer padaku? Yang membuatnya harus berpura-pura sakit dan jauh dari manajemen Tel-X?


Jika iya, apa?


Dan bukankah Josh Rainer sudah berjanji menceritakan segala hidupnya padaku?


Benarkah ada yang ditutupi olehnya?


Otakku kembali berdesing kencang. Mencoba memikirkan semua yang terjadi dan mencari jawabannya.


Sampai akhirnya, ban mobil Josh berderit di depan pagar hitam yang tinggi.


Kami sudah sampai.


Secara otomatis, sensor di pagar berhasil mengenali mobil Josh sebagai pemilik rumah ini. Pagar pun otomatis bergeser yang membuat Josh langsung melaju menuju parkiran mansion mewah ini.


Namun, tiba-tiba Josh mengerem tajam.


Yang membuat kepalaku nyaris terbentur dashboard Porsche ini jika aku tidak menggunakan seat belt.


Josh tampaknya tidak memperhatikanku. Pandangannya fokus ke depan.

__ADS_1


Dan tertegun saat melihat adanya mobil Lamborghini kuning terparkir di depan lobby rumah mewah Josh.


Josh dengan cepat membuka seat beltnya tanpa membantu melepaskan seatbeltku.


Tanpa penjelasan apapun, dia langsung keluar dari mobilnya dan berlari memasuki rumah.


Apa yang terjadi?


Aku berusaha mengejarnya.


Apa yang membuat Josh bergegas seperti itu tanpa menghiraukanku?


Aku mengambil langkah besar-besar sampai akhirnya kami sudah berada di foyer luas dalam rumah Josh.


Dan melihat ada sesosok perempuan berambut panjang disana. Tengah mengamati dinding rumah itu dan memunggungi kami.


Dan di sebelahku, calon suamiku tampak terengah-engah dengan pandangan belo seakan-akan sedang melotot.


Tidak percaya melihat apa yang ada di depannya.


Perempuan itu masih tidak sadar kami berada di belakangnya.


Sampai akhirnya, suara Josh Rainer memecahkan suasana.


Yang juga memecahkan hatiku.


“Helena? Mengapa kamu disini?”


Aku tertohok.


Jadi begitu..


Perempuan yang membuat Josh Rainer tergesa-gesa keluar dari mobilnya adalah Helena..


Hatiku benar-benar panas.


Melihat calon suamiku kembali bertemu dengan mantan kekasihnya.


Di depan mataku. Tanpa berpura-pura dia mengalami amnesia.


Helena menoleh ke belakang dan menatap Josh Rainer lekat-lekat.


Dia bahkan tidak mengiraukan kehadiranku yang tepat berada di samping Josh Rainer.


Dan kini tangan Helena telah merengkuh tangan Josh Rainer di depan mataku.


“Aku diminta nenekmu untuk segera kesini entah karena apa. Jadi, aku kesini untuk melihatmu, Josh Rainerku.”


Aku menutup mulutku.


Mereka bahkan tak memperhatikanku yang sedang mengamati mereka.


Seketika, aku merasa merana.


Dan tanpa pikir panjang, aku langsung berlari menuju dalam rumah dengan bulir air mata.

__ADS_1


Tidak kah perempuan itu tahu bahwa tangan yang dia pegang kini telah menjadi milikku?


Dan tidakkah si pria tahu bahwa tindakan diamnya telah membuat tunangannya terluka parah?


__ADS_2